
Sign up to save your podcasts
Or


Penyebaran Islam sebagai Asas Politik Luar Negeri
Oleh. Mariyah Zawawi
Voice over talent: Sofia Ariyani
NarasiPost.Com-Islam adalah agama yang syamil dan kamil. Aturannya rinci dan sempurna. Tak ada satu pun yang luput dari pengaturannya. Termasuk dalam urusan politik luar negeri.
Politik Luar Negeri dalam Islam
Politik luar negeri adalah hubungan antara suatu negara dengan negara, bangsa, atau umat yang lain. Hubungan ini merupakan bentuk pemeliharaan urusan umat di luar negeri. Demikian pula dengan politik luar negeri dalam sistem Islam.
Politik luar negeri ini berdiri di atas pemikiran yang tetap hingga kapan pun. Yakni, penyebarluasan Islam ke setiap umat dan bangsa. Hal itu karena Allah Swt. telah menjadikan Rasulullah saw. sebagai rasul bagi seluruh umat manusia. Karena itu, risalahnya berlaku bagi seluruh umat, hingga datangnya hari kiamat. Allah Swt. berfirman dalam surah Saba'[34] ayat 28,
وما ارسلنك إلا كافة للناس بشيرا ونذيرا
“Dan Kami tidak mengutus engkau, kecuali kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa kabar gembira serta pemberi peringatan.”
Qatadah dan Mujahid mengatakan bahwa melalui ayat ini, Allah Swt. mengutus Rasulullah saw. untuk orang Arab dan non-Arab. Begitu pula dengan Ibnu Abbas. Bahkan, menurut Ibnu Abbas, Rasulullah saw. juga diutus kepada bangsa jin.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/16/penyebaran-islam-sebagai-asas-politik-luar-negeri/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Mahasiswa, Tuntutanmu Kurang “Greget”
Oleh. Novia Darwati, S.pd.
Voice over talent: Dewi Fitriana
NarasiPost.Com-BEM SI kembali “berisik”, tanggal 11 April 2022 mereka menggelar aksi demonstrasi. Aksi tersebut bertujuan menuntut wakil rakyat dalam empat perkara utama. Yang pertama, mendesak dan menuntut wakil rakyat agar mendengarkan dan menyampaikan aspirasi rakyat, bukan aspirasi partai. Kedua, mendesak dan menuntut wakil rakyat untuk menjemput aspirasi rakyat sebagaimana aksi massa yang telah dilakukan dari berbagai daerah mulai tanggal 28 Maret 2022 sampai 11 April 2022. Lalu ketiga, mendesak dan menuntut wakil rakyat untuk tidak mengkhianati konstitusi negara dengan melakukan amandemen, bersikap tegas menolak penundaan pemilu 2024 atau masa jabatan tiga periode. Dan yang terakhir, mendesak dan menuntut wakil rakyat untuk menyampaikan kajian disertai 18 tuntutan mahasiswa kepada presiden yang sampai saat ini belum terjawab.
Adapun 18 tuntutan yang dimaksud adalah 6 tuntutan saat aksi 28 Maret 2022 dan 12 tuntutan aksi 21 Oktober 2021. Enam tuntutan saat aksi 28 Maret 2022 meliputi tuntutan agar Presiden Joko Widodo bersikap tegas menolak dan memberikan pernyataan sikap terhadap penundaan pemilu 2024 atau masa jabatan tiga periode, menunda dan mengkaji ulang UU IKN termasuk dengan pasal-pasal yang bermasalah dan dampaknya pada lingkungan, mendesak penstabilan harga dan ketersediaan bahan pokok di masyarakat, mengusut tuntas mafia minyak goreng serta mengevaluasi kinerja menteri terkait, penyelesaian konflik agraria, dan yang terakhir meminta presiden dan wakil presiden berkomitmen penuh dalam menuntaskan janji kampanye di sisa masa jabatannya.
Sedangkan 12 tuntutan yang disampaikan pada aksi 21 Oktober 2021 meliputi perkara UU Cipta Kerja, pertumbuhan ekonomi, pengembangan SDA dan SDM, kebebasan berpendapat, HAM, KPK, afirmasi PPPK, kualitas pendidikan, independensi Badan Standar Nasional, MINERBA, energi baru terbarukan, dan UU pornografi.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/18/mahasiswa-tuntutanmu-kurang-greget/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Ramadan dalam Sejarah Islam, Bulan Mengukir Prestasi dan Kemenangan Gemilang
Oleh. Ana Nazahah
Voice over talent: Dewi Nasjag
NarasiPost.Com-Umat Islam dahulunya berada dalam sebuah kepemimpinan Islam yang begitu digdaya. Di bawah pengaturan syariat Islam kaffah yang mengatur seluruh urusan manusia. Pada saat itu umat Islam hidup penuh suka cita, menyambut bulan suci Ramadan dengan gegap gempita. Bulan Ramadan dimaknai sebagai momentum menoreh prestasi, jihad fisabilillah demi kemenangan Islam.
Hal ini tercatat dalam sejarah peradaban Islam pada awal mula tegaknya Daulah Islam di Madinah. Pada saat itu, Ramadan disambut antusias dan diisi dengan aktivitas perjuangan. Rasul dan para sahabat mengisi Ramadan dengan ibadah terbaiknya, yakni dakwah dan jihad. Dalam rangka meninggikan Islam sebagai ad-din (agama), dan millah (jalan hidup) manusia.
Ramadan dalam Sejarah Islam
Bulan Ramadan adalah bulan pertolongan. Bulan di mana akan dikabulkan segala doa bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh dalam ikhtiarnya. Karena itulah, Rasul dan para sahabat menjadikan Ramadan sebagai bulan perjuangan demi mewujudkan cita-cita mulia. Mengajak manusia agar menyembah Rabb semesta dan menjadikan Islam sebagai satu-satunya aturan hidup bagi seluruh umat manusia.
Maka kita lihat, bagaimana Rasulullah saw. dan para sahabat mengisi Ramadannya. Saat perintah berpuasa itu pertama sekali turun, yakni pada tahun ke-2 H. Rasulullah telah memimpin 300 pasukan muslim ke Badar Al-Kubra, jihad fisabilillah demi menjemput kemenangan Islam. Dan itu terjadi tepat di hari ke-17 bulan Ramadan, peristiwa besar yang begitu heroik dalam sejarah dunia. Rasul dengan 300 pasukan muslim dengan persenjataan seadanya, berhasil mengalahkan 1000 tentara musuh dengan persenjataan lengkap.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/18/ramadan-dalam-sejarah-islam-bulan-mengukir-prestasi-dan-kemenangan-gemilang/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Ekologi Ditopang Ideologi
Oleh. Fitria Zakiyatul Fauziyah CH
Voice over talent: Dewi Fitriana
NarasiPost.Com-Dunia saat ini berada di persimpangan jalan dalam hal kerusakan dan bencana lingkungan yang melanda. Diperlukan pendekatan Islam dalam menjaga dan melestarikan planet ini, termasuk pengelolaan sumber daya dengan cara yang selaras dengan alam.
Tidak akan sengsara, umat manusia yang mengadopsi Islam sebagai ideologi dan keyakinan hidupnya, termasuk menjadikan Islam sebagai solusi atas problematik yang dihadapi manusia di dunia. Sebab, Allah Swt. Sang Pencipta dan Pengatur alam semesta, manusia dan kehidupan telah menjadikannya sebuah agama yang dibawa Nabi saw. Sebagai risalah bagi alam semesta dan seisinya. Dan ini adalah kalam Allah yang tidak akan pernah lekang oleh waktu.
Di dalam sistem Islam, kekayaan alam adalah bagian dari kepemilikan umum. Kepemilikan umum ini wajib dikelola oleh negara. Di mana hasilnya diserahkan untuk kesejahteraan dan kemaslahatan rakyat secara umum. Sebaliknya, haram hukumnya memberikan hak pengelolaan kepemilikan umum kepada individu, swasta apalagi asing.
Salah satu pedoman dalam pengelolaan kepemilikan umum antara lain melalui hadis riwayat Ibnu Majah, sabda Rasulullah saw. yang artinya: “Kaum muslim berserikat (mempunyai hak yang sama) atas tiga hal: air, padang rumput, dan api.” Kemudian, Rasul saw. juga bersabda yang artinya: “Tiga hal yang tidak boleh dimonopoli ialah air, rumput, dan api.” (HR Ibnu Majah).
Berdasarkan dalil di atas dengan jelas, bahwa sumber daya alam hendaknya tidak dikuasai individu. Menghindari keserakahan manusia, yang gila akan keuntungan yang berlipat-lipat. Fitrah keserakahan manusia sering kali melupakan dampak buruk terhadap lingkungan.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/19/ekologi-ditopang-ideologi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Bisakah Aku Disebut Islam Saja?
Oleh. Dila Retta
Voice over talent: Giriyani SS
NarasiPost.Com-Bisakah aku disebut Islam saja?
Bisakah aku disebut Islam saja?
Bisakah aku disebut Islam saja?
Bisakah aku disebut Islam saja?
Laa ilaaha ilallah…
Hanya Engkau, Ya Rabb…
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/17/bisakah-aku-disebut-islam-saja/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Derita Korban Predator Seksual, Mampukah UU TPKS Mengakhirinya?
Oleh. Ana Nazahah
Voice over talent: Anita Yulianti
NarasiPost.Com-Bestie! Di atas bumi ini ada manusia yang jemawa, ia bahagia atas penderitaan orang lain. Ada pula mereka yang hidup acuh tak acuh, mementingkan kebahagiaan dirinya saja. Ada juga mereka yang hidup normal, menjalani rutinitas sebagaimana manusia pada umumnya. Namun, taukah kamu? Di antara manusia lainnya, ada pula ia yang merasa tercekik setiap kali udara keluar masuk rongga dadanya.
Mereka yang terakhir ini, telah menjadi korban buruknya perlakuan sistem kapitalisme. Menjadi tumbal ideologi yang mengedepankan hawa nafsu manusia. Imbas dari buruknya kebijakan yang lahir dari akal manusia, telah menciptakan dunia yang mengerikan. Trauma mengikuti hari-hari mereka, seolah hidup bagaikan di neraka. Itulah secuil rasa yang dialami oleh mereka korban predator seksual. Korban sistemis yang menunggu diselamatkan.
Dunia yang Kacau
Bestie, pernah tidak Kamu berpikir apa yang ada di benak mereka yang menjadi korban predator seksual? Seburuk apakah kondisi itu? Apakah setara dengan anggapan bahwa tak ada lagi masa depan, tak ada lagi kebahagiaan, hingga ia pun bertanya, kenapa harus dilahirkan ke dunia? Kenapa derita ini harus menimpanya?
Aku punya teman, pejuang hijrah yang menceritakan kisah hidupnya yang memilukan. Hingga ia menganggap bahwa hidupnya adalah neraka! Ia adalah seorang gadis salihah, menjaga dirinya dalam balutan jilbab dan bagusnya adab. Namun, siapa sangka masa lalunya di payungi mendung yang pekat. Kejamnya sistem kapitalis-liberal telah menghapus kebahagiaannya sekaligus senyuman di wajahnya.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/21/derita-korban-predator-seksual-mampukah-uu-tpks-mengakhirinya/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
M2T2: Menjadi Muslim Tanpa Tapi
Oleh. Iranti Mantasari, BA.IR, M.Si
Voice over talent: Giriyani SS
NarasiPost.Com-“Aku ikut ke gereja bersama teman dekatku, tapi aku tetap muslim kok.”
“Tanpa harus berpenampilan syar’i, aku masih bisa beribadah dengan khusyuk”
“Aku muslim, mengucapkan selamat natal ke sahabat, tapi alhamdulillah imanku tidak berubah”
Andai seluruh muslim, terlebih bagi mereka yang muslim dari sononya paham betul betapa Rasulullah saw. dan para sahabat beliau dahulu berjuang luar biasa teguh demi menyampaikan dan mengukuhkan akidah Islam. Namun tak dimungkiri, jauhnya jarak hidup kita dengan hidup ideal seorang muslim seperti di masa Rasulullah saw. juga memberikan andil terhadap jauhnya kita dari pemahaman-pemahaman seperti itu.
Tiga pernyataan di atas merupakan beberapa contoh kalimat yang sering terlontar dari lisan generasi muslim hari ini. Tidak sedikit yang dengan bangganya mempertontonkan kekeliruan yang dikerjakan, di waktu yang sama juga bergurau bahwa meski begitu, ia masih mengakui bahwa Islam adalah agamanya. Sikap seperti ini tidak boleh dibiarkan terus hinggap dalam diri seorang muslim, karena pada hakikatnya, kuatnya keislaman seseorang bisa menjauhkannya dari berbagai maksiat.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/19/m2t2-menjadi-muslim-tanpa-tapi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Cerdaslah Agar Tak Terempas!
Oleh. Deena Noor
Voice over talent: Dewi Fitriana
NarasiPost.Com-Dunia ini memang penuh dengan kesenangan yang menipu. Apa yang indah dalam pandangan mata tak selalu begitu adanya. Telah banyak manusia yang jatuh akibat teperdaya olehnya. Mereka tak hati-hati dalam menjaga kesadarannya dan terlupa bahwa dunia hanyalah sekejap masanya.
Harta menjadi salah satu kesenangan dunia yang begitu memesona. Tak henti-hentinya manusia mengejar harta dengan berbagai macam cara. Dikira bahagia akan selalu menyertai bila harta sudah dimiliki. Semua aman asal ada harta ada dalam genggaman. Setiap urusan akan selesai jika uang yang bertindak.
Segala kenikmatan yang bisa diraih dengan uang di tangan menjadikan orang berfokus padanya. Meraih materi tanpa memperhatikan bagaimana prosesnya. Asalkan keuntungan diraup, apa pun boleh saja. Terlalu bernafsu mengejar materi hingga melibas aturan pun tak mengapa. Logika juga hilang entah ke mana.
Ingin kaya, tapi tak mau susah payah bekerja. Maunya uang bisa diperoleh dengan segera dan banyak jumlahnya. Enggan repot-repot, cukup duduk manis sambil menunggu uang datang dengan sendirinya. Cara-cara instan pun dipakai agar bisa cepat kaya. Tak heran bila aturan dan norma diabaikannya. Menipu dan bisnis riba adalah contohnya.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/17/cerdaslah-agar-tak-terempas/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Kala Hukum Tak Lagi ‘Sakti’, Klitih Menjadi ‘Tradisi’
Oleh. Sartinah
Voice over talent: Dewi Nasjag
NarasiPost.Com-Kejahatan jalanan atau dikenal dengan istilah klitih kembali meresahkan warga Yogyakarta. Bukan sekali-dua kali, aksi kriminal yang didominasi kaum pelajar tersebut terus berulang. Terang saja, klitih telah mencoreng status Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai ‘Kota Pelajar’ dan memiliki slogan ‘Kota Berhati Nyaman’. Saking maraknya aksi serupa sehingga memunculkan tagar #DIYDaruratKlitih yang sempat menjadi trending topik di Twitter.
Terbaru, aksi klitih di Kota Yogyakarta telah menyebabkan seorang pemuda meninggal dunia. Alih-alih mereda, jumlah kasusnya justru menunjukkan tren kenaikan. Berdasarkan rilis Catatan Akhir Tahun Polda DIY selama 2021, jumlah kasus yang masuk mencapai 58 kasus. Sementara itu, total pelaku yang teridentifikasi sebanyak 102 orang yang notabene masih berstatus pelajar. (Tempo.co, 05/01/2022)
‘Tradisi’ Turun-temurun
Dalam Kamus Besar Bahasa Jawa (Jawa-Indonesia, 2022) karya S.A. Mangunsuwito, klitih merupakan kata ulang dari klitah-klitih yang artinya berjalan bolak-balik agar kebingungan. Namun, ada pula yang mengartikan klitih sebagai aktivitas mencari angin di luar rumah alias keluyuran. Umumnya, aktivitas ini dilakukan oleh anak sekolah atau remaja berusia 14-19 tahun.
Sayangnya, istilah klitih telah mengalami pergeseran makna menjadi aksi kekerasan jalanan dengan senjata tajam atau kriminalitas anak di bawah umur yang berada di luar kegaliban. Fenomena ini tentu menjadi preseden buruk terhadap nasib generasi muda di masa yang akan datang. Maraknya aksi kejahatan jalanan menyiratkan sebuah tanya, mengapa tindakan kriminal semacam ini terus saja marak bahkan sampai menjadi ‘tradisi’?
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/16/kala-hukum-tak-lagi-sakti-klitih-menjadi-tradisi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Bunda Bermata Panda
Oleh. Meutia Ekawati
Voice over talent: Mimi Muthmainnah
NarasiPost.Com-Tik tok tik tok
Tepercik semangat dalam diri saat mengingat kondisi umat
Menjadi bunda ideologis haruslah taat aturan Allah semata, agar tetap terjaga iffah juga muruah
Menjadi pelecut bunda ideologis adalah menulis, meski kadang terasa sulit
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/27/bunda-bermata-panda/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed