Banyak buku laris di pasaran menunjukkan bahwa masyarakat cenderung memuja optimisme yang penuh energi positif, sering kali menganggap pesimisme sebagai kekurangan yang perlu diperbaiki. Namun, banyak penelitian menunjukkan bahwa orang pesimis tidak perlu sengaja mengubah diri mereka, karena pesimisme yang tepat ternyata memiliki banyak manfaat positif bagi individu.
Pada tahun 1986, Julie Norem dan Cantor memperkenalkan konsep "Pesimisme Defensif" (Defensive Pessimism), yang menggugurkan perspektif tradisional tentang berpikir negatif.
Pesimisme defensif tidak seperti pesimisme pasif yang dikenal umum akan mendorong seseorang menuju kegagalan.
Sebaliknya, temuan mengejutkan adalah bahwa orang-orang dengan pemikiran pesimisme defensif memiliki hasil kerja yang akhirnya setara dengan optimis yang selalu berpikir positif.
1. Pengaturan Ekspektasi Rendah: Individu yang menggunakan strategi pesimisme defensif cenderung menetapkan ekspektasi yang sangat rendah untuk tugas atau situasi yang akan datang, meskipun mereka memiliki kemampuan dan sumber daya untuk berhasil.
2. Antisipasi Hasil Negatif: Mereka juga secara aktif memikirkan skenario terburuk atau hasil yang mungkin terjadi. Ini bukan berarti mereka berharap gagal, tetapi lebih kepada mempersiapkan diri untuk kemungkinan kegagalan.
Dengan memikirkan skenario terburuk dan kemungkinan hambatan, individu tersebut sebenarnya sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan.
Mereka membuat rencana dan strategi tentang bagaimana cara mengatasi masalah yang mungkin muncul. Proses ini dapat mengurangi kecemasan mereka dan memberi mereka rasa kontrol lebih atas situasi tersebut. Jadi, walaupun tampak pesimistis, pendekatan ini bisa sangat pragmatis.
Siapa yang Menggunakannya?
Tidak semua orang merespons stres atau kecemasan dengan cara yang sama. Beberapa orang mungkin menggunakan optimisme defensif (mengharapkan yang terbaik) sementara yang lain mungkin menggunakan pesimisme defensif.
Strategi ini sering ditemukan pada individu yang memiliki kecenderungan kecemasan tinggi atau yang sebelumnya pernah mengalami kegagalan atau kritik.
- Membantu dalam mengurangi kecemasan.
- Meningkatkan kesiapan dan persiapan.
- Dapat meningkatkan kinerja di beberapa situasi karena individu telah mempersiapkan diri untuk berbagai kemungkinan.
- Dapat dilihat sebagai pesimisme atau kurangnya kepercayaan diri oleh orang lain.
- Jika berlebihan, dapat menghambat kemampuan seseorang untuk mengambil risiko atau mencoba hal-hal baru.
Pesimisme defensif adalah strategi yang kompleks yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Meskipun mungkin tampak negatif pada pandangan pertama, ini adalah cara bagi beberapa orang untuk mengelola kecemasan mereka dan meningkatkan kinerja mereka dalam situasi tertentu.
Seperti strategi penanganan stres lainnya, efektivitasnya dapat bervariasi tergantung pada individu dan konteksnya.
Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Julie Norem dan Nancy Cantor pada tahun 1986, dan sejak saat itu, banyak peneliti yang telah mengeksplorasi topik ini lebih lanjut.
Berikut ini adalah beberapa poin penting dari penelitian tersebut:
1. Norem dan Cantor (1986): Dalam artikel seminal mereka, Norem dan Cantor memperkenalkan konsep pesimisme defensif dan menjelaskan bagaimana individu yang mengidentifikasi diri sebagai pesimis defensif memiliki ekspektasi rendah untuk kinerja mendatang, tetapi mereka menggunakan ekspektasi ini sebagai cara untuk mengatur dan mengurangi kecemasan mereka.
2. Norem (2001): Julie Norem, dalam bukunya yang berjudul "The Positive Power of Negative Thinking", mendalami lebih jauh bagaimana pesimisme defensif berfungsi dan bagaimana itu dapat membantu orang menghadapi kecemasan dan meningkatkan kinerja mereka.
3. Elliot dan Church (2003): Mereka meneliti hubungan antara pesimisme defensif dengan pencapaian akademik dan menemukan bahwa pesimisme defensif berhubungan positif dengan pencapaian akademik di antara siswa yang memiliki kecemasan yang tinggi.
4. Showers (1992): Penelitiannya menunjukkan bahwa pesimis defensif cenderung mengintegrasikan informasi positif dan negatif tentang diri mereka sendiri dengan cara yang membantu mereka mengatasi situasi yang menekan.
5. Spencer dan Norem (1996): Mereka menemukan bahwa pesimis defensif mungkin memiliki pendekatan yang berbeda untuk mengatasi stres daripada individu lain, dengan lebih fokus pada pencegahan masalah daripada mencari solusi.
Penelitian di atas adalah hanya beberapa contoh dari banyak penelitian yang telah dilakukan pada topik pesimisme defensif. Secara keseluruhan, temuan menunjukkan bahwa meskipun pesimisme defensif mungkin tampak negatif pada pandangan pertama, itu bisa menjadi strategi adaptif untuk beberapa orang, terutama dalam konteks tertentu atau untuk individu dengan kecemasan tertentu.
Buku "The Positive Power of Negative Thinking" ditulis oleh Julie K. Norem, salah satu peneliti utama di balik konsep pesimisme defensif. Buku ini, yang diterbitkan pada tahun 2001, mengeksplorasi cara-cara di mana pendekatan yang tampaknya negatif, seperti pesimisme defensif, dapat digunakan secara konstruktif untuk membantu individu menghadapi kecemasan dan tantangan dalam hidup mereka.
Berikut adalah beberapa poin kunci dari buku tersebut:
1. Menghargai Pendekatan Berbeda: Norem menjelaskan bahwa tidak semua orang mendapatkan manfaat dari sikap "positif terus-menerus". Bagi beberapa orang, terutama mereka yang secara alami cenderung cemas, mendekati situasi dengan ekspektasi rendah atau persiapan untuk skenario terburuk mungkin lebih bermanfaat.
2. Pesimisme Defensif: Konsep ini digambarkan secara mendalam dalam buku. Pesimis defensif memiliki ekspektasi rendah tetapi menggunakan ekspektasi tersebut untuk memotivasi diri mereka. Dengan memikirkan apa yang bisa salah, mereka dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik untuk berbagai kemungkinan.
3. Kontras dengan Optimisme Strategis: Norem membandingkan pesimisme defensif dengan optimisme strategis. Sementara pesimis defensif mengantisipasi skenario terburuk untuk mengurangi kecemasan, optimis strategis cenderung berharap yang terbaik dan menghindari berpikir tentang kemungkinan negatif.
4. Manfaat Pesimisme Defensif: Norem mengemukakan bahwa pendekatan ini bisa membantu seseorang meredam kecemasan, meningkatkan kesiapan, dan pada akhirnya meningkatkan kinerja dalam berbagai situasi, dari ujian hingga pertunjukan publik.
5. Penggunaan Sehari-hari: Selain situasi akademik atau pekerjaan, pesimisme defensif juga dapat bermanfaat dalam konteks lain, seperti kesehatan dan hubungan.
6. Pesimisme Defensif bukan untuk Semua Orang: Norem mengakui bahwa pendekatan ini tidak cocok untuk setiap orang atau setiap situasi. Namun, bagi mereka yang secara alami memiliki kecenderungan untuk merasa cemas, mengadopsi perspektif pesimisme defensif bisa sangat membantu.
Secara keseluruhan, "The Positive Power of Negative Thinking" mempresentasikan argumen yang menarik tentang bagaimana pendekatan yang tampaknya negatif dapat digunakan secara konstruktif dalam banyak situasi.
Norem menawarkan pandangan yang berbeda dari pendekatan "berpikir positif" yang sering didorong dalam budaya populer, dan menunjukkan bahwa ada kekuatan dalam menerima dan bekerja dengan kecenderungan alami kita, alih-alih melawannya.