Menjalin hubungan asmara bisa memperkaya hidup seseorang. Sebuah hubungan yang baik bahkan dapat memfasilitasi pertumbuhan bersama antara kedua pasangan.
Namun, ada beberapa individu yang 'terobsesi dengan asmara 戀愛腦症狀', sehingga saat berada dalam hubungan, mereka membuat diri sendiri dan pasangannya menjadi sangat lelah!
Orang-orang yang terobsesi dengan asmara ini sering kali begitu tenggelam dalam perasaan cinta, sampai-sampai terkadang bertindak di luar logika, bahkan membuat orang lain bingung dengan perilaku mereka.
Jadi, apa saja gejala dari seseorang yang terobsesi dengan asmara menurut netizen Taiwan?
Platform peneliti data medsos, Social Lab, menganalisis percakapan online seputar 'gejala terobsesi asmara' dalam setahun terakhir. Dan berikut adalah beberapa gejala yang diperbincangkan oleh netizen di Taiwan:
1. "Fase PDKT yang Penuh Drama"
Ini menjadi topik yang paling banyak mendapat persetujuan dari para netizen. Fase pendekatan yang penuh dengan ketidakpastian sering membuat seseorang merasa berdebar dan resah.
Jika pasangannya membiarkan fase ini berlarut tanpa kepastian, bagi mereka yang terobsesi dengan asmara, tentu saja akan menjadi hal yang menyiksa. Mereka cenderung berimajinasi, khawatir berlebihan, dan bahkan kadang merasa lelah secara mental.
Sejumlah netizen kemudian membagikan pengamatan mereka terhadap orang-orang yang terlampau obsesi pada cinta. Menggarisbawahi bagaimana mereka sering "berfantasi dan cemas tanpa sebab".
Pikiran seperti "Di mana dia sekarang? Mengapa dia memberikan 'like' pada foto orang tersebut? Apakah dia juga memikirkanku?" senantiasa menghantui pikiran mereka.
Dalam kasus yang parah, kecemasan ini bisa sampai mengganggu pekerjaan dan kegiatan sehari-hari. Sebagai solusi, ada netizen yang menyarankan untuk tetap berpikiran terbuka dan membiarkan segala hal berjalan dengan alaminya, tanpa harus larut dalam kegelisahan yang tak berujung.
2. Posesif yang Tidak Berujung
"Kontrol berlebihan" juga merupakan salah satu tanda dari seseorang yang terlalu terobsesi dengan hubungan asmara. Seorang wanita mengungkapkan bahwa pacarnya memiliki obsesi yang kuat terhadap asmara. Meskipun dia selalu memprioritaskan pacarnya, tetapi sifat kontrol yang berlebihan dari sang doi membuatnya merasa sangat tercekik.
Dia mengatakan, "Setelah berpacaran cukup lama, sifat kontrol sang doi semakin terlihat. Misalnya, jika saya berdiri terlalu dekat dengan pria lain, dia akan menjadi tidak nyaman. Saya tidak boleh memakai celana pendek yang terlalu pendek, dan setiap kali membeli rok, saya harus bertanya apakah boleh memakainya."
Dia merasa pacarnya terlalu mengontrol, hingga mencapai titik posesif, membuatnya merasa tertekan.
Di kolom komentar, ada netizen yang ternyata memiliki pengalaman serupa, ia pun meninggalkan komentar, "Saya pernah berpacaran dengan seseorang yang memiliki kontrol berlebihan. Dulu, saya mengira itu adalah cara dia menunjukkan perhatian dan rasa cinta. Namun, setelah putus, saya menyadari bahwa dalam hubungan yang sebenarnya penuh dengan cinta, seseorang akan menghargai perasaan pasangannya melebihi perasaannya sendiri."
Komentar ini menyoroti bahwa dalam sebuah hubungan yang sehat, tidak seharusnya ada "kontrol" dan keduanya harus saling menghargai dan menghormati.
3. Selalu Merasa Posisinya Lebih Rendah dari Sang Kekasih
Selain itu, orang yang terobsesi dengan hubungan asmara, juga memiliki ciri khas lainnya, yaitu merasa memiliki “posisi rendah” dalam hubungan.
Seorang netizen yang telah menikah lebih dari 10 tahun mengungkapkan bahwa dirinya dulu sangat terobsesi saat berpacaran dengan suaminya. Dia mengatakan, "Mertua saya sering kali memberikan kesulitan kepada saya, ditambah lagi suami saya sangat terikat dengan ibunya. Ketika saya terobsesi dengan cinta, saya bisa menahan semua hal itu dan bahkan berusaha untuk menyenangkan mertua saya. Banyak teman yang menyarankan saya untuk meninggalkannya, tapi saya mengidahkan teman-teman saya.”
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terobsesi dengan asmara, antara lain:
Ketika seseorang jatuh cinta, tubuh akan melepaskan hormon dopamin, oksitosin, dan vasopressin. Hormon-hormon ini dapat menyebabkan perasaan euforia, kegembiraan, dan keterikatan.
Orang yang pernah mengalami trauma atau penolakan dalam hubungan sebelumnya mungkin lebih rentan terkena “sindrom terobsesi dengan asmara”. Mereka mungkin mencari pasangan yang dapat memenuhi kebutuhan emosional mereka dan tidak ingin kehilangan pasangan tersebut.
Hubungan yang baru dan serius dapat menjadi hal yang sangat penting bagi seseorang. Hal ini dapat menyebabkan seseorang menjadi terlalu fokus pada hubungan tersebut dan mengabaikan hal-hal lain dalam hidupnya.
Gejala terobsesi dengan asmara dapat bervariasi dari orang ke orang. Beberapa gejala yang umum terjadi adalah:
1. Berfokus pada pasangan secara berlebihan.
Orang dengan terobsesi dengan asmara sering kali memikirkan pasangan mereka sepanjang waktu. Mereka mungkin merasa tidak bisa hidup tanpa pasangan mereka dan ingin menghabiskan waktu bersama mereka setiap saat.
2. Merasa bahwa pasangan adalah orang yang sempurna.
Orang dengan terobsesi dengan asmara sering kali melihat pasangan mereka dengan kacamata berwarna mawar. Mereka mungkin mengabaikan kekurangan pasangan mereka dan hanya melihat sisi positifnya.
3. Mengabaikan kekurangan pasangan.
Orang dengan terobsesi dengan asmara sering kali tidak mau melihat kekurangan pasangan mereka. Mereka mungkin menyangkal atau membenarkan kekurangan tersebut.
4. Menjadi mudah cemburu dan posesif.
Orang dengan terobsesi dengan asmara sering kali merasa cemburu dan posesif terhadap pasangan mereka. Mereka mungkin merasa takut kehilangan pasangan mereka dan akan melakukan apa saja untuk mempertahankan hubungan mereka.
5. Melakukan hal-hal yang tidak biasa untuk menyenangkan pasangan.
Orang dengan terobsesi dengan asmara sering kali melakukan hal-hal yang tidak biasa untuk menyenangkan pasangan mereka. Mereka mungkin melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai atau keyakinan mereka sendiri.
6. Merasa tidak percaya diri dan rendah diri.
Orang dengan terobsesi dengan asmara sering kali merasa tidak percaya diri dan rendah diri di hadapan pasangan mereka. Mereka mungkin merasa bahwa mereka tidak pantas untuk pasangan mereka.
7. Menyalahkan diri sendiri atas kesalahan pasangan.
Orang dengan terobsesi dengan asmara sering kali menyalahkan diri sendiri atas kesalahan pasangan mereka. Mereka mungkin merasa bahwa mereka tidak melakukan yang cukup untuk membuat pasangan mereka bahagia.
Terobsesi dengan asmara dapat menjadi masalah jika tidak ditangani dengan tepat. Orang dengan terobsesi dengan asmara dapat menjadi rentan terhadap pelecehan dan manipulasi. Jika Anda merasa mengalami terobsesi dengan asmara, sebaiknya konsultasikan dengan profesional kesehatan mental.
Berikut adalah beberapa tips untuk mengatasi terobsesi dengan asmara:
1. Semakin mengenal pasangan. Semakin Anda mengenal pasangan, semakin Anda akan menyadari kekurangannya. Hal ini dapat membantu Anda untuk bersikap lebih realistis tentang hubungan Anda.
2. Membicarakan hubungan dengan orang yang dipercaya. Bicarakan dengan teman atau keluarga tentang hubungan Anda. Mereka dapat memberikan dukungan dan nasihat yang objektif.
3. Bersikap realistis tentang hubungan. Ingatlah bahwa tidak ada hubungan yang sempurna. Setiap hubungan pasti memiliki masalah dan tantangan.
4. Jangan terlalu cepat percaya pada pasangan. Jangan langsung percaya pada segala perkataan pasangan Anda. Berikan waktu untuk mengenal mereka lebih baik sebelum memutuskan untuk menjalin hubungan yang serius.
5. Tetaplah menjadi diri sendiri. Jangan berubah menjadi orang lain hanya untuk menyenangkan pasangan Anda.