
Sign up to save your podcasts
Or


Mengapa pedagang yang menggunakan gerobak dan berjualan di pinggir jalan disebut “pedagang kaki lima”?
---
Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Kritik dan saran: [email protected]
Pahlawan itu syahadah atau martir?
---
**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Husein Ja’far Al-Hadar berjudul “Pahlawan: Syahadah atau Martir?” di majalah Tempo edisi 2 Desember 2013.
**Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
**Saran dan kritik: [email protected] atau IG podcast.tempo
Istilah drive-thru atau istilah asing lain belum tentu dipahami semua orang. Tapi terkadang padanan istilah asing dalam bahasa Indonesia juga kurang akrab di telinga kita. Alhasil, istilah atau kata asing tetap populer digunakan.
Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Kritik dan saran: [email protected]
Secara garis besar, ada tiga jenis surat, yaitu surat pribadi, surat niaga, dan surat resmi. Surat lamaran kerja adalah contoh surat resmi. Bahasa yang digunakan harus bahasa yang resmi atau formal.
Artinya, tata bahasa dan kosakatanya mesti baku. Format penulisannya pun harus baku. Bahasa dan format yang baku ini membuat surat lamaran kerja mudah dipahami dan tidak menimbulkan interpretasi ganda.
---
Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Kritik dan saran: [email protected]
Sumpah Pemuda 1928 menjadi perhelatan yang membuahkan rumusan awal bahasa pemersatu, yang berbasiskan bahasa Melayu. Tanpa bahasa pemersatu ini, tidak bisa dibayangkan bagaimana cita-cita pembentukan sebuah bangsa akan diwujudkan dalam masyarakat Nusantara yang heterogen, yang terdiri atas ribuan bahasa etnis. Lantas, mengapa dipilih bahasa Melayu?
---
**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Agung Yuswanto berjudul “Lingua Franca” di majalah Tempo edisi 16 Mei 2010.
**Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Pejabat kita masih gemar menggunakan eufemisme atau penghalusan kata dalam mengumumkan kebijakan. Pemerintah, misalnya, memilih menyebut “penyesuaian harga BBM” alih-alih “kenaikan harga BBM”, “keluarga prasejahtera” alih-alih “keluarga miskin”, “relokasi PKL” alih-alih “penggusuran PKL”, dan “ganti untung” alih-alih “ganti rugi”. Eufemisme semacam ini bisa membingungkan dan mengaburkan makna sebenarnya.
---
Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Kritik dan saran: [email protected]
Clickbait atau umpan klik di media online (daring) menjadi salah satu strategi jurnalis agar pembaca tertarik mengunjungi situs atau portal beritanya dan membaca artikelnya. Namun sering kita menemukan berita dengan judul clickbait yang menyimpang dari kaidah atau menyelipkan kata yang bersifat subyektif: miris, cantik, bikin geleng-geleng, dan sebagainya. Bahkan tak jarang judul berita itu tak sesuai dengan isinya.
---
Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Kritik dan saran: [email protected]
Lewat politik bahasa, Orde Baru—dalam kasus G-30-S—telah mengondisikan kata “dalang”, “arsitek”, dan “otak”, yang sebelumnya bermakna netral, menjadi kata-kata yang dimaknai secara negatif, kejam, brutal, bengis, dan tak berperikemanusiaan.
---
**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Triyanto Triwikromo berjudul “Dalang, Arsitek, Auktor” di majalah Tempo edisi 7 Oktober 2019.
**Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Apa hari pertama dalam seminggu? Senin atau Minggu? Lalu, tahukah Anda bahwa pukul dua dini hari masih termasuk malam?
---
Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Kritik dan saran: [email protected]
Kata yang bermakna positif di Malaysia belum tentu bermakna positif di Indonesia. Begitu pula sebaliknya. Cermati saja kata “budak”, “butuh”, “perangsang”, dan “seronok” ini.
---
**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Ekky Imanjaya berjudul “Manipulasi Makna” di majalah Tempo edisi 7 Februari 2010.
**Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co
From the publisher's feed