Celetuk Bahasa Tempo

Celetuk Bahasa Tempo

By Podcast Tempo MediaEducation
Download on the App Store

Celetuk Bahasa Tempo episodes

  • Pedagang Kaki Lima

    Mengapa pedagang yang menggunakan gerobak dan berjualan di pinggir jalan disebut “pedagang kaki lima”?

    ---

    Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.

    Kritik dan saran: [email protected]

    7 min
  • Mati Syahid

    Pahlawan itu syahadah atau martir?  

    Kata “syahid” berasal dari bahasa Arab  dan “martir” berasal dari bahasa Inggris. Keduanya sering dianggap bermakna sama. Padahal kedua kata itu memiliki makna yang tidak hanya berbeda, tapi juga bertentangan.

    ---

    **Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Husein Ja’far Al-Hadar berjudul “Pahlawan: Syahadah atau Martir?” di majalah Tempo edisi 2 Desember 2013.

    **Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.

    **Saran dan kritik: [email protected] atau IG podcast.tempo

    8 min
  • Restoran Drive-thru

    Istilah drive-thru atau istilah asing lain belum tentu dipahami semua orang. Tapi terkadang padanan istilah asing dalam bahasa Indonesia juga kurang akrab di telinga kita. Alhasil, istilah atau kata asing tetap populer digunakan.


    ---

    Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.

    Kritik dan saran: [email protected]

    9 min
  • Surat Lamaran Kerja

    Secara garis besar, ada tiga jenis surat, yaitu surat pribadi, surat niaga, dan surat resmi. Surat lamaran kerja adalah contoh surat resmi. Bahasa yang digunakan harus bahasa yang resmi atau formal. 

    Artinya, tata bahasa dan kosakatanya mesti baku. Format penulisannya pun harus baku. Bahasa dan format yang baku ini membuat surat lamaran kerja mudah dipahami dan tidak menimbulkan interpretasi ganda.

    ---

    Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.

    Kritik dan saran: [email protected]

    8 min
  • Bahasa Pemersatu

    Sumpah Pemuda 1928 menjadi perhelatan yang membuahkan rumusan awal bahasa pemersatu, yang berbasiskan bahasa Melayu. Tanpa bahasa pemersatu ini, tidak bisa dibayangkan bagaimana cita-cita pembentukan sebuah bangsa akan diwujudkan dalam masyarakat Nusantara yang heterogen, yang terdiri atas ribuan bahasa etnis. Lantas, mengapa dipilih bahasa Melayu?

    ---

    **Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Agung Yuswanto berjudul “Lingua Franca” di majalah Tempo edisi 16 Mei 2010.

    **Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.

    7 min
  • Bahasa Pejabat

    Pejabat kita masih gemar menggunakan eufemisme atau penghalusan kata dalam mengumumkan kebijakan. Pemerintah, misalnya, memilih menyebut “penyesuaian harga BBM” alih-alih “kenaikan harga BBM”, “keluarga prasejahtera” alih-alih “keluarga miskin”, “relokasi PKL” alih-alih “penggusuran PKL”, dan “ganti untung” alih-alih “ganti rugi”. Eufemisme semacam ini bisa membingungkan dan mengaburkan makna sebenarnya.

    ---

    Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.

    Kritik dan saran: [email protected]


    7 min
  • Media Clickbait

    Clickbait atau umpan klik di media online (daring) menjadi salah satu strategi jurnalis agar pembaca tertarik mengunjungi situs atau portal beritanya dan membaca artikelnya. Namun sering kita menemukan berita dengan judul clickbait yang menyimpang dari kaidah atau menyelipkan kata yang bersifat subyektif: miris, cantik, bikin geleng-geleng, dan sebagainya. Bahkan tak jarang judul berita itu tak sesuai dengan isinya.

    ---

    Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.

    Kritik dan saran: [email protected]

    7 min
  • Dalang/Arsitek/Auktor Intelektualis G-30-S

    Lewat politik bahasa, Orde Baru—dalam kasus G-30-S—telah mengondisikan kata “dalang”, “arsitek”, dan “otak”, yang sebelumnya bermakna netral, menjadi kata-kata yang dimaknai secara negatif, kejam, brutal, bengis, dan tak berperikemanusiaan.

    ---

    **Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Triyanto Triwikromo berjudul “Dalang, Arsitek, Auktor” di majalah Tempo edisi 7 Oktober 2019.

    **Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.

    7 min
  • Budak, Butuh, Seronok

    Kata yang bermakna positif di Malaysia belum tentu bermakna positif di Indonesia. Begitu pula sebaliknya. Cermati saja kata “budak”, “butuh”, “perangsang”, dan “seronok” ini.

    ---

    **Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Ekky Imanjaya berjudul “Manipulasi Makna” di majalah Tempo edisi 7  Februari  2010.

    **Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co

    7 min

About Celetuk Bahasa Tempo

From the publisher's feed

Celetuk Bahasa Tempo bersama Uu Suhardi adalah siniar mingguan yang membahas apa pun seputar bahasa Indonesia. Siniar atau podcast ini akan membawa kamu untuk merenungi kembali, “Apakah kita benar-benar sudah memahami bahasa Indonesia?”