
Sign up to save your podcasts
Or


Saat terkena hujan, kita bisa menyebut “kehujanan”. Tapi kenapa, saat terkena salju, kita tidak lazim menyebut “kesaljuan”?
---
*Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Edwin P. Wieringa berjudul “Saya Kesaljuan”, yang terbit di majalah Tempo edisi 25 Desember 2017.
*Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
“Wabah”, “epidemi”, dan “pandemi” acap digunakan di berbagai liputan tentang Covid-19. Konsep ketiga kata tersebut memang memuat pengertian yang sama, tapi juga memiliki perbedaan, khususnya dalam hal luas wilayah yang terkena dampak dan jumlah korban.
---
*Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Sudirman Nasir berjudul “Wabah, Epidemi, Pandemi”, yang terbit di majalah Tempo edisi 14 Maret 2020.
*Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Orang yang “lupa daratan” adalah orang yang berbesar hati karena mendapatkan apa yang diharapkan sehingga lupa akan petuah-petuah lain. Namun orang yang “lupa daratan” tidak serta-merta menjadi “ingat lautan”. Lautan tetaplah hilang dalam bawah-sadar mereka. Merosotnya budaya maritim kita membuat penghargaan terhadap laut ikut-ikutan merosot.
---
*Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Zen Hae berjudul “Lupa Daratan, ke Laut Aja!”, yang terbit di majalah Tempo edisi 5 Maret 2018.
*Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Maraknya penggunaan bahasa Arab tidak dibarengi dengan pemahaman makna yang tepat. Ada kesan, bagi sebagian orang, penggunaan bahasa Arab, alih-alih bahasa Indonesia, akan meningkatkan keimanan mereka. Bahkan kata “Tuhan” dan “sembahyang” makin jarang digunakan. Setidaknya itulah yang diungkapkan wartawan senior Tempo, Qaris Tajudin. Sedangkan Uu Suhardi merasa prihatin terhadap penggunaan bahasa yang dicampuradukkan, misalnya happy milad.
Lalu, ketika bahasa Arab makin marak digunakan, apakah semuanya akan diserap begitu saja ke dalam bahasa Indonesia? Dengarkan obrolan selengkapnya dalam episode “Suara Qaris: Serapan Bahasa Arab”. Jangan lupa kirim tanggapan kamu via email ke [email protected]
---
*Baca berbagai celetuk bahasa dari para penulis dengan beragam latar belakangnya di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Kata ”sampah” seharusnya netral. Sesuatu yang membuat kata “sampah” berkonotasi negatif adalah kata kerja “buang”. Akibat persandingannya dengan “buang”, sampah dianggap sebagai benda yang sudah tidak berharga atau tidak diperlukan lagi. Karena itu, frasa “buang sampah” yang berkonotasi negatif seharusnya diganti dengan frasa baru yang mengarahkan masyarakat ke paradigma positif. Frasa ”buang sampah” dapat diganti dengan ”simpan sampah” atau ”taruh sampah”. Dengan paradigma “menyimpan sampah”, perilaku masyarakat pun diarahkan dalam pemilahan sampah.
---
*Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Tendy K. Somantri berjudul “Simpan Sampahmu!”, yang terbit di majalah Tempo edisi 14 Mei 2018.
*Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Pada masa penjajahan Belanda, istilah inlander merupakan sebutan yang digunakan orang Belanda untuk mengejek bangsa pribumi atau penduduk asli di Indonesia. Saat itu, bangsa Indonesia menganggap bangsa Belanda dan bangsa Eropa pada umumnya sebagai bangsa yang derajatnya lebih tinggi daripada bangsa Indonesia.
Dari situlah tampaknya muncul bibit-bibit inferioritas, sikap rendah diri, atau mentalitas inlander. Akibat dari mentalitas inlander adalah menganggap apa pun yang kita miliki dirasa kalah hebat, kalah nilai, dan kalah gengsi daripada milik bangsa lain. Dalam berbahasa, banyak di antara kita yang menganggap bahasa asing itu lebih bergengsi, lebih bernilai, dan lebih punya daya jual.
---
*Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Mustakim berjudul “Inlander”, yang terbit di majalah Tempo edisi 14 Januari 2019.
*Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Dulu kata “relawan” digunakan buat merujuk pada figur atau kelompok yang bekerja untuk kepentingan orang lain secara ikhlas. Namun makna kata itu cenderung bergeser pada era politik elektoral seperti sekarang. Kata “relawan” lebih sering digunakan untuk menyebut kelompok sipil nonpartai yang berafiliasi mendukung kandidat tertentu.
---
*Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Rahmat Petuguran berjudul “Relawan” yang terbit di majalah Tempo edisi 29 Oktober 2018.
*Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Polisi tidur di mana-mana. Di jalan kampung, di jalan perumahan, di lingkungan universitas, di jalan umum, bahkan kadang di jalan raya. Ke mana pun pergi, kita pasti bertemu dengan polisi tidur. Tanpa disadari, polisi tidur telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Beberapa kawan menganggap polisi tidur melindungi mereka dari ancaman yang timbul akibat laju kendaraan yang kencang. Beberapa yang lain justru merasa terganggu bahkan jengkel saat melintasi polisi tidur. Lagipula, polisi kok tidur?
---
*Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan jamal d. Rahman berjudul “Polisi (kok) Tidur” yang terbit di majalah Tempo edisi 5 Agustus 2012.
*Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Makna “syur” menurut KBBI sepertinya sangat sempit—berarti sangat menarik hati. Padahal "syur" pernah ramai muncul di media massa pada 1980-an dan 1990-an, seperti halnya "ler". Mereka hadir bersama majalah dan tabloid semiporno yang menawarkan foto gadis-gadis dalam pose ler yang membangkitkan syur. Saat ini pun kita lebih mudah menemukan kata “syur” ketika para pesohor terjerat kasus yang terkait dengan pornografi.
---
*Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Ayu Utami berjudul “Suatu Rasa Bernama Syur”, yang terbit di majalah Tempo edisi 2 Februari 2014.
*Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Selain merek True Religion, yang kalau diindonesiakan menjadi “Agama Sejati”, banyak merek produk fashion unik dari negara Barat yang kalau diterjemahkan bisa aneh sekali. Ada produk laris berlabel Poison (parfum dari Christian Dior), Opium (parfum, Yves Saint Laurent), Agent Provocateur (parfum dari sebuah lingerie retailer), Envy Me dan Guilty (parfum dari Gucci), juga Urban Decay, produk kosmetik yang kalau diartikan menjadi kerusakan kota. Ada lagi Bathing Ape, produk fashion yang label lengkapnya “A Bathing Ape in Lukewarm Water”—disingkat BAPE. Orang Indonesia sepertinya tidak mempermasalahkan semua merek itu. Namun, andaikan semua itu produk Indonesia, apa kira-kira reaksi pasar?
---
*Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Rohman Budijanto berjudul “Agama Sejati dan Celana Jins” yang terbit di majalah Tempo edisi 5 Februari 2012.
*Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
From the publisher's feed