
Sign up to save your podcasts
Or


Duka di Hari Fitri Akibat Beda Hari
Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S
Voice over talent: Anita Yulianti
NarasiPost.Com-Cerita ini terjadi sekitar 16 tahun lalu, saat aku masih duduk di bangku kuliah. Saat itu aku baru menjadi aktivis dakwah dan rutin mengkaji Islam kaffah. Di usia itu aku baru memahami bahwa memulai dan mengakhiri Ramadan adalah dengan melihat adanya hilal (bulan) berdasarkan metode rukyatul hilal global. Artinya, melihat keberadaan hilal tak hanya di wilayah tempat tinggalnya sendiri, melainkan di seluruh di dunia. Namun faktanya, penggunaan metode tersebut seringkali menimbulkan perbedaan dengan ketetapan pemerintah di Indonesia yang notabenenya menggunakan metode rukyatul hilal lokal.
Saat itu, ternyata berdasarkan rukyatul hilal global, hilal Syawal telah terlihat. Artinya, Idulfitri telah tiba. Namun, pemerintah negeri ini, berdasarkan sidang isbat, telah menetapkan bahwa Idulfitri jatuh keesokan harinya.
“Kita ikut pemerintah saja.” ujar Bapak saat kusampaikan bahwa hilal Syawal sudah tampak malam itu.
Akhirnya kujelaskan panjang lebar terkait rukyatul hilal global sebagai metode syari penentuan awal dan akhir Ramadan, tak lupa menyampaikan hadis yang berkaitan dengan itu. Namun, Bapak tetap bersikukuh pada pendiriannya. Taat pada Ulil Amri, katanya.
“Kalau salah, yang dosa kan pemerintah.” kata ibuku.
“Tetap aja Bu, kita wajib mencari tahu yang benar. Kalau sudah tahu yang benar, tapi tetap ikut yang salah, berarti dosanya ditanggung sendiri.” ucapku.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/05/03/duka-di-hari-fitri-akibat-beda-hari/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Rakyat Bukan Sekadar Butuh THR, tetapi Butuh Sejahtera
Oleh Yuliyati Sambas
Voice over talent: Dewi Nasjag
NarasiPost.Com-“THR, polemik di masa pandemi virus Corona: ‘hilangnya makna lebaran’ bagi pekerja dan ‘sulitnya bertahan hidup’ bagi pengusaha. (bbc.com, 12/4/2021)
Tagline tersebut memang benar adanya, THR di masa pandemi itu ibarat polemik bagi kedua pihak, buruh maupun pengusaha. Adapun pemerintah menyolusikannya selama dua tahun ke belakang adalah dengan apa yang mereka pandang sebagai win-win solution, yakni berupa pencairan oleh perusahaan dengan jalan diturunkan besarannya, dicicil, ditunda, hingga ditiadakan. Maka, ketika masuk tahun ketiga pandemi, pemerintah mengeluarkan surat edaran yang membuat dada para buruh lebih mengembang di tengah terimpitnya kehidupan akhir-akhir ini. Dimana kebijakan itu diambil setelah geliat kehidupan, termasuk ekonomi, mulai tampak dikarenakan laporan kasus terpaparnya virus sudah berkurang.
Negara Tegas pada Pengusaha Nakal
Dilansir oleh tirto.id (3/4/2022) bahwa pemerintah resmi mengumumkan surat edaran yang mewajibkan semua perusahaan membayarkan THR keagamaan karyawannya tanpa adanya relaksasi, pemotongan atau penyicilan. Pembayaran harus diselesaikan maksimal H minus 7 sebelum lebaran Idulfitri tahun 1443 H. Kemenaker pun menekankan jika terdapat pengusaha yang nakal tidak mengikuti arahan tersebut, bersiaplah dengan sanksi administratif, mulai dari peneguran, pembatasan, penghentian hingga pembekuan aktivitas perusahaan. Sudah Cukupkah?
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/20/rakyat-bukan-sekadar-butuh-thr-tetapi-butuh-sejahtera/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Balada Mafia Minyak Goreng, Oligarki Untung Rakyat Buntung
Oleh. Tsuwaibah Al-Aslamiyah
Voice over talent: Yeni M
NarasiPost.Com-Terciduk! Publik akhirnya tahu siapa pihak yang bertanggung jawab terhadap kelangkaan dan mahalnya minyak goreng di negeri kaya sawit ini. Namun, jangan senang dulu sebab penangkapan itu tak secara otomatis menurunkan harga minyak goreng. Diduga, masih ada kekuatan oligarki di dalam lingkaran istana yang belum terungkap. Belum lagi persoalan sistem saat ini yang menjadi akar masalah dari persoalan multidimensi yang merundung ibu pertiwi.
Dilansir dari Katadata.com (20/4/2022) bahwa Kejagung telah menetapkan Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Dirjen PLN Kemendag) Indrasari Wisnu Wardhana sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pemberian fasilitas ekspor Crude Palm Oil (CPO) dan produk turunannya yakni minyak goreng selama Januari 2021-Maret 2022.
Persoalan minyak goreng ini memang tak bisa dianggap sepele, masyarakat sudah terlanjur terkuras uang, waktu, tenaga bahkan nyawanya demi memenuhi kebutuhan harian ini. Tega nian, penguasa yang seharusnya melayani rakyat justru berkhianat. Lancarkan urusan korporasi, namun bikin rakyat pucat pasi hingga mati.
Lantas, siapa saja aktor di balik kasus minyak goreng ini? Betulkah penguasa negeri ini mengidap narcissictic megalomania? Solusi apa yang paling jitu atasi krisis minyak goreng ini?
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/26/balada-mafia-minyak-goreng-oligarki-untung-rakyat-buntung/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Kala Islam Melindungi Nasab dan Nyawa
Oleh. Gien Rizuka
Voice over talent: Dewi Fitriana
NarasiPost.Com-Skenario mengangkat isu untuk menenggelamkan berita lain sepertinya sudah jadi tradisi di negeri ini. Pasalnya, rakyat terlenakan dengan berita viral pengeroyokan penista agama, sehingga problematika lain terlepas dari kontrol masyarakat. Berita bonyoknya AA dalam demo, menutup informasi telah dilegalkannya RUU TPKS, undang-undang yang sudah beberapa kali dikritisi oleh rakyat.
Bukan tanpa alasan rakyat mengkritik RUU TPKS. UU yang dibungkus dengan bahasa yang seolah membela kaum perempuan itu nyatanya banyak kejanggalan. Bagaimana tidak? Sebab salah satu isinya secara tidak langsung telah melegalkan zina. Contohnya pasal 4 ayat 2 yang berbunyi, “Bahwasanya, negara akan memberikan sanksi pada orang yang melanggar kesusilaan yang bertentangan dengan kehendak korban. “ Ini artinya jika negara menemukan orang berbuat zina namun keduanya rida, sanksi menjadi tidak berlaku untuk mereka. Bahkan, perselingkuhan tanpa ikatan pernikahan pun bisa jadi akan dibiarkan.
Wajar saja bila hal ini menuai kritik dari umat Islam. Umat yang notabene mengetahui akan bahayanya zina. Karena bagi seorang muslim, zina merupakan perkara yang diharamkan. Zina merupakan dosa besar yang Allah murkai setelah dosa syirik dan membunuh tanpa hak. Jika membiarkan zina, berarti memunculkan masalah baru yang lebih pelik.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/20/kala-islam-melindungi-nasab-dan-nyawa/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Menjaga Konsistensi Setelah Ia Pergi
Oleh. Muthi Idris
Voice over talent: Sofia Ariyani
NarasiPost.Com-Ramadan adalah bulan yang penuh kemuliaan, yang selalu dirindukan oleh ia yang beriman. Setiap detiknya menyimpan kehangatan, menggetarkan jiwa, menanamkan optimisme untuk bersegera meraih kasih sayang-Nya, ampunan-Nya dan pembebasan dari siksa api neraka-Nya. Tak penah bosan tilawah Al-Qur’an, tarawih, tahajud, serta menghidupkan setiap malam dan siangnya. Bulan diturunkannya Al-Qur’an yang mulia, yang di dalamnya tersimpan malam yang lebih baik daripada umur manusia, malam seribu bulan, malam Lailatulqadar, dan masih banyak lagi kemuliaan yang dimilikinya.
Ia yang beriman akan dirundung kesedihan, saat menyadari bulan penuh kemuliaan itu akan pergi. Bulir-bulir air mata turut menghiasi kebersamaannya, khususnya di momen-momen terakhir. Tak ingin berpisah karena belum tentu juga tahun depan bisa bertemu lagi. Namun disisi lain, orang beriman yang akan mendapatkan derajat takwa memahami bahwa inilah sunatulah, ada awal dan sudah tentu pasti ada batas akhir, ada pertemuan dan pasti ada perpisahan. Maka, orang beriman itu akan berpikir bagaimana agar semangat dan ruh ibadah di bulan Ramadan ini tak berhenti di bulan mulia tersebut. Tapi bisa terus hidup di bulan Syawal dan bulan-bulan selanjutnya.
Mengutip penjelasan Ustaz Abi Makki, Lc. dalam kajian I’tikaf Cinta Qur’an TV, ada tiga hal yang harus kita tanamkan, yaitu: Pertama, bagi ia yang menyembah Ramadan, mungkin ia akan taat di bulan Ramadan saja. Maka, tanamkan dalam diri bahwa kita bukan hambanya Ramadan, tapi kita adalah hamba dari Rabb-nya Ramadan, juga Rabb-nya Syawal, Zulkaidah, Zulhijah, dan seluruh bulan lainnya. Maka, beribadahlah karena Allah Swt. Ketika Ramadan berlalu, kita tidak kehilangan harapan, karena sejak awal kita menggantungkan harapan hanya kepada Allah Swt. Kita akan selalu merasa diawasi kapan pun, di mana pun, beramal dan beribadah bukan untuk Ramadan, tapi untuk Rabb-nya Ramadan.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/05/05/menjaga-konsistensi-setelah-ia-pergi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Palestina Kembali Mencekam, Umat Butuh Perisai
Oleh. Mariam
Voice over talent: Dewi Nasjag
NarasiPost.Com-Pasukan Israel dilaporkan kembali melakukan penyerangan ke sekitar kompleks Masjid Al-Aqsa pada Minggu, 17 April 2022. Setelah sebelumnya diketahui, pada Jumat, 15 April 2022 lalu pasukan Israel juga melakukan penyerangan terhadap warga Palestina termasuk staf masjid, orang tua, pemuda, bahkan paramedis di sekitar kompleks Masjid Al-Aqsa yang mengakibatkan 152 jemaah terluka.
Dikutip dari ZonaBanten.com dari Al Jazeera, hingga pada Senin, 18 April 2022 ketegangan semakin meningkat ketika polisi pendudukan Israel memasuki kompleks Al-Aqsa dan menyerang warga Palestina yang berkumpul untuk melaksanakan salat subuh berjamaah dengan menggunakan peluru, granat kejut, tongkat polisi, gas air mata dan sebagainya. Akibatnya, 19 orang warga Palestina terluka dan tiga di antaranya dilarikan ke rumah sakit terdekat setelah terkena peluru berlapis karet.
Penyerangan Israel di Bulan Ramadan
Bukan hanya saat ini, penyerangan dilakukan oleh pasukan Israel di bulan Ramadan. Masih teringat pada 10 Mei 2021, hari ke-28 Ramadan 1442 H. Israel melakukan ratusan serangan udara yang menargetkan infrastruktur militer Hamas, termasuk jaringan terowongan yang luas. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, setidaknya 230 warga Palestina syahid, termasuk 65 anak-anak dan 39 wanita, dengan 1.710 orang terluka. Hingga berakhir dengan gencatan senjata pada 20 Mei 2021. (AP News, 21/5/2021)
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/23/palestina-kembali-mencekam-umat-butuh-perisai/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Kapitalisme Gagal Menjegal Pembegal
Oleh. Afiyah Rasyad
Voice over talent: Giriyani SS
NarasiPost.Com-Kini, berharap keamanan dijamin di bumi ibarat mimpi di siang bolong. Berbagai kasus kejahatan dan kriminal mencuat tanpa bisa dibendung. Pemberitaan media seputar tindak kriminal laksana keran yang terbuka lebar dan bersih alirannya. Tawuran, pencurian, klitih, pembunuhan, begal, dan lainnya seakan menjadi konsumsi harian yang bisa mengintai siapa pun.
Sistem Gagal, Rakyat Jadi Tumbal
Baru-baru ini banyak parodi bertebaran di media sosial terkait berita viral korban begal. Ibarat pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Korban Begal di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi pesakitan karena aksinya yang melawan empat pembegal. AS, si korban begal adalah warga Desa Granti, Praya Timur, Lombok Tengah, saat itu sedang melakukan perjalanan menuju Lombok Timur. Empat orang begal menghadangnya di jalan. AS melakukan perlawanan ketika keempat pembegal hendak mengambil motornya. Dua pelaku begal yang membawa senjata tajam (sajam) tewas di tangannya (detik.com, 13/4/2022).
Namun, AS yang sempat menjadi status tersangka lantaran melindungi diri dari aksi pembegal, kini terbebas dari label tersangka. Dia berhasil membunuh dua dari empat orang pembegal. Lantas, hal itulah yang sempat menyeret dirinya ke ranah hukum. Namun, kini AS yang menjadi korban begal di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), bisa bernapas lega karena terbebas dari statusnya sebagai tersangka (Tempo.co, 17/4/2022).
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/25/kapitalisme-gagal-menjegal-pembegal/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Yuk Berbenah, Jadikan Ramadan sebagai Junnah!
Oleh. Ana Nazahah
Voice over talent: Dewi Fitriana
NarasiPost.Com-Hai Bestie! Apa kabar ibadah Ramadannya? Masih semangat sebagaimana di awal, kan? Jangan sampai teralihkan dengan perkara sepele. Godaan berburu pakaian untuk hari lebaran, misalnya. Di mana pasar-pasar, mal, dan toko-toko di pinggir jalan, sekarang padat dengan mereka yang berburu barang-barang yang katanya untuk persiapan lebaran. Kamu bukan salah satunya, kan?
Tidak salah sih, mempersiapkan pakaian baru dan perkakas baru lainnya untuk menyambut lebaran. Malah, Rasul sendiri memerintahkan kita untuk berpenampilan terbaik di hari Raya, sebagai wujud suka cita. So, boleh-boleh saja selama mampu dan tidak mengganggu ibadah di bulan suci.
Namun, jika kesibukan berburu pakaian dan segala hal yang ‘katanya’ untuk menyambut hari kemenangan, justru mengganggu aktivitas meraup berkah pahala dan ampunan, mengalihkan kita dari misi meraih ketakwaan, ini yang salah. Perlu dipahami, ketakwaan itu merupakan satu-satunya junnah kita di pengadilan Allah Swt. kelak. Sayang sekali jika junnah itu tidak kita upayakan sejak sekarang.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/20/yuk-berbenah-jadikan-ramadan-sebagai-junnah/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Berhentilah Bersikap Pragmatis, Saatnya Mahasiswa Membawa Perubahan Hakiki
Oleh. Refi Oktapriyanti
Voice over talent: Giriyani SS
NarasiPost.Com-Telah terjadi adanya aksi mahasiswa pada 11 April kemarin, massa mahasiswa yang mengikuti aksi tersebut banyak diikuti hampir dari seluruh kampus di Indonesia. Massa mahasiswa yang mengikuti aksi tersebut tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Indonesia (AMI), aksi tersebut digelar dengan simbolik ‘Mimbar Keresahan Rakyat’ yang akan membahas berbagai isu yaitu menolak penundaan pemilu 2024, jabatan Joko Widodo tiga periode, hingga kenaikan harga sejumlah bahan pokok.
Para mahasiswa melakukan aksi simbolik karena tuntutan yang sudah disampaikan pada tanggal 1 April lalu tak mendapat tanggapan langsung dari Presiden Joko Widodo. Mahasiswa juga menuntut Jokowi berjanji akan lengser di tahun 2024. (www.cnnindonesia.com) (10/02/2022)
Mahasiswa dalam aksi ini banyak yang memprotes termasuk soal perpanjangan jabatan presiden menjadi 3 periode, banyak mahasiswa yang menggugat untuk memberhentikan seorang Presiden Joko Widodo dari jabatannya karena selama masa jabatannya telah banyak membuat negeri ini semakin menderita dan kesusahan bagi rakyatnya. Sehingga, dari gugatan tersebut dalam aksi mahasiswa ini diharapkan Presiden Joko Widodo segera diberhentikan dari jabatannya dan diganti pemimpin yang baru.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/22/berhentilah-bersikap-pragmatis-saatnya-mahasiswa-membawa-perubahan-hakiki/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Menyoal KTT AS-ASEAN 2022: Antara Dua Wajah dan Pragmatisme Politik
Oleh. Iranti Mantasari, BA.IR, M.Si
Voice over talent: Dewi Nasjag
NarasiPost.Com-Di tengah kehidupan global yang dinamis, banyak peristiwa yang sahut-menyahut terjadi. Hari ini Rusia menyerang Ukraina, esok harinya kanal berita diramaikan dengan pembakaran Al-Qur’an. Pagi harinya muslim di India diberitakan didiskriminasi oleh ekstremis Hindu, sore harinya kita jumpai kabar yang santer beredar bahwa AS hendak menguatkan pengaruh dan ideologinya di dunia dengan berbagai cara. Begitulah keterhubungan peristiwa yang terjadi dengan masifnya informasi yang sampai ke mata dan kuping publik di era ¬borderless¬ hari ini.
Terlepas dari karakter tersebut, ada satu kabar menarik yang cukup memenuhi layar gawai akhir-akhir ini. Bulan depan, lebih tepatnya pada tanggal 12-13 Mei 2022, ASEAN akan mengadakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) tatap muka pertama setelah pandemi dengan AS yang dielu-elukan sebagai mitra strategisnya. KTT ini akan berlangsung di tanah penggawa kapitalisme yang digadang-gadang akan membahas beberapa isu penting yang melibatkan dua aktor ini, seperti kerja sama kesehatan, pendidikan, pemulihan ekonomi, serta tantangan geoplotik global kontemporer (VOA Indonesia, 17/4/22).
Selain itu, Myanmar yang saat ini tengah dikuasai oleh junta militer dikabarkan tidak akan hadir di KTT kecuali direpresentasikan oleh perwakilan nonpolitik. Hal ini dikarenakan mayoritas negara anggota ASEAN serta AS sendiri menolak sikap represif junta terhadap warga negaranya, namun tak dapat bertindak banyak untuk mengubah keadaan di sana. Dari dinamika yang terjadi di Asia Tenggara saja sebetulnya sudah ada beberapa poin yang dapat dikritisi dari penyelenggaraan KTT ini. Lantas bagaimanakah umat seharusnya memandang hal ini, yang notabene di dalam ASEAN sendiri terdapat negeri Islam seperti Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam?
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/24/menyoal-ktt-as-asean-2022-antara-dua-wajah-dan-pragmatisme-politik/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed