Pandemi COVID-19 yang terus merebak di Indonesia, membuat kawasan perekonomian di Jakarta yang biasanya ramai, kini sepi tanpa lalu lalang warga. Sebagian besar kawasan bisnis di jantung Ibukota pun tutup, mayoritas warga pun menaati ketentuan âsocial distancingâ yang ditetapkan oleh pemerintah setempat. Namun demikian, bagi warga yang âhidupâ bergantung  dengan upah harian, terpaksa tetap harus keluar rumah untuk menjalankan keseharian mereka.
âTidak ada modal, jadi tidak bisa untuk tetap berdiam di rumah,â ungkap salah seorang warga.
Setelah pemerintah Indonesia mengumumkan kasus awal COVID-19 pada bulan Maret silam, jumlah warga yang positif terinfeksi virus korona pun meningkat setiap harinya. Setelah dimusyawarahkan, beberapa kebijakan pun dirilis guna menekan angka penyebaran yang ada. Terhitung tanggal 10 April 2020, Jakarta menjadi kota pertama di Indonesia yang resmi menerapkan prosedur âsocial distancingâ, dan tidak menutup kemungkinan jika hal yang sama juga akan diberlakukan di kawasan pinggiran Ibukota.
Ketetapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dibentuk di bawah aturan âUndang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Kekarantinaan Wilayahâ tersebut, tidak berlaku bagi 11 sektor industri yang menyediakan bahan keperluan sehari-hari masyarakat. Dengan demikian, rakyat dengan ekonomi rentan masih dapat mengais rezeki guna melangsungkan kehidupan. Sehingga tidak heran, jika di beberapa sudut Kota Jakarta masih terlihat kumpulan para pengemudi ojek online (ojol), pemulung yang tengah menarik truk sampah, gerobak penjaja makanan atau bahkan pedagang sayur yang sedang menjajakan jualan mereka.
Beberapa orang mematuhi peraturan pemerintah, yang menginstruksikan untuk senantiasa mengenakan masker mulut saat keluar rumah. Namun kini, masker mulut medis menjadi produk yang nyaris langka.
âKalau adapun, harga-nya selangit,â ujar salah satu warga.
Banyak dari warga penerima âupah harianâ merupakan sosok tulang punggung dalam keluarga, membuat pemerintah Indonesia harus berpikir dua kali sebelum menerapkan prosedur âtotal-lockdownâ untuk mengunci langkah setiap warga keluar dari rumah.
Oji yang berprofesi sebagai sopir ojol Gojek kepada CNA News menyampaikan, semenjak 1 bulan terakhir jumlah permintaan menurun drastis. Sudah dua hari ini, dirinya hanya mampu memperoleh pendapatan sebesar Rp 95.000 (sekitar NT$ 95). Dirinya yang tinggal di Depok ini, harus bolak-balik Jakarta demi menghidupi keluarga di rumah.
âHari ini tidak ada pesanan antar,â ujar Oji yang sudah 4 hari tidak pulang, karena âtakutâ menghadapi istri dan anak yang menantinya di rumah.
Oji yang tahun ini genap berusia 57 tahun menceritakan, sebelumnya ia sempat bekerja sebagai teknisi air dan listrik di kawasan perbelanjaan elit di Jakarta, yakni Grand Indonesia. Setelah dipecat, ia pun mengambil inisiatif untuk mencicil satu unit sepeda motor, kemudian beralih menjadi sopir ojol. Di saat kredit motor belum lunas, wabah virus korona mulai berkecamuk di Jakarta dan menurunkan jumlah permintaan para warga terhadap ojol. Fakta di lapangan membuat pendapatan Oji menurun drastis dan akhirnya membuat dirinya harus nunggak bayar cicilan selama 1 bulan.
âKalau nunggak 3 bulan, motor saya akan disita,â ucap Oji.
Meski tidak ada pesanan, dirinya tetap keluar mencari penumpang setiap harinya. Dirinya mengaku harus tidur di Mesjid, demi menghemat uang minyak karena jarak perjalanan Depok-Jakarta-Depok yang cukup jauh.
Aturan PSBB yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Indonesia mengatur, bahwa sopir online tidak diperkenankan mengangkut penumpang, mereka hanya diperbolehkan mengantar makanan atau barang.
Ageng yang juga berprofesi sebagai sopir ojol ini mengaku, jika sebelumnya ia bisa mendapatkan upah sebesar Rp 300.000 hingga Rp 400.000 (setara dengan NT$ 570~NT$760) per hari. Kini, setelah wabah COVID-19 merebak, pendapatan hariannya harus menurun, dan bahkan tidak mencapai setengah dari upah biasanya. Â
Ageng menyampaikan, dia tidak setuju dengan larangan mengangkut penumpang, tetapi hal tersebut terpaksa harus dilakukan, guna menekan angka penyebaran epidemi. Ageng juga cemas akan kemungkinan dirinya terinfeksi COVID-19, apalagi ia satu-satunya menjadi tulang punggung di dalam keluarga.
âSaya masih terus mencari peluang, dan tidak mungkin berdiam di rumah,â jawab Ageng.
Ia pun menuturkan akan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh pemerintah, misal rajin mencuci tangan dan membawa cairan pembersih desinfektan kemanapun ia pergi.
Sebelum PSBB resmi diberlakukan, petugas aparat setempat telah mensosialisasikan hal tersebut di jalan-jalan Kota Jakarta. Selama beberapa hari, aparat kepolisian pun telah berkeliling dan meningkatkan patroli di malam hari. Petugas kepolisian bersama tentara militer melakukan konvoi melewati kawasan bisnis di Jakarta Utara dan Barat pada tanggal 8 April 2020 malam. Dengan menggunakan pengeras suara, mereka mengumumkan agar para warga mulai menjalankan prosedur âsocial distancingâ dan meminta mereka untuk segera kembali ke rumah.
Pada tanggal 9 April 2020 (1 hari sebelum PSBB diberlakukan), kondisi Kota Tua masih penuh dengan kios dan gerobak yang tengah menjajakan jualan mereka. Personil militer dengan aparat kepolisian pun mendatangi satu per satu pada pedagang dan menjelaskan prosedur PSBB yang mulai berlaku esok hari.
Yusuf pemilik warung makanan khas Padang menyampaikan, epidemi sangat berpengaruh terhadap pemasukannya.
âBisnis saya turun 50% hingga 70%. Semua orang panik akan kemungkinan lockdown, ujung-ujungnya saya juga tidak bisa jualan,â ungkap Yusuf.
Yusuf melanjutkan, kondisi miris ini tidak hanya dialami oleh dirinya. Teman-teman pedagang lainnya juga merasakan hal yang sama, beberapa dari mereka bahkan hanya memperoleh Rp 20.000 (setara dengan NT$ 38) per hari.
âKami berharap dapat mengikuti anjuran pemerintah. Maaf sebelumnya, jika kami tetap berharap dapat diberikan kesempatan untuk berjualan. Ini adalah harapan kecil kami. Meski pendapatan yang kami terima sedikit, tetapi setidaknya dapat menghidupi keluarga kami.â
Banyak negara di dunia harus menghadapi aksi kerusuhan para warganya, setelah otoritas setempat mengumumkan status âlockdownâ. Sadar akan hal tersebut, pemerintah Indonesia sangat berhati-hati dalam menetapkan kebijakan dan mempertimbangkan dampak dari implementasi prosedur PSBB.
Beberapa hari sebelumnya, Presiden Joko Widodo telah menetapkan subsidi bantuan bagi setiap warga sebesar Rp 600.000 (sekitar NT$ 1140) selama 3 bulan. Diharapkan subsidi ini dapat membantu setidaknya 1,2 juta rumah tangga di Jakarta dan 10,97 juta rumah tangga di seluruh Indonesia, dengan total anggaran mencapai Rp 19,4 triliun (sekitar NT$ 36,9 miliar).
Indonesia memiliki populasi sekitar 267 juta jiwa. Menurut statistik Bank Dunia, 9,3% (sekitar 25,1 juta) masyarakat masih berada di bawah garis kemiskinan, sedangkan 20,6% (sekitar 55 juta) warga berada di ambang garis kemiskinan.
Menilik ketetapan yang terdapat dalam âUndang-Undang Tentang Kekarantinaan Wilayah Tahun 2018â, jika prosedur âlockdownâ diberlakukan, maka pemerintah berkewajiban memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Tetapi, di saat tidak adanya kepastian akan epidemi korona kali ini, jumlah bantuan sosial yang harus dianggarkan pemerintah juga tidak menemukan titik terang. Apalagi pemerintah juga harus fokus menganggarkan dana untuk mensupport sistem medis, guna menekan angka kematian akibat COVID-19.
Salah seorang kritikus menyampaikan kepada CNA News, bahwa alasan otoritas pusat tidak menetapkan âlockdownâ dapat dimengerti, tetapi dirinya pesimis akan keberhasilan dari prosedur PSBB.
âWarga terlalu miskin untuk tetap di rumah, mereka tidak bisa untuk tidak keluar rumah (mencari rezeki)â.
Ia menambahkan, jumlah bantuan sosial yang diberikan pemerintah terlampau minim dan tidak dapat memenuhi kebutuhan dalam periode jangka panjang.
Namun demikian, masyarakat Indonesia memiliki semangat optimisme dan jiwa saling bahu-membahu yang cukup tinggi. Hal ini dapat terlihat, dari bagaimana warga setempat membantu sesama saat bencana alam menimpa wilayah mereka.
Beberapa kawasan di Jakarta mulai menutup akses keluar masuk, warga setempat pun bergiliran menjaga di setiap pos untuk memeriksa suhu tubuh  atau menyemprotkan cairan desinfektan.
Saat melakukan wawancara dengan Oji dan kawan-kawan, hari itu Jakarta diguyur hujan lebat. Sembari berteduh, Oji dan Sopir Taxi Bluebird lainnya menyempatkan diri untuk membeli jajanan ringan. Di saat menjelang sore, sebuah mobil SUV menghampiri mereka, meminta Oji untuk mendekat serta mengambil sekantong makanan, beras, mi instan dan lain-lain dari dalam mobil. Oji dan yang lainnya pun tersenyum gembira.
 âAkhirnya malam ini saya bisa pulang Mas,â ungkap Oji terharu.