Gaslighting adalah bentuk manipulasi psikologis yang dibuat oleh seseorang agar korban meragukan dan menyalahkan dirinya sendiri. Dengan demikian, korban akan merasa resah, cemas, bahkan kemudian meragukan dirinya sendiri dan merasa kebingungan.
Gaslighting biasanya dimulai dengan hal-hal sederhana, seperti mengubah detail kecil dalam suatu cerita atau mengingkari janji, sehingga korban gaslighting sering kali tidak langsung menyadarinya. Secara umum, hal ini terjadi dalam hubungan pasangan yang toxic, tapi juga bisa terjadi dalam hubungan pertemanan, bahkan keluarga.
Mengapa gaslighting bisa terjadi?
Ada beberapa hal yang membuat seseorang menjadi pelaku gaslighting, antara lain:
Mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan diri sendiri.
Menghindari kesalahan.
Menjaga harga diri.
Membuat korban bergantung pada dirinya.
Ingin mendominasi suatu hubungan.Bagaimana ciri-ciri perilaku gaslighting?
1. Perkataan dan tindakan tidak sesuai
Pelaku gaslighting adalah orang yang manipulatif. Ada banyak hal yang ia katakana, tapi tindakan dan realitanya biasanya tidak sesuai, bahkan terkesan ada banyak kebohongan untuk meyakinkan korban. Selanjutnya, korban akan merasa kebingungan dan tidak berdaya.
2. Meremehkan emosi dan perasaan
Pasangan yang meremehkan emosi dan perasaanmu, serta menyebut pendapatmu berlebihan atau sering mengatakan, “mengapa kamu begitu sensitif?” dapat terhitung sebagai pelaku gaslighting karena ia akan mengecilkan perasaan orang lain dan menyalahkan kecurigaan pasangan, padahal ada kemungkinan hal tersebut nyata adanya.
Pelaku bahkan dapat merendahkan diri orang lain, menyebarkan gosip, fitnah, atau menceritakan hal buruk tentang korban.
3. Membantah dan berbalik menyalahkan
Pelaku gaslighting yang hampir ketahuan melakukan kesalahan akan membantah, mengalihkan topik pembicaraan, dan kemudian berbalik menyalahkan. Sekalipun ada bukti, pelaku akan membuat korban berpikir bahwa hal tersebut merupakan suatu kesalahpahaman dan kemudian ia akan menyalahkan korban.
Tidak hanya itu, ada kemungkinan pelaku justru merasa dirinya adalah korban demi menutupi kesalahannya, sehingg korban akan berbalik menyalahkan dirinya sendiri.
4. Membuat korban bingung dengan perubahan perilaku sementara
Ketika korban menyadari adanya kejanggalan, pelaku gaslighting kemudian justru akan menunjukkan sikap positif, sehingga korban akan berpikir bahwa pelaku sejatinya adalah orang yang baik. Namun, tak lama berselang, ia akan kembali melakukan hal-hal buruk, seperti menghilang, berbohong, dan menyalahkan kamu.
Dengan demikian, individu yang menjadi korban merasa pelaku adalah orang yang baik dan berkuasa, sementara dirinya sendirian.
5. Merasa sudah melakukan banyak hal dan memanfaatkannya sebagai ancaman
Pelaku gaslighting biasanya kerap merasa sudah merasa berbuat banyak, padahal yang ia lakukan sebenarnya adalah hal-hal standar, tapi kemudian ia lebih-lebihkan sebagai hal yang hebat dan terus mengungkitnya. Hal ini dimaksudkan untuk membuat korban merasa bersalah.
Ia kemudian juga akan menjadikan benda atau orang yang berharga bagi korban sebagai senjata, menyampaikan bahwa korban bukanlah orang yang pantas untuk mendapatkan hal-hal yang baik pada dirinya.