Celetuk Bahasa Tempo

Celetuk Bahasa Tempo

By Podcast Tempo MediaEducation
Download on the App Store

Celetuk Bahasa Tempo episodes

  • Tali-temali Gender

    Bahasa Indonesia sebenarnya mengembangkan akhiran berbeda untuk laki-laki dan perempuan. Kosakata untuk perempuan misalnya wartawati, karyawati, seniwati, dan direktris. Namun, perlahan-lahan, pembedaan itu lenyap. Juru warta berjenis kelamin apa pun bisa disebut wartawan. Perempuan yang memimpin perusahaan tak lazim lagi disebut direktris, cukup dengan direktur. Tapi kadang ada ketidakkonsistenan. Ada beberapa sebutan berbau kelamin yang masih bertahan, contohnya polwan atawa polisi wanita, meskipun kamu tidak akan menemukan sebutan polki alias polisi laki-laki.

    Namun, menariknya, bahasa Indonesia konsisten mempertahankan pengelompokan gender serapan bahasa Arab. Kata hadirin dijejerkan dengan hadirat, almarhum dengan almarhumah, muslimin dengan muslimat, mukminin dengan mukminat, dan sebagainya.


    ---

    *Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Samsudin Adlawi berjudul “Tali-temali Gender” di majalah Tempo edisi 1 April 2012.
    *Berbagai celetuk seputar bahasa Indonesia juga bisa kamu baca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co

    9 min
  • Pembaca Terakhir

    Di media massa atau perusahaan penerbitan, lazimnya terdapat redaktur bahasa. Dialah pembaca terakhir yang ikut memastikan layak-tidaknya suatu artikel atau buku sebelum diterbitkan dan dibaca khalayak.


    --Berbagai celetuk seputar bahasa Indonesia juga bisa kamu baca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co

    7 min
  • Logika!

    Dalam berbahasa, kita pun membutuhkan logika. Dengan begitu, kita bisa memperbaiki kalimat semacam “Pelaku dikenakan pasal berlapis” menjadi “Pelaku dikenai pasal berlapis”, atau mengganti kalimat “Buruh yang terkena PHK diberikan pesangon” menjadi “Buruh yang terkena PHK diberi pesangon”.


    --Berbagai celetuk seputar bahasa Indonesia juga bisa kamu baca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co

    8 min
  • Maaf dan Terima Kasih

    Begitu banyak "maaf" yang ditemukan di jalanan terkesan sangat sopan. Misalnya, "Maaf perjalanan Anda terganggu", "Maaf sedang ada upacara adat", dan "Maaf ada salat Jumat".  Namun, adakalanya menggunakan peringatan “Maaf dilarang kencing di sini” malah tidak efektif jika dibandingkan dengan “Maaf hanya anjing yang kencing di sini”.

    Dan terkadang hanya dengan tidak membuang apa-apa, kita bisa mendapatkan "terima kasih", seperti yang tertera pada peringatan "Terima kasih Anda tidak membuang sampah di sini".


    --Berbagai celetuk seputar bahasa Indonesia juga bisa kamu baca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co


    7 min
  • Obat-obatan

    Obat tidak selamanya menyembuhkan. Obat nyamuk, jelas, membuat nyamuk sakit, bahkan mati. Kita tidak tahu nyamuk sedang menderita penyakit apa sehingga perlu obat. Sama halnya cacing, yang juga perlu diberantas. Apalagi ketika cacing itu berjenis pita dan hidup di dalam tubuh kita. Dan mengenai "obat kuat" untuk lelaki, itu persoalan lain lagi.


    --Berbagai celetuk seputar bahasa Indonesia juga bisa kamu baca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co


    6 min
  • Di Manakah Di?

    Ketika ejaan diperbarui pada 1970-an, umumnya orang memang ingat ada perubahan menulis secara tertentu. Misalnya pada kata "cowok", yang dulunya ditulis dengan huruf tj, diganti dengan huruf c. Tapi umumnya orang juga lupa, sejak saat itu, ada ketentuan agar menulis "di" secara berbeda, yakni secara terpisah dan merapat. "Dilanggar" akan berbeda maknanya jika ditulis "di langgar".


    ---

    *Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Gunawan Muhamad berjudul "Di Manakah Di?" yang terbit di majalah Tempo edisi 6 November 2005.

    *Berbagai celetuk seputar bahasa Indonesia juga bisa kamu baca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co

    6 min

About Celetuk Bahasa Tempo

From the publisher's feed

Celetuk Bahasa Tempo bersama Uu Suhardi adalah siniar mingguan yang membahas apa pun seputar bahasa Indonesia. Siniar atau podcast ini akan membawa kamu untuk merenungi kembali, “Apakah kita benar-benar sudah memahami bahasa Indonesia?”