
Sign up to save your podcasts
Or


Seperti bahasa pada umumnya, bahasa Indonesia memiliki kata-kata bermakna ganda. Ada homonim, homofon, dan homograf, misalnya. Namun, dalam penggunaannya, kata bermakna ganda sangat jarang menimbulkan kesalahpahaman. Tak akan timbul kebingungan pada pengguna bahasa karena selalu ada konteks untuk kata.
---
**Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Dalam dunia pengisian suara atau voice over, sangat penting mengetahui cara melafalkan setiap kata dengan tepat. Sering kita mendengar ketidakkonsistenan pengisi suara saat melafalkan singkatan asing: CPO, DMO, WHO, IPO, dan lainnya. Cara pelafalan suatu kata seharusnya tidak bergantung pada kelaziman belaka.
---
**Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Istilah “naik haji” adalah istilah asli Nusantara, murni dari Indonesia, dan hanya dipakai oleh orang Indonesia. Istilah ini lahir dari khazanah kebudayaan Islam di Nusantara.
---
**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Ahmadul Faqih Mahfudz berjudul “Hamzah Naik Haji”, yang terbit di majalah Tempo edisi 12 Agustus 2019.
**Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Mencari sesuatu yang sempuna di dunia ini memang sulit. Namun membuat kalimat sempurna tidaklah sulit. Kita tidak harus selalu mengikuti struktur S-P-O-K agar kalimat menjadi sempurna.
---
**Baca kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia di rubrik Bahasa majalah Tempo. Saran & kritik: [email protected]
Bagaimana cara menuliskan simbol satuan kilometer yang benar: “KM”, “Km”, atau “km”? Apa bedanya dengan penulisan simbol satuan seperti volt, ampere, dan watt? Sebenarnya, cara menuliskan satuan mengacu pada Systeme Internationale D’unites atau Sistem Satuan Internasional.
---
**Baca kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia di rubrik Bahasa majalah Tempo. Saran & kritik: [email protected]
Tata bahasa dalam menulis amatlah penting walau sebagian orang menganggapnya tidak menarik dan membosankan. Kita membutuhkan aturan dalam merangkai tulisan karena menulis bukanlah bercakap. Tata bahasa merupakan aturan tentang struktur gramatikal bahasa.
---
**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Dian Purba berjudul “Simalakama Tata Bahasa”, yang terbit di majalah Tempoedisi 16 September 2019.
**Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Media massa kita makin produktif menggunakan kata "terkait". Dan banyak pemakaian kata itu yang tidak tepat. Kekeliruan itu sering terjadi karena pewarta bingung menentukan kata depan atau kata sambung yang tepat.
---
**Baca juga kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia di rubrik Bahasa majalah Tempo. Saran & kritik: [email protected]
Pernahkah kamu memperhatikan?
Banyak menu di restoran sekitar kita memakai bahasa asing padahal kita sudah memiliki padanan dalam bahasa Indonesia. Ada anggapan, penggunaan menu berbahasa asing memberi kesan lebih komersial dibanding bahasa Indonesia.
Kalau kamu, lebih suka memesan nasi goreng atau fried rice, bakmi atau noodle, bakso atau meatball, es teh atau ice tea?
---
** Episode ini terinspirasi dari tulisan Marco Kusumawijaya berjudul “Sari Jeruk dan Roti Lapis di kampung Banda Aceh”, yang terbit di majalah Tempo edisi 24 September 2006.
**Baca juga kolom dari para penulis lain di rubrik Bahasa majalah Tempo.
Indonesia merupakan salah satu negara di Asia Selatan dan Tenggara yang berhasil mengembangkan bahasa nasionalnya. Walau dijajah ratusan tahun, Indonesia berani lepas dari dominasi bahasa sang penjajah. Namun, di balik itu, ada gejala-gejala pemakaian bahasa yang nyeleneh dan dapat menunjukkan mentalitas bangsa. Misalnya “sumbangan wajib”, “kurang tahu”, “mengejar ketertinggalan”, dan “kopi banget”.
---
**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Soenjono Dardjowidjojo berjudul “Bahasa sebagai Tolok Ukur Mentalitas Bangsa”, yang terbit di majalah Tempo edisi 5 Juli 2009.
**Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Mungkinkah bahasa Indonesia menjadi cermin perkembangan atau perubahan budaya Indonesia? Apakah menyerap bahasa negara lain bisa menyebabkan kehilangan jati diri bangsa?
---
**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Berthold Damshauser berjudul “Bahasa Indonesia sebagai Cermin?”, yang terbit di majalah Tempo edisi 20 Februari 2012.
**Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
From the publisher's feed