
Sign up to save your podcasts
Or


2024-02-05
讀書會 Ketika Katak Puru Berkonsultasi 6蛤蟆先生去看心理師6
Hari ini kita baca buku lagi, melanjutkan cerita yang sudah dimulai 5 pekan lalu tepatnya 1 Jan 2024, cerita ini diambil dari sebuah buku unik berjudul Counselling for Toads: A psychological adventure. Buku aslinya berbahasa Inggris, ditulis oleh Robert de Board sudah diterjemahkan ke dalam 10 bahasa termasuk bahasa Mandarin, judul buku dalam mandarinnya adalah蛤蟆先生去看心理師. Artinya Bapak Katak Puru Berkonsultasi ke Psikolog. Buku ini terinspirasi oleh buku dongeng anak-anak Inggris The Wind in the Willows ditulis oleh Kenneth Grahame.
Tokoh-tokoh dalam buku ini semua hewan masing-masing adalah:
蛤蟆Katak puru
Dan 3 kawannya adalah :
河鼠 tikus sungai、
鼴鼠Tikus tanah
和老獾luak
Dan seorang tokoh lainnya Cangak Abu.
Kalau Anda ingin mengetahui cerita ini dari awal, Anda bisa mendengarkannya di situs rtisi, mencari acara Jurnal Maria tanggal 1 Januari 2024. Sekarang mari dengarkan lanjutan ceritanya.
Wajah katak puru penuh tanda tanya.
Cangak abu melanjutkan kembali “artinya sangat sederhana. Semestinya kau masih ingat pelajaran di sekolah dulu tentang kata ego, artinya aku, ketika kita bertanya kepada seseorang ia sedang dalam keadaan yang bagaimana, sebenarnya adalah bertanya ia dalam keadaan keberadaan model apa.” Maka ketika aku mengatakan seseorang dalam keadaan anak kecil. Yang dimaksudkan adalah tindakan dan perasaannya seperti anak kecil, tetapi ini bukan arti kekanak-kanakan, melainkan seperti anak kecil.”
“Aku rasa sudah mulai mengerti, tetapi burukkah kalau dalam keadaan anak kecil?”
“Tidak masalah, ini hanya melukiskan keadaan seseorang saja. Mungkin masalah yang patut dibicarakan adalah “Dalam keadaan seperti anak-anak, akan membawa dampak yang bagaimana?” jawab cangak abu.
“Baiklah” katak puru melanjutkan “Menurutku hal ini tidak bermanfaat bagiku, sebab seseorang tidak bisa mengontrol keadaannya, maka mendiskusikan dampaknya tidak akan berarti, dampaknya hanya memperlihatkan kau macam orang apa, tetapi ini tidak bisa dikendalikan.” “Tentu saja tidak, aku kan sedang berdialog denganmu.”
“Jadi mengapa harus begitu?”
“Aku tidak tau mengapa, katak puru tampak mulai tidak sabar, “Aku harap kau jangan mengungkit kesalahanku lagi. Ini tidak adil, kau bertanya begitu banyak, membuatku sakit kepala, aku bukan psikolog.”
“Kalau begitu, hari ini sampai di sini dulu.”Kata cangak abu. Maka berakhirlah konsultasi di hari itu.
Sepekan kemudian, Katak puru kembali ke tempat Cangak Abu untuk berkonsultasi, katak puru duduk di tempat yang pernah diduduki minggu lalu. Ia sendiri sangat kaget dengan dirinya sendiri yang begitu terbiasa kayaknya berkonsultasi dengan rutin, bahkan sudah tanpa sadar merasa bahwa itu kursinya. Terkadang ia sangat ingin tahu apakah ada orang lain yang pernah duduk di situ, atau apakah ruang konsultasi ini hanya khusus diperuntukkan dirinya untuk dipakai seminggu sekali?
Tetapi yang paling melekat di hatinya adalah ia mendapatkan perhatian penuh dari cangak abu. Barulah katak puru menyadari bahwa selama hidupnya tidak pernah ada orang yang dengan sepenuh hati mencurahkan perhatian pada dirinya. Tetapi tidak termasuk apakah katak puru juga penuh perhatian pada orang lain, ini mungkin menjadi topik perbincangan lain lagi.
讀書會 Ketika Katak Puru Berkonsultasi 5
蛤蟆先生去看心理師 5
Hari ini kita baca buku lagi, melanjutkan cerita yang sudah dimulai 4 pekan lalu, cerita dari sebuah buku unik berjudul Counselling for Toads: A psychological adventure. Buku aslinya berbahasa Inggris, ditulis oleh Robert de Board.
Sudah diterjemahkan ke dalam 10 bahasa termasuk bahasa Mandarin, judul buku dalam mandarinnya adalah蛤蟆先生去看心理師. Artinya Bapak Katak Puru Berkonsultasi ke Psikolog. Buku ini terinspirasi oleh buku dongeng anak-anak Inggris The Wind in the Willows ditulis oleh Kenneth Grahame.
Tokoh-tokoh dalam buku ini semua hewan masing-masing adalah:
蛤蟆Katak puru
Dan 3 kawannya adalah :
河鼠 tikus sungai、
鼴鼠Tikus tanah
和老獾luak
Dan seorang tokoh lainnya Cangak Abu
Kalau Anda ingin mengetahui cerita ini dari awal, Anda bisa mendengarkannya di situs rtisi, mencari acara Jurnal Maria tanggal 1 Januari 2024. Maka dalam setiap Jurnal, saya tidak akan mengulang ringkasan ceritanya. Sekarang mari dengarkan lanjutan ceritanya.
“Itu membuatku merasa bagaimana?” tanya cangak abu.
“Di awal mula aku sangat marah, karena aku sudah bosan dan muak masa di penjara yang selalu dihardik sana sini. Tetapi aku tetap berterima kasih kepada tikus sungai yang telah menyelematkanku. Maka aku pun melakukan apa yang dia sarankan. Kami pergi makan siang karena aku sudah lapar sekali, aku ceritakan pengalaman yang penuh marabahaya itu kepadanya. Cerita ini pasti jauh lebih menarik dari pengalaman hidup tikus sungai.”
“Apa reaksinya?”
“Kau pasti tidak percaya, ia malah berkata “Tidakkah kau merasa tingkahmu ini sangat bodoh?”, kata-kata ini sangat melukaiku, rasanya seperti dihantam saja.” Mengenang kembali pengalaman buruk ini, katak puru kembali menangis.
“Lalu, apa yang kau lakukan?” tanya cangak abu lagi.
Baca Buku 讀書會
Ketika Katak Puru Berkonsultasi 4
蛤蟆先生去看心理師 4
Kalau Anda ingin mengetahui cerita ini dari awal, Anda bisa mendengarkannya di situs rtisi, mencari acara Jurnal Maria tanggal 1 Januari 2024. Sekarang mari dengarkan lanjutan ceritanya.
Cangak abu melihat katak puru dengan pandangan mata yang unik, seolah olah ia yakin katak puru akan membuat keputusan yang tepat. Akhirnya katak puru berkata “aku bersedia bekerjasama denganmu, mencoba mengatasi penyebab ketidakbahagiaanku ini, dan bagaimana mengantisipasinya. Aku membawa buku catatan, kucatat jadwal tadi ya.?
Ketika cangak abu mengantarnya keluar, katak puru membalik badannya bertanya “Menurutmu, aku bisa sembuh?”
Cangak abu terhenti, dan memandang ke mata katak puru “Pak katak puru, kalau aku tidak yakin setiap orang berkemampuan untuk menjadi lebih baik, aku tidak akan praktek. Aku tidak jamin setiap kali bisa membaik, tetapi aku jamin, aku akan mencurahkan perhatian 100% untukmu, demikian pula kau juga. Kalau kita berdua saling berupaya, maka hasil positif menantikan kami. Tetapi semua ini ada ditangan kamu sendiri.”
Katak puru berjalan pulang sambil mencerna omongan psikolog tadi.
Sejak pertemuan pertama dengan cangak abu, katak puru melewati masa seminggu seperti setahun, baginya waktu berjalan begitu lambat, ia menjadi tidak bergairah, setiap bangun pagi, ia dipenuhi perasaan sedih, seperti seorang pesakitan. Biasanya keadaan akan membaik dan sampai malam hari kembali galau lagi hatinya. Ia memaksa dirinya berjalan-jalan setiap hari, meskipun ia berada di bawah sinar matahari musim dingin, ia merasa seperti potret hitam putih saja nuansa itu.
Pada awal mula, temannya masih datang menjenguk, berusaha menyenangkan hatinya. Ia bermain kartu dengan tikus sungai, luak sering menceritakan berita-berita di koran untuk menyenangkan hati katak puru. Selalu berita yang lucu-lucu. Tetapi setelah semua pulang, katak puru merasa lelah sekali dan tidur. Ia selalu terbangun pada jam 3 pagi, dan tidak bisa tidur lagi.
Akhirnya tibalah hari selasa yang dinanti-nantikan, katak puru dalam perjalanan ke pondok cangak abu selalu bercampur-aduk perasaannya. Meskipun katak puru masih tidak begitu mempercayai cangak abu, tetapi bagaimanapun juga ia adalah seorang psikolog yang membuatnya sedikit tenang. Tetapi cepat sekali ia kembali resah, karena ia mengawatirkan perkembangan dialog mereka dalam konsultasi yang baru, pada kenyataannya, untuk datang berkonsultasi, bagi katak puru sudah merupakan suatu perjuangan batin yang seru. Tetapi ada sesuatu yang ia peroleh dari konsultasi pertama yaitu : harus segera menyelesaikan masalah ini, dan hanya dirinyalah yang bisa mengatasinya. Ia mulai menyadari bahwa ia harus segera lebih dewasa dan belajar lebih banyak.
Hari ini kali kedua katak puru duduk dalam ruangan konsultasi yang berupa kamar baca, psikolog duduk di depannya. Sama seperti pertama kali, hening tanpa kata-kata, katak puru kembali merasakan tekanan dan kegalauan yang semakin menimpanya. Akhirnya psikolog membuka suara. “Pak katak puru, bagaimana keadaan di hari ini?”
“Baik-baik saja, terima kasih.” Ini adalah jawaban yang sudah diajarkan sejak kecil, maka jawaban itu dilontarkan tanpa berpikir banyak, sebenarnya sama sekali tidak ada artinya jawaban seperti itu. Tampaknya psikolog tidak tertarik dengan jawaban klise seperti ini.
“Aku bertanya sekali lagi, apa perasaanmu yang sebenarnya?”
Dengan tidak tenang katak puru balik bertanya “Kau mengatakan perasaan, apa artinya?”
Katak puru bukan sengaja menunjukkan kelambanannya. Seperti kebanyakan orang, ia tidak pernah mengamati serius emosi dirinya sendiri, dan juga sulit dituturkan dalam kata-kata, maka tentu saja tidak mungkin bisa diutarakan kepada orang lain. Sebenarnya, tanpa ia sadari, ia sudah mengembangkan banyak strategi untuk berhasil menghindari mengamati perasaan dirinya. Maka ia menjadi orang yang paling ramah dalam menyapa orang, seperti sapaan khasnya yang penuh semangat dan kehangatan “Halo apa kabar semuanya? Teman-temanku” dan dilanjutkan lagi dengan “Kalian pasti tidak bisa menerka apa yang telah aku lakukan belakangan ini.” Atau seperti ini “ayo teman-teman coba lihat ini”, maka tidak pernah ada orang yang bertanya kepada katak puru “Apa kabar?” “Baik-baik sajakah?” apalagi pertanyaan “Bagaimana perasaanmu hari ini?”
Pertanyaan bagaimana perasaanmu bagi katak puru adalah sangat luar biasa yang bisa membuatnya tidak tenang. Terutama kalau kelihatan lawan bicara itu ingin mendapatkan jawaban darinya. Tetapi katak puru tidak pernah mencoba untuk mengintrospeksi diri, sehingga ia sungguh tidak tahu bagaimana melukiskan perasaan hatinya.
Ketika Katak Puru Berkonsultasi 3 蛤蟆先生去看心理師 3
Hari ini kita baca buku lagi, melanjutkan cerita yang sudah dimulai 2 pekan lalu, cerita dari sebuah buku unik berjudul Counselling for Toads: A psychological adventure. Buku aslinya berbahasa Inggris, ditulis oleh Robert de Board.sudah diterjemahkan ke dalam 10 bahasa termasuk bahasa Mandarin, judul buku dalam mandarinnya adalah蛤蟆先生去看心理師. Artinya Bapak Katak Puru Berkonsultasi ke Psikolog. Buku ini terinspirasi oleh buku dongeng anak-anak Inggris The Wind in the Willows ditulis oleh Kenneth Grahame.
Tokoh-tokoh dalam buku ini semua hewan masing-masing adalah:
蛤蟆Katak puru
Dan 3 kawannya adalah :
河鼠 tikus sungai、
鼴鼠Tikus tanah
老獾luak
Dan seorang tokoh lainnya Cangak Abu
Kalau Anda ingin mengetahui cerita ini dari awal, Anda bisa mendengarkannya di situs rtisi, mencari acara Jurnal Maria tanggal 1 Januari 2024. Sekarang mari dengarkan lanjutan ceritanya.
Tikus sungai dan tikus tanah yang semula berdua berkunjung ke rumah katak puru sambil membawa informasi psikolog agar katak puru bisa berkonsultasi, menjadi lebih lengkap lagi rencana baik mereka karena ada Luak bapak tua yang juga ingin nimbrung. Ketiga teman katak puru takut ia membunuh diri karena depresi maka satu sama lain saling mendorongnya untuk berkonsultasi dengan psikolog Cangak Abu atau burung Kuntul besar yang sekarang berpraktek di kota mereka berada.
Nasihat beraneka macam sudah diterapkan, katak puru tetap tak mau, akhirnya Luak tak tahan lagi, dengan geram ia mengatakan “Dengar kau katak puru, kau tidak bisa begini terus, kami semua sudah berupaya keras membantumu, tetapi kau tampknya tidak mau membantu dirimu sendiri, sekarang tinggal satu cara terakhir yaitu kau harus berkonsultasi ke psikolog.”
Sebenarnya tikus tanah merasa, katak puru bukannya tidak mau menolong dirinya sendiri, melainkan tidak mampu, tidak berdaya.
Seketika suasana menjadi tegang, dan sunyi senyap, sampai-sampai katak puru tegak duduknya. Sebenarnya semua yang berada di ruangan tersebut termasuk katak puru, tidak tahu apa arti sebenarnya konsultasi ke psikolog, mereka hanya tahu bahwa seseorang yang mengalami hal yang mengerikan atau hal yang tak bisa dikuasai harus berobat ke psikolog dengan berkonsultasi.
Tikus sungai sebenarnya lebih konservatif pemikirannya, ia merasa “Memang keadaan katak puru sangat gawat menurut mu luak? Maksudku, tidakkah kau mencurigai psikolog ini, coba lihat iklannya, seolah-olah mengatakan semua orang sekarang perlu berkonsultasi psikolog. Di zaman aku dulu, kalau hati sedang galau, dokter akan memberi kita aspirin, mungkin aspirin lebih mempan.” Tikus sungai merasa tidak tenteram hatinya sejak ia ikut-ikutan mendorong katak puru ke psikolog.
Tikus tanah menyela “Tapi kan kita sudah punya alamat psikolog di kota ini, bukankah kita semua sudah sepakat menyarankan katak puru berkonsultasi. Aku setuju dengan Luak.”
Ketika Katak Puru Berkonsultasi 2 蛤蟆先生去看心理師 2
Hari ini kita baca buku lagi, melanjutkan cerita di pekan lalu, cerita dari sebuah buku unik berjudul Counselling for Toads: A psychological adventure. Buku aslinya berbahasa Inggris, ditulis oleh Robert de Board.sudah diterjemahkan ke dalam 10 bahasa termasuk bahasa Mandarin, judul buku dalam mandarinnya adalah 蛤蟆先生去看心理師. Artinya Bapak Katak Puru Berkonsultasi ke Psikolog. Buku ini terinspirasi oleh buku dongeng anak-anak Inggris The Wind in the Willows ditulis oleh Kenneth Grahame.
Tokoh-tokoh dalam buku ini semua hewan masing-masing adalah:
蛤蟆Katak puru
Dan 3 kawannya adalah :
河鼠 tikus sungai、
鼴鼠Tikus tanah
老獾luak
Kalau Anda ingin mengetahui cerita ini dari awal, Anda bisa mendengarkannya di situs rtisi, mencari acara Jurnal Maria tanggal 1 Januari 2024. Sekarang mari dengarkan lanjutan ceritanya.
Tikus tanah menekan tombol bel rumah, sudah dibel berkali-kali dan sudah berdering begitu lama, tapi tidak ada orang yang membuka pintu. Tikus tanah berpikir: “Mungkin katak puru sedang bepergian keluar, siapa tahu ia sedang main billiard di klub.” Karena ia tahu bahwa katak puru sangat lihat bermain billiard. Tetapi ia tidak mau beranjak pergi, tikus tanah mengelilingi lahan di pinggir rumah, dan sampailah ia ke pintu belakang. Ia melihat ke dalam melalui jendela dapur, tidak ada orang di dapur, tetapi terlihat ada api di dalam tunggu. Ia sangat kenal dengan dapur ini, kursinya sangat nyaman untuk duduk, di musim dingin ia pernah minum kopi dengan katak puru di dapur itu. Ia melihat ada setumpuk baju kama di atas sebuah kursi. Tiba-tiba, baju-baju itu bergerak, tikus tanah ketakutan, ketika hendak melarikan diri, ada baju jatuh ke lantai, ternyata itu adalah sang katak puru.
Hari ini baca buku apa ya?
Hari ini kita membaca sebuah buku berjudul Counselling for Toads: A psychological adventure. Buku berbahasa Inggris, ditulis oleh Robert de Board.yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin berjudul 蛤蟆先生去看心理師. Diterjemahkan oleh Chang Mei Hui. Buku versi Mandarinnya sudah diterbitkan pada Jan 2022 lalu. Buku ini terinspirasi oleh buku dongeng anak-anak Inggris The Wind in the Willows ditulis oleh Kenneth Grahame. Buku ini dengan apik membaurkan ilmu psikologi dalam cerita dongeng, sampai ditayangkannya jurnal pada awal tahun 2024, buku berbahasa Inggris ini telah diterjemahkan ke 10 bahasa asing, buku ini sudah menjadi bestseller sejak 1997 hingga sekarang.
Buku ini menasihatkan asalkan emosi kita mendapatkan pengertian dari orang lain, maka pasti ada kesempatan untuk berkembang terus.
Para tokoh dalam buku ini semua berupa hewan, ada:
蛤蟆Katak puru (bahasa Inggris: toad)
Dan 3 kawannya masing-masing adalah :
河鼠 tikus sungai、
鼴鼠 tikus tanah
老獾luak
Buku berjudul Sejarah Kuliner Taiwan yang telah saya beli 2 tahun lalu ini isinya sangat lengkap sekali, dari sejarah, bahan hingga cara masak secara garis besar. Dan memang penulisnya memang buku akhli masak, dan bermula dari pekerjaannya sebagai seorang wartawan budaya dan mewawancarai para penjual kuliner jalanan di kota Keelung, sehingga menjadi asetnya untuk mengembangkannya di hari pensiunnya.
Di edisi Jurnal pekan lalu telah menyinggung sebuah kudapan asli Taiwan bernama bawan, semacam cilok berisi adonan daging yang diwarnai merahnya angkak, dimakan dalam keadaan panas, ketika memakannya, penjual akan menggunting bagian tengah, bagian perut bawan cilok Taiwan ini, agar isinya terlihat, dan disiram dengan saus merah racikan penjualnnya, biasanya saus ini terbuat dari miso Jepang, dimasak bersama air tepung kanji dengan aroma bawang putih dan cabe yang tidak pedas. Mirip dengan saus risoles atau saus lumpia yang menggunakan tauco.
Nah bagaimana dengan kudapan lainnya.
Selain Bawan, ada satu kudapan lain yaitu sup kental mi kacang putih “Dòu Qiān Geng”. Dou Qian adalah mi yang terbuat dari kacang putih, kudapan yang terkenal di Anxi Quanzhou. Menurut Tsao Ming-chung, di Anxi tempat asal sup kental mi kacang putih ini sering dimasak bersama sayur oyong, lalu setelah dibawa ke Keelung yang berdekatan dengan laut, sup ini menjadi meriah karena ditambahi dengan produk lokal seperti tiram, udang dan ikan sotong serta aneka hasil laut.
Ada lagi kudapan populer lainnya yaitu roti lapis bernutrisi. Adonan roti yang terbuat dari tepung terigu gluten tinggi, setelah digoreng, dibelah untuk mengapit isi daging ham, telur kecap, irisan tomat dan bahan-bahan lainnya, bagian teratas disiram dengan saus mayones. Kudapan berbau klasik ini diciptakan oleh seorang penjual senior, ia mencari inspirasi dari majalah Jepang, dan dikombinasikan dengan salad boat kudapan Amerika, menyontek roti goreng ala Jepang, dan dilengkapi dengan saus mayones versi Taiwan (saus mayones original hanya terbuat dari kuning telur, tetapi mayones yang versi Taiwan menggunakan putih dan kuning telur, ditambahi dengan gula yang banyak sehingga rasa asam berkurang), menjadi kudapan yang mengartikan Taiwan membuka tangan terhadap budaya asing dan dibaurkan menjadi satu dalam budaya Taiwan.
Salah satu penyebab Tsao Ming-chung terlena dalam pekerjaan menggali sejarah budaya kuliner adalah betapa menariknya aneka cita rasa yang terkandung. Dalam kesehariannya, Tsao suka berbelanja di pasar tradisional dan memasak. Usai purnabakti dua dasawarsa sebagai wartawan budaya, ia menjadi penulis dan menekuni penelitian sejarah resep kuliner Taiwan.
Pada tahun 2021, Tsao Ming-chung bersama pakar sejarah Kaim Ang berkolaborasi menerbitkan sebuah buku berjudul “Sejarah Kuliner Taiwan”, mengupas proses pembentukan dan keistimewaan budaya kuliner Taiwan. Tsao yang sangat berpengalaman dalam kuliner bertugas memegang kendali utama, bertanggung jawab mencari inspirasi dan menuangkannya ke dalam tulisan. Kaim Ang berperan sebagai asisten kendali utama bertugas memberikan dukungan data ilmiah sejarah, dan mengandalkan kepiawaiannya dalam multi bahasa seperti Taiyi, Jepang, Belanda, Inggris dan bahasa asing lainnya, menggali jejak evolusi kuliner dari tumpukan buku-buku kuno.
Keelung adalah suatu tempat yang dilalu-lalangi banyak orang, demikian pula Taiwan negeri pulau ini, etnis yang berbeda budaya mendarat di Taiwan dalam periode waktu yang berbeda. Buku “Sejarah Kuliner Taiwan” tidak berpatokan pada kelompok etnis tertentu atau kuliner tertentu, melainkan membahas seluk beluk bahan, makanan dan ciri khas kuliner.
Menurut Tsao, gaya penulisan seperti ini bisa terhindar dari keterbatasan akibat terlalu menonjolkan etnis tertentu, sekaligus mengangkat Taiwan ke tingkat standar dunia, ini juga sama dengan konsep “Sejarah Pulau Taiwan” yang dicanangkan sejarawan Tsao Yung-ho.
台灣人的胃納 Kemampuan Menyerap Orang Taiwan
Pada bagian pembuka buku dituliskan “Keunikan geologi, topografi dan letak geografis Taiwan, membuat Taiwan menjadi pulau yang mengandung banyak varian mahluk hidup dan budaya sehingga kaya akan sumber daya kuliner di laut maupun darat. Namun, aset kuliner dan budaya yang berlimpah ini kurang diabadikan dalam catatan sejarah mengingat budaya kuliner tidak mendapatkan tempat penting dalam tradisi kebudayaan Tionghoa, apalagi telah mengalami banyak kali pergantian penguasa dan perbedaan etnis mengakibatkan muncul banyak keraguan sumber.
Kaim Ang dengan nada pasrah mengatakan “Banyak orang Taiwan tidak mengenali sejarah Taiwan”. Serangkaian pertanyaan seperti: Mengapa Taiwan menjadi surga kuliner? Mengapa populasi vegetarian di Taiwan begitu banyak? Mengapa orang Taiwan tidak suka pedas? Berdasarkan apa Taiwan bisa menciptakan kuliner seperti nasi daging kecap “lu rou fan” dan teh susu mutiara?
Jawaban untuk aneka pertanyaan ini adalah proses orang Taiwan dalam menyerap semua yang masuk.
Meskipun data sejarah peninggalan di masa penjajahan Jepang sangat sedikit, tetapi Kaim Ang beranggapan, Taiwan bukanlah suatu tempat yang tertutup, kalau dikaji dari sudut struktur sejarah, hubungan interaksi antara lingkaran budaya Zhangzhou-Quanzhou-Chaozhou dan lingkaran budaya Austronesian tidak pernah berhenti.
Melalui perbandingan dengan data-data sejarah, dokumen dan fenomena budaya negara lain, dan mengandalkan cara penelitian etimologi, penulis telah menemukan banyak fenomena dan memperoleh penjelasan yang masuk akal.
2023-12-18
JM 18 Des 2023 讀書會 Bacabuku Surga Kuliner1 美食王國1
Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto歡迎收聽瑪麗亞週記, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga. Hari ini mari kita baca buku lagi, sebenarnya setiap pekan kita membaca buku, sebuah buku kehidupan. Yang diwujudkan dalam bentuk aneka ragam, seperti cerita, seperti laporan kesan dan masih banyak lagi.
Bagaimana kesan para Jmers, tentang cerita jalan-jalan setapak tua khususnya cerita Shakaro yang berlangsung sampai 5 episode. Lain kali, saya sambung lagi dengan cerita sejenis karena buku Shakaro mengandung banyak cerita.
Hari ini saya memperkenalkan sebuah buku dan juga penulisnya, sebenarnya bukunya sudah saya beli dua tahun lalu, dan juga secara kebetulan juga teman facebook. Penulis Tsao Ming-chung ini di masa pensiunnya menekuni karya tulis tentang boga Taiwan khususnya. Dan mengapa tertarik untuk saya perkenalkan di Jurnal, karena kebetulan saya kebagian tugas menerjemahkan artikelnya yang dimuat di majalah Taiwan Panorama yang membahas tentang kuliner Taiwan, bagaimana ia bersama seorang pakar lainnya bernama Kaim Ang menjelajahi sejarah kuliner Taiwan dengan meneliti buku-buku kuno dalam multi bahasa.
Judul bukunya Sejarah Kuliner Taiwan, kolaborasi bersama Kaim Ang yang pandai berbahasa asing. Nah.... segera kita mulai menyimak penulis Tsao Ming-Chung dan juga bukunya.
Artikel dalam Taiwan Panorama, bisa Anda baca di edisi tahun depan, jadi mengapa tidak sekarang saya perkenalkan lebih luas isi tulisannya dan juga tentang sejarah kuliner Taiwan.
From the publisher's feed
Dari mata Maria melihat:
Serba Serbi Kehidupan, Baca Buku, Seni Budaya, Q&A