
Sign up to save your podcasts
Or


Mengapa politisasi birokrasi masih terus terjadi? Bagaimana faktor kedekatan untuk memperoleh fasilitas/posisi? Bagaimana menghapus budaya 'take and give' dalam birokrasi? Apakah 'single salary system' relevan diterapkan di Indonesia? Mengapa 'take home pay' ASN berbeda-beda antar instansi pusat/daerah? ASN Muda harus menurut perintahatasan meskipun tidak sesuai dengan hati nurani? Sebelum menjadi ASN, bebas menyuarakan pendapat; saat jadi CPNS, diancam tidak diikutkan latsar serta tidak diantik kalau kritis. Gimana ini?
#NALAR dalam dua episode ini mencoba menanggapi 'curhat' --curahan isi hati-- sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mau terbuka menyampaikan masalah-masalah yang mereka hadapi. Mereka berasal dari institusi pemerintahan di pusat (Kementerian dan Lembaga) dan di daerah (Pemerintah Daerah), dengan beraneka-ragam persoalan yang dihadapi.
Semoga kedua episode ini tetap memberikan semangat kepada para ASN, khususnya ASN muda, dan kita semua, untuk tidak berhenti mencintai Republik ini.
Reformasi Birokrasi menjadi satu prioritas Pemerintahan JKW-KMA. Bagaimana birokrasi mesti direformasi? Bagaimana birokrasi harus diremajakan di jaman serba digital ini? Mengapa mesti saat ini - mengapa di tengah upaya melawan pandemi kita bicarakan reformasi birokrasi? Di saat-saat sulit, saat rakyat amat membutuhkan dan mengandalkan pemerintahnya, pemerintah mesti punya kapasitas birokrasi yang mencukupi sebagai ‘bahu’ bagi rakyat untuk bersandar.
#NALAR membedah agenda reformasi dan peremajaan birokrasi di Indonesia. Apa aspek kuncinya, apa tantangannya, dan bagaimana menjawab tantangan itu. Keberhasilan mewujudkan mimpi Indonesia maju di masa depan terletak --salah satu yang paling penting-- pada berhasil atau gagalnya kita melakukan reformasi birokrasi.
Bagaimana seharusnya birokrat dan birokrasi bekerja menterjemahkan visi politik Kepala Negara menjadi program pembangunan di Kementerian, Lembaga dan Pemerintah Daerah? Bagaimana birokrasi bisa efektif melakukan perencanaan dan implementasi program pembangunan sebagai 'mesin' pemerintah (machinary of government)? Mengapa birokrasi harus direformasi sekarang juga? Apa kendala terbesar melakukan reformasi birokrasi?
#NALAR menjawab beberapa pertanyaan dari para pemirsa/pendengar mengenai Reformasi Birokrasi, dan mengulas kaitan reformasi birokrasi dengan upaya membangun negeri menjadi bangsa yang besar dan maju.
Mengapa korupsi masih terjadi dan justru makin kompleks melibatkan berbagai sektor pemerintah dan swasta? Mengapa demokrasi kita tidak kunjung dewasa dan masyarakat justru makin terpolarisasi? Bagaimana kita memahami persoalan tata kelola di pemerintahan kita?
#NALAR mencoba menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika sosial-politik dalam kinerja pemerintah, tata kelola, dan kebijakan.
Materi episode ini dimuat sebagai opini di Harian Kompas, 16 Februari 2021, berjudul "Menjaga Tata Kelola Pemerintahan".
Masa depan direncanakan, dibentuk, dan dirancang; bukan diperkirakan apalagi diramalkan. Salah satu langkah paling imajinatif dalam ilmu merancang masa depan (Foresight) adalah Scenario Planning & Analysis - Perencanaan dan Analisis Skenario. Karena, masa depan tidak tunggal. Ia punya banyak ke-mungkin-terjadi-annya (plausibility). Untuk mampu menerawang berbagai kemungkinan itu, perencanaan dan analisis skenario menjadi kunci.
#NALAR mengupas secara sistematis cara merancang dan menganalisis skenario sebagai bagian dari upaya membentuk masa depan. Agar kita tidak tanpa sadar 'berjalan dalam tidur' ke masa depan.
REFERENSI
1. Adam Kahane, 2012, Transformative Scenario Planning: Working Together to Change the Future, Berrett-Koehler Publishers: San Francisco
2. The Dinokeng Scenarios, https://www.dinokengscenarios.co.za/
3. Johan Brosché, 2007, "CPA – New Sudan, Old Sudan or Two Sudans? A Review of the Implementation of the Comprehensive Peace Agreement" in Ulf Johansson Dahre (ed.), "Post-Conflict Peace-Building in the Horn of Africa" - A Report of the 6th Annual Conference on the Horn of Africa, Lund, August 24-26, 2007
4. The Great Zimbabwe Scenarios (2010-12), Mharidzo-Ndoro, 2010 5. Ian Miles: Foresight Helps to Form a Common Vision of the Future, https://issek.hse.ru/en/forsconf-2014/news/138844442.html
5. Miles, Ian, 2008, From Futures to Foresight, in Luke Georghiou (Ed), The Handbook of Technology Foresight: Concepts & Practice, Cheltenham UK and Massachusetts USA.
6. Miles, Ian, 2010, The Development of Technology Foresight: A Review, Technological Forecasting and Social Change, 77(9):1448-1456
7. Miles, Ian, 2012, Dynamic Foresight Evaluation, Foresight 14(1):69-81
8. Miles, I, Harper, JC, Georghiou, L, Keenan, M, Popper, R, 2008, The Many Faces of Foresight, in Luke Georghiou (Ed), The Handbook of Technology Foresight: Concepts & Practice, Cheltenham UK and Massachusetts USA.
9. Miles, I, Saritas, O, Sokolov, A, 2016, Foresight for Science, Technology & Innovation, Springer: UK.
10. Saritas, O., Nugroho, Y. (2012) ‘Mapping issues and envisaging futures: An evolutionary scenario approach’, Technological Forecasting and Social Change, 79(3):509-529
11. Nugroho, Y., Saritas, O. (2011). Seeing the invisible and making sense of it. Scanning, networks and scenario analysis (Увидеть и осознать невидимое. Сканирование, сетевой и сценарный анализ). Foresight Russia Journal, 5(2):58-69
12. Nugroho, Y., Saritas, O. (2009) ‘Incorporating network perspectives in foresight: A methodological proposal’ Foresight, vol 11(6):21-41.
Cara kita membuat kebijakan dan perencanaan, baik pemerintah maupun organisasi, selama ini sudah kuno, usang, dan ketinggalan jaman. Jaman sudah berubah dan bergerak dengan cepat, melesat meninggalkan kemampuan kita membuat kebijakan dan perencanaan. Akibatnya, kebijakan tidak menjawab kebutuhan; perencanaan tidak bisa dijalankan. Pemerintah, dan berbagai organisasi dan asosiasi organisasi di tingkat sub- maupun supra-nasional kehilangan relevansinya: makin diragukan, tidak mendapatkan kepercayaan, bahkan ditinggalkan atau dianggap angin lalu, oleh masyarakat atau anggotanya.
#NALAR mengupas FORESIGHT, sebuah cabang studi tentang masa depan ('futures studies'), sebagai sebuah metodologi atau cara baru dalam membuat kebijakan dan perencanaan. Agar masa depan dibentuk secara sadar, tidak sekedar diperkirakan, apalagi diramalkan.
Pandemi COVID-19 memporakporandakan bukan hanya berbagai niat dan keinginan pribadi, tetapi juga capaian pembangunan negeri. Kemiskinan dan pengangguran melonjak lagi, sementara penanganan pandemi masih tidak pasti. Seperti apa kita mesti memperbaiki diri?
#NALAR mendalami aspek-aspek yang mesti diperhatikan dalam membangun kembali negeri sesudah pandemi, mulai dari saat ini.
Zaman di mana kita hidup saat ini makin penuh dengan gejolak (volatility), ketidakpastian (uncertainty), kerumitan (complexity), dan serba-kemenduaan (ambiguity). Bagaimana pemimpin mesti merespon VUCA ini? Apa dampak kegagalan memahami, apalagi menjawab, VUCA bagi sebuah kepemimpinan?
#NALAR mencoba menjawab pertanyaan kunci bagaimana pemimpin mesti hidup di jaman yang makin kental diwarnai VUCA ini, serta apa implikasinya bagi kinerja kepemimpinan.
Mengapa kemampuan riset dan inovasi kita rendah? Mengapa di saat krisis seperti pandemi atau bencana, riset tidak segera bisa memberi solusi? Sepenting apa riset dan inovasi untuk meraih mimpi bangsa kita? Apa yang salah dengan tata-kelola riset dan inovasi di Indonesia?
#NALAR mengupas tuntas mengapa riset dan inovasi, tidak seperti investasi dan ekonomi, menjadi seperti anak tiri di negeri sendiri.
Setelah mengalami seluruh dinamika sepanjang 2020, akan seperti apa tahun 2021 bagi kita - baik dalam dimensi sosial, politik, ekonomi, teknologi, lingkungan, ataupun budaya? Tantangan apa saja yang dihadapi negeri ini? Apa yang harus kita siapkan dan lakukan?
#NALAR mencoba menerawang, melihat masa depan Indonesia pada tahun 2021. Upaya menerawang dan meneropong masa depan ini dilakukan secara sistematik, bukan lewat klenik.
From the publisher's feed