(Taiwan, ROC) --- Di dalam diri setiap orang ada sosok seorang anak kecil yang tidak pernah tumbuh dewasa, yang kita sebut sebagai “anak batin (inner child)”. Dan anak batin laki-laki dengan perempuan memiliki perbedaan yang signifikan.
Psikoterapis Shi Qi-jia (施琪嘉), dalam bukunya“療癒你的內在小孩 Menyembuhkan Anak Batin Anda”, berdasarkan analisis psikologis, memperkenalkan perspektif baru untuk membantu pembaca mengerti tentang konsep “anak batin”. Dia mengajak pembaca untuk berdialog dengan diri mereka sendiri dan mendefinisikan kembali hidup mereka. Berikut ini ringkasan dari bukunya:
Bagaimana Perbedaan Anak Batin Antara Laki-laki dan Perempuan?
Kita bisa menggunakan cerita dongeng untuk memahami hal ini. Semua wanita memiliki mimpi menjadi seorang putri, jadi anak batin wanita bisa diibaratkan sebagai putri. Namun, ada juga cerita Cinderella, yang merupakan representasi lain dari anak batin wanita.
Seorang gadis yang bahagia, memiliki kehidupan yang stabil, dan diperhatikan oleh orang tuanya, anak batinnya adalah seorang putri. Namun, jika dia tidak mendapatkan perhatian yang cukup selama masa tumbuh kembangnya, anak batinnya mungkin menjadi Cinderella.
Kita tahu, Cinderella kehilangan ibunya, dan ayahnya menikahi seorang ibu tiri yang menyayangi anaknya sendiri tetapi memperlakukan Cinderella seperti pembantu. Cinderella bekerja di dapur, tidur di atas tumpukan kayu bakar, mengenakan pakaian yang lusuh, dan wajahnya selalu kotor, sehingga orang-orang menyebutnya Cinderella.
Wanita dengan Anak Batin Cinderella
Sebenarnya, Cinderella adalah terjemahan dari nama dalam bahasa Inggris yang berarti “tidak diketahui”. Ini menggambarkan wanita yang kehilangan kasih sayang ibu, diabaikan oleh ayahnya, dan disiksa oleh ibu tirinya, masa depannya, dan siapa dirinya di masa mendatang, semuanya tidak jelas.
Namun, dari sudut pandang psikologi, seorang wanita harus melewati beberapa tantangan untuk menjadi dewasa:
1. Tantangan pertama: dia harus meninggalkan perlindungan ibunya, seperti Cinderella yang kehilangan ibu kandungnya.
2. Tantangan kedua: dia harus menghadapi kesulitan dari ibu tiri yang kejam. Ini juga menunjukkan bahwa wanita mungkin memiliki sisi gelap dalam diri mereka sendiri.
3. Tantangan ketiga: dia membutuhkan dukungan dari seorang pria, tetapi pria sering kali terlalu sibuk untuk merawatnya.
Dalam cerita Cinderella, ayahnya benar-benar tidak memenuhi perannya. Hanya setelah melewati tantangan-tantangan ini, dia bisa bertemu dengan pangeran.
Secara keseluruhan, cerita ini adalah sebuah metafora untuk gadis malang tersebut, anak batin mereka mengalami trauma karena pelecehan, tidak dimengerti, dan konflik dengan identitas gender mereka. Mereka mendambakan diakui dan dihargai, agar bisa memancarkan potensi terbaik dalam diri mereka.
Wanita dengan Anak Batin Seorang Putri
Bagaimana dengan anak batin wanita yang hidup dalam kemewahan dan dimanjakan oleh orang tuanya? Ada sebuah cerita dalam dongeng Grimm yang berjudul “The Goose Girl”. Dalam cerita ini, ada seorang putri cantik yang sangat disayangi oleh ratu, yang akan menikah dan pindah ke negeri lain. Saat berangkat menikah, ratu memberikannya banyak mas kawin, termasuk seekor kuda yang bisa menyampaikan pesan dan seorang pelayan wanita yang menemaninya.
Namun, pelayan wanita ini sangat jahat. Di perjalanan, ia memaksa putri untuk menukar semua mas kawinnya dan bertukar identitas, mengancam putri agar tidak mengungkapkan kebenaran. Pelayan wanita ini kemudian berpura-pura menjadi putri dan menikahi pangeran, sementara putri sebenarnya diperlakukan sebagai pelayan dan dikirim oleh raja untuk menggembala angsa. Akhirnya, perilaku aneh putri menarik perhatian raja, dan setelah raja mengetahui kebenaran, ia menghukum pelayan wanita palsu dan mengembalikan identitas sebenarnya sebagai putri.
Dari sudut pandang psikologi, dongeng ini menceritakan tentang anak batin wanita yang tumbuh dalam kemewahan dan dimanjakan oleh ibunya. Pengalaman setelah meninggalkan perlindungan ibu akan sangat menantang. Wanita seperti ini biasanya memiliki beberapa karakteristik:
1. Karakteristik pertama adalah pertumbuhan mereka tanpa keterlibatan ayah.
2. Karakteristik kedua adalah mereka harus meninggalkan ibu mereka pada usia tertentu, baik melalui perjalanan jauh atau pernikahan.
3. Karakteristik ketiga adalah mereka harus tumbuh secara mandiri, tanpa mengandalkan keuntungan yang mereka miliki sebelumnya.
Dalam cerita, mas kawin dan pakaian putri diambil, kuda yang bisa berbicara dibunuh, bahkan identitasnya juga disamarkan. Hanya setelah kehilangan segala bentuk dukungan, dia bisa mulai mandiri.
Dalam kehidupan nyata, kita sering melihat wanita yang dimanjakan saat kecil, setelah lulus, menikah, atau memiliki anak, harus menangani banyak hal sendiri, dan kemudian mereka perlahan menjadi wanita yang mandiri. Jika mereka terus tinggal di rumah orang tua, bersembunyi dalam perlindungan orang tua, mungkin hidup mereka tidak akan benar-benar bahagia.
Anak-anak yang tumbuh dalam kemewahan seringkali berparas menawan, berpendidikan baik, dan berasal dari keluarga yang mapan. Namun, pandangan mereka terhadap dunia mungkin masih terlampau idealistik dan tidak mampu menyesuaikan dengan dunia nyata. Oleh karena itu, hubungan mereka dengan suami atau rekan kerja mungkin tidak terlalu baik, karena anak batin putri mereka menganggap perhatian dan perlakuan baik dari orang lain sebagai sesuatu yang wajar, sementara mereka sendiri tidak memiliki kesadaran untuk memberi hal yang sama kepada orang lain.
Jadi, baik itu anak batin wanita yang dimanjakan seperti putri maupun yang memiliki trauma seperti Cinderella, kedua situasi tersebut bisa menggambarkan nasib yang berbeda bagi wanita.
Anak Batin Laki-laki: Hamlet dan Sun Wu-kong
Bagi para lelaki, Hamlet merupakan representasi penting dari anak batin. Menurut psikologi Barat, seorang anak lelaki harus “membunuh ayahnya”. Ini karena anak laki-laki harus mengalahkan ayahnya di dalam hati, dan pada akhirnya ayah harus menyerahkan otoritasnya. Ini adalah proses yang kita sebut secara simbolis atau psikologis, sebagai “membunuh ayah”.
Ini bukan berarti membunuh ayah dalam realita, tapi lebih tentang anak laki-laki yang bisa mengatasi ketakutan terhadap ayahnya dan identifikasi dengan otoritas, sehingga menjadi seorang pria sejati. Hamlet harus membunuh pamannya, berpetualang, melepaskan diri dari godaan, mengatasi hambatan badai, dan akhirnya keluar dari zona nyaman untuk kembali ke kampung halamannya.
Seorang lelaki harus menjadi pria, dia mungkin harus “membunuh” beberapa orang, meninggalkan beberapa orang, dan menghadapi beberapa kesulitan, baru kemudian dia bisa menjadi raja.
Kita bisa melihat, mitos Timur dan Barat memiliki kesamaan. Dalam “Perjalanan ke Barat” yang terkenal, Sun Wu-kong bisa berubah menjadi tujuh puluh dua bentuk, menggunakan awan terbang, menghadapi berbagai penindasan dan kesulitan, ditahan dalam tungku penyulingan dan dipenjara di bawah Gunung Lima Jari, tapi tidak bisa dibunuh.
Dia sering bertindak melawan keinginan gurunya, berbuat sesuatu dengan keinginannya sendiri. Meskipun dia sering menimbulkan masalah di luar, pada dasarnya, apa yang dia lakukan adalah baik, dan dia paling bisa mengenali siluman. Jadi, Sun Wu-kong sebenarnya adalah representasi klasik dari anak batin seorang lelaki, nakal, pintar, tidak bisa dikalahkan, berani menantang otoritas.
Sekarang, anak-anak laki-laki kita terlalu patuh, yang sering disebut sebagai “mama’s boy”. Salah satu alasan pentingnya adalah kurangnya bimbingan dari ayah. Gambaran ayah, bahkan tekanan tinggi dari ayah, sangat penting untuk pertumbuhan anak laki-laki, itu adalah model identifikasi bagi mereka.
Setelah meninggalkan pelukan ibu, mereka harus menerima tantangan di luar rumah, berpetualang, menantang aturan, menentang otoritas, dan akhirnya berdamai dengan ayah, membentuk pengalaman mereka sendiri dan pemahaman tentang dunia.
Sun Wu-kong (孫悟空). 圖/自由時報
Jadi, anak batin laki-laki berbeda dengan perempuan. Ringkasnya, lelaki harus menjelajah, mengalahkan ayahnya, menganggap ayahnya sebagai model, dan akhirnya berdamai dengan ayah. Sementara identitas akhir perempuan adalah sebagai ibu, meski dia mungkin menjelajahi dunia sejenak dan meninggalkan ibunya untuk menikah, tapi pada akhirnya, dia kembali ke perannya sebagai wanita, kembali ke peran sebagai ibu.
Mengapa wanita lebih sering menderita depresi dua kali lipat dibandingkan laki-laki? Karena mereka mengalami dua tahap perubahan identitas, pertama harus meninggalkan ibu dan menghadapi dunia luar, kemudian kembali ke peran sebagai wanita, lalu sebagai ibu.
Sedangkan bagi laki-laki, setelah meninggalkan ibu, mereka sudah berhasil setengah jalan. Setelah meninggalkan ibu, mereka berjuang dan menjelajahi dunia luar, menghadapi berbagai kesulitan dan hambatan, dalam proses tersebut, mereka menjadi pria sejati.