
Sign up to save your podcasts
Or


Rasa takut dan pengalaman kekerasan mengubur semua potensi pemaknaan, melindas semua kebenaran historis dan faktual. Di mana ada kekerasan, di situ tak akan ditemukan bahasa!
---
**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Robertus Robet berjudul “Salah Paham dan Kekerasan”, yang terbit di majalah Tempo edisi 24 April 2011.
**Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Apa beda antara orang yang berbahasa sederhana dan yang ruwet?
Orang berbahasa ruwet bisa disebabkan oleh dua kemungkinan: si pengucap bahasa ingin tampak pintar atau sejak di alam pikir dia memang tak sederhana.
---
**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Arif Zulkifli berjudul “Tentang Ayam dan Keayaman”, yang terbit di majalah Tempo edisi 1 Oktober 2006.
**Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Dilihat dari sejarahnya, minuman keras (arak) sudah lama lekat dengan masyarakat kita, bahkan sudah disebut sejak 1365. Dalam budaya tertentu, minuman keras merupakan bagian dari ritual, perayaan, dan perjamuan.
Kamus Besar Bahasa Indonesia mencatat lebih dari 30 kata yang mengandung makna minuman keras: anggur merah, anis, aqua vitae, arak, beram, bir, bozah, brem, ciu, genegin, gin, kameko, khamar, kurasao, martini, moke, pahit, jenewer, papak, punch, rum, saguer, sajang, sajang tapai, sampanye, sopi manis, sopi, susu macan, syarab, tuak keras, tuak manis, tuak, vodka, dan wiski.
---
**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Asep Rahmat Hidayat berjudul “Arak”, yang terbit di majalah Tempo edisi 27 Agustus 2018.
**Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Konotasi “koruptor” tidak sama dengan “maling”, apalagi “bajingan”. Ini artinya koruptor “tidak serendah” atau “tidak sehina” maling dan bajingan, meski nilai nominal dan ruang lingkup dampaknya berkali lipat lebih besar. Jika bermaksud mempertegas konotasi negatifnya, mengapa tidak mendorong penggantian istilah “koruptor” dengan “maling”?
---
**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Seno Gumira Ajidarma berjudul “Korupsi Tanpa Koruptor”, yang terbit di majalah Tempo edisi 15 Mei 2017.
**Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Generasi milenial, apalagi yang lebih muda, mungkin tidak tahu bahwa odol, kodak, dan riben adalah nama-nama merek yang sangat populer di masa lalu. Merek-merek ini lazim digunakan dan tertulis sebagai nama generik dalam kamus bahasa Indonesia.
---
**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Hairus Salim H.S. berjudul “Sang Pemula”, yang terbit di majalah Tempo edisi 27 Januari 2013.
**Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Bagaimana jadinya nasib bahasa Indonesia dan bahasa daerah kita bila orang-orang tanpa pikir panjang menghubungkannya ke Undang-Undang Pornografi? Masyarakat bisa ramai-ramai dipenjarakan karena mengucapkan kata-kata ini di ranah publik: butuh, pacul, bujang, pantat, tilo-tilo, dan momok, yang bisa berarti alat kelamin dalam bahasa daerah tertentu.
---
**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Afrizal Anoda berjudul “Ke Penjara karena Bahasa”, yang terbit di majalah Tempo edisi 11 Januari 2009.
**Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Apa itu “merdeka”? Sejak peristiwa bersejarah 17 Agustus 1945, para pemimpin dan jurnalis makin gandrung menggunakan istilah “merdeka”. Sebelum kata “merdeka” sepopuler sekarang, dulu juga dikenal istilah “merdika” dan “merdeheka”, yang artinya tidak berbeda dengan kata dalam bahasa Sanskerta, “mahardika”—sebagai asal kata “merdeka”.
---
**Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Bandung Mawardi berjudul “Merdika, Merdeheka, Merdeka”, yang terbit di majalah Tempo edisi 10 Agustus 2015.
**Baca juga berbagai kolom bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Bayi-bayi apa yang paling nista di Indonesia? Jawabannya bayi kodok alias cebong. Tapi di atas cebong masih ada satwa lain yang biasa dihinakan manusia saat meluapkan emosi jiwa, yaitu anjing dan babi. Sulit mengatakan mana yang lebih nista di antara keduanya.
---
-Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Dewi Safitri berjudul “Bangsa Penista Satwa”, yang terbit di majalah Tempo edisi 8 Oktober 2018.
-Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Konon, orang Timur menjunjung kesopanan. Tapi sering kita mendengar ucapan bernada merendahkan ketika berbicara tentang tubuh seseorang. Pendek dan pesek dinilai tak sebaik tinggi dan mancung. Berkulit hitam kurang diapresiasi dibanding berkulit terang. Namun tak pernah ada alasan yang jelas di balik semua itu.
---
-Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan André Möller berjudul “Gendut, Hitam, Pesek, dan Pendek”, yang terbit di majalah Tempo edisi 4 Februari 2019.
-Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
Bagi masyarakat Indonesia, panggilan haji atau hajah (H. atau Hj.) menjadi gelar atau penanda telah selesainya rangkaian peribadatan haji. Lazimnya, panggilan itu menjadi gelar yang melekat di depan nama sepanjang hayat. Banyak yang menganggap menyandang gelar haji berarti memiliki status sosial baru.
Sedangkan bagi masyarakat Arab, istilah haji menjadi panggilan bagi umat Islam yang sedang berziarah ke Tanah Suci untuk beribadah haji. Panggilan ini bersifat sementara, hanya melekat selama umat Islam itu sedang berziarah atau akan menjalankan ibadah haji. Dan setelah pelaksanaan ibadah haji selesai, sebutan itu pun tidak terdengar lagi.
---
*Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Asep Purnama Bahtiar berjudul “Haji dan Hajah sebagai Panggilan atau Penanda”, yang terbit di majalah Tempo edisi 3 Januari 2010.
*Baca juga berbagai celetuk bahasa dari penulis lain di rubrik Bahasa majalah.tempo.co.
From the publisher's feed