Dalam buku Jalan-jalan ke pantai, diceritakan seorang ibu bercerai karena sang ayah selingkuh, tentu emosi ibu masih tidak tenang, dan masih dipenuhi rasa dendam dan marah, perasaan negatif ini sering menyiprat ke puteranya, bahkan sering mengeluh dan menyatakan dirinya tidak ingin hidup lagi, semua omelan dan luapan emosi negatif ini masuk ke telinga sang anak laki-laki, tentu menjadi sebuah tekanan bukan.
Pada suatu hari, ibu dan anak sedang berjalan-jalan di pantai, sang ibu kembali lagi mengomel, mengeluh, masih belum bisa keluar dari kemelut perceraian dari suami selingkuh. Apa reaksi dari sang putera? Tampaknya sang putera memberikan reaksi yang sangat menyentuh hati. Ia berkata kepada ibunya “Bu, kalau hidup ini membuat ibu begitu menderita, dan ibu hendak menyudahinya, saya tidak akan menghalangi ibu, semua ini karena saya mencintai ibu, dan berdasarkan rasa cinta kasih ini, asalkan ibu memberitahu terlebih dahulu, jangan sampai tiba-tiba melakukan hal yang mengejutkanku, tetapi berilah waktu pada anakmu ini untuk mengucapkan selamat tinggal.”
Sang putera tahu, ibunya sangat sedih dan sering mengatakan ingin menyudahi hidupnya, dan ia tahu, sulit untuk mengubah keputusan ibu, maka kalau ibunya benar-benar melakukannya, ia hanya bisa menerimanya dengan hati penuh kesedihan,
Sang putera dengan nada pelan mengatakan, saya sebagai anak laki-laki ibu, tidak berhak meminta ibu hidup untuk saya, karena kami masing-masing mengemban tanggung jawab duniawi yang seperti salib yang kita pikul secara perorangan, tetapi ibu seperti seorang penjelajah, yang lebih banyak pengalaman daripada saya, karena ibu sudah mengecap pengalaman hidup terlebih dahulu, jika suatu waktu ibu merasa jalan ini sudah sangat sulit untuk dilalui, maka saya pun juga menjadi tahu bahwa perjalanan ini sangat menderita, dan kalau waktu terlalu berkepanjangan, saya akan tahu bahwa perjalanan ini pada akhirnya toh penuh ketidakbahagiaan. Tetapi kalau ibu melanjutkan terus perjalanan ini, meskipun banyak kendala dan kesusahan, saya pun menjadi tahu, bahwa bagaimana sulitnya perjalanan hidup ini, saya tetap bisa terus bertahan sampai akhir, karena ada ibu di depan saya yang memberi contoh pada anakmu ini.
Teman-teman, puteranya tidak secara langsung menuntut ibunya untuk berubah, walau menghadapi ibu yang terus menerus dalam nuansa emosi negatif, tetapi di sisi lain, sang putera memberitahukan kepada ibunya, dirinya akan mengalami nasib yang bagaimana di masa yad setelah sang ibu melakukan penyudahan hidupnya seperti yang sering dikeluhkan.
Sang putera berkata kepada ibu, jika ibunya bersedia berjalan terus ke depan, maka ia akan mendapatkan keberanian dari sang ibu untuk menyambut dunia ini, jalan di depan walaupun masih penuh tanda tanya, tetapi sang putera akan melangkah menyongsong masa depan dengan penuh harapan. Tetapi jika, sang ibu takluk, tidak mau mengatasi kemelut, dan menyudahi hidupnya, sang putera ini mengatakan, ia pun juga mendapatkan pelajaran dari sikap ibu, yaitu di dunia ini, manusia tidak perlu berjuang, tidak perlu menekuninya, karena diujung jalan hanyalah semak belukar yang menghadang tanpa harapan.
Pernyataan sang anak ini membuat ibunya berubah pikiran, ia segera memeluk sang putera menyatakan kasih sayangnya. Sebenarnya ibu yang sedih ini begitu sering melampiaskan rasa kecewa dan putus asa kepada sangat anak, tiba-tiba tersadar setelah mendengarkan ucapan sang anak, ia segera menyadari bahwa sikapnya dalam menangani kendala hidup akan berdampak pada kehidupan puteranya. Ia selalu merasa puteranya hidup tidak bahagia, ia pun juga tidak mau melihat masa depan anaknya begitu kelabu, sekarang sang ibu begitu sadar bahwa kalau ingin anaknya hidup bahagia, tidak cukup hanya dengan memberikan dorongan dan nasihat saja, melainkan harus memberikan contoh dari kelakuannya. Sebab sang ibu menjadi contoh yang terbaik bagi sang anak. Kalau ibu merasa hidup yang menderita harus disudahi dengan cara itu, maka sang anak akan belajar dari sang ibu, dan anak akan merasa bahwa hidup ini penuh penderitaan dan tidak bisa diatasi dan tidak tahu harus diantisipasi dengan cara melawan kendala agar bisa hidup terus. Sang anak akan meniru menjadi orang pengecut, tidak mau berusaha menghadapi kendala, dan mudah terpukul serta tidak ada hasrat untuk melawan nasib buruk maupun memperbaikinya.
Demi cinta seorang ibu kepada anaknya, sang ibu menjadi orang tua yang tegar, ini tidak mengartikan sang ibu sudah mulai tidak merasa menderita, atau menutupi kesedihan ketika berhadapan dengan sang anak, pura-pura tegar, semuanya bukan, keberanian yang sungguh-sungguh bukanlah digalang di atas kepurapuraan, malah sebaliknya, sang ibu mulai mengakui dan menerima dirinya yang sedang terpuruk oleh kesedihan, ia mulai melakukan langkah perubahan dalam puing-puing kehidupannya yang retak karena perceraian.
Kami memang tidak bisa mengontrol kelestarian lingkungan hidup kita, tidak bisa selalu mempertahankan keamanannya, demikian pula kita juga tidak bisa menjamin, anak kita selalu terhindar dari aniaya, tetapi yang bisa kita lakukan adalah kita menjadi contoh mereka, membuat mereka melihat bagaimana cara kami mengentaskan diri dari penderitaan hidup, bagaimana kita tegar berjuang untuk keluar dari kendala hidup dan kembali menjadi manusia yang sehat normal jiwa dan raga.
Sebagai sosok dewasa, apalagi menjadi orang tua, jika bisa berjuang menerobos kendala-kendala hidup, dan mempertahankan sikap hati yang penuh suka cita dalam nuansa negatif, mungkin ini adalah sebuah kado berharga bagi anak.
Teman-teman Jmers, kita telah membaca buku berjudul, keluarga dia, luka hatimu episode Jalan-jalan ke pantai.