
Sign up to save your podcasts
Or


Bahasa gaul alias slang selalu ada dari masa ke masa, misalnya bahasa prokem pada 1970-an dan awal 1980-an, yang melahirkan kata cuek, bokap, nyokap, doi, dan lain-lain. Kalau sekarang, contohnya baper, kepo, mager, dan pansos. Beberapa kata dari bahasa gaul juga telah dimasukkan ke Kamus Besar Bahasa Indonesia, tapi apakah perlu?
- - -
**Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Judul-judul film bisa menyimpan jebakan sensasi bahasa. Pada pertengahan 1990-an, film Indonesia pernah punya judul seperti Gairah Malam, Limbah Asmara, dan Ranjang yang Ternoda. Lalu, tahun 2000-an, sebagian judul film kontemporer mengorbankan unsur artistik, sehingga kita menemukan judul semacam Tali Pocong Perawan, Suster Keramas, Hantu Binal Jembatan Semanggi, dan Diperkosa Setan.
---
**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Eric Sasono berjudul “Diperkosa Setan” di majalah Tempo edisi 29 Maret 2010.
**Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Kata “oknum” acap ditemukan dalam berita “negatif” yang menyangkut pejabat atau aparat negara. Sangat sulit menemukan penggunaan “oknum” untuk kalangan warga sipil atau warga biasa, misalnya petani, buruh, dan mahasiswa.
- - -
**Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Dalam penggunaannya pada kalimat, konfiks “meng-kan” dan “meng-i” kadang dipertukarkan. Padahal, keduanya menghasilkan makna yang sangat berbeda, bahkan bisa bertolak belakang. Coba saja cermati perbedaan: membawahi dan membawahkan, memenangkan dan memenangi, meneladani dan meneladankan, dan sejenisnya.
--- --- ---
**Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Kata berimbuhan “ke-an” pada sila-sila dalam Pancasila mengandung makna yang membingungkan. Misalnya kata “ketuhanan” dan “kerakyatan”. Mengapa harus “ketuhanan”? Mengapa bukan “Tuhan” saja? Mengapa “kerakyatan”, bukan “rakyat”?
---
**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Berthold Damshauser berjudul “Bahasa Pancasila” di majalah Tempo edisi 8 Agustus 2011.
**Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Berbeda dengan gaya penulisan berita pada umumnya, berita olahraga–khususnya sepak bola–sering menggunakan gaya bahasa hiperbola. Misalnya “gol cantik”, “algojo penalti”, “bunuh diri”, “sundulan maut”, “tendangan geledek”, “menjebol gawang”, “melibas lawan”, dan “memberikan mimpi buruk”.
---
**Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Di Indonesia, bahasa umpatan atau makian lebih sering menggunakan nama-nama hewan. Itu berbeda dengan negara luar. Orang yang berbahasa Inggris, misalnya, ketika mengumpat jarang memakai nama hewan. Kalaupun ya, sifatnya lebih untuk melecehkan gender.
---
**Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Kata-kata “siap”, “ndan”, “siap 86!”, “meluncur ke TKP”, dan “mohon izin” merupakan contoh bahasa aparat keamanan yang kini sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Bila dirunut lebih dalam, sebelum era reformasi, istilah khas yang digunakan polisi dan tentara tersebut belum banyak dipakai warga sipil.
---
**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Rohman Budijanto berjudul “Bahasa Aparat Keamanan”, yang terbit di majalah Tempo edisi 18 Juli 2016.
**Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Penggunaan kata "diamankan" jika dimaksudkan sebagai penangkapan atau penahanan sebaiknya dihindari dalam tulisan jurnalistik. Penghalusan makna kata (eufemisme) semacam ini bisa mengaburkan makna sebenarnya.
---
**Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Kata juga bisa mengalami kontraksi. Dalam hal ini, kontraksi adalah proses atau hasil pemendekan suatu bentuk kebahasaan. Bahasa Indonesia sering terkontraksi mungkin karena terdiri atas banyak suku kata (multisilabis). “Satu”, “dua”, “tiga”, “tidak”, misalnya, sering terkontraksi menjadi satu suku kata (monosilabis): “tu”, “wa”, “ga”, “tak”.
Perkara kontraksi, Indonesia pernah melayangkan protes kepada Malaysia karena mereka mengontraksikan “Indonesia” sebagai “Indon”. “Indon” merupakan sebutan yang menyiratkan pelecehan rasial terhadap orang Indonesia yang tinggal di Malaysia.
---
**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Bambang Sugeng berjudul “Kata yang Terkontraksi”, yang terbit di majalah Tempo edisi 14 Oktober 2019.
**Kolom-kolom mengenai bahasa Indonesia bisa dibaca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
From the publisher's feed