Sign up to save your podcastsEmail addressPasswordRegisterOrContinue with GoogleAlready have an account? Log in here.
Celetuk Bahasa Tempo bersama Uu Suhardi adalah siniar mingguan yang membahas apa pun seputar bahasa Indonesia. Siniar atau podcast ini akan membawa kamu untuk merenungi kembali, “Apakah kita benar-ben... more
FAQs about Celetuk Bahasa Tempo:How many episodes does Celetuk Bahasa Tempo have?The podcast currently has 96 episodes available.
December 13, 2021Rumah, dan Kita versus Kami“Rumah” dalam bahasa Inggris dibedakan dengan dua kata: “house” dan “home”. Sedangkan “we” dalam bahasa Indonesia dibedakan menjadi “kita” dan “kami”.---**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Agus R. Sarjono berjudul “Rumah” yang terbit di majalah Tempo edisi 10 Januari 2010.**Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co....more8minPlay
December 06, 2021Terjemahan Bisa MenyesatkanBanyak istilah asing yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia lahir bukan dari penerjemah atau ahli bahasa, melainkan dari tokoh profesional di bidangnya.Istilah asing “supply” biasa diserap menjadi “suplai” saja. Tapi para profesional berpengalaman mencari padanan kata Indonesia dengan istilah berbeda untuk bidang masing-masing, sehingga makna konsepnya menjadi jelas.Di bidang fisika, power supply menjadi “catu daya”, sedangkan di bidang ilmu ekonomi kata supply dan demand menjadi hukum “penawaran dan permintaan”. Di bidang bisnis, supply menjadi “pasokan” dan di manajemen menjadi “bekalan”.---**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Setyadi Setyapranata berjudul “Embrio = Fetus?”, yang terbit di majalah Tempo edisi 14 Juni 2010.**Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co....more8minPlay
November 29, 2021Mengatasnamakan Atas NamaDalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “atas nama” berarti “dengan nama”. Bila dihubungkan dengan teks Proklamasi, apakah tepat makna itu?Kalau kita ganti ”atas nama” sesuai dengan makna di kamus itu, bagian akhir teks Proklamasi akan kita baca menjadi ”Dengan nama bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta”. Terasa aneh, bukan?---**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Edy Sembodo berjudul “Mengatasnamakan ’Atas Nama’”, yang terbit di majalah Tempo edisi 5 September 2016.**Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co....more8minPlay
November 22, 2021Lugas, Baku, dan IndahTulisan yang lugas mencerminkan kesederhanaan, kejujuran, serta ketulusan dalam berbagi informasi dan pengetahuan kepada siapa saja. Berbahasa baku berarti melembagakan kesepakatan bersama: bahasa nasional. Dan tulisan indah menggambarkan minat berkesenian melalui teks.---**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Agung Y. Achmad berjudul “Lugas, Baku, dan Indah”, yang terbit di majalah Tempo edisi 15 Mei 2011.**Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co....more8minPlay
November 15, 2021Tik-tok, Tik-tik-tik…Banyak tiruan bunyi yang lazim kita kenal untuk menggambarkan sesuatu atau aktivitas. Misalnya “kriiing”, “kriuuuk”, “tik-tok”, “sreeet”, “dor... dor... dor”, “cit… cit”, “tik-tik-tik”, dan “ngak-ngik-ngok”.---**Kredit cuplikan lagu: Tik Tik Tik Bunyi Hujan (Yesica); Titik Hujan (Titiek Puspa); Masih Cinta (Kotak)**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Lie Charlie berjudul “Tiruan Bunyi”, yang terbit di majalah Tempo edisi 12 Desember 2010.**Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co....more9minPlay
November 08, 2021Jual-Beli JabatanDalam perkembangannya, kegiatan jual-beli melebar ke makna konotatif. Tidak selalu ada serah-terima uang dan barang serta tidak mesti ada penjual dan pembeli. Sebut saja jual-beli pukulan, jual-beli serangan, jual-beli jabatan, dan jual-beli suara.---**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Imron Samsuharto berjudul “Jual-Beli Jabatan”, yang terbit di majalah Tempo edisi 1 Juli 2019.**Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co....more7minPlay
November 01, 2021Tantangan Alih BahasaIstilah “alih bahasa” terasa sempit karena mengandaikan bahasa yang beralih belaka. Padahal ide, imajinasi, dan suasana harus turut “diterjemahkan”. ”Kampanye hitam” (kampanye dengan cara menjelek-jelekkan lawan politik) bukan terjemahan dari black campaign, seperti halnya ”kambing hitam” (pihak yang dijadikan tumpuan kesalahan) bukan terjemahan dari black goat. ”Kampanye hitam” dekat maknanya dengan black propaganda, sedangkan ”kambing hitam” serupa maknanya dengan scapegoat.---**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Hermien Y. Kleden berjudul “Dalam Belantara Dwibahasa”, yang terbit di majalah Tempo edisi 5 Oktober 2015.**Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co....more8minPlay
October 25, 2021Kegenitan "Licentia Poetica"Licentia poetica adalah semacam lisensi atau izin tak tertulis yang dikantongi penyair untuk menyimpang dari kaidah bahasa demi mencapai efek tertentu yang dia inginkan. Tapi bisakah seseorang melanggar aturan bahasa demi licentia poetica, padahal ia tidak tahu perbedaan menuliskan ”keluar” (sebagai lawan kata “masuk”) dan ”ke luar” (sebagai lawan kata “ke dalam”)?---**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Eko Endarmoko berjudul “Genit”, yang terbit di majalah Tempo edisi 4 Mei 2009.**Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co....more8minPlay
October 18, 2021Kata-kata yang MemuaiDalam bahasa Indonesia, bahasa percakapan dan bahasa tulis bisa begitu berbeda. Suatu kata bisa memuai. Kalimat dalam bahasa Indonesia sering mengandung konteks yang hanya diketahui orang Indonesia. Seorang teman dari Korea Selatan menggeleng-geleng ketika mendengar penjelasan tentang kalimat “Wah, mau hujan”. Dia pikir, kalimat itu berarti “Orang yang mengucapkannya ingin hujan”. Begitu pula terhadap kalimat “Dia mah orangnya suka drama”. Dia menyangka kalimat itu berarti “Dia menyukai pertunjukan teater atau film”.---**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Bagja Hidayat berjudul “Kata-kata yang Memuai”, yang terbit di majalah Tempo edisi 12 Juni 2017.**Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co....more9minPlay
October 04, 2021Sari Jeruk atau Orange Juice?Belakangan ini, saya makin rajin memesan sari jeruk alih-alih orange juice atau es teh alih-alih iced tea. Saat di Banda Aceh, pernah suatu hari ketika saya makan di kedai, pesanan saya tidak datang setelah hampir sejam! Maka saya harus ke dapur untuk mengambilnya sendiri. Pelayan rupanya tidak menyadari bahwa “sari wortel” dan “roti lapis isi ayam” sama dengan carrot juice dan sandwich with chicken.---** Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Marco Kusumawijaya berjudul “Sari Jeruk dan Roti Lapis di kampung Banda Aceh”, yang terbit di majalah Tempo edisi 24 September 2006.**Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co....more8minPlay
FAQs about Celetuk Bahasa Tempo:How many episodes does Celetuk Bahasa Tempo have?The podcast currently has 96 episodes available.