
Sign up to save your podcasts
Or


Cintaku Hanya untuk Yang Mahamulia
Oleh. Yuliani Zamiyrun
Voice over talent: Dewi Nasjag
NarasiPost.Com-Di musim virus merah jambu, ada banyak sekali cerita tentang romantisme anak manusia, baik dari kalangan remaja, muda-mudi, orang dewasa, sampai kepada pasangan halal maupun pasangan yang tidak halal. Mengumbar kemesraan seolah menjadi hal yang biasa. Bahkan jika tidak dilakukan, kesannya seperti ada yang kurang afdol di musim itu. Apalagi virus merah jambu ini mendapat karpet merah dan di fasilitasi oleh asas kebebasan berekspresi.
Berbagai tontonan romantisme dua anak manusia ini sudah menjadi hal yang biasa terjadi di muka umum, baik di dunia nyata maupun di dunia maya atau sosial media. Tidak ada lagi rasa sungkan untuk mempertontonkan sesuatu yang itu harusnya disembunyikan dan tidak semestinya dilakukan oleh pasangan yang belum halal. Pada faktanya virus merah jambu ini telah berhasil mereguk para pecinta untuk tunduk terikat pada kebiasaan yang efeknya kebablasan.
Virus merah jambu yang sudah sangat familier di telinga para kaum pecinta ini, identik pada mereka yang tidak mau serius menjaga cinta. Sebab bagi mereka kebebasan masih sangat diperlukan untuk menikmati kesenangan dunia. Sehingga mereka takut kehilangan kebebasan itu kalau sudah terikat akad.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/02/25/cintaku-hanya-untuk-yang-mahamulia/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
53% Generasi Mengalami Gangguan Mental, Bagaimana Bisa?
Oleh. drh. Lailatus Sa’diyah
Voice over talent: Giriyani
NarasiPost.Com-Berdasarkan data Americal Psychological Association, selama pandemi Covid-19, remaja yang tergolong milenial dan gen Z mengalami peningkatan gangguan kesehatan mental sebanyak 53%. (alenia.id, 07/10/2021)
Psikolog, Sandy Kartasasmita, mengatakan bahwa gangguan yang muncul akibat kesehatan mental dapat bermacam-macam, seperti kecemasan, stres, dan depresi. Sandy menambahkan, kasus ini terus meningkat selama pandemi Covid-19. Survei yang dilakukan oleh Blue Cross Blue Shield Association (BCBSA) menggolongkan depresi, penyalahgunaan zat adiktif atau narkoba, dan alkohol menjadi tiga teratas gangguan yang menyerang milenial.
Depresi adalah gangguan suasana hati (mood) yang ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam dan rasa tidak peduli. Seseorang dinyatakan mengalami depresi jika sudah dua minggu merasa sedih, putus harapan, atau tidak berharga. (Alodokter.com, 14/07/2020)
Ada beberapa ciri-ciri yang menunjukkan seseorang terkena gangguan kesehatan mental, yaitu mengalami kecemasan dan kekawatiran yang berlebihan, tidak stabil secara emosional, merasa putus asa ataupun frustrasi. Kondisi seperti ini, jika dibiarkan terus-menerus akan berdampak negatif pada aktivitas sehari-hari generasi, terutama untuk menyikapi setiap realitas kehidupan. Yang lebih mengkawatirkan lagi akan merusak masa depan generasi itu sendiri. Di sisi lain, generasi adalah calon pemimpin masa depan bangsa, bagaimana jadinya masa depan bangsa ini nantinya, jika generasi sebagai calon pemimpin masa depan mayoritas mengalami depresi?
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/05/53-generasi-mengalami-gangguan-mental-bagaimana-bisa/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Negara Rasa Preman
Oleh. Maftucha S. Pd
Voice over talent: Dewi Nasjag
NarasiPost.Com-Anda pengendara sepeda motor tapi belum punya SIM? Atau anda berencana akan naik haji atau umroh? Siap-siap anda harus mengurus BPJS, karena dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2022 tentang Optimalisasi Pelaksanaan Program Jaminan Sosial Kesehatan Nasional mengharuskan dua pihak tersebut memiliki kartu BPJS Kesehatan sebelum mengurus SIM dan daftar haji atau umroh.
Tidak hanya itu, bagi pelaku usaha dan pekerja pada penyelenggara perjalanan ibadah Umrah dan penyelenggara ibadah Haji khusus juga harus menjadi Peserta aktif dalam program JKN. Kemudian peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan pada satuan pendidikan, baik formal maupun nonformal di lingkungan Kementerian Agama juga diwajibkan menjadi peserta aktif dalam program JKN. Sepertinya pemerintah tidak pernah kehabisan akal untuk memaksa masyarakat agar ikut serta dalam BPJS Kesehatan. Padahal, BPJS sendiri adalah jenis asuransi yang keanggotaannya harusnya suka rela, tapi kenapa justru rakyat dipaksa? Apalagi dengan kebijakan baru bahwa tidak semua penyakit dan obat bisa dicover oleh BPJS. Kebijakan ini tentu semakin mencekik rakyat karena BPJS mengharuskan yang terdaftar adalah satu keluarga bukan perorangan, jadi kalau ada kepala rumah tangga yang gajinya pas-pasan punya anak empat misalkan, maka sudah dapat dihitung berapa jumlah yang harus dibayar tiap bulannya, padahal belum tentu juga anggota keluarga yang lain mengalami sakit, tentu ini sangat membebani dan mengurangi jatah kebutuhan yang lain.
Penguasa negeri kita tak ubahnya preman yang suka memalak rakyatnya dengan berbagai pungutan, namun pelit dan kejam kepada rakyat. Dalam kondisi pandemi yang masih berlangsung, seharusnya rakyat mendapat bantuan untuk mengurangi beban hidup mereka, namun pemerintah justru membuat kebijakan yang tidak prorakyat. Inilah karakter penguasa dalam sistem pemerintahan kapitalisme, mereka hanya menjadikan rakyat sebagai legalitas bahwa kepemimpinan mereka berdasarkan suara rakyat, namun faktanya rakyat hanya memilih wakil rakyat yang sudah dipilih oleh partai. Maka, pemerintahan ala kapitaliame ini selamanya hanya akan memihak kepada para pemodal yang telah membiayai mereka.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/02/27/negara-rasa-preman/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Bahaya Kemunafikan
Oleh. Dian Afianti Ilyas
Voice over talent: Giriyani
NarasiPost.Com-Dewasa ini, banyak di antara kaum muslimin yang mengaku cinta kepada Allah. Namun, tak sedikit kita mendapati di antara mereka yang justru rajin melakukan aktivitas yang Allah benci. Ia melakukan suatu ibadah, tapi di sisi lain ia menghancurkan ibadah tersebut tanpa ia sadari akibat dari ketidaktahuannya tentang apa yang dibenci oleh Allah Swt.
Padahal, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauzi dalam kitabnya Raudhatul Muhibbin menjelaskan bahwa syarat-syarat untuk mencintai Allah haruslah memenuhi dua hal, yaitu mengetahui apa yang dicintai oleh Allah Swt. dan apa saja yang dibenci-Nya.
Adalah Abdullah bin Jud’an, seorang lelaki yang hidup di zaman Rasulullah saw. Ia adalah sosok yang tidak pernah memusuhi Nabi saw. dan para Sahabat. Abdullah bin Jud’an terkenal memiliki beberapa keistimewaan, di antaranya suka memuliakan tamu, sigap membantu orang yang membutuhkan dan suka menyambung silaturahmi bahkan kepada para Sahabat yang jelas-jelas berbeda akidah dengannya. Amalan-amalan kebaikan senantiasa ia jaga dalam bermuamalah.
Saat ia wafat, Aisyah radhiyallahu’anha bertanya kepada Rasulullah saw. tentang di mana tempat Abdulllah bin Jud’ah, surga ataukah neraka. Rasulullah saw. menjawab, “Semua amalan itu tidak memberinya manfaat sedikit pun sebab ia tidak pernah mengatakan ‘Wahai Rabb-ku, berilah ampunan atas kesalahan-kesalahanku pada hari kiamat kelak’.” (HR Muslim no.214).
Rasulullah saw. menegaskan bahwa Abdullah bin Jud’ah yang mati dalam keadaan syirik berakhir di neraka disebabkan satu hal, yaitu hatinya bercabang. Ia memohon kepada Allah dan selain Allah, yaitu Latta dan Uzza. Jutaan kebaikan yang senantiasa dikerjakannya akhirnya terhapuskan akibat satu perbuatan yang dibenci oleh Allah Swt., yaitu kesyirikan.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/02/28/bahaya-kemunafikan/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Menuju Cahaya
Oleh. Teti Rostika
Voice over talent: Sarah Sapriani
NarasiPost.Com-Sahabat, pernahkah terpikir di benak kita, apa alasan yang paling kuat sehingga kita bahagia menjadi seorang manusia yang beragama Islam? Sudahkah kita mendalami agama yang sedang kita pegang itu? Sehingga saat kita sudah mengenal agama yang kita pegang, kita akan berjuang dan berkorban agar agama dalam dada ini tidak rusak dan roboh oleh perilaku yang kita buat.
Menafakuri hal itu tentu sangat penting. Mencoba mengajak pikiran bertanya pada diri sendiri.
Layaknya saat pertama kali memegang HP. Jika kita hanya tahu fungsi HP untuk telepon dan SMS saja tapi tidak tahu bagaimana cara mengoperasikan HP, tidak membaca buku panduan HP, sehingga tidak tahu hal apa saja yang akan membuat Hp rusak dan hal apa saja yang akan menjaga keutuhan HP. Dijamin HP akan mudah rusak
Sama halnya dengan agama Islam. Jika kita hanya tahu bahwa agama Islam itu fungsinya untuk beribadah kepada Allah melalui salat, zakat, puasa, dan naik haji saja tanpa mengetahui hal hal yang diwajibkan Allah di luar rukun Islam tersebut, dijamin agamanya akan rusak.
Tidak sedikit seorang muslim meninggalkan salat bukan karena tidak tahu wajibnya salat. Sesungguhnya dia tahu dan sadar bahwa salat wajib tapi tetap ditinggalkan. Terasa berat mengerjakan salat. Padahal, perkara salat tidak membutuhkan waktu banyak dan tidak membuat badan lari maraton. Tapi tetap enggan untuk mendirikan salat.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/06/menuju-cahaya/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Jabal Uhud, Destinasi Wisata Sarat Kisah Perjuangan
Oleh. Iranti Mantasari, BA.IR, M.Si
Voice over talent: Dewi Fitriana
NarasiPost.Com-Madinah yang dulunya dikenal dengan nama Yatsrib, adalah kota bersejarah yang menjadi saksi perjuangan baginda Rasulullah saw. beserta para sahabat beliau yang senantiasa istikamah mengemban dakwah Islam. Kota ini juga menjadi ikon hijrah fenomenal yang dilakukan kaum muslimin untuk menguatkan dakwah Islam dan memberikan keamanan kepada pemeluknya yang kala itu mendapat pertentangan besar dari kaum musyrik. Sedekade lamanya Rasulullah saw. menjalankan amanah kepemimpinan politik dan agama atas umat Islam dan di sini jugalah tubuh mulia beliau dimakamkan saat sempurna tugasnya di dunia.
Di Madinah pula Rasulullah saw. membangun fondasi negara yang menerapkan Islam secara total dan menyeluruh. Meski demikian, nama Madinah juga diramaikan dengan tempat-tempat lain yang memiliki kisah sejarah tersendiri yang tak kalah menarik. Misalnya, Jabal Uhud atau yang lebih dikenal dengan Gunung Uhud. Hari ini, Gunung Uhud menjadi salah satu pilihan destinasi yang bisa dikunjungi untuk berwisata, baik oleh wisatawan umum maupun oleh jemaah haji dan umrah di sela waktu peribadahan.
Gunung Uhud berada di sisi utara Kota Madinah. Sebagaimana tempat di kawasan Arab Saudi lainnya, Gunung Uhud adalah tempat yang tandus dan dikelilingi oleh bukit bebatuan. Dari kompleks Masjid Nabawi, butuh waktu sekitar 30 menit perjalanan untuk sampai ke kawasan Uhud dan mungkin bisa lebih lama jika menggunakan bus. Setiba di Uhud, pemandangan yang terhamparkan dominan bernuansa cokelat dan panas sebagai efek pantulan dari tanah yang kering. Tidak ada pohon rindang yang bisa dijadikan tempat bernaung.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/02/jabal-uhud-destinasi-wisata-sarat-kisah-perjuangan/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Stigmatisasi Ulama Viral, Benarkah Radikal?
Oleh. Ana Nazahah
Voice over talent: Sofia ariyani
NarasiPost.Com-Sejak Sabtu (5/3/2022) kemarin, viral beredar 180-an ulama dan tokoh yang disarankan tidak diundang sebagai penceramah. Hal ini tentu saja mengundang perhatian warganet. Mayoritas bertanya-tanya, “Bukankah ulama yang dianggap ‘radikal’ tersebut adalah ulama lurus, yang senantiasa peduli terhadap persoalan bangsa dan terbukti mencintai bangsa ini dengan tulus?”
Sebenarnya umat saat ini sudah mulai jengah terhadap makna radikalisme yang terkesan dipaksakan. Padahal jelas-jelas telah melanggar agama, budaya serta nilai-nilai yang dianut bangsa ini. Sehingga wajar umat bertanya, “Seberapa pentingkah isu ulama radikal disorot?” “Sampai kapan umat harus terbelenggu oleh doktrin sesat yang diciptakan para pembenci Islam?” Sepertinya umat wajib mencari jawabannya, agar tidak selamanya dibodohi yang hanya menyebabkan negeri yang sedang ditimpa berbagai musibah ini, jauh dari rahmat Allah Swt.
Kenapa Ulama Dianggap Radikal?
Setidaknya ada dua alasan kenapa ulama dianggap berbahaya. Pertama, ulama itu penganut paham dakwah kekerasan, menyeru Islam dengan menanamkan api permusuhan di tengah umat beragama, mendorong umat berperilaku anarkis. Kedua, ulama tersebut berdakwah dengan pemikiran. Membongkar makar penjajahanan, misalnya. Menjelaskan pengaruh hegemoni Barat dalam menentukan arah dan kebijakan pemerintahan serta membongkar kedok penjajah di balik politik ekonomi liberalisme, sembari memberi solusi untuk segala problematika umat.
Untuk alasan pertama, tentu saja ini jauh dari ajaran Islam dan dakwah yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Tanpa dicap radikal sekalipun, ulama ini sudah seharusnya dijauhi. Sedang yang kedua, ulama ini berbahaya khususnya bagi pengusung ide penjajahan, khususnya bagi negara kufar yang hidup sebagai inang di sebuah bangsa yang berlimpah hasil kekayaan alamnya. Jika negara berhenti menggunakan asas politik ekonomi liberalisme, penjajah tentunya akan kerepotan melanggengkan cengkeraman mereka dan merampok hasil kekayaan alam, yang setiap harinya mengalir ke kantong-kantong para kapitalis itu.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/12/stigmatisasi-ulama-viral-benarkah-radikal/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Awan Kelabu Nasib Minoritas di Anak Benua
Oleh. Ahsani Annajma
Voice over talent: Dewi Nasjag
NarasiPost.Com-Muskan Khan, namanya menggema di dunia maya. Berkat aksi heroiknya, semua mata tertuju padanya. Ia berhasil mencuri perhatian dunia, lantaran keberaniannya bagaikan singa yang mengaum siap menerkam mangsanya. Keberaniannya menghadapi rundungan puluhan demonstran nasionalis Hindu yang melarang perempuan berhijab masuk ke area kampus, membuatnya tidak gentar untuk memberikan perlawanan dan menunjukkan keteguhannya sebagai seorang muslimah. Berdecak kagum ribuan mata, memberikan dukungan terhadapnya. Apa yang sebenarnya terjadi di India?
Muskan Khan, Wajah Perlawanan Kaum Minoritas
Gadis belia, yang namanya menjadi bahan perbincangan usai berhasil menunjukkan perlawanannya terhadap tindakan deskriminatif pelarangan jilbab di kampusnya. Dalam sebuah video yang menjadi viral, gadis belia itu terlihat memasuki kampusnya saat sekelompok demonstran yang diasosiasikan dengan kelompok nasionalis Hindu mengadangnya masuk ke area kampus karena ia mengenakan jilbab. Saat mereka terus mengejeknya seraya meneriakkan Jai Shri Ram atau kemenangan terhadap Tuhan Ram, Muskan Khan tampil pasang badan dengan jilbab dan kerudung hitam yang menjuntai lengkap dengan maskernya, Muskan meneriakkan balasan pekikan takbir, “Allahuakbar, Allahuakbar!” tanpa gentar.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/02/22/awan-kelabu-nasib-minoritas-di-anak-benua/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Menulis untuk Bangkit
Oleh. Iranti Mantasari, BA.IR, M.Si.
Voice over talent: Dewi Fitriana
NarasiPost.Com-Menulis memang perkara gampang-gampang sulit. Gampang bagi yang memang jemarinya sudah jeli menari di atas kertas atau keyboard dan sulit bagi yang memang belum membiasakan jari-jemarinya menari menggores gagasan. Jelas ada alasan di balik mengapa saya akhirnya memutuskan untuk menulis. Setidaknya saya memiliki dua alasan kuat.
Dua alasan ini sebenarnya saya tarik dari pernyataan dua ulama, yaitu syekh Taqiyuddin An-Nabhani dan syekh Muhammad Abdullah Azzam. Syekh Taqiyuddin An-Nabhani mengatakan dalam kitab beliau Nizhamul Islam, “Agar manusia mampu bangkit harus ada perubahan mendasar dan menyeluruh terhadap pemikiran manusia dewasa ini, untuk kemudian diganti dengan pemikiran lain. Sebab, pemikiranlah yang membentuk dan memperkuat persepsi terhadap segala sesuatu.” Sedangkan, syekh Muhammad Abdullah Azzam mengatakan “Peradaban Islam tegak dengan dua warna. Merah dan hitam. Merah darah para syuhada dan hitam tinta para ulama”.
Dari dua pernyataan tersebut, saya rasa sudah cukup kuat untuk menjadi alasan bagi setiap yang menginginkan kebangkitan Islam untuk menulis, menumpahkan gagasan pikiran mereka pada sederet paragraf untuk ditransfer pada pembacanya. Kebangkitan itu memang sangat tergantung pada pemikiran seseorang. Jika pemikirannya terbelakang, maka kebangkitan pun bisa disebut masih jauh. Untuk mengubah pemikiran, salah satu caranya adalah dengan menulis, yang dari tulisan itu bisa memberikan perspektif baru pada seseorang.
Kemudian para ulama salaf maupun khalaf telah menulis ribuan kitab dengan tinta penanya yang akhirnya ilmu tersebut bisa sampai pada kita, generasi zaman now. Ratusan hingga ribuan tahun usia tulisan-tulisan itu, tapi tetap bisa mencerahkan umat di akhir zaman ini.
Ditambah lagi, di zaman yang kebebasan berpendapat merupakan salah satu pilar penting kehidupan berbangsa saat ini, tidak sedikit jumlah tulisan yang justru menggiring publik pada persepsi yang kurang pas, terutama jika itu berkaitan dengan Islam. Karena itu pulalah, penting bagi yang merindukan Islam dan muslim untuk bangkit, melakukan counter-opinion atas tulisan-tulisan mainstream yang bertentangan dengan Islam tadi. Tulisan-tulisan untuk mematahkan opini negatif itu tidaklah harus terdiri dari banyak bab, justru sedikit paragraf yang isinya langsung menghujam di benak pembaca sudah lebih dari cukup.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/10/menulis-untuk-bangkit/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Pasar Gelap Organ Manusia Meluas di Kancah Internasional
Oleh. Fitria Zakiyatul Fauziyah CH
Voice over talent: Giriyani
NarasiPost.Com-Baru-baru ini Kepolisian Brasil tengah mengusut sindikat penjualan organ tubuh manusia secara internasional yang diduga dikirim ke Singapura. Berdasarkan keterangan Kepolisian Federal Brasil, mengungkapkan bahwa tangan manusia bersama dengan tiga paket plasenta manusia telah dikemas dan dikirim dari Brasil ke Singapura.
Mengutip Vice World News, laboratorium anatomi universitas setempat melakukan ekstraksi cairan tubuh, terdapat indikasi bahwa paket berisi tangan dan tiga plasenta manusia. Kendati demikian, masih belum jelas apakah pengiriman paket yang berisi organ manusia itu diadang dalam perjalanan atau bukan. Sementara itu, para pejabat melaporkan bahwa salah seorang anggota staf kampus telah diskors setelah dilakukannya operasi pencarian dan penyitaan polisi. (tribunnews.com, 24/02/2022)
Sejumlah staf di lab UEA juga telah dipecat karena diduga terlibat operasi pengawetan organ untuk kepentingan komersial. Profesor yang mengawetkan dan menyimpan organ juga sudah ditetapkan sebagai tersangka. Kini masih dalam tahap pemeriksaan polisi. Sementara itu, desainer terkenal asal Indonesia berinisial AP disebut-sebut oleh pihak kepolisian terkait dengan skandal ini. Ia diduga telah memesan paket organ manusia dari Brasil. (cnnindonesia.com, 24/02/2022)
Miris, satu kata yang menggambarkan kondisi tersebut. Ini bukanlah kasus pertama, namun hanya sedikit dari kasus yang naik ke permukaan. Maraknya penjualan organ tubuh manusia bukanlah persoalan satu-satunya yang berdiri sendiri. Ibarat adanya sebuah mata rantai, maka ada hubungan dan keterikatan satu dengan yang lainnya. Selama permintaan masih ada, maka penjualan akan tetap ada pula. Begitu pun, selama belum terpenuhinya kebutuhan ekonomi atau ladang bisnis seseorang, maka menawarkan organ tubuh bisa menjadi jalan mulus untuk meraih keuntungan. Terlebih tuntutan zaman kapitalis, semua yang meraih keuntungan cepat akan tumbuh subur di masyarakat.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/05/pasar-gelap-organ-manusia-meluas-di-kancah-internasional/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed