
Sign up to save your podcasts
Or


Buzzsprout is your friend for a great podcast!
https://www.buzzsprout.com/?referrer_id=1783054
3.”Mama, saya ingin punya celana panjang dan majalah Bobo. Kalau tidak bisa beli yang baru, yang bekas juga saya terima.”
Kau ingat surat berisi permintaan bodoh yang aku letakkan di bantalmu itu? Aku berpikir selama berhari-hari sebelum berani menuliskannya. Kau membalasnya dengan permohonan maaf, cuma mampu membeli majalah Bobo. Uangmu tidak cukup untuk membeli celana panjang. Kau tahu, waktu itu aku ingin sekali punya celana panjang seperti teman-temanku. Seorang anak kelas tiga Sekolah Dasar yang belum punya sehelai pun celana panjang adalah lelucon bagi teman-temannya. Tetapi aku menyesal telah mengirim surat itu. Hari itu aku tahu bahwa ada keinginan yang harus aku relakan mendekam di dada saja—atau keinginan itu melukai orang lain, lalu berbalik melukaiku lebih dalam.
Aku selalu mengenang masa-masa ketika kita seperti orang asing satu sama lain. Kamar kita cuma dipisahkan dinding tipis, tetapi aku harus mengirim surat ketika hendak mengatakan sesuatu. Ketika kau berangkat ke pasar membawa jualan-jualanmu yang tidak seberapa itu, aku akan diam-diam meletakkan suratku di bantalmu. Besok harinya, kau akan meletakkan surat balasan di tempat tidurku. Tulisanmu selalu lebih rapi. Aku heran, kenapa kau mau ikut hidup dalam permainanku tanpa pernah mengeluh. Kau tahu, alangkah pemalu anakmu.
Masa kecil aneh itu hadiah bagiku, Mama. Aku pikir, kebiasaan menulis surat kepadamu dan siapa pun yang tidak mampu kutatap matanya ketika bicara telah melatih aku menulis. Kemampuanku menulis hari ini buah dari surat-surat masa kecilku. Kau pasti ingat bagaimana anakmu ini lebih memilih beli prangko daripada beli gula-gula. Kau juga pasti ingat, aku rela jadi penjual kantong plastik di pasar dekat penjual ikan dan penjual kacang goreng di sekolah agar bisa punya uang untuk membalas surat-surat sahabat penaku.
Kau tahu kebiasaanku menulis surat tidak sembuh ketika aku menginjak masa remaja. Kau pasti ingat ketika aku pertama kali punya pacar—adik kelasku yang ternyata anak teman sekolahmu. Aku dan dia bertukar surat setiap pagi, kecuali hari libur dan Minggu, di depan perpustakaan, sebelum kami digiring bel sekolah masuk ke kelas masing-masing. Kau tertawa ketika membaca kisah itu di novelku. Aku menyatakan cinta kepadanya juga lewat surat, Mama. Aku menulis surat di salah satu halaman buku catatannya. Hahaha. Sekarang dia sudah punya dua anak. Terakhir aku bertemu dia di toko buku. Dia memberiku satu buku tebal, biograi seorang terkenal dan kaya yang meninggal karena penyakit yang dia rahasiakan selama hidupnya.
Waktu kuliah, aku juga punya kebiasaan saling berkirim surat dengan&
Buzzsprout is your friend for a great podcast!
https://www.buzzsprout.com/?referrer_id=1783054
Iring-iringan panser mondar-mandir
di jalur-jalur rawan di seantero sajakku.
Di sebuah sudut yang agak gelap komandan melihat
kelebat seorang demonstran yang gerak-geriknya
dianggap mencurigakan. Pasukan disiagakan
dan diperintahkan untuk memblokir setiap jalan.
Semua mendadak panik. Kata-kata kocar-kacir
dan tiarap seketika. Komandan berteriak,
“Kalian sembunyikan di mana penyair kurus
yang tubuhnya seperti jerangkong itu? Pena
yang baru diasahnya sangat tajam dan berbahaya.”
Seorang peronda memberanikan diri angkat bicara,
“Dia sakit perut, Komandan, lantas terbirit-birit
ke dalam kakus. Mungkin dia lagi bikin aksi di sana.”
“Sialan!” umpat komandan geram sekali, lalu
memerintahkan pasukan melanjutkan patroli.
Di huruf terakhir sajakku si jerangkong itu
tiba-tiba muncul dari dalam kakus sambil
menepuk-nepuk perutnya. “Lega,” katanya.
Maka kata-kata yang tadi gemetaran serempak
bersorak dan merapatkan diri ke posisi semula.
Di kejauhan terdengar letusan, api sedang melahap
dan menghanguskan mayat-mayat korban.
(1998)
Joko Pinurbo
Buku: Selamat Menunaikan Ibadah Puisi
Beri peringkat:
Buzzsprout is your friend for a great podcast!
https://www.buzzsprout.com/?referrer_id=1783054
Jalan ke Surga (Karya Joko Pinurbo)
... Jalan menuju kantor-Mu
macet total.
oleh antrean mobil-mobil curianku.
2007
Buzzsprout is your friend for a great podcast!
https://www.buzzsprout.com/?referrer_id=1783054
2.KEMARIN aku baca di status Facebook-mu, anak bungsumu—yang kaubilang senyumnya selalu mengingatkanmu pada senyumku itu—sakit. Berapa hari tepatnya usia dia sekarang? Semoga dia lekas pulih. Kakaknya yang pandai bergaya di depan kamera itu pasti ingin punya teman bermain lagi.
Tadi siang aku makan di warung tempat kita dulu sering makan. Pelayan yang senang menggoda kita tidak bekerja lagi di sana. Kata temannya, sebulan sebelum menikah, dia berhenti bekerja. Kau masih ingat namanya? Aku mengabadikan namanya di salah satu cerita pendek, seperti saranmu. Dia jadi tokoh utama dalam cerita pendekku yang dimuat satu majalah wanita dua bulan lalu.
Sebagaimana kenangan, warung itu tidak banyak berubah, Kukila. Lukisan air terjun di dinding sebelah kiri, tempat kita sering duduk menyantap makan malam, masih ada. Poster besar Nike Ardilla, penyanyi favorit pemilik warung itu, juga masih ada di posisinya yang dulu. Menunya masih sama. Tidak ada makanan baru dijual di sana. Pelayannya masih tersenyum ketika meletakkan piring berisi nasi campur dengan sepasang irisan ketimun dan tomat di tepinya.
Karena irisan tomat dan ketimun itulah tiba-tiba ter- pikir olehku menulis surat ini. Kau pasti masih ingat kebiasaan kita dulu. Sesaat seusai mengucapkan terima kasih kepada pelayan, kau dengan cepat memindahkan irisan tomat dari piringmu ke piringku. Tentu saja, aku akan membayarnya dengan memindahkan irisan ke- timunku ke piringmu. Tadi siang, aku makan sendiri. Aku menggigit irisan ketimun sambil mengingat cara kau menggigitnya.
Apakah suamimu juga suka tomat, Kukila? Betapa beruntung siapa pun dia yang pernah mencicipi betapa enak jus tomat bikinanmu. Ada 135 gelas jus tomat yang pernah kaubikinkan buatku selama 6 tahun 7 bulan 5 hari kita pacaran. Aku ingat persis jumlahnya.
Aku menulis di catatan harian setiap usai meminum jus tomat bikinanmu. Jus tomat terakhir kaubikin seminggu sebelum cincin laki-laki pilihan ayahmu itu melingkar di jari manismu. Aku belum pernah mengatakannya: itulah jus tomat paling enak yang pernah aku minum!
Oh, iya, di warung kesukaan kita itu, Kukila, kita pernah bertemu nyaris seratus orang bisu. Kau ingat? Mereka melakukan penggalangan dana. Malam itu, warung itu betapa senyap. Cuma kita dan para pelayan yang menggunakan kata-kata. Pengunjung lain bicara menggunakan jari dan mata mereka. Kau berbisik, ”Alangkah puitis peristiwa ini.”
Aku mau memberitahumu, peristiwa yang kausebut puitis itulah yang membuat aku menulis satu puisi tepat pada malam pernikahanmu. Aku menulis puisi itu di Biblioholic, kafe baca yang kita bikin berdua, tempat yang selalu kausebut anak kita. Puisi sederhana itu memenangkan lomba menulis puisi cinta. Puisi itu me- ngalah
Buzzsprout is your friend for a great podcast!
https://www.buzzsprout.com/?referrer_id=1783054
1.
SURAT ini sedianya aku tulis bertahun-tahun lalu. Waktu itu aku terlalu malu dan merasa bersalah sehingga tidak menuliskannya. Setiap kali bertemu, meskipun jarang sekali, aku ingin menceritakan kisah ini, tapi aku selalu urung melakukannya. Rasa malu dan rasa bersalah ternyata seperti pohon jika disimpan. Mereka akan tambah tumbuh dan kian susah dicabut. Kini rasa bersalah itu selebat hutan.
Kau masih berada di sekolah kala itu. Aku diserang meriang dan pura-pura tidur ketika Mama datang dari pasar. Aku mendengar dari dapur dia berusaha menyembunyikan tangis. Tetapi ketika aku mendengar ada piring jatuh dan pecah, dia tidak bisa menahan tangisnya. Dia kelelahan dan merindukan Ayah. Aku kira, seperti biasa, dia mendengar orang-orang di pasar bercerita lagi perihal statusnya: janda tergantung. Perempuan sial yang ditinggalkan suaminya yang tidak pulang-pulang.
Aku tahu Mama mencintai Ayah, seperti dia mencintai kita. Tetapi, siang itu, aku sangat membenci Ayah.
Besoknya, ketika kau berangkat ke sekolah dan Mama ke pasar lagi membawa sayur juga bumbu-bumbu dapur jualannya, aku membongkar semua laci di rumah. Aku menemukan kunci lemari Mama di bawah bantalnya. Aku mengeluarkan semua foto Ayah dari bawah lipatan pakaian Mama. Aku mengambil semua foto Ayah dari laci meja belajarmu. Aku melepaskan semua wajahnya dari album foto keluarga. Aku tidak menyisakan sehelai pun foto. Aku merobek semuanya menjadi serpihan-serpihan kecil sambil menangis—lalu menyembunyikannya di sebuah kardus kecil di bawah tempat tidurku.
Aku baru ingat peristiwa itu lagi lima tahun kemudian. Waktu itu aku sudah kuliah di Makassar. Hari itu menjelang Lebaran, aku pulang kampung, seperti biasa. Aku tiba-tiba ingin menulis puisi tentang pohon belimbing di belakang rumah kita yang sedang berbuah lebat. Aku mencari bolpoin di kamarmu. Aku membongkar meja belajarmu dan kaget menemukan lembaran-lembaran foto Ayah telah tersusun kembali, semuanya, meski tidak sempurna. Kau ternyata sudah bersusah payah mengembalikan wajah-wajah Ayah.
Alangkah malu aku. Alangkah merasa bersalah aku telah membuat kau melakukan semua itu. Aku tahu kamu sangat dekat dan mencintai Ayah. Aku tahu, aku telah melakukan kesalahan besar. Aku membayangkan kau menangis ketika berusaha menyatukan potongan-potongan kecil itu menjadi Ayah, menjadi foto yang selalu kaupandangi dan peluk sebelum tidur.
Jika kau membaca surat ini, kumohon, maafkan kebodohan kakakmu ini. Sungguh, sembuhkanlah rasa bersalah dan maluku yang kian besar.
Salam kenal buat calon istrimu. Jadilah ayah yang tidak akan dirobek fotonya oleh anak-anaknya. Aku mencintaimu.
Music Intro-Outro by BEZALIEL YEHUDA SURYABUANA
Story music : "Goodbye" by PREMIUMBEAT.COM (free royalty)
Buzzsprout is your friend for a great podcast!
https://www.buzzsprout.com/?referrer_id=1783054
SEDEKAH karya JOKO PINURBO
Ibu tua itu tewas sehabis berjuang keras mendapatkan
sedekah dari seorang juragan yang amat pemurah.
Ia terjatuh terinjak-injak sewaktu berdesak-desakan,
sesaat setelah diterima oleh uang dua puluh ribu rupiah.
“Hanya demi uang sialan itu ia harus setor nyawa,”
cetus seorang pelayat. “Jangan-jangan itu uang haram.”
Uang berkata, “Maafkan saya, Bu. Saya tidak sengaja.”
Toh ibu kita yang sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci
pakaian itu wajahnya bersih bercahaya seperti habis dicuci
dengan sabun terbaik yang terbuat dari serbuk airmata.
Sesal dan tangis hanya menambah kecantikannya.
“Sudahlah. Dengan dua puluh ribu rupiah ibu ini bisa beli
tiket kereta api ekspres. Beliau akan mudik dengan sukses,”
ujar seorang penyair yang oleh teman-temannya dipanggil
Plato karena nun di jidatnya terdapat sebuah tato.
Kereta hampir berangkat. Uang yang naas tampak ikhlas
dan pasrah dalam genggaman tangan almarhumah.
Uang yang tak seberapa ini kemudian disimpan baik-baik
oleh cucu ibu yang gigih itu dan kelak akan ia berikan
kepada entah siapa yang pantas menerimanya.
Sudah saatnya jam yang rusak diperbaiki.
Kita pergi ke bengkel jam dan kepada pak tua
yang ahli menyembuhkan jam kita meminta,
“Tolong ya betulkan jam pikun ini. Jarumnya
sering maju-mundur, bunyinya suka ngawur.”
Semoga tukang bikin betul jam tahu bahwa ia
sedang berurusan dengan penggemar waktu.
*
Sudah saatnya kita periksa mata.
Kepada dokter mata kita bertanya,
“Ada apa ya dengan mata saya, kok sering
terbalik: tidak melihat yang kelihatan,
malah melihat yang tak kelihatan?”
Mudah-mudahan dokter mata paham: ya,
memang begitulah jika mata dipejamkan.
*
Sudah saatnya jiwa yang janggal diselidiki.
Kita konsultasi ke pakar psikologi:
“Saya bingung. Saya sering mengalami situasi
di mana saya tak tahu pasti apakah sedang berada
di masa lalu, masa depan, atau masa kini.
Tapi saya masih waras. Sungguh.
Awas kalau berani menganggap saya gila.”
Jika ia memang ahli, seharusnya ia mengerti:
ya, begitulah jika tubuh kena teluh puisi.
*
Sudah saatnya kata-kata yang mandul kita hamili;
yang pesolek ngapain dicolek,
toh lama-lama kehabisan molek.
Sudah saatnya kata-kata yang lapuk diberi birahi
supaya sepi bertunas kembali,
supaya tumbuh dan berbuah lagi.
2003
Joko Pinurbo
Buku: Selamat Menunaikan Ibadah Puisi
SHAKING
The bed shook all night long.
Perhaps two souls, two lions were fighting.
Or two deaths waged war.
The bed shook all night long.
While in fact there was only a pair of pants,
a white heap on a black pillow.
Buzzsprout is your friend for a great podcast!
https://www.buzzsprout.com/?referrer_id=1783054
Minggu pagi di sebuah puisi kauberi kami
kisah Paskah ketika hari masih remang dan hujan,
hujan yang gundah sepanjang malam,
menyirami jejak-jejak huruf yang bergegas pergi,
pergi berbasah-basah ke sebuah ziarah.
Bercak-bercak darah bercipratan
di rerumputan aksara di sepanjang via dolorosa.
Langit kehilangan warna, jerit kehilangan suara.
Sepasang perempuan (: sepasang kehilangan)
berpapasan di jalan kecil yang tak dilewati kata-kata.
“Ibu akan ke mana?” perempuan muda itu menyapa.
“Aku akan cari di Golgota, yang artinya:
tempat penculikan,” jawab ibu yang pemberani itu
sambil menunjukkan potret anaknya.
“Ibu, saya habis bertemu Dia di Jakarta, yang artinya:
surga para perusuh,” kata gadis itu bersimpuh.
Gadis itu Maria Magdalena, artinya:
yang terperkosa. Lalu katanya, “Ia telah
menciumku sebelum diseret ke ruang eksekusi.
Padahal Ia cuma bersaksi bahwa agama dan senjata
telah menjarah perempuan lemah ini.
Sungguh Ia telah menciumku dan mencelupkan jariNya
pada genangan dosa di sunyi-senyap vagina;
pada dinding gua yang pecah-pecah, yang lapuk;
pada liang luka, pada ceruk yang remuk.”
Minggu pagi di sebuah puisi kauberi kami
kisah Paskah ketika hari mulai terang, kata-kata
telah pulang dari makam, iring-iringan demonstran
makin panjang, para serdadu berebutan
kain kafan, dan dua perempuan mengucap salam:
“Siapa masih berani menemani Tuhan?”
(1998)
Joko Pinurbo
Buku: Selamat Menunaikan Ibadah Puisi
https://www.buzzsprout.com/?referrer_id=1783054
Buzzsprout is your friend for a great podcast!
TUHAN DATANG MALAM INI
Tuhan datang malam ini
di gudang gulita yang cuma dihuni cericit tikus
dan celoteh sepi.
Ia datang dengan sebuah headline yang megah:
“Telah kubredel ketakutan dan kegemetaranmu.
Kini bisa kaurayakan kesepian dan kesendirianmu
dengan lebih meriah.”
Dengar, Tuhan melangkah lewat dengan sangat gemulai
di atas halaman-halaman hilang, rubrik-rubrik terbengkelai.
Malam menebar debar.
Di sebuah kolom yang rindang, kolom yang teduh,
ia kumpulkan huruf-huruf yang cerai-berai
dan merangkainya jadi sebuah komposisi kedamaian.
Namun masih juga ia cabar:
“Kenapa ya aku masih kesepian. Seakan tak bisa tenteram
tanpa suara-suara riuh dan kata-kata gaduh.”
“Mungkin karena kau terlampau terikat pada makna
yang berkelebat sesaat,” demikian
seperti telah ia temukan jawaban.
Begitulah, ia hikmati malam yang cerau
Dan mencoba menghalau galau dan risau.
Dibetulkannya rambut ranggas yang menjuntai
di atas dahi nan pasai. Dibelainya kumis kusut
dan cambang capai yang menjalar di selingkar sangsai.
Sementara di luar hujan dan angin berkejaran
menggelar konvoi kemurungan.
Lalu diambilnya pena, dicelupkannya pada luka
dan ditulisnya:
Saya ini apalah Tuhan.
Saya ini cuma jejak-jejak kaki musafir
pada serial catatan pinggir;
sisa aroma pada seonggok beha;
dan bau kecut pada sisa cinta.
Saya ini cuma cuwilan cemas kok Tuhan.
Saya ini cuma seratus hektar halaman suratkabar
yang habis terbakar;
sekeping puisi yang terpental
dilabrak batalion iklan.
Dan Tuhan datang malam ini
di gudang gelap, di bawah tanah, yang cuma dihuni
cericit tikus dan celoteh sepi.
Ia datang bersama empat ribu pasukan,
Lengkap dengan borgol dan senapan.
Dengar, mereka menggedor-gedor pintu dan berseru:
“Jangan halangi kami. Jangan lari dan sembunyi.
Kami cuma orang-orang kesepian.
Kami ingin bergabung bersama Anda
di sebuah kolom yang teduh, kolom yang rindang.
Kami akan kumpulkan senjata
dan menyusunnya jadi sebuah komposisi kebimbangan.
Sesudah itu perkenankan kami sita dan kami bawa
semua yang Anda punya, sungguhpun
cuma berkas-berkas tua
dan halaman-halaman kosong semata.”
Tuhan, mereka sangat ketakutan.
Antarkan mereka ke sebuah rubrik yang tenang.
From the publisher's feed