Sign up to save your podcastsEmail addressPasswordRegisterOrContinue with GoogleAlready have an account? Log in here.
Celetuk Bahasa Tempo bersama Uu Suhardi adalah siniar mingguan yang membahas apa pun seputar bahasa Indonesia. Siniar atau podcast ini akan membawa kamu untuk merenungi kembali, “Apakah kita benar-ben... more
FAQs about Celetuk Bahasa Tempo:How many episodes does Celetuk Bahasa Tempo have?The podcast currently has 96 episodes available.
September 09, 2022Profesi BergenderBahasa Indonesia pada hakikatnya tidak mengenal kata dengan kategori jenis kelamin atau gender. Namun, dalam penyebutan profesi, penekanan gender sering kita temukan: aktor-aktris, karyawan-karyawati, pramugara-pramugari, mahasiswa-mahasiswi, dan sebagainya.---Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.Kritik dan saran: [email protected]...more9minPlay
September 02, 2022Rumah SehatDengan alasan mengubah pandangan umum masyarakat bahwa rumah sakit hanya diperuntukkan bagi orang sakit, penyebutan “rumah sakit umum daerah” di Jakarta diubah menjadi “rumah sehat untuk Jakarta”. Dari sudut pandang kebahasaan, apakah pengubahan ini diperlukan?---Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.Kritik dan saran: [email protected]...more9minPlay
August 26, 2022Lalu Lintas Terpantau Ramai LancarBahasa jalan raya bisa jadi bakal menjadi genre berbahasa tersendiri, layaknya bahasa gaul. Makin sering kita mendengar penggunaan “kendaraan terpantau ramai lancar”, “telah terjadi lakalantas”, “padat merayap”, “rekayasa lalu lintas”, “tilang”, “tipiring”, dan “safety riding”.---**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Triyanto Triwikromo berjudul “ Bahasa Jalan Raya” di majalah Tempo edisi 17 Juli 2017.**Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co....more6minPlay
August 19, 2022Wartawan Tak Perlu SungkanDalam bahasa jurnalistik, kata sapaan “Pak”, “Bu”, “Tuan”, dan sejenisnya tidak diperlukan. Penambahan kata sapaan hanya akan menunjukkan karakter penulis yang dipengaruhi feodalisme atau sistem sosial yang mengagung-agungkan jabatan, pangkat, gelar, atau kedudukan.---**Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co....more8minPlay
August 12, 2022Dirgahayu Republik IndonesiaMana yang tepat, “HUT RI ke-77” atau “HUT ke-77 RI”? Keduanya bisa sama-sama keliru. Lantas, bagaimana dengan Dirgahayu Republik Indonesia ke-77?---**Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.**Saran & kritik: [email protected]...more6minPlay
August 05, 2022Keranjingan JargonBelakangan, ada kecenderungan memakai bahasa yang rumit dan abstrak ketimbang bahasa sehari-hari yang konkret dan bisa dipahami orang banyak. Alih-alih menyebutkan “sekolah ditutup”, kita cenderung mengatakan “kegiatan belajar-mengajar dihentikan”. Kita lebih suka menulis “infrastruktur transportasi terdegradasi” ketimbang “jalan dan jembatan rusak” atau menulis “stasiun pengisian bahan bakar untuk umum” ketimbang “pompa bensin”. Kita bahkan makin terbiasa mengatakan orang miskin “mengonsumsi” nasi aking, bukan “makan” nasi aking.---**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Farid Gaban berjudul “Keranjingan Jargon” di majalah Tempo edisi 8 Desember 2008.**Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co....more8minPlay
July 29, 2022Dangdut dan AmerikaTempo kadang “melahirkan” kata baru. “Dangdut” adalah contoh kata yang terlahir dari meja redaksi Tempo pada 1970-an. Kata ini menjadi genre musik yang populer di Indonesia hingga kini. Tempo juga melahirkan “Abang Sam” untuk menyebut Amerika Serikat dan menghindari julukan “Paman Sam”.---**Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co....more7minPlay
July 22, 2022Pasangan Idiomatis nan AbadiPasangan idiomatis adalah pasangan khas yang terdiri atas kata kerja (verba) dan kata depan (preposisi). Pasangan ini bisa dikatakan bersifat abadi karena tidak bisa diganti-ganti atau dipertukarkan. Ada “sesuai dengan”, “terdiri atas”, “disebabkan oleh”, “bergantung pada”, dan masih banyak lagi.---**Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co....more8minPlay
July 15, 2022Lokalisasi Bahasa IndonesiaBahasa ibu yang hidup subur pada generasi sekarang adalah bahasa daerah yang berintegrasi dengan bahasa Indonesia atau sebut saja “bahasa Indonesia lokal”. Fakta itu terlihat pada contoh ini: “Nyok, bareng-bareng kite jage dan kite bangun Jakarta” (Betawi), “Bayar dua ribu, ngomong sak karepmu” (Jawa), dan “Hari ini trada nasi” (Papua).---**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Maryanto berjudul “Bahasa Ibu” yang terbit di majalah Tempo edisi 9 Maret 2009.**Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co....more7minPlay
July 08, 2022Bahasa TempoBahasa Tempo kadang menggunakan kosakata yang tidak sesuai dengan KBBI. Tempo konsisten memakai “subyek” dan “obyek”, misalnya, bukan “subjek” dan “objek”. Tapi semua ada pertimbangannya.Walau begitu, KBBI tetap menjadi pegangan utama. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia pun menjadi rujukan.Tempo juga berupaya melestarikan dan memperkaya kosakata bahasa Indonesia. Maka muncullah kata seperti dangdut, konon, cuek, kinclong, ambyar, dan rasuah.- - -**Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co....more12minPlay
FAQs about Celetuk Bahasa Tempo:How many episodes does Celetuk Bahasa Tempo have?The podcast currently has 96 episodes available.