Narasipostmedia

Narasipostmedia

By NarasipostNewsDaily News
Download on the App Store

Narasipostmedia episodes

  • Unlawful Killing

    Unlawful Killing

    Oleh. Deena Noor

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Giriyani

    NarasiPost.Com-Bagaimana aku bisa membela diri?

    Bila kau bungkam mulutku tanpa hati
    Eksekusi tanpa basa-basi
    Hak asasi terbungkus kain mori

    Bagaimana aku bisa berbicara?

    Kala pelurumu lebih cepat dari kejapan mata
    Melesak dan bersarang di kepala
    Menghentikan detak jantung seketika

    Bagaimana aku mampu mengucap kata?

    Atas prasangkamu tanpa logika
    Menghambur tiada jeda
    Melumat manusiawi tak bersisa

    Bagaimana aku akan bersuara?

    Ketika nyawa telah lepas dari raga
    Melayang dalam jahatnya rekayasa
    Menjadi tumbal kuasa dan tahta


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/26/unlawful-killing/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    5 min
  • Jadilah Penyelamat Umat

    Jadilah Penyelamat Umat

    Oleh. Miladiah al-Qibthiyah

    (Wakil RedPel NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Ayin Z

    NarasiPost.Com-Apa yang kau rasakan ketika di sekelilingmu masih banyak yang mengalami kesulitan hidup? Jangankan makan tiga kali sehari, mencari makan untuk menyambung hidup pun kian susah. Dari waktu ke waktu hajat hidup lainnya pun kian melambung. Sadarkah jika fenomena ini adalah akibat dari kapitalisasi hajat publik di alam demokrasi?

    Apa yang kau rasakan ketika tiada hari tak pernah kau lewatkan barang sedetik pun tindak kejahatan, kriminalitas, pelecehan seksual, kekerasan, bahkan bunuh diri terjadi di sekitarmu? Sadarkah bahwa peristiwa ini adalah buah dari liberalisasi budaya yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan sosial masyarakat?

    Apa yang kau rasakan ketika masuk ke dalam dunia digital di mana layar tabletmu seolah penuh dengan ujaran kebencian, caci maki, hinaan, penistaan, bertabur fitnah, persekusi ulama, monsterisasi ajaran Islam dan sejenisnya? Sadarkah pemandangan seperti ini adalah permainan politik oportunis yang hendak mengambil keuntungan untuk “diri sendiri”?

    Hidup di alam demokrasi akan meniscayakan lahirnya berbagai kesulitan hidup, himpitan ekonomi, dan beragam bentuk penyimpangan. Apa lagi yang hendak dikata bila asas yang menjadi fondasi sistem ini adalah upaya sekularisasi di berbagai lini kehidupan. Mulai dari sekularisasi agama yang meminggirkan syarak sebagai aturan hidup. Sekularisasi ilmu yang menghapus jejak tsaqafah Islam untuk diterapkan dalam kurikulum pendidikan. Sekularisasi kekuasaan yang mencegah agama (Islam) ikut campur dalam masalah pemerintahan dan kekuatan politik, yang memisahkan kekuasaan antara agama dengan negara.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/07/jadilah-penyelamat-umat/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    13 min
  • Luka Menyelimuti Tragedi, Korban Perdagangan Anak Berkedok Adopsi

    Luka Menyelimuti Tragedi, Korban Perdagangan Anak Berkedok Adopsi

    Oleh. drh. Lailatus Sa’diyah

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Giriyani 

    NarasIPost.Com-Fakta baru mulai terkuak, berdasarkan reportase BBC News Indonesia, telah melakukan penelusuran di berbagai kota di Indonesia dan di Belanda, untuk menyibak praktik adopsi ilegal yang terjadi pada 1970 hingga 1980. Kini, oleh pemerintah Belanda, praktik proses adopsi anak dari Indonesia ke Belanda ini dikategorikan sebagai “pelanggaran serius”. (bbc.com, 12/03/2022)

    Sebagian besar anak-anak tersebut diadopsi secara ilegal. Dokumen mereka dipalsukan, baik dari akta kelahiran, dokumen adopsi, bahkan identitas orang tua kandung, hingga alamat mereka. Dari beberapa kasus lain, sejumlah anak diculik dari keluarganya. Mereka berasal dari berbagai daerah. Kemudian mereka dijual melalui perantara. Setelah itu, mereka ditampung dalam panti asuhan di salah satu wilayah di Jakarta. (viva.co.id, 12/03/2022)

    Berdasarkan data dari Yayasan Min Root pada tahun 1973-1983 telah terjadi adopsi 3.000 anak Indonesia oleh keluarga Belanda. Dan sebagian dari mereka diduga diadopsi secara ilegal. (bbc.com, 08/02/2022)

    Menurut laporanl Zembla, sejak tahun 1970, lebih dari 40.000 anak telah diadopsi dari luar negeri ke Belanda. Kebanyakan dari mereka juga diadopsi dengan surat kelahiran palsu, mereka adalah anak-anak yang diambil dari klinik bersalin dan sebagian dari mereka merupakan hasil dari ‘peternakan bayi’. (bbc.com, 08/02/2022)

    Sebagian besar kasus yang terungkap merupakan kasus yang telah terjadi pada masa empat dekade silam. Namun, dampaknya bergulir hingga saat ini. Mereka yang diadopsi secara ilegal kesulitan menemukan keluarga kandungnya akibat data yang dipalsukan.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/27/luka-menyelimuti-tragedi-korban-perdagangan-anak-berkedok-adopsi/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    13 min
  • Istigfar, Jalan Terang Menantimu

    Istigfar, Jalan Terang Menantimu

    Oleh. Bunga Padi

    Voice over talent: Dewi Nasjag

    NarasiPost.Com-Ini kisah yang kualami langsung saat berada di Asrama  Pemondokan Haji Borneo Selatan tahun 2018. Ada seorang nenek sepuh berusia 80 tahun di antara rombongan kami yang akan berangkat haji saat itu. Sebut saja namanya Nek Raidah.

    Rupanya Nek Raidah untuk kedua kalinya akan berangkat haji. Namun, keberangkatan pertamanya gagal. Dijanjikan tahun berikutnya akan diberangkatkan kembali oleh pihak travel.

    Sebuah pepatah populer mengatakan, “Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih,” ternyata visa yang dijanjikan belum juga keluar. Benar saja, nama Nek Raidah memang tidak keluar dari kedutaan negara yang akan dituju karena ada kesalahan dari pihak admin travel tour haji dan umroh yang diikutinya.

    Tentu saja, hal itu membuat Nek Raidah kecewa. Tampak dari raut wajah Nek Raidah menahan kesedihan yang amat dalam. Melihat Nek Raidah menangis, aku pun berusaha menghiburnya.

    Kuambil buku zikir yang telah kubawa dari kampung, perlahan mendekatinya dan duduk persis di samping Nek Raidah, lalu kuserahkan buku zikir itu kepadanya.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/24/istigfar-jalan-terang-menantimu/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    14 min
  • Waktu Berlalu untuk Dakwah? Bersyukurlah!

    Waktu Berlalu untuk Dakwah? Bersyukurlah!

    Oleh. Iranti Mantasari, BA.IR, M.Si

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Giriyani

    NarasIPost.Com-Pedagang punya waktu 24 jam. Ibu rumah tangga juga memiliki waktu yang sama. Penguasa pun punya waktu 24 jam dalam satu hari. Semua manusia, baik laki-laki ataupun perempuan, di belahan bumi mana pun memiliki waktu yang sama yang tak bisa diulang atau dimajukan. Itu adalah hukum alam atas waktu. Meski sama, tapi banyak orang menyikapi perihal waktu ini dengan cara yang berbeda-beda.

    Ada yang mengisinya dengan sibuk mencari uang, menemukan kesenangan hidup, berleha-leha menghabiskan sisa usia. Tapi ada juga yang rela berlelah-lelah melakukan amal saleh untuk mengetuk pintu surga. Hanya saja, semakin ke sini, entah mengapa rasanya waktu semakin pendek dan cepat sekali berlalu.

    Suatu peristiwa terasa baru kemarin terjadi, ternyata sudah sebulan yang lalu. Baru saja bangun dan beraktivitas di pagi hari, tak terasa langit mulai gelap tanda bulan akan hadir mengganti mentari. Dengan rasa yang demikian, tak sedikit yang mengeluhkan betapa ia belum sempat melakukan banyak hal, dan waktunya justru terpakai untuk hal-hal yang belum tentu bermanfaat. Alhasil, munculah perandaian, “ah, andai waktu bisa ditambah satu jam lagi, pasti aku akan bisa melakukan lebih banyak hal lagi!”


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/27/waktu-berlalu-untuk-dakwah-bersyukurlah/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    7 min
  • Muruah Kita, ke Mana Perginya?

    Muruah Kita, ke Mana Perginya?

    Oleh. Ana Nazahah

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Nonny Irayanti

    NarasiPost.Com-Semakin hari kita sadari, peradaban kita kian bergerak mundur. Banyak orang sepakat, generasi sekarang susah diatur. Bertingkah tidak keruan. Tidak mencerminkan generasi muslim yang bermutu. Imbas berpikir ala liberal. Hasilkan generasi yang plural. Sampai-sampai akidah pun berani dijadikan mainan.

    Potret Generasi

    Potret kenakalan remaja, bukan hal yang baru kita dengar. Namun kini, kondisinya kian parah. Menyasar akidah dan menjadikannya sebagai ajang lucu-lucuan. Hal yang seharusnya tabu dilakukan. Karena tergolong tindakan penghinaan pada suatu agama (Islam). Muruah umat beragama (muslim) pun terancam.

    Seperti baru-baru ini. Ada sekelompok orang yang kurang rasa malunya. Mempertontonkan sikap lepas hijab. Divideokan dan disebar luas-luas. Suka sekali mereka. Senang tak terkira. Mereka mengaku inilah lambang kebebasan. Karenanya, mereka menyeru kaum wanita lainnya melakukan hal yang sama. Untuk terlepas dari belenggunya (pakaian takwa).

    Tak sedikit yang mendukung aksi ini. Entah dari mana asalnya. Ada saja kaum yang merasa peduli. Mereka katakan, “Kalian hebat, karena berani menyuarakan hak-hak kalian!” Mereka bermaksud agar segala sesuatu haruslah sesuai kata hati. Dengan itu, barulah kaum wanita bisa disebut menang, mandiri, dan berdikari. Perwujudan dari wanita sejati. Ada banyak pujian sejenis yang mereka sematkan untuk para pelepas hijab itu. Didukung atas nama toleransi dan hak berpendapat dan mengekspresikan diri.

    Begitu pun aksi pawang hujan di sirkuit Mandalika yang disebut-sebut sebagai tradisi bangsa ini. Mempertontonkan aksi perdukunan yang katanya bekerja dengan menggunakan gelombang otak teta untuk berkomunikasi dengan semesta. Ajaib sekali. Terjadi di tengah masyarakat modern. Budaya takhayul dan irasional malah dibiarkan tumbuh subur.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/03/muruah-kita-ke-mana-perginya/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    11 min
  • Mukjizat yang Senantiasa Terjaga

    Mukjizat yang Senantiasa Terjaga

    Oleh. Mariyah Zawawi

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Dewi Nasjag

    NarasiPost.Com-Al-Qur’an adalah firman Allah Swt. yang disampaikan oleh malaikat Jibril as. kepada Nabi Muhammad saw.. Al-Qur’an diturunkan secara bertahap selama 23 tahun. Ia diriwayatkan secara mutawatir oleh para sahabat, tabiin, dan tabi’ut tabi’in yang jumlahnya tidak memungkinkan bagi mereka untuk berdusta.

    Al-Qur’an menjadi mukjizat bagi Nabi saw. untuk membuktikan kelemahan orang-orang Quraisy. Mereka adalah orang-orang yang sangat piawai dalam membuat syair. Mereka biasa berlomba membuat syair. Dalam lomba tersebut, mereka saling menonjolkan kefasihan (fashahah) dan kejelasan (balaghah) syairnya. Syair yang menang akan ditulis dengan tinta emas dan digantungkan di Ka’bah, sehingga menjadi bahan pembicaraan, serta kebanggaan kabilahnya.

    Karena itulah, untuk membuktikan kelemahan mereka, Allah Swt. menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab. Keindahan bahasanya tak tertandingi. Tidak ada satu makhluk pun di dunia ini yang mampu menirunya. Bahkan, seandainya mereka bekerja sama untuk melakukan hal itu, mereka tetap tidak mampu. Allah Swt. telah menyatakan hal itu dalam beberapa ayat. Salah satunya dalam surah Al-Baqarah[2]: 23


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/27/mukjizat-yang-senantiasa-terjaga/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • Crowdfunding, Urun Dana Publik IKN Menguntungkan Siapa?

    Crowdfunding, Urun Dana Publik IKN Menguntungkan Siapa?

    Oleh. Ulfa Ni’mah

    (Pegiat Literasi Rindu Syariah)

    Voice over talent: Sofia Ariyani

    NarasiPost.Com-Ide urun dana publik (crowdfunding) untuk proyek pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) yang digagas oleh kepala Otoritas IKN Bambang Susantono menuai berbagai kritikan. Pasalnya, ide ini tiba-tiba muncul setelah mundurnya investor perusahaan asal Jepang, Softbank senilai 100 miliar dolar AS di proyek IKN Nusantara.

    Seperti dilansir dari laman Voi.id (23/03/2022). Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera mengkritik wacana pembangunan IKN Nusantara di Kalimantan Timur berasal dari masyarakat melalui crowdfunding atau urun dana. Mardani mengungkap urun dana merupakan ide menarik, namun absurd. Menarik karena membuat masyarakat terlibat. Absurd karena ini proyek pemerintah, mestinya memakai dana dari negara dan jangan sampai ide ini dimanfaatkan oleh konglomerat.

    Senada dengan Mardani, Anggota Komisi Keuangan DPR dari partai Amanat Nasional, Achmad Hafiz Tohir, juga mempertanyakan rencana Otoritas IKN melakukan crowdfunding (urun dana publik) guna membiayai pembangunan IKN. Ia menilai ide itu aneh dan sebetulnya dana masyarakat sudah terhimpun ke dalam APBN lewat pembayaran pajak dan sebagainya. Apalagi Otoritas IKN juga tidak memiliki legalitas dan kapasitas untuk menghimpun dana masyarakat (Tempo.co 23/03/2022).


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/31/crowdfunding-urun-dana-publik-ikn-menguntungkan-siapa/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    14 min
  • Berburu Bunga Sakura di Edinburgh

    Berburu Bunga Sakura di Edinburgh

    Oleh: Dyah Ayu Meliastuti

    Voice over talent: Dewi Nasjag

    NarasiPost.Com-Angin kencang masih mewarnai awal musim semi di bulan April. Kelopak bunga sakura yang beterbangan turut menemani dinginnya angin musim semi. Sepanjang jalan tidak henti kami mengagumi keindahan bunga berwarna putih dan merah muda yang berderet rapi. Namun, bukanlah di negeri Sakura kami menemui pemandangan ini, melainkan di kota Edinburgh, Skotlandia.

    Di sebelah selatan Old Town Edinburgh, terdapat hamparan padang rumput luas dengan banyak pepohonan. The Meadows merupakan taman umum yang kerap kami lewati ketika hendak pergi ke kampus maupun sekadar berjalan-jalan ke pusat kota. Awalnya merupakan padang rumput untuk gembalaan hingga di tahun 1827 ditetapkan sebagai taman yang dilindungi. Dengan berbagai alur pejalan kaki yang saling menyilang, banyak rute yang bisa dijadikan pilihan. Ditambah dengan rimbunnya pepohonan dan cuaca dingin nan nyaman menjadikan The Meadows sebagai tempat yang populer untuk berbagai acara seperti festival atau kegiatan rekreasi dan olahraga.

    Saat memasuki bulan April-Mei, pemandangannya akan semakin semarak dengan mekarnya bunga-bunga sakura di sepanjang jalur-jalur pejalan kaki. Pohon-pohon sakura ini telah berusia puluhan tahun, dengan salah satu pohonnya yang ditanam sendiri oleh Ratu Elizabeth II di tahun 1953 sebagai tanda kunjungan perdananya ke Skotlandia setelah dinobatkan sebagai ratu.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/26/berburu-bunga-sakura-di-edinburgh/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    6 min
  • Rigiditas Regulasi Menjembatani Nyawa Rakyat Pulang ke Pangkuan Ilahi

    Rigiditas Regulasi Menjembatani Nyawa Rakyat Pulang ke Pangkuan Ilahi

    Oleh. Iranti Mantasari, BA.IR, M.Si

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Giriyani

    NarasiPost.Com-Miris! Itulah satu kata yang sangat mewakili sebuah kejadian yang memilukan di Bulukumba. Kartu identitas yang dirasa bisa menjadi tanda kependudukan dan pemulus penerimaan pelayanan, malah menjadi wasilah ajal pemiliknya tiba dan mengakhiri status kependudukannya di dunia. Seorang pria yang sedang berikhtiar menempuh pengobatan atas sakitnya, namun terhalang kartu identitas yang belum tercatat sistem kependudukan, kini hanya tinggal nama selepas proses perekaman selesai.

    Hal ini terjadi karena almarhum yang sudah dirawat beberapa hari di rumah sakit, diberikan pilihan untuk menjalani operasi oleh RS, namun tidak memiliki biaya yang cukup dan tidak memiliki BPJS, sehingga disarankan untuk mengurus surat keterangan miskin. Alhasil, ketidaklengkapan dokumen pun menjadi rintangan untuk almarhum mendapatkan pengobatan. Proses ini bagi seseorang yang telah lama merantau ke negeri jiran untuk menjemput rezeki pada faktanya cukup merepotkan, terlebih lagi dilakukan pada saat pria tersebut sedang sakit.

    Kaku, mungkin adalah diksi yang tepat untuk mendeskripsikan kasus ini. Terbukti dengan keharusan mengurus urusan administrasi yang menjadi syarat bisa didapatkannya pelayanan kesehatan terbaik bagi rakyat, justru menjadi hal yang membahayakan nyawa. Hal ini bertolak belakang dengan urusan administrasi lain yang berkaitan dengan para pejabat publik, yang mereka sangat bisa dilayani lewat jalur ‘orang dalam’ tanpa harus merasakan ruwetnya pengurusan administrasi.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/26/berburu-bunga-sakura-di-edinburgh/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    7 min

About Narasipostmedia

From the publisher's feed

Audio tentang sastra, opini, surat pembaca motivasi, food dan sebagainya dari karya-karya para penulis ideologis yang naskahnya publish di media www.narasipost.com