Narasipostmedia

Narasipostmedia

By NarasipostNewsDaily News
Download on the App Store

Narasipostmedia episodes

  • SoftBank Mundur dari Megaproyek IKN, Begini Cara Khilafah Membangun Ibu Kota Baru!

    SoftBank Mundur dari Megaproyek IKN, Begini Cara Khilafah Membangun Ibu Kota Baru!

    Oleh. Miladiah al-Qibthiyah

    (Wakil Redpel NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Giriyani

    NarasiPost.Com-Mundurnya investor besar asal Negeri Sakura yakni Grup SoftBank dari pendanaan Ibu Kota Negara (IKN) baru tampaknya memberi kabar kurang sedap bagi pemerintah Indonesia. SofBank mengonfirmasi bahwa perusahaannya tidak akan berinvestasi pada pembangunan megaproyek Ibu Kota Negara. SoftBank menyampaikan keputusan itu pada Jumat, 11 Maret 2022.

    Melansir tempo.co, Ketua Tim Komunikasi Ibu Kota Negara (IKN), Sidik Pramono, menanggapi hengkangnya SoftBank dari proyek ibu kota baru. Sidik menyatakan bahwa pemerintah tetap akan mengandalkan pendanaan megaproyek ibu kota di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur dari berbagai sumber. Sidik berujar komitmen pihak investor atau pihak di luar pemerintah perihal pembiayaan IKN memang masih dalam tahap awal.

    Hengkangnya SoftBank dari proyek ini semakin menguatkan kecurigaan publik terhadap pemakaian anggaran belanja negara untuk IKN. Lantas mengapa salah satu investor besar memilih mundur berinvestasi dalam pembangunan megaproyek IKN Indonesia?

    Alasan SoftBank Mundur

    Mundurnya SoftBank, yakni perusahaan modal ventura asal Jepang, dari proyek pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) baru di Kalimantan Timur disinyalisasi telah memiliki masalah keuangan internal, khususnya di masa pandemi. Padahal, SoftBank awalnya memiliki niat menanam investasi sebesar 100 miliar dollar AS di proyek Indonesia kali ini.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/14/softbank-mundur-dari-megaproyek-ikn-begini-cara-khilafah-membangun-ibu-kota-baru/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    13 min
  • Transplantasi Jantung Babi pada Manusia, Bolehkah dalam Islam?

    Transplantasi Jantung Babi pada Manusia, Bolehkah dalam Islam?

    Oleh. drh. Lailatus Sa’diyah

    (Tim Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Dewi Nasjag

    NarasiPost.Com-Semakin beragamnya masalah kesehatan yang dihadapi manusia, semakin terpacu pula para ilmuwan dalam berinovasi untuk menemukan solusinya. Berbagai eksperimen dilakukan, berbagai terobosan ditemukan, akankah menjadi solusi di masa mendatang?

    Bukan hal baru dalam dunia kedokteran adanya inovasi ekperimental transplantasi organ asal hewan untuk manusia. Tanggal 7 Januari 2022 menjadi hari yang bersejarah atas keberhasilan pertama kalinya transplantasi jantung babi pada manusia. Sebelumnya seorang ahli bedah di New York pada Oktober 2021, mengumumkan telah berhasil mentransplantasikan ginjal babi pada tubuh seseorang yang telah mengalami mati otak tanpa ada harapan sembuh. Pada tahun 1984, juga pernah ada upaya tranplantasi hati babon kepada Baby Fae, namun sayangnya setelah upaya transplantasi, Baby Fae hanya mampu bertahan selama 24 hari. Selain beberapa fakta di atas, masih banyak upaya transplantasi organ hewan kepada manusia dengan alasan penyelamatan nyawa manusia.

    Berdasarkan data OrganDonor.gov, menyebutkan bahwa 17 orang setiap hari di AS meninggal saat menunggu transplantasi organ, dan lebih dari 100.000 orang dalam daftar tunggu. Ini baru permasalahan yang ada di AS, belum menyentuh data pada belahan dunia lainnya.

    Inilah yang menjadi alasan para ilmuwan terutama di bidang kedokteran untuk terus melakukan inovasi ekperimental transplantasi organ hewan ke manusia agar bisa menjadi solusi penyelamatan nyawa manusia. Harapannya nanti inovasi ini mampu memberikan solusi atas krisis organ yang terjadi saat ini.

    Organ Babi Jadi Rekomendasi

    Menurut Profesor Muladno, Guru Besar Pemuliaan dan Genetika Ternak Fakuktas Peternakan IPB menegaskan pemilihan ternak babi sebagai pendonor dikarenakan urutan DNA babi memiliki banyak kemiripan dengan manusia dibandingkan ternak-ternak lainnya. Di samping kelebihanya itu, babi juga memiliki keunggulan dibandingkan primata lainnya untuk transplantasi organ. Hal ini dikarenakan babi lebih mudah dibesarkan dan mencapai ukuran manusia dewasa pada usia enam bulan.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/17/transplantasi-jantung-babi-pada-manusia-bolehkah-dalam-islam/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    13 min
  • Lisan Cerminan Hati

    Lisan Cerminan Hati

    Oleh Misnawati

    (Pegiat Literasi)

    Voice over talent: Giriyani

    NarasiPost.Com-Islam mengajarkan kepada setiap umatnya untuk senantiasa menjaga lisan dari perkataan-perkataan buruk. Apabila pembicaraan itu sekiranya menyakiti orang lain dan bermuatan kata-kata yang tidak pantas diucapkan, alangkah eloknya diam.

    Apatah lagi, menjadi seorang figur publik atau orang yang sedang memikul amanah rakyat tentu akan menjadi lebih berhati-hati dalam menjaga etika, serta cerdas mengendalikan lisannya di mana pun berada atau dalam kondisi apa pun. Bukan malah membuat kisruh di tengah umat.

    Berawal dari keinginan Kemenag mengatur volume pengeras suara di masjid yang tertuang pada SE No 05 tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala.

    Di beberapa media sosial maupun online, ucapan Menag Yaqut turut ramai mewarnai jagat maya. Namun, bukan komentar baik yang ditujukan kepadanya, justru sebaliknya. Pasalnya, Menag sebelumnya telah melontarkan perkataan yang jauh dari layak yakni membandingkan suara azan dengan gonggongan anjing.Tentu saja mengundang amarah umat Islam di negeri ini. Hal tersebut terungkap saat Yaqut berada di Pekanbaru ketika menjawab pertanyaan para juru tinta terkait aturan volume pengeras suara masjid (Suara.com, 24/2/2022).

    Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan keinginan Menag untuk mengatur volume pengeras suara. Jika saja cara penuturannya dengan bahasa yang ahsan, santun, serta alasan-alasan yang dikemukakan untuk mengatur volume suara masjid masuk akal. Tentu tak akan menjadi polemik di tengah umat.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/11/lisan-cerminan-hati/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Prosesi Kendi Nusantara, Potret Negeri Jauh dari Tuntunan Syarak

    Prosesi Kendi Nusantara, Potret Negeri Jauh dari Tuntunan Syarak

    Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S

    (RedPel NarasiPost.com)

    Voice over talent: Dewi Nasjag

    NarasiPost.Com-Megaproyek pembangunan ibu kota negara (IKN) Nusantara senantiasa diwarnai dengan kontroversi. Setelah sebelumnya masyarakat ramai meributkan soal anggaran dari kantong korporat swasta yang digunakan pemerintah untuk membiayai IKN, kini masyarakat kembali dihebohkan dengan prosesi yang dinilai mengandung klenik dilakukan sebagai awal mula pembangunan IKN.

    Sebagaimana disiarkan oleh Kanal YouTube Sekretariat Presiden, pada Senin (14/03/2022) Presiden Joko Widodo memimpin prosesi kendi Nusantara di titik nol Ibu Kota Negara (IKN). Dalam prosesi tersebut, sebanyak 34 kepala daerah atau gubernur membawa tanah dan air dari setiap provinsi untuk disatukan di tanah IKN sebagai simbol wujud persatuan kuat dalam pembangunan IKN. (Wartaekonomi.co.id/14-03-2022)

    Masyarakat Indonesia yang mayoritasnya adalah muslim tentu saja jengah menyaksikan prosesi berbau klenik yang dipimpin langsung oleh orang nomor satu di negeri ini. Namun, Presiden Jokowi mengatakan bahwa prosesi itu adalah simbol kebhinekaan dan persatuan bangsa. Senada dengan hal tersebut, Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah pun menyikapi respons masyarakat dengan santai. Ia mengatakan bahwa prosesi tersebut merupakan kultur budaya Indonesia yang tidak bisa dilepaskan begitu saja, sebab memiliki nilai-nilai luhur. Bahkan Ganjar mengambil contoh pada Jepang yang juga selalu melakukan ritual sebelum melaksanakan sebuah pembangunan.

    Dalih Kearifan Lokal, Akidah Terjungkal

    Adalah hal yang jamak terjadi di negeri ini, ketika kearifan lokal menjadi dalih untuk melestarikan beragam ritual atau tradisi. Padahal tak semua tradisi harus dilestarikan, yakni jika bertentangan dengan syariat Islam.

    Oleh karena itu, pelaksanaan ritual-ritual yang tidak ada di dalam ajaran Islam, apalagi– misalnya–sampai mempersembahkan sesajen (hidangan tertentu), membaca doa-doa yang tidak ada tuntunannya dalam Islam, jelas tak perlu dilestarikan. Ingatlah, bahwasannya hal-hal yang berbau kemusyrikan, alih-alih mengharap berkah, yang ada malah menuai laknat.

    Sungguh, seorang muslim harus berhati-hati dalam perkara akidah, jangan sampai tersimpangkan meski sejengkal saja. Sebab sejatinya, akidah islamiah adalah fondasi dasar bagi keimanan. Maka, kemurniannya harus dijaga.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/16/prosesi-kendi-nusantara-potret-negeri-jauh-dari-tuntunan-syarak/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • Standar Ganda Barat dalam Konflik Papua

    Standar Ganda Barat dalam Konflik Papua

    Oleh. Mariyatul Qibtiyah, S.Pd.

    (Kontributor Tetap Narasipost.Com)

    Voice over talent: Sofia Ariyani

    NarasiPost.Com-Tanah Papua tanah yang kaya

    Surga kecil jatuh ke bumi
    Seluas tanah sebanyak madu
    Adalah harta harapan

    Cuplikan lagu Tanah Papua yang pernah dinyanyikan oleh Edo Kondologit ini menggambarkan bahwa Papua adalah wilayah yang kaya. Kekayaan alamnya bak harta karun yang menjadi harapan masyarakat Papua. Sayangnya, harta karun itu belum mampu memberikan kesejahteraan bagi mereka. Papua dan Papua Barat justru menempati peringkat satu dan dua sebagai provinsi yang memiliki jumlah penduduk miskin terbesar di Indonesia. Ada dua faktor yang menyebabkan hal ini, yaitu tidak meratanya pembangunan dan diserahkannya pengelolaan sumber daya alam kepada swasta.

    Sejak Papua menjadi bagian dari Indonesia, kondisi Papua tidak pernah benar-benar aman. Hasil Pepera (Pengambilan Pendapat Rakyat) yang dilakukan pada tahun 1969 tidak pernah diakui oleh sebagian masyarakat Papua. Mereka menganggap bahwa kesepakatan itu adalah kesepakatan antara Belanda dan Indonesia. Mereka beranggapan bahwa penggabungan Papua ke Indonesia itu hanyalah penyerahan wilayah dari satu penjajah ke penjajah lainnya.

    Melihat kondisi itu, pemerintah Indonesia melakukan pendekatan militer untuk membantu proses integrasi Papua ke wilayah Indonesia. Pemerintah melakukan operasi militer di Papua sejak tahun 1961. Operasi militer itu baru dicabut pada tahun 1998 oleh Wiranto yang menjabat sebagai Panglima ABRI. Saat itu, Wiranto juga menyampaikan permohonan maaf terhadap rakyat Papua atas apa yang telah terjadi sebelumnya.

    Sejak itu, pemerintah Indonesia tidak lagi melibatkan militer dalam upayanya menyelesaikan konflik di Papua. Pemerintah memilih untuk melakukan dialog dan pendekatan kesejahteraan. Salah satunya dengan memberikan status otonomi khusus kepada Papua.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/16/standar-ganda-barat-dalam-konflik-papua/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    11 min
  • Alarm Stunting Berdering, Negara Seolah Tak Bertaring

    Alarm Stunting Berdering, Negara Seolah Tak Bertaring

    Oleh. Ahsani Ashri, S.Tr.Gz

    (Penulis dan Pemerhati Sosial)

    Voice over talent: Dewi Nasjag

    NarasiPost.Com-Alarm stunting telah berdering, tanda situasi amat genting. Mengingat Indonesia masih menduduki peringkat keempat di dunia dan kedua di Asia Tenggara terkait kasus balita stunting (25/1/2021). Miris, kasus stunting masih nyata di pelupuk mata di negeri kaya, apa penyebabnya?

    Sinergitas dan Kolaborasi

    Baru-baru ini, sebanyak lima ribu penyuluh agama dilibatkan untuk menekan prevalensi stunting di nusantara yang masih tinggi sebesar 24,4 persen, yang artinya satu orang dari empat anak Indonesia mengalami stunting (11/3/2021). Ironi di negeri berlimpah kekayaan alam dan terkenal subur, tetapi jumlah stunting masih di atas standar toleransi maksimal stunting menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu di bawah 20 persen. Untuk menekan stunting, Kemenag bersama dengan BKKBN meluncurkan program pendampingan, konseling dan pemeriksaan kesehatan mulai dari hulu kepada calon pengantin (catin) selama tiga bulan pada masa pranikah. Acara launching program ini dilakukan di Pendopo Parasamya Kabupaten Bantul, Provinsi DIY.

    Selain sinergitas dari BKKN dan Kemenag, upaya ini berkolaborasi juga dengan sejumlah pihak terkait penyelesaian problem stunting, sebagaimana yang ditargetkan oleh pemerintah, yakni agar prevalensinya turun menjadi 14 persen pada 2024. Namun, seberapa efektifkah sinergitas dan kolaborasi program yang dibentuk ini?

    Korelasi Asupan Gizi dan Stunting

    Mungkin di antara masyarakat masih awam dengan istilah stunting. Stunting atau biasa disebut dengan pendek adalah kondisi malnutrisi (kurangnya asupan gizi) yang berlangsung lama, sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Stunting mempunyai dampak pada menurunnya kualitas sumber daya manusia, produktivitas, dan daya saing. Dalam jangka pendek, stunting menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan gangguan pertumbuhan pada anak.

    Gangguan pertumbuhan ini ditandai dengan tinggi badan anak lebih pendek dari standar usianya. Selain bertubuh pendek atau kerdil, indikasi lain ditandai dengan terhambatnya perkembanggan otak yang berpengaruh pada kecerdasan. Sehingga anak yang stunting biasanya memiliki daya tahan tubuh yang kurang baik, sekaligus IQ yang rendah. Kondisi ini akan berdampak panjang pada proses belajar dan perkembangan kognitif mereka.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/17/alarm-stunting-berdering-negara-seolah-tak-bertaring/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    13 min
  • Mengapa Kekerasan Seksual Semakin Tumbuh Subur?

    Mengapa Kekerasan Seksual Semakin Tumbuh Subur?

    Oleh. Annisa Fauziah, S.Si

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Giriyani

    NarasiPost.Com-Apa yang ada di benak kita ketika melihat kondisi negeri ini? Apakah masyarakat masih merasa bahwa kondisi kita sedang baik-baik saja? Salah satu hal yang menjadi ironi di tengah masyarakat, yaitu kekerasan seksual yang kian marak. Salah satu kasus yang baru terungkap belakangan ini, yaitu kekerasan seksual yang terjadi di Gowa, Sulawesi Selatan.

    Kekerasan seksual ini diduga dilakukan oleh oknum polisi berpangkat perwira kepada seorang siswi SMP yang menjadi pembantu di rumahnya. Ia melakukan rudapaksa kepada korban untuk dijadikan budak seks sejak Oktober 2021 hingga Februari 2022. Selain ditahan dan diperiksa, Kapolda Sulawesi Selatan pun akhirnya menonaktifkan jabatan pelaku di kepolisian. (Tribunnews.com, 2/3/22)

    Ada pula kasus mahasiswi yang diduga melakukan tindakan mesum saat kuliah daring. Kasus ini terjadi di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim, Pekanbaru. Universitas akhirnya melakukan pemecatan tidak hormat kepada mahasiswi tersebut. (Liputan6.com, 03/03/22)

    Fenomena kekerasan seksual ini memang semakin tumbuh subur. Sejak bulan Januari sampai November 2021, Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mencatat ada 8.800 kasus kekerasan seksual. Kasus-kasus tersebut bahkan terjadi di berbagai tempat yang selama ini dianggap aman. Misalnya saja, sekolah, perguruan tinggi, hingga pesantren.

    Koordinator Pelaksana Harian Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) mengatakan bahwa kasus kekerasan seksual menjadi fenomena gunung es. Hal ini disebabkan para korban takut berbicara karena trauma dan khawatir akan stigma sosial. Faktor lainnya, yaitu mandeknya proses hukum setelah korban melapor. (cnnindonesia.com, 29/12/21)


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/12/mengapa-kekerasan-seksual-semakin-tumbuh-subur/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    11 min
  • Kelompok Separatis Papua Terus Berulah, Tanda Negara Lemah?

    Kelompok Separatis Papua Terus Berulah, Tanda Negara Lemah?

    Oleh. Diyani Aqorib

    Voice over talent: Dewi Nasjag

    NarasiPost.Com-Aksi teror yang dilancarkan kelompok separatis Papua seakan tak berkesudahan. Hampir setiap tahun selalu ada korban jiwa, baik sipil maupun militer. Sarana-sarana umum seperti sekolah dan puskesmas pun tak luput dari aksi keji mereka. Bahkan mereka tak segan-segan membakar rumah-rumah penduduk yang tak berdosa. Segala cara mereka lakukan untuk mencapai tujuan, yaitu memerdekakan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

    Belum lama ini Kelompok Separatis Teroris (KST) Papua membantai 8 karyawan PT.Palapa Timur Telematika (PTT) di pedalaman Distrik Beoga, Kabupaten Puncak Jaya. Mereka yang sedang bertugas memperbaiki tower untuk sistem telekomunikasi di langit Papua tersebut, justru dibunuh oleh KST pada Rabu dini hari. (republika.com, 7/3/2022)

    Beberapa hari sebelumnya juga terjadi baku tembak antara Kelompok Kriminal Bersenjata Organisasi Papua Merdeka (KKB OPM) dan TNI di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak Jaya. KKB OPM menyerang prajurit di Pos Koramil Dambet Satgas Kodim Yonif R 408/SBH, Distrik Beoga. Pada saat itu 12 personel sedang berpatroli dan sekaligus memperbaiki saluran air. Akibat dari serangan itu, satu orang prajurit TNI, yaitu Pratu Heryanto terluka tembak. (cnnindonesia.com, 4/3/2022)


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/12/kelompok-separatis-papua-terus-berulah-tanda-negara-lemah/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    7 min
  • Penceramah Radikal dan Narasi Pengadang Kebangkitan Islam Global

    Penceramah Radikal dan Narasi Pengadang Kebangkitan Islam Global

    Oleh. Isty Da’yah

    Voice over telent: Giriyani

    NarasiPost.Com-Narasi radikal kembali menjadi gorengan yang dijajakan untuk membuat stigma negatif terhadap Islam. Kali ini narasi radikal menyasar kepada para penceramah. Ulama-ulama yang dikenal sering menyampaikan kritik terhadap pemerintah dan menyampaikan penerapan syariat Islam, kini menjadi sasaran stigma radikal.

    Penyematan stigma kepada penceramah radikal ini semakin menunjukkan potret pemerintahan yang represif. Pemerintah tidak segan-segan menggunakan instrumen hukum untuk menekan penceramah yang distigma radikal oleh rezim. Pemerintah terus-menerus mengaruskan kepada publik agar waspada terhadap kelompok dan tokoh radikal. Padahal sudah menjadi rahasia umum, yang mereka tunjuk adalah kelompok dan tokoh yang kritis terhadap kezaliman, dan mengajukan solusi untuk perbaikan negeri.

    Narasi radikal sepertinya menjadi jurus jitu untuk membuka jalan agar masyarakat mudah untuk menerima segala sesuatu yang diputuskan pemerintah. Baik benar atau salah, apa pun yang dari pemerintah harus diikuti.
    Sehingga perlu bagi presiden untuk memberi pernyataan, supaya keluarga personel TNI dan Polri tidak mengundang penceramah radikal, dengan mengatasnamakan demokrasi. (Kompas.com, 1/3)

    Sementara itu, dilansir dari CNN Indonesia (5/3/22), menanggapi pernyataan tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), mengeluarkan ciri-ciri penceramah radikal yaitu:

    Pertama, mengajarkan anti-Pancasila dan pro ideologi khilafah atau ingin mendirikan negara Islam.

    Kedua, mengajarkan paham takfiri atau mengafirkan pihak lain yang berbeda paham atau agamanya.

    Ketiga, menanamkan sikap antipemimpin/pemerintahan yang sah.

    Keempat, memiliki sikap intoleran/ eksklusif terhadap lingkungan.

    Kelima, mempunyai pandangan antibudaya atau kearifan lokal.

    Dari ciri-ciri penceramah radikal yang disebutkan oleh BNPT di atas, justru bisa menimbulkan perpecahan antarumat muslim. Sehingga wajar jika banyak yang mengkritisi hal tersebut. Karena ungkapan tersebut seakan mengkriminalisasi ajaran Islam agar semakin dijauhi.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/12/penceramah-radikal-dan-narasi-pengadang-kebangkitan-islam-global/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • Melukis Peradaban Lewat Aksara

    Melukis Peradaban Lewat Aksara

    Judul Buku: Melukis Peradaban Lewat Aksara

    Penulis: Kontributor NarasiPost.Com
    Penerbit: LovRinz Publishing
    Tahun Terbit: Cetakan I, Januari 2022
    ISBN: 978-623-355-961-4
    Tebal: 352 Halaman
    Dimensi: 14 x 20 cm
    Peresensi: Miladiah al-Qibthiyah
    (Wakil Redpel NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Dewi Fitriana

    NarasiPost.Com-Buku “Melukis Peradaban Lewat Aksara” (MPLA) merupakan buku antologi perdana karya para kontributor NarasiPost.Com. Terbitnya buku ini berawal dari gagasan unik Pemred NarasiPost (NP) bersama dengan Tim Redaksi untuk menyeleksi naskah-naskah terbaik khusus rubrik opini sejak bulan Agustus 2020 hingga Desember 2021. Dalam buku ini tidak hanya menampilkan naskah dari para kontributor NP, melainkan juga dari deretan para penulis hebat yang notabene memiliki jam terbang yang sudah melaju pesat di dunia literasi.

    Ada sekitar 61 penulis yang naskah opininya termuat dalam buku antologi ini. Mereka tidak lain adalah para Founder dan Pemimpin Redaksi dari media dakwah sahabat NP seperti Muslimah News, Linimasa News Com, Wacana Edukasi, dan Tim IMuNe (Institut Muslimah Negarawan), kemudian naskah-naskah dari Tim Redaksi NP, selanjutnya adalah naskah dari Kontributor Tetap (Kontap) NP, dan terakhir adalah naskah terpilih dari sahabat Konapost (Kontributior NP).

    Secara garis besar buku ini berisi gagasan dari para penulis atas kepeduliannya terhadap berbagai problem yang telah mendera kehidupan umat khususnya yang yang terjadi di negeri ini. Beragam topik pembahasan yang tertulis dalam lembar demi lembar buku ini merupakan sikap kritis dari para penulis atas berbagai kebijakan pemerintah dan pelayanan publik yang selalu menuai pro dan kontra di tengah masyarakat. Para penulis dengan cerdas, lugas, dan sistematis mengurai fakta-fakta atas masalah-masalah yang terjadi hampir di setiap aspek kehidupan.

    Dalam buku ini disajikan beragam analisis yang mendalam dan tajam dalam menyikapi bobroknya sistem kehidupan kapitalis-sekuler-liberal yang semakin menjauhkan kehidupan umat dari tatanan kehidupan yang hakiki nan lurus. Bukan hanya itu, para penulis juga menawarkan solusi alternatif tentunya dalam sudut pandang Islam dalam menyelesaikan berbagai permasalahan dari hulu hingga hilir. Solusi-solusi Islam dalam buku ini dipaparkan secara komprehensif sehingga para pembaca yang membaca buku ini akan terbuka pemikirannya serta tercerahkan dengan pemikiran Islam ideologis.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/09/melukis-peradaban-lewat-aksara/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    7 min

About Narasipostmedia

From the publisher's feed

Audio tentang sastra, opini, surat pembaca motivasi, food dan sebagainya dari karya-karya para penulis ideologis yang naskahnya publish di media www.narasipost.com