
Sign up to save your podcasts
Or


UU TPKS Disahkan, Waspadai Regenerasi Feminisme!
Oleh. Ana Nazahah
Voice over talent: Anita Yulianti
NarasiPost.Com-Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) kini resmi disahkan. Setelah melewati perjalanan panjang yang memakan waktu 10 tahun, menjadi polemik nasional. Lalu, akankah pengesahan UU TPKS ini mampu melindungi perempuan? Atau justru membuka peluang bagi regenerasi feminisme yang menyesatkan?
Ditolak Lembaga Berbasis Keluarga dan Perempuan
Sejak tahun 2012 RUU TPKS telah melewati berbagai kontroversi. Berulang kali diskusi, dialog, penyelarasan fakta dan teori, namun RUU TPKS tersebut, yang dulunya bernama RUU PKS (Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual) masih saja ditolak karena dianggap tidak sejalan dengan norma hukum dan agama. Penolakan di antaranya datang dari Masyarakat Peduli Keluarga (MPK) dan Aliansi Cinta Keluarga (Aila), yang berusaha mendatangi anggota Komisi VIII DPR untuk menuangkan aspirasi tersebut, pada Februari tahun 2019 lalu.
Dikutip Jawapos.com (6/2/2019), Nur Widiana selaku Koordinator MPK, menyampaikan, “RUU TPKS bertentangan dengan karakter religius bangsa, dan menganut teori feminis yang mendorong konflik antara laki-laki dan perempuan, bukan menghadirkan solusi,” ucapnya.
Sedang menurut Ketua Umum Aila Rita Soebagio, RUU PKS itu bermasalah secara filosofis, tidak mewakili kepentingan perempuan. Ia mengatakan, “Kami tidak tahu (kepentingan) siapa RUU ini. Tetapi ini semakin meyakinkan kami bahwa RUU ini bukanlah rancangan yang maksimal,” ungkapnya. Dikutip sindonews.com (20/9/2019).
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/20/uu-tpks-disahkan-waspadai-regenerasi-feminisme/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Safron Rempah Kaya Manfaat
Oleh. Reni Adelina
Voice over talent: Dewi Fitriana
NarasiPost.Com-Beberapa bulan yang lalu, hampir seluruh anggota keluarga kami batuk dan flu, yang tak kunjung sembuh selama 14 hari lebih. Dada pun serasa berat dan tenggorakan sakit. Awalnya menduga ini gejala Covid-19, kami pun segera melakukan pemeriksaan ke pelayanan kesehatan terdekat. Alhamdulillah atas izin Allah, hasilnya negatif. Kondisi sakit seperti ini membuat tidak selera makan, namun perasaan seperti ini haruslah di tepis. Teringat sebuah hadis Rasulullah yang artinya, “Muslim yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan.” Untuk itu segala ikhtiar dan doa terus dilakukan. Misalnya mengonsumsi madu dan jahe dengan air hangat, dan memperbaiki pola makan. Namun ikhtiar tidaklah instan, perlu waktu dan pastinya bersabar.
Sampailah pada akhirnya bertemu dengan salah seorang tetangga, beliau menawarkan untuk meminum safron. Awalnya berpikir bahwa safron adalah sejenis obat-obatan yang berbentuk kapsul atau cair seperti obat batuk pada umumnya. Ternyata dugaan tersebut salah.
Tanpa basa-basi tetangga yang baik hati tersebut memberikan sebotol safron kepada kami dengan berat kurang lebih 1 gram, beliau memberikan secara gratis. Alhamdulillah. Namun perasaan penasaran membuat jari jemari ini segera mencari informasi tentang safron.
Faktanya safron atau kuma-kuma adalah nama ilmiah untuk rempah-rempah bunga Crocus sativus. Safron dihasilkan dari putik bunga Crocus sativus biasanya di sebut dengan bunga pacar. Nah, bunga safron ini memiliki tiga kepala putik yang terletak di luar bunga. Kepala putik inilah yang dikeringkan dan disebut dengan safron.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/17/safron-rempah-kaya-manfaat/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Anggaran Pemilu Bernilai Fantastis, Akankah Rakyat Kembali Meringis?
Oleh. drh. Lailatus Sa’diyah
Voice over talent: Giriyani SS
NarasiPost.Com-Presiden Jokowi mengumumkan perkiraan anggaran pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah serentak pada 2024 mencapai Rp110,4 triliun. Di mana anggaran tersebut akan dialokasikan sebesar Rp76,6 triliun untuk KPU dan Rp33,8 triliun untuk Bawaslu. (bisnis.com, 10/04/2022)
Sungguh nominal yang sangat besar untuk melahirkan pemimpin di tengah kondisi rakyat yang semakin tercekik dengan naiknya berbagai macam harga kebutuhan pokok.
Fantastis
Mahalnya biaya pemilu dalam demokrasi sudah menjadi rahasia umum. Perhelatan akbar pesta demokrasi yang dilaksanakan setiap 5 tahun sekali ini, menjadi ajang kontestasi partai politik untuk meraih kekuasaan.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyampaikan anggaran pemilu serentak yang cukup besar ini, dikarenakan rencana pemilu presiden yang diadakan sekaligus dengan pemilihan calon anggota DPR, DPRD, serta gubernur, bupati, dan wali kota. Itulah yang menjadikan biaya logistik yang diperlukan menjadi lebih tinggi jika dibandingkan penyelenggaraan pemilu pada periode sebelumnya. (bisnis.com, 10/04/2022)
Proses pemilu yang bertele-tele dan memakan waktu yang panjang juga menjadi sebab membengkaknya biaya yang dibutuhkan. Belum lagi berkaitan dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh partai dan peserta calon pemilu. Untuk menjadi pemenang dalam kontestasi pesta demokrasi menuntut mereka untuk terus menaikan elektabilitas masing-masing calon peserta pemilu. Karena inilah yang menjadi salah satu tolok ukur diterimanya para peserta pemilu sebagai calon pemimpin idaman masyarakat. Mereka pun begitu aktif mencanangkan berbagai program kampanye untuk merebut hati masyarakat.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/18/anggaran-pemilu-bernilai-fantastis-akankah-rakyat-kembali-meringis/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Utang Luar Negeri Terus Menumpuk, Sinyal Stabilitas Keuangan Negara Kian Ambruk
Oleh. Rufaida Aslamiy
Voice over talent: Yeni M
NarasiPost.Com-Bisa dipastikan, saat ini dalam sistem kapitalis keberadaan utang adalah suatu keniscayaan. Utang tidak bisa dilepaskan, karena menjadi salah satu komponen untuk kemajuan ekonomi, baik taraf individu ataupun negara. Bahkan, dalam sistem ini, anggaran pembiayaan APBN diambil dari pajak, dan juga dari utang. Utang yang dimaksud adalah Utang Luar Negeri (ULN). Kenapa harus berutang? Karena beranggapan bahwa utang ini adalah instrumen untuk menyelamatkan perekonomian bangsa, terlebih di kala pandemi seperti sekarang. Namun, apakah tepat pernyataan tersebut?
Keberadaan utang sebagai upaya untuk menyelamatkan warga negara sebenarnya tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat dewasa ini. Keberadaan orang miskin saja di negara kita tahun 2021 mencapai 26,50 juta orang atau 9,71%, (cnbcindonesia.com, 17/01/2022). Sementara Badan Pusat Statistik mencatat jumlah angka pengangguran di Indonesia sebanyak 9,1 juta orang pada Agustus 2021. Jadi sebetulnya masyarakat juga bisa menilai, menyelamatkan perekonomian dan warga negara yang dimaksud itu warga negara yang mana, apakah benar murni untuk rakyat atau untuk siapa?
Masyarakat saat ini sudah cukup dipusingkan dengan berbagai kebijakan zalim penguasa. Banyak kebijakan tidak memihak rakyat. Dana utang ribuan triliunan, ujung-ujungnya untuk infrastruktur. Pembangunan ibu kota, pembuatan tol, jembatan, dan lain-lain. Apakah rakyat kecil menikmati itu? Jelas tidak. Kalaupun ada, paling sebagian kecil dari jumlah total warga negara, terbatas hanya untuk orang-orang kaya saja. Sementara, utang kian membengkak. Akibatnya, pemerintah kian melakukan optimalisasi sumber- sumber pendapatan negara, khususnya dari sektor pajak. Siapa yang diperas? Ya rakyat lagi. Jadi tidak aneh, jika akhirnya PPN pun dinaikkan hingga 11 persen per tanggal 1 April 2022 kemarin, padahal banyak pihak yang melakukan penolakan.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/08/utang-luar-negeri-terus-menumpuk-sinyal-stabilitas-keuangan-negara-kian-ambruk/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Aspirasi Terulang Solusi Tak Kunjung Datang
Oleh. Atien
Voice over talent: Dewi Nasjag
NarasiPost.Com-“Seorang imam (kepala negara) adalah pengatur dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas kepengurusannya tersebut”.
Menjadi seorang pemimpin merupakan sebuah amanah yang berat. Dia memiliki tanggung jawab untuk menyejahterakan seluruh rakyatnya. Maka, apabila hal tersebut tidak terpenuhi, akan muncul rasa tidak puas dari rakyat kepada pemimpinnya.
Ketidakpuasan tersebut menyebabkan para mahasiswa yang bernaung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) melakukan aksi unjuk rasa besar-besaran di depan Istana Negara, Jakarta, Senin (11/4/2022 Kompas.com).
Poin Penting
Dalam aksi tersebut para mahasiswa menyampaikan enam poin tuntutan.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/19/aspirasi-terulang-solusi-tak-kunjung-datang/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Pagu Anggaran Capai Miliaran, Abaikan Sense of Crisis di Masa Pemulihan
Oleh. Nay Beiskara
Voice over talent: Dewi Fitriana
NarasiPost.Com-Tidak sensitif. Begitulah celetukan salah satu warga kala diwawancarai oleh KompasTV (30/3/2022), mengenai proyek pengadaan gorden dan pengaspalan jalan kompleks DPR di Senayan. Wajar bila banyak warga yang berkomentar nyinyir. Pasalnya, anggaran yang diajukan untuk kedua proyek tersebut sungguh fantastis, yakni nyaris mencapai Rp60 M. Adapun rinciannya Rp48,7 M untuk penggantian gorden rumah dinas anggota DPR dan Rp11 M untuk pengaspalan jalan. Proyek ini telah diketuk palu dan saat ini tengah dilakukan lelang terbuka.
Sebagai anggota DPR, memang mereka diberikan fasilitas-fasilitas dari negara untuk mendukung kinerjanya di pemerintahan. Mulai dari gaji pokok, berbagai macam tunjangan, uang paket, biaya perjalanan dinas, asisten anggota, dana reses, dana pensiun seumur hidup, termasuk rumah dinas dan biaya pemeliharaannya. Luar biasa menggiurkan bukan!
Untuk rumah dinas dan pemeliharaannya, pemerintah membangunnya dari pajak rakyat. Rumah dinas ini khusus disediakan untuk para anggota dewan, terutama mereka yang berasal dari luar Jawa. Tetapi persoalannya, apakah rumah dinas tersebut telah dioptimalkan oleh setiap anggota DPR?
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/15/pagu-anggaran-capai-miliaran-abaikan-sense-of-crisis-di-masa-pemulihan/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Pemanfaatan Limbah FABA untuk Bangkitkan Ekonomi, Benarkah Ini Hanya Manipulasi?
Oleh. Mariam
Voice over talent: Giriyani SS
NarasiPost.Com-PT PLN (Persero) mendorong pemanfaatan material Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) atau limbah padat yang dihasilkan dari proses pembakaran batu bara pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) untuk dijadikan bahan baku keperluan berbagai sektor yang dapat membangkitkan ekonomi masyarakat. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Manajemen Sumber Daya Manusia PLN Yusuf Didi Setiarto dalam acara webinar “Pemanfaatan FABA untuk Infrastruktur dan Pemberdayaan Masyarakat” yang digelar Ruang Energi secara daring, Kamis (7/4/2022). Optimalisasi pemanfaatan limbah tersebut dilakukan karena FABA dikategorikan menjadi Limbah Non-Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) sesuai Peraturan Pemerintah (PP) 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Republika.com, 10/4/2022).
Yusuf mengungkapkan rasa syukurnya karena limbah batu bara hasil pembakaran PLTU yang dulu jadi momok menakutkan, saat ini sudah menjadi limbah non-B3. Sehingga, limbah tersebut kini bisa dimanfaatkan untuk diperdagangkan dan mendulang rupiah dalam jumlah yang tidak sedikit. Meskipun telah menjadi limbah non B3, FABA dalam pemanfaatannya perlu mendapatkan persetujuan lingkungan.
PLN memastikan tidak akan membuang limbah FABA tetapi akan lebih mengoptimalkan pemanfaatannya, PLN meyakini pemanfaatan FABA dapat mendorong ekonomi nasional karena dapat memberikan nilai ekonomi dari hasil pemanfaatan limbah tersebut untuk berbagai hal di sektor konstruksi, infrastruktur, pertanian dan lainnya.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/16/pemanfaatan-limbah-faba-untuk-bangkitkan-ekonomi-benarkah-ini-hanya-manipulasi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Sepercik Asa dan Doa
Oleh. Afiyah Rasyad
Voice over talent: Anita Yulianti
NarasiPost.Com-“Mundur, mundur, mundur! Segera mundur!” seru salah seorang korlap di depan gedung anggota dewan itu.
Dengan satu komando, ratusan pasang kaki mundur, menepi di bawah ketapang yang agak jauh dari pagar betis aparat. Tanda tanya menyergap mereka, “Kenapa mesti mundur?” Guyuran keringat membasahi tubuh mereka, bahkan terlihat di bagian punggung. Jas almamater mereka pun bersimbah keringat. Kemunduran mereka bukan karena takut pada jejeran aparat dengan senjata lengkap, tapi mereka taat pada komando yang diserukan sang koordinator pelaksana.
Aroma pembelotan isu mulai tercium kuat. Negosiasi alot antara utusan peserta aksi damai dengan pihak pejabat tetap berlangsung. Sorotan kamera mulai mengarah pada satu titik kerumunan massa aksi tersebut. Di sana, tampak seorang yang tak asing tengah dikeroyok dan diamuk massa. Suasana berubah mencekam tersebab adanya tunggangan aksi pengeroyokan itu.
Usut punya usut, orang yang dikeroyok adalah orang yang sering disebut boneka penguasa. Kericuhan tak dapat dihindari, hingga babak belur dan lebam menyapa tiap pori-pori wajahnya. Seakan tiada sesal, dia terus meracau dengan ancaman saat dievakuasi oleh aparat. Sementara tuntutan aksi itu tertelan kericuhan dan lenyap begitu saja. Kekecewaan mahasiswa yang punya niat lurus semakin membara.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/18/sepercik-asa-dan-doa/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Generasi Islam Bukanlah Generasi Stroberi
Oleh. Bedoon Essem
Voice over talent: Dewi Nasjag
NarasiPost.Com-Yo, Sob, apakah kamu merasa dirimu adalah orang yang kreatif, keren, cerdas, banyak ide, namun mudah patah arang, putus asa, trauma, atau lembek? Hemmm, jika kamu termasuk yang seperti itu, bisa jadi kamu termasuk dalam anggota strawberry generation.
Generasi stroberi? Apaan itu? Yup, generasi stroberi berasal dari sebuah neologisme bahasa Tionghoa yang digunakan untuk menyebut orang Taiwan yang lahir setelah tahun 1981, yang katanya gampang mengkerut layaknya buah stroberi. Makna dari generasi stroberi adalah sebutan bagi mereka yang tidak mampu menghadapi tekanan sosial, serta tidak mempunyai semangat kerja keras layaknya generasi orang tua mereka, atau kata lain istilah ini digunakan untuk menyebut generasi manja, malas, namun arogan.
Istilah ini berkembang dikarenakan orang-orang yang termasuk dalam kategori generasi stroberi ini dianggap terlalu banyak dilindungi secara berlebihan, dan terlalu dimanjakan dalam masalah ekonomi. Yah, bisa dibilang mereka tinggal minta apa yang mereka mau, tanpa harus bersusah-susah. Seperti halnya tanaman stroberi yang diperlakukan dengan lebih baik dari tanaman lain, digantung di tempat tinggi, dimasukkan ke rumah kaca agar terlindungi dan terjaga.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/14/generasi-islam-bukanlah-generasi-stroberi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Totalitas Perjuangan:Menyentuh Esensi, Menawarkan Solusi Hakiki
Oleh. drh. Lailatus Sa’diyah
Voice over talent: Giriyani SS
NarasiPost.Com-Kepada para mahasiswa
Siapa yang tidak kenal lagu itu? Selalu tersiar pada setiap aksi mahasiswa. Menggugah sanubari, membakar emosi akan perjuangan untuk negeri.
Kezaliman bertubi-tubi yang dipertontonkan rezim kiranya telah mengusik hati nurani. Menanggapi hal tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menggelar aksi demonstrasi di Istana Negara Jakarta, pada Senin 11 April 2022 untuk menyampaikan sejumlah aspirasi kepada Presiden Jokowi. Faktanya, ini bukanlah aksi yang pertama. Sebelumnya sudah ada rangkaian aksi demonstrasi serupa.
Menurut Koordinator BEM SI 2022, Luthfi Yufrizal yang dirilis oleh media online PikiranRakyat.com (10/04/2022) ada enam tuntutan dalam aksi kali ini. Pertama, mahasiswa mendesak Presiden Jokowi agar memberi pernyataan terbuka kepada publik, bahwa presiden harus dengan tegas menolak menunda Pemilu 2024 dan menolak perpanjangan masa jabatan presiden karena telah menyalahi konstitusi negara.
Kedua, mahasiswa meminta presiden agar menunda dan mengkaji ulang UU IKN. Ketiga, mahasiswa mendesak dan menuntut pemerintah untuk menstabilkan harga dan menjaga ketersediaan bahan pokok di tengah-tengah masyarakat serta menyelesaikan permasalahan ketahanan pangan lainnya.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/13/totalitas-perjuanganmenyentuh-esensi-menawarkan-solusi-hakiki/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed