
Sign up to save your podcasts
Or


“Membantu” dan “menolong” adalah contoh kata yang bersinonim. Kamus Besar Bahasa Indonesia mencatat, kata “bantu” sama dengan “tolong”. Namun ada perbedaan yang mendasar jika kata “pembantu” dibandingkan dengan kata “penolong”. “Pembantu” tidak dapat menggantikan “penolong” pada frasa “regu penolong”, “dewa penolong”, atau “malaikat penolong”. Sedangkan “penolong” tidak dapat menggantikan “pembantu” pada frasa “pembantu umum”, “pembantu presiden”, atau “peran pembantu”.
---
*Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Bambang Kaswanti Purwo berjudul “Pembantu: Dari Rumah Tangga sampai Presiden” yang terbit di majalah Tempo edisi 4 November 2007.
Satuan lazimnya lebih mudah ditentukan, misalnya sebutir, setangkai, seekor, sebatang, dan sekuntum. Adapun ukuran, dalam khazanah lama, selalu relatif.
Untuk ukuran berat, kita mengenal sepikul, segulung, sepeti, dan sekarung. Untuk ukuran panjang, ada sehasta dan sekilan. Ukuran-ukuran ini tak pernah sampai dibakukan seperti ukuran kaki dalam khazanah bahasa Inggris, yang setara dengan 30,48 sentimeter, misalnya. Ukuran waktu lebih parah. Ada istilah seumuran jagung dan sepenanakan nasi.
Dalam menentukan jarak, tak jarang kita malah memakai rentang waktu. Misalnya, ada yang menyebutkan perjalanan satu hari dua malam. Tentu kita dapat menaksir waktu tempuhnya lebih-kurang 36 jam. Tapi siapa yang bisa memastikan berapa kilometer yang bisa ditempuh dalam perjalanan selama itu?
---
*Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Yusi Avianto Pareanom berjudul “Satuan dan Ukuran” yang terbit di majalah Tempo edisi 14 Juli 2013.
*Berbagai celetuk seputar bahasa Indonesia juga bisa kamu baca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co
Ada yang menarik dalam ungkapan “korupsi berjemaah”. Ungkapan ini terbentuk oleh dua kata yang sifatnya berbeda sama sekali. Kata pertama, “korupsi”, terkait dengan dunia kejahatan kaum kerah putih dan bermakna negatif. Sedangkan kata kedua, dari kata dasar “jemaah”, adalah sebutan untuk kumpulan atau rombongan orang beribadah.
---
*Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Kasijanto Sastrodinomo berjudul “Jemaah, Bancakan, Rayahan“ yang terbit di majalah Tempo edisi 5 Mei 2013.
*Berbagai celetuk seputar bahasa Indonesia juga bisa kamu baca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co
Di suasana Ramadan kali ini, Celetuk Bahasa Tempo menghadirkan tulisan karya Qaris Tajudin yang berjudul "Memaknai Jihad". Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan kata “jihad” menjadi monopoli kelompok teroris. Mereka seolah-olah mengatakan bahwa hanya orang yang melakukan pengeboman dan kekerasanlah yang berhak menyandang predikat sebagai mujahid. Ini jelas penyempitan makna. Padahal, jika mengacu pada terjemahannya, “jihad” berarti perjuangan atau usaha yang keras. Kalau kita memakai terjemahannya, seluruh umat akan setuju bahwa jihad harus dilakukan oleh siapa pun dan kapan pun. Bahkan mungkin orang yang berjuang memberantas kemiskinan jauh lebih berhak menyandang predikat mujahid dibanding pelaku pengeboman.
---
*Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Qaris Tajudin berjudul “Menerjemahkan Jihad”, yang terbit di majalah Tempo edisi 27 September 2009.
*Berbagai celetuk seputar bahasa Indonesia juga bisa kamu baca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co
Dalam KBBI, "guru" bermakna "orang yang pekerjaannya (mata pencariannya, profesinya) mengajar". Tapi, apabila diimbuhi "meng-i", kata guru menjadi "menggurui", yang maknanya terkesan tidak baik.
---
*Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Ahmad Sahidah berjudul "Imbuhan yang Menggeser Makna". Tulisan ini terbit di majalah Tempo edisi 29 Desember 2013.
Jika mengacu pada KBBI, "Inggris" punya dua arti: nama bangsa yang mendiami Kepulauan Inggris dan nama bahasa bangsa Inggris. Lalu, dalam praktiknya, kata "Inggris" di Indonesia digunakan secara rancu. Orang Indonesia biasanya menyebut Inggris untuk merujuk ke tiga nama sekaligus, yakni England, Great Britain, dan United Kingdom. Padahal akan lebih baik jika kita menggunakan "Inggris" hanya untuk merujuk pada negara-bangsa England, lalu "Britania Raya" untuk merujuk Great Britain, dan "Perserikatan Kerajaan" atau "Uni Kerajaan" untuk merujuk The United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland.
---
*Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Hardyanto berjudul "Inggris", yang terbit di majalah Tempo edisi 9 Januari 2017.
*Berbagai celetuk seputar bahasa Indonesia juga bisa kamu baca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co
Lewat segmen "Suara Uksu", Celetuk Bahasa Tempo episode kali ini spesial menghadirkan obrolan dengan Uksu alias Uu Suhardi. Hal yang dibahas pun beragam: dari karier Uu Suhardi selama menjadi redaktur bahasa di Tempo, ketidakkonsistenan KBBI, linguistik forensik, hingga cerita di balik ajeknya Tempo menggunakan kata-kata yang dianggap tidak baku oleh KBBI.
---
Berbagai celetuk seputar bahasa Indonesia juga bisa kamu baca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co
Bahasa jurnalistik semestinya adalah bahasa yang jujur, tidak mengaburkan makna, dan mampu menerangkan fakta sesungguhnya kepada publik. Pers seharusnya tidak latah ikut-ikut polisi menggunakan kata seperti "diamankan", "berhasil menembak", "aksi penodongan”, "dimassa", dan "oknum" karena kata-kata itu sama sekali tak jelas artinya dan menabrak logika bahasa.
---
*Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan L.R. Baskoro berjudul “Bahasa Polisi” yang terbit di majalah Tempo edisi 9 Februari 2014.
*Berbagai celetuk seputar bahasa Indonesia juga bisa kamu baca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co
Lirik lagu lazimnya diizinkan mengabaikan kaidah bahasa baku, tapi sebaiknya tidak mengacaukan logika. Dalam episode ini, kita akan membedah kekacauan nalar yang ditimbulkan lirik-lirik lagu populer: “Para Pencari-Mu” (Ungu), “Cinta Ini Membunuhku” (D’Masiv), “Patah Hati” (Radja), dan beberapa lainnya.
---
*Sajian episode “Lirik Lagu yang Keliru” ini sebagian besar dipetik dari tulisan Dewi Kartika Teguh W. berjudul “Para Pencari-Mu” di majalah Tempo edisi 7 September 2008.
*Berbagai celetuk seputar bahasa Indonesia juga bisa kamu baca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co
*Kredit cuplikan lagu:
Nama binatang sering menjadi pelengkap umpatan. Sebut saja, misalnya, "cebong", "kampret", "bangsat", dan "monyet". Jarang kita temukan ungkapan berkonotasi positif semacam "mata elang" atau "burung merak".
---
*Sajian dalam episode ini sebagian besar dipetik dari tulisan Irfan Budiman berjudul “Kebun Binatang” di majalah Tempo edisi 3 Mei 2009.
*Berbagai celetuk seputar bahasa Indonesia juga bisa kamu baca di rubrik Bahasa majalah.tempo.co
From the publisher's feed