Hari Terbahagia dalam 30 tahun ini.
Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto歡迎收聽瑪麗亞週記, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga.
tema jurnal hari ini adalah cerita sesungguhnya yang saya beri judul Hari terbahagia dalam 30 tahun terakhir. ini juga merupakan sebuah kalimat yang diucapkan oleh seorang ibu yang mendapatkan bantuan sosial dan organisasi swasta bernama Wanshi-u disingkat menjadi WSU.
organisasi WSU adalah sebuah organisasi relawan membersihkan rumah orang-orang minoritas, dan kali ini saya ingin berbagi cerita ketika mereka bertugas membersihkan rumah seorang wanita yang menderita sakit jiwa ringan. Rumah ibu ini penuh dengan barang-barang, di atas ranjang juga penuh dengan tumpukan buku, pakaian empat musim, mengakibatkan ia tidak bisa tidur di ranjang dan terpaksa tidur beralas tikar di ruang tamu. organisasi WSU sebelum melakukan pembersihan, berdiskusi dulu dengan relawan yang khusus menangani kasus ibu tsb. berdiskusi bagaimana cara yang tepat berkomunikasi dengan ibu yang memerlukan bantuan tsb. biasanya orang-orang minoritas ini mempunyai watak tersendiri yang sulit ditangani dengan normal. karena mereka memerlukan pendekatan secara psikologis. membujuk, memberikan penjelasan panjang lebar. sebab membantu pun juga harus mendapatkan persetujuan dari si pemilik rumah.
rombongan relawan pembersih tiba di rumah ibu tsb, mereka masuk dan terlihat sebuah pemandangan tembok rumah kuning kecoklat-coklatan bukti jejak asap rokok, dan sangat pengap karena jendela tidak pernah dibuka, ruangan menjadi sangat pengap dan panas. Ketika para relawan masih terpukau oleh keadaan rumah, tiba-tiba ada suara “Kalian masuk ke rumah orang tidak perlu buka sepatu tah?!” segera para relawan sadar bahwa mereka masih bersepatu, karena biasanya merekatidak pernah melepaskan sepatu jika sedang bertugas. Karena biasanya keadaan rumah yang akan dibersihkan sangatlah kotor, lantar penuh dengan benda-benda kotor. Mereka tidak sadar bahwa bagi pemilik rumah, itu adalah rumahnya. Dan mungkin benda-benda kotor berserakan bagi relawan adalah sampah, tetapi bagi pemilik rumah itu adalah harta bendanya, dan bahkan merupakan bukti kenangan masa lalunya yang sangat berharga.
Relawan segera melepaskan sepatu dan berganti dengan sandal, karena tidak mungkin tanpa alas kaki bekerja dalam rumah yang amat sangat kotor. Relawan yang bertugas menangani ibu itu sudah berlutut di depan wanita yang sedang duduk tsb, dan memperkenalkan satu persatu relawan yang akan membantunya membersihkan rumah. Dengan suara lembut dan telaten, relawan menjelaskan, apa yang akan mereka lakukan. Misalnya akan membersihkan ranjangnya, tetapi ibu itu terus menolak, sambil mengatakan ia hanya sementara tidak mampu memberesi rumah, nanti kalau ia sudah kuat akan membenahi sendiri, tidak perlu bantuan kalian. Para relawan semua ikut berlutut di depan ibu tsb, dan ikut menjelaskan agar meyakinkan ibu bahwa mereka tidak akan membuang barang-barangnya, hanya membantu menata saja. Seorang relawan cowok juga berjanji kepada ibu tsb bahwa mereka hanya membersihkan tidak membuangnya. Tampaknya sang ibu mulai percaya dan memperbolehkan mereka mulai beroperasi.
Sebenarnya para relawan sangat pusing karena begitu banyak barang seperti sampah tapi tidak boleh dibuang. Karena biasanya mereka bertugas membuang sambil membersihkan. Tetapi kali ini tantangannya besar sekali.
Semula mereka berencana untuk membuang secara diam-diam, tetapi akhirnya dibatalkan karena mereka sudah berjanji tidak membuang.
Mereka mulai melepaskan kain seprei yang sudah membusuk, dan pasti di atasnya banyak kuman, dan relawan menyarankan untuk dibuang dan diganti dengan yang baru. Sambil mengelap membersihkan ranjang yang kotor tsb. relawan cowok berkata kepada sang ibu, bu nanti kalau sudah bersih, ibu akan merasa nyaman sekali tinggal di rumah ini.
Ibu ini mungkin sangat jarang berkomunikasi dengan orang, sehingga selalu meminta para relawan segera pulang, nanti sisa pekerjaan dia yang melakukannya. Sang ibu yang sakit jiwa ini kelihatan sangat stress, dan terusik. Relawan sendiri juga bekerja dengan penuh tekanan, kaerna sudah membantu masih diusir-usir, tapi di sisi lain merasa iba karena sang ibu ini sakit jiwa. Ketika para relawan membenahi buku-buku sang ibu, mereka menemukan banyak majalah bahasa Inggris, dan dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada sang ibu apakah sangat interest dengan bahasa Inggris kok banyak koleksi buku bahasa Inggris.
Rupanya topik ini membuat ibu bersemangat, keadaannya berubah sekali dari keadaan tadi yang selalu menolak yang selalu mengusir dan dalam keadaan panik stres, sang ibu sikapnya melembut dan bercerita kepada relawan bahwa ia mempunyai impian ke AS di masa mudanya, ia pernah bekerja menjadi penerjemah di sebuah badan penerbit buku bahasa Inggris di Taiwan. Dan ia pernah menerjemahkan sebuah buku bahasa Inggris. Tetapi ia tidak mau menyebut nama penerbitnya, sang ibu sakit menyayangkan keadaan perekonomian keluarganya yang miskin, sehingga tidak bisa menyekolahkannya ke perguruan tinggi agar bisa meningkatkan kemampuan bahasa inggrisnya, keluarganya harus dihidupi dari gajinya.
Untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, sang ibu sering ke gereja, karena waktu itu banyak staf gereja adalah warga negara AS, pendeta juga fasih berbahasa inggris, jadi ia berlatih bahasa inggris dengan berkomunikasi dengan mereka, di gereja, ibu itu mendapatkan banyak bantuan sehingga ia berhasil menyelesaikan terjemahan bukunya.
Rupanya nasib ibu ini sejak remaja sudah kurang beruntung, di penerbit tempat ia bekerja, ia dibully dengan tidak menggunakan namanya sebagai penerjemah, dengan alasan bahwa ia masih belum punya nama, anak baru, maka hasil terjemahannya dipakai orang lain. Ini menjadi pukulan berat baginya, dan lama tidak bisa keluar dari penderitaan batin seperti ini.
Untuk mengalihkan perhatian sang ibu ini, relawan segera mendampingi sang ibu belajar bahasa Inggris, sang ibu menjadi sangat bahagia dan tertawa-tawa senang. Relawan tidak menduga, ide mendadak, meminta si ibu mengajari mereka bahasa Inggris bisa membuat perubahan dalam sikap si ibu ini, dari semula yang penuh stres tegang dan mengusir mereka segera pulang, berubah menjadi sangat bersahabat, dan malah mengharapkan para relawan jangan segera pulang, dan meminta mereka lain kali datang lagi membenahi rumahnya.
Ketika semua tugas selesai, para relawan pembersih rumah hendak pamit pulang, si ibu berkata bahwa hari ini adalah hari yang paling bahagia bagiku dalam waktu 30 tahun ini, saya bahagia sekali karena ada orang yang mendampingi saya belajar bahasa Inggris, ada yang membantu membersihkan rumah, saya sungguh merasa bahagia sekali.
Suasana berubah menjadi hangat penuh rasa tak mau berpisah, tampaknya bantuan kecil relawan telah membantu seseorang yang murung selama 30 tahun, membuatnya sangat berbahagia. Tidakkah sangat mudah dan murah meriah membuat orang bahagia. Asal kita mau mengulurkan tangan.
Di Taiwan, dan di Taipei khususnya banyak keluarga minoritas yang hidupnya sangat terlantar dan sengsara, karena faktor kesehatan yang buruk, perekonomian yang buruk, sehingga mereka tidak mampu menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggalnya. Dan semakin lama akan semakin berdampak buruk. Organisasi WSU bekerja sama denganlembaga kesejahteraan sosial, memberikan bantuan membersihkan rumah orang-orang yang miskin tsb.