
Sign up to save your podcasts
Or


Janabijana
Oleh. Afiyah Rasyad
Voice over talent: Dewi Nasjag
NarasiPost.Com-“Tap tap tap,” suara kaki kuda beradu dengan aspal berlubang. Jejeran kelapa gading memberi kesejukan bagi siapa saja yang lewat. Sejauh mata memandang, hamparan padi merunduk memanjakan netra yang penuh rasa syukur. Di sepanjang jalan beraspal tidak rata, seorang pemuda duduk menikmati keindahan alam yang telah lama ditinggalkannya.
Enam puluh purnama sudah ia tak menyapa janabijana yang elok. Dadanya membuncah saat wangi kemuning menyapa indra penciumannya. Daun kelapa melambai lambat-lambat mematuhi titah Allah Sang Pencipta kehidupan. Pemuda yang sedang naik bendi itu terus merapalkan zikir di belakang kusir. Dzaki memejamkan mata mengenang masa kecilnya.
“Awakmu putrane Pak Saiful, Le?” tanya Pak Kusir.
“Inggih, leres, Pak,” jawab Dzaki sopan.
Pak Kusir menoleh dengan tatapan bahagia. Pemuda di sampingnya ini selalu menjadi buah bibir warga karena kesuksesannya di luar negeri. Bukan sebagai TKI, tapi menuntut ilmu. Dzaki menjawab semua pertanyaan Pak Kusir dengan sangat santun. Dia merasa Pak Kusir teman ngobrol yang nyaman.
Tak banyak yang berubah dari tata letak dan tata desa sejak ia meninggalkan kampungnya. Hanya ada satu dua bangunan yang mulai didinding tembok dan beratap genteng. Sebagian besar masih berdinding anyaman bambu dan seng, beratap rumbia. Rumah-rumah panggung juga masih ada. Netra bulat dan jernih Dzaki menyapu setiap rumah yang dulu menjadi tempat singgahnya saat pulang sekolah dari dusun bawah. Surau panggung Ustaz Maulana juga masih berdiri kokoh, tak ada yang berubah kecuali warna dinding yang mulai memudar. Bendi terus melaju naik.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/23/janabijana/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Menakar Nasib Perempuan dalam Kepemimpinan Baru di Negeri “Sejuta Girlband”
Oleh. Iranti Mantasari, BA.IR, M.Si
Voice over talent: Giriyani
Narasipost.Com-Masalah perempuan memang selalu menarik untuk dijadikan sebagai topik diskusi. Dari masa ke masa, pandangan bahwa perempuan adalah makhluk kelas dua di bawah laki-laki selalu ada yang menjaganya dan balik dimanfaatkan untuk kepentingannya sendiri. Efek yang dihasilkan pun besar. Masyarakat yang menelan pandangan tersebut tanpa dipikirkan secara mendalam, akhirnya tersetir oleh ide-ide yang menyuarakan isu tersebut.
Korea Selatan adalah salah satu negara yang isu terkait perempuannya cukup panas di setiap waktu. Sebut saja, dengan adanya gerakan #MeToo yang menyuarakan tentang pelecehan seksual terhadap perempuan di lingkungan kerja dan masalah comfort women yang membahas mengenai tuntutan para perempuan Korea Selatan yang mengalami perbudakan seksual di masa perang dulu. Dua isu ini boleh disebut selalu meramaikan media dengan berbagai tajuk.
Tak hanya itu, negara ini juga tak jarang disorot terkait standar kecantikan yang ada di tengah masyarakatnya, terlebih dengan banyaknya girlband yang membentuk stereotip perempuan cantik. Tak lupa juga isu depresi yang berujung pada tingginya angka bunuh diri di kalangan perempuannya. Semua itu membuat tidak sedikit kalangan di Korea Selatan merasa perlunya pengarusutamaan kesetaraan gender dan feminisme di sana. Bahkan, pemerintahannya memiliki kementerian khusus untuk menyasar isu-isu tersebut, yakni Kementerian Kesetaraan Gender dan Keluarga.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/23/menakar-nasib-perempuan-dalam-kepemimpinan-baru-di-negeri-sejuta-girlband/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Mencintaimu Hingga ke Surga
Oleh. Ahsani Annajma
Voice over talent: Armina Ahza
NarasiPost.Com-Cemburu Tanda Cinta?
Hal sepele yang sering kali terjadi di dalam rumah tangga, namun kehadirannya tiba-tiba menyergap dari arah yang tak terduga. Memang, cemburu itu benar merupakan tanda cinta yang menggebu. Tanpa kecemburuan, berarti tiada cinta yang tersisa. Namun ketika cemburu itu hadir tanpa permisi, bijaklah dalam menyikapinya. Tak jarang, banyak keretakan rumah tangga kerap kali terjadi karena cemburu menyapa.
“Apabila aku melihat seorang laki-laki bersama istriku, tentu akan kupukul dengan pedang hingga ia tidak bisa bersuara lagi.” Kata Sa’ad bin ‘Ubadah. Para sahabat yang ada di sekitarnya, terkaget-kaget mendengar kecemburuan Sa’ad yang bagi mereka terlalu berlebihan. Para sahabat pun bergegas menyampaikan apa yang didengarnya kepada Nabi. Subhanallah, dengarlah Nabi menyikapinya, “Apakah kalian terkejut dengan perkataan Sa’ad? Demi Allah, aku lebih cemburu daripada Sa’ad, dan Allah lebih cemburu daripadaku.” Sabda Nabi.
Hal ini menegaskan kepada kita, apabila seorang suami tidak cemburu jika melihat istrinya bersama dengan laki-laki lain merupakan perkara maksiat. Sebab berjalan atau berduaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya merupakan kemaksiatan, dan jika membiarkan istri melakukan maksiat, sama artinya perbuatan itu juga termasuk bermaksiat. Para ulama menggunakan kata dayus sebagai istilah pada seorang laki-laki (suami) yang tidak memiliki rasa cemburu (karena iman) terhadap istrinya.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/02/mencintaimu-hingga-ke-surga/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Invasi Rusia ke Ukraina, Waspada! Umat Islam Jangan Ikut Terbakar dalam Perang Batil
Oleh. Nurjamilah, S.Pd.I.
Voice over talent: Dewi Fitriana
NarasiPost.Com-اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَأَشْغِلِ الظَّالِمِيْنَ بِالظَّالِمِيْنَ وَأَخْرِجْنَا مِنْ بَيْنِهِمْ سَالِمِيْنَ وَعَلَي الِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
“Ya Allah, berikanlah selawat kepada penghulu kami Nabi Muhammad, dan sibukkanlah orang-orang zalim dengan orang zalim lainnya. Selamatkanlah kami dari kejahatan mereka. Dan limpahkanlah selawat kepada seluruh keluarga dan para sahabat beliau.”
Invasi Rusia ke Ukraina masih terus berlangsung dan entah kapan akan berakhir. Hal ini memantik respons dunia, Rusia kini dihujani sanksi ekonomi dan keuangan dari AS dan Uni Eropa. Bahkan, tidak sedikit kaum muslim yang menunjukkan simpati dan memihak salah satu kubu. Padahal, tidak pantas bagi seorang muslim ikut terjun dalam kubangan perang yang penuh kebatilan itu. Selayaknya, kaum muslim memiliki agenda sendiri demi tegaknya ‘izzul Islam wal muslimin’. Inikah skenarionya, bahwa kezaliman akan dipertarungkan dengan kezaliman pula?
Dilansir dari Tempo.co (13/3/2022) bahwa Amerika Serikat dan sebagian besar negara sekutu di Uni Eropa mengecam invasi Rusia ke Ukraina, bahkan memberlakukan sanksi ekonomi termasuk penutupan wilayah udara bagi pesawat Negeri Beruang Merah itu. Sejumlah perusahaan menghentikan aktivitas bisnisnya di Rusia.
Sungguh mengejutkan, Chechnya unjuk gigi dengan mengirimkan 12.000 pasukan militer dalam invasi Rusia terhadap Ukraina. Pasukan yang dijuluki Pasukan Pemburu itu dimiliki oleh Chechnya yang notabene negeri muslim (Suara.com, 3/3/2022).
Lantas, apa sebenarnya yang menjadi pemicu konflik Rusia-Ukraina? Bagaimanakah respons dunia termasuk kaum muslim terhadap invasi itu? Lalu agenda apakah yang harus dimiliki umat ?
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/28/invasi-rusia-ke-ukraina-waspada-umat-islam-jangan-ikut-terbakar-dalam-perang-batil/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Khilafah Bukan Ide Kemarin Sore
Oleh. Yeni Marlina, A.Ma
Voice over talent: Dewi Nasjag
NarasiPost.Com-Khilafah tidak cocok diterapkan di negeri ini, khilafah bukan budaya kita tapi budaya Arab sana. Atau khilafah tak bisa menggantikan falsafah bangsa yang sudah mengakar dan khilafah adalah ide yang tidak relevan. Bahkan diklaim sesat serta menyesatkan. Para pengembannya adalah orang-orang yang sedang bermimpi memperjuangkan sesuatu yang utopis.
Pernah mendengar kalimat-kalimat negatif tersebut? Pasti pernah dan bahkan sering. Banyak disebar di media-media dengan narasi serupa, bahkan dari lisan-lisan para anti gagasan khilafah. Itulah sebagian nada sumir yang kerap dialamatkan pada umat Islam khususnya tentang gagasan ide khilafah.
Tidur panjang yang mendera umat Islam sejak keruntuhan khilafah mengakibatkan kaum muslimin asing terhadap nilai-nilai Islam kafah. Satu sisi mengimani Islam, di sisi lain enggan diajak bangun dan kembali bangkit. Mereka melupakan sejarah yang terjadi pada 3 Maret 1924, sebuah peristiwa duka yang telah merobek-robek kesatuan tubuh umat ini. Mustafa Kemal at-Taturk, Bapak Sekuler Turki telah memotori keruntuhan Daulah Khilafah Islamiah. Inilah puncak keterpurukan yang telah membawa nestapa berkepanjangan bagi kaum muslimin. Barat telah berhasil memainkan para penguasa komprador, memuluskan misi imperialisme mereka. Mereka saling berebut bagaikan hidangan prasmanan terhadap aset dan potensi berlimpah yang dimiliki umat Islam. Bayarannya murah, cukup dihargai dengan sebuah jabatan kekuasaan. Mengokohkan hegemoni kekuasaan melalui intervensi berbagai urusan dalam negeri dan direalisasikan melalui peran demokrasi. Nilai-nilai aturan yang bersumber dari ideologi kapitalisme, yakni ideologi yang telah menggusur peradaban Islam.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/22/khilafah-bukan-ide-kemarin-sore/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Anak-Anak Malas Belajar? Telusuri Yuk!
Oleh. Rizki Sahana
Voice over talent: Giriyani
NarasiPost.Com-Anak-anak belajar dengan wajah berbinar atau masih suka uring-uringan, Bun? Hihi, Bunda gak sendirian, banyak yang mengalaminya, termasuk saya. Evaluasi bareng-bareng yuk!
Pertama, bisa jadi anak gak paham kenapa harus belajar. Gak ngerti reasoning-nya. Bahwa belajar a.k.a menuntut ilmu itu perkara utama yang disukai Allah dan besar ganjarannya, anak gak tahu itu. Bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu dibanding mereka yang tak berilmu, anak gak paham itu. Bahwa dengan ilmu anak akan mampu menggenggam dunia, mengelolanya dengan sebaiknya sehingga melahirkan rahmat untuk semesta, anak gak menangkap maksud itu. Bahwa ilmu akan mengantarkannya menjadi pribadi saleh sehingga Allah mudahkan jalannya ke surga, anak gak mencerna semua itu. Bahkan anak gak tahu bahwa penghuni langit selalu mendoakan para penuntut ilmu, hingga ikan-ikan pun memintakan ampun atas mereka.
Maka supaya anak senang belajar, sampaikan reasoning-nya, kenapa dia harus belajar. Menyampaikannya bukan dalam waktu kebut semalam a.k.a SKS (Sistem Kebut Semalam) ya, Bun. Butuh proses, butuh waktu, butuh keseriusan kita merancang dan mengeksekusinya.
Kedua, bisa saja karena konten materinya membosankan juga jauh dari ekspektasi anak. Materi yang sama diulang-ulang, bentuknya semata dogma atau doktrin, jadi semacam hafalan begitu, sehingga gak memberi ruang untuk anak berpikir. Materinya pun gak kontekstual, gak hidup, gak mengikuti tren fakta dan tantangan zaman yang ada di hadapan anak. Sehingga gak terjalin koneksi antara konten belajar dengan jiwa anak.
Misal, materi sains tentang tata surya. Jika bentuknya hanya hafalan seperti menghafal definisinya, nama-nama planet sesuai urutan jauh-dekat dari matahari, karakteristik masing-masing planet dan berapa jumlah satelit pada masing-masingnya, wuaaah dijamin anak-anak pada ngantuk dan pasang muka bebek. Hihii, ini pengalaman saya sih. Mereka tampak bosan dan gak bergairah sama sekali.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/18/anak-anak-malas-belajar-telusuri-yuk/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Kota Baubau, Negeri Khalifatul Khamis yang Tak Pernah Dijajah Belanda
Oleh. Dian Afianti Ilyas
Voice over talent: Dewi Nasjag
NarasiPost.Com-Tana Wolio liwuto bau (Tanah Wolio daerah baru)
Sebait lirik lagu di atas adalah lagu daerah yang berasal dari Kota Baubau, tempat di mana aku dilahirkan dan dibesarkan. Lagu tersebut selalu menjadi langganan untuk kunyanyikan ketika praktikum seni budaya pada saat sekolah dulu. Lagu berjudul “Tana Wolio” ini secara utuh menggambarkan bagaimana pesona dan kekayaan alam yang dimiliki Tana Wolio, julukan yang dulu disematkan untuk wilayah Kota Baubau.
Kota Baubau merupakan salah satu kota madya yang terletak di Pulau Buton, tepatnya sebelah tenggara Pulau Sulawesi. Pulau ini diapit oleh lautan, yaitu Laut Flores di sebelah selatan, kemudian Laut Banda di sebelah utara dan timur, sedangkan di sebelah barat terdapat Selat Buton dan Teluk Bone. Oleh karena itu, Kota Baubau disebut sebagai connecting area (daerah penghubung) karena memiliki letak yang strategis yang menghubungkan Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI).
Kota Baubau juga menjadi daerah akumulator hasil produksi perkebunan, pertanian, dan kelautan daerah hinterland seperti Kabupaten Buton, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Muna, Kabupaten Buton Tengah, Kabupaten Buton Selatan, dan Kabupaten Bombana.
Saat terjadi konflik antara Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone, Arung Palakka—pembesar Kerajaan Bone—datang ke Kerajaan Buton untuk meminta perlindungan. Setelah konflik meredam, beberapa orang yang menjadi pengikut Arung Palakka tidak kembali ke Bone dan memilih menetap di Buton. Banyak bangsawan dari Sulawesi Selatan yang memilih Buton sebagai tempatnya berhijrah kala situasi politik di daerahnya yang diciptakan Belanda semakin keruh. Para bangsawan yang datang tersebut rata-rata memiliki gelar Andi Bau. Dari sinilah awal tercipta nama Baubau. Jadi, sama sekali tidak ada kaitannya dengan aroma bau, lho! Hehe..
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/23/kota-baubau-negeri-khalifatul-khamis-yang-tak-pernah-dijajah-belanda/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Aku yang Biasa
Oleh. Fadia Rizky Agustin
Voice over talent: Sarah Sapriani
NarasiPost.Com-Seperti hari-hari biasanya, aku terbangun dari tempat tidur di pagi hari. Aku melihat ke arah luar jendela dan belum tampak cahaya terang matahari yang menyinari bumi. Namun, aku sudah harus bersegera menyiapkan diri berangkat ke kampus. Begitulah kehidupan mahasiswa baru yang masih penuh semangat dalam menjalankan kuliahnya di semester satu. Sangat berambisi serta berlomba-lomba untuk meraih indeks prestasi yang terbaik. Tidak lupa juga aktif mengikuti kepanitiaan dan organisasi yang beragam di kampus. Aku pun bersemangat dalam kuliah karena impian untuk masuk ke perguruan tinggi negeri bisa tercapai di tahun 2019, sehingga bisa meringankan beban orang tua. Jika nantinya aku masuk ke kampus swasta, maka tidak ada lagi dalam diriku yang bisa dibanggakan dalam hal prestasi.
Sebenarnya, mau menuntut ilmu di kampus negeri maupun swasta sama saja, karena negeri dan swasta itu hanya sebuah status. Bahwasanya kesuksesan tidak ditentukan dari berkuliah di mana tapi diri sendirilah yang membawa kesuksesan itu. Kampus diibaratkan sebagai wadah dan fasilitas dalam menuntut ilmu. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan diterima di kampus negeri dan di program studi yang kuinginkan. Apalagi aku bisa mendapatkan beasiswa kuliah sampai lulus. Betapa senangnya diriku bisa meraih suatu hal yang belum pernah di dapatkan sebelumnya. Hal ini sebenarnya masih biasa saja karena banyak orang di luar sana yang juga mendapatkannya. Ini bisa menjadi awalan yang bagus untuk mempermudah jalannya kuliahku.
Kuliah di semester satu cukup banyak tantangan yang aku hadapi. Ada sedikit rasa takut dan panik jika melihat mata kuliah yang ada. Padahal saat di SMA aku sudah berjurusan IPS. Seharusnya rasa takut itu tidak ada karena jurusan di kuliah sudah sejalan saat di SMA. Aku kuliah mengambil jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Tidak pernah terpikirkan untuk mengambil jurusan itu namun aku bertekad untuk meneruskan impian aku di sini. Aku bisa membuktikan bahwa aku mampu untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/21/aku-yang-biasa/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Menyikapi Naiknya Harga Komoditas dengan Solusi Islam
Oleh. Ageng Kartika
Voice over talent: Giriyani
NarasIPost.Com-Berbagai komoditas mengalami kenaikan harga, yaitu gas elpiji, bahan pangan, BBM (bahan bakar minyak), hingga emas mendominasi pemberitaan. Alasan yang dikemukakan bahwa kenaikan ini sebagai implikasi perang Rusia-Ukraina yang hingga detik ini belum menunjukkan akan segera mereda dan usai. Mengapa bisa dihubungkan perang antara Rusia-Ukraina dengan perekonomian di Indonesia?
Dilansir dari media cnbcindonesia.com, Senin (7/3/2022), hubungan perang Rusia- Ukraina dengan kenaikan berbagai harga di Indonesia disebabkan butterly effect (efek kupu-kupu). Perang keduanya yang disertai blokade dan sanksi perekonomian telah menimbulkan efek yang berat bagi ekonomi dunia. Ukraina memiliki GDP sebesar US$ 164,5 miliar dan Rusia memiliki GDP sebesar US$ 1.709,6 miliar. Dengan ukuran GDP saja, Ukraina dan Rusia telah menunjukkan besarnya pengaruh perekonomian kedua negara pada ekonomi dunia. Beberapa negara telah memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Rusia yang berdampak pada keseimbangan permintaan dan penawaran terganggu secara global.
Butterfly effect merupakan perubahan kecil sebuah kondisi pada saat awal, namun dapat mengubah secara drastis sebuah sistem dalam jangka panjang. Dalam hal ini perang sebagai awalnya akan mengalami perubahan besar yang signifikan karena terjadi efek-efek yang mengikutinya selama perang berlangsung, seperti pengerahan pasukan, guncangan perekonomian, dan sebagainya. Tidak bisa dimungkiri hubungan politik dan perdagangan luar negeri yang melibatkan berbagai negara pun terimbas. Negara yang memiliki kerja sama dengan Rusia dan Ukraina akan mengalami kemandekan karena proses blokade dan sanksi perekonomian yang diterapkan. Inilah yang sekarang dirasakan oleh Indonesia, terimbas perekonomiannya akibat perang ini.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/16/menyikapi-naiknya-harga-komoditas-dengan-solusi-islam/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Penilaian Zona Hijau, Tak Lantas Koruptor Minggat jika Sistem Masih Sesat
Oleh. Uqie Nai
Voice over talent: Dewi Nasjag
NarasiPost.Com-Pada tahun 2021 kemarin, Pemkab Bandung dinobatkan sebagai daerah zona hijau pemberantasan korupsi. Pemkab Bandung berhasil mendapat nilai 76,98 berdasarkan Monitoring Center for Prevention (MCP) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK RI). Angka ini diambil dari aplikasi Jaga.id milik KPK. Di sana tertulis bahwa Pemkab Bandung menduduki peringkat ke-13 dari 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat.
Meski Pemkab Bandung dinilai berhasil menjadikan wilayahnya ada di zona hijau dan mengalahkan belasan kabupaten/kota lainnya, namun menurut Inspektur Inspektorat Kabupaten Bandung, Yudhi Haryanto, hal ini belumlah final, masih perlu upaya untuk meningkatkannya lagi. (timesindonesia.com, Senin, 28/2/2022)
Korupsi Sulit Minggat jika Kapitalisme Tak Diberantas
Praktik kecurangan berupa penyalahgunaan jabatan hingga menggelapkan dana umat adalah aktivitas tak terpuji yang mewarnai negeri ini dan negeri lainnya di dunia. Bak jamur di musim hujan, pelaku korupsi seakan menemukan momennya kala kapitalisme menjadi raja.
Amanah jabatan yang semestinya ditakuti karena pertanggungjawabannya begitu berat di akhirat, dalam sistem kapitalisme justru dikejar dan diperjuangkan dengan segala cara. Politik belah bambu, Machiavelli, atau adu domba, semuanya halal demi tampuk kekuasaan yang menjadi target utama para kapitalis. Mereka hadir dalam pribadi penguasa, pejabat, pengusaha, atau tergabung dalam satu oligarki. Kepentingannya: mengumpulkan pundi rupiah, memiliki status baru, meningkatkan strata sosial, dll. Untuk umat? Nol.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/23/penilaian-zona-hijau-tak-lantas-koruptor-minggat-jika-sistem-masih-sesat/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed