
Sign up to save your podcasts
Or


Pelecehan Seksual Kian Marak, Bukti Demokrasi Gagal dan Rusak
Oleh. Pahriati, S.Si.
Voice over talent: Yeni M
NarasiPost.Com-Lagi dan lagi! Pelecehan seksual terus terjadi. Lebih parahnya, perbuatan bejat ini dilakukan oknum polisi. Bukan hanya sekali, tapi untuk ke sekian kali. Geram, miris, ngeri, bercampur aduk dalam diri. Ada apa dengan negeri ini?
Pada akhir Februari lalu, seorang oknum anggota Polairud Polda Sulsel, AKBP M, ditahan karena menjadikan gadis SMP, IS (13), sebagai budak seks selama berbulan-bulan. Korban bekerja di rumah pelaku sebagai pembantu. Kasus ini baru terungkap setelah kakak korban buka suara. Aksi bejat itu dilakukan sejak Oktober 2021. (Tribunnews.com, 2/3/2022)
Sebelumnya, di akhir tahun 2021, seorang oknum polisi narkoba berpangkat Bripka di Banjarmasin, Kalsel juga ditangkap setelah melakukan pemerkosaan terhadap seorang mahasiswi. Korban adalah mahasiswi magang di satuan narkoba tempat sang polisi bertugas. Awalnya korban diajak jalan-jalan, lalu di mobil diberi minuman yang sudah dicampur alkohol. Setelah mabuk korban dibawa ke hotel. Di situlah terjadi perkosaan. Meski kemudian sang polisi dicopot dari jabatan dan divonis 2,5 tahun penjara, banyak pihak yang tak menerima karena dianggap hukumannya terlalu ringan. (detikNews.com, 27/1/2022)
Kita tak dapat menafikan, ini hanyalah sekelumit fakta yang terjadi di sekitar kita. Hampir setiap hari ada berita terkait pelecehan seksual. Pelakunya seringkali orang-orang terdekat. Orang tua, kerabat, tetangga, teman, bahkan oknum guru ataupun oknum aparat keamanan. Mereka yang harusnya menjadi pelindung, justru menjadi pemangsa yang mengerikan.
Menanggapi hal ini, banyak pihak kemudian mendesak disahkannya RUU TPKS (Tindak Pidana Kekerasan Seksual). Mereka berharap UU tersebut dapat menjadi landasan hukum menjerat pelaku pemerkosaan dengan hukuman berat, juga menjadi payung perlindungan korban dan keluarganya. Ada pula yang menuntut pemberlakuan hukuman mati bagi pelaku. Harapannya dapat menimbulkan efek jera bagi pelaku dan orang yang berniat sama. Namun, apakah pemberian hukuman cukup untuk menghentikan kasus pelecehan seksual yang kian marak?
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/13/pelecehan-seksual-kian-marak-bukti-demokrasi-gagal-dan-rusak/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Kutemukan Jalanku, Keluarga Baruku
Oleh. Deena Nor
Voice over talent: Dewi Nasjag
NarasiPost.Com-Pada saat saya ditawari menjadi Kontap NP, saya merasa senang tapi juga bingung. Kira2 apa kelebihan saya sehingga Pemred NP yang baik hati ini mau memberikan kesempatan pada saya sebagai bagian dari tim Kontap? Apa jangan-jangan salah orang atau sedang khilaf? Sebab, siapa sih saya ini? Saya merasa biasa-biasa aja. Namun, karena kesempatan itu datang, maka berarti memang sudah jalan saya begitu. Di samping itu, Bu Andrea mengatakan bahwa menurut Bu Ida, saya dianggap bagus di parenting-motivasi dan PUEBI. Seingat saya seperti itu… hehe.. cmiiw..
Sejak awal saya memang banyak menulis puisi dan motivasi. Bukan tanpa maksud. Saya memilih sedikit meninggalkan opini karena agak jenuh dengannya. Harusnya nggak boleh gitu, ya? Sebab dengan beropini kita bisa lebih menonjok kebijakan rezim yang zalim juga sistemnya yang amburadul. Tapi, yah begitulah… Kini saya sedang berusaha mengakrabi opini kembali. Walau lumayan sulit karena sudah nyaman di zona lain.
Kembali pada alasan kenapa saya banyak menulis puisi dan motivasi. Sebenranya itu sebagai sarana saya melepaskan segala gundah, resah, sekaligus menguatkan diri. Dengan menulis tema itu, saya bisa lebih mengeksplore perasaan dan harapan. Begitu pemikiran saya.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/14/kutemukan-jalanku-keluarga-baruku/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Urgensitas Label Halal bagi Keluarga Muslim
Oleh. Dia Dwi Arista
Voice over talent: Giriyani
NarasiPost.Com-Sebagai keluarga muslim yang hidup dalam sistem kapitalisme, yakni sistem yang tidak pernah memikirkan halal dan haram pada semua aktivitas maupun barang, tentu kita mengandalkan label halal pada setiap barang atau bahkan pada makanan yang kita konsumsi. Meski negara ini berstatus negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, namun bicara keberpihakan, negara ini bagai menganaktirikan kaum muslim.
Bagaimana tidak, bertubi-tubi aturan pemerintah mengerek kaum muslim pada bibir jurang, membuat luka dalam hingga sulit untuk pulih seperti sediakala. Belum lama Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, menyamakan suara azan dengan gonggongan anjing, luka belum sembuh, kini pak Yaqut mengeluarkan peraturan baru. Penggantian label halal yang sebelumnya ada di tangan MUI (Majelis Ulama Indonesia), diambil alih oleh pemerintah melalui Kementerian Agama.
Masyarakat pun bertanya-tanya, apa urgensinya? bukankah mengada-ada ketika mengganti sesuatu yang tak ada masalahnya? Kaum muslim pun akhirnya semakin waspada, akankah pemerintah menerbitkan label halal sesuai dengan syariat? Mengingat kepercayaan kaum muslimin kepada pemerintah bak benang yang tipis, mudah putus. Belum lagi track record pemerintah dalam suap-menyuap juga masih dipertanyakan. Apabila, nauzubillah, jika pemerintah dengan mudah memberikat sertifikat halal ketika ada maharnya, lalu haruskah keluarga muslim perlu waspada?
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/15/urgensitas-label-halal-bagi-keluarga-muslim/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Ada Apa di Balik Isu Radikalisme?
Oleh.Novianti
Voice Over Talent: Dewi fitriana
NarasiPost.Com-Isu radikalisme sering dinarasikan dan makin menguat di era pemerintahan Joko Widodo. Baru-baru ini, presiden kembali memperingatkan bahaya radikalisme di hadapan jajaran TNI dan Polri agar tidak mengundang penceramah radikal. (nasional.kompas.com, 02/03/2022)
Untuk menguatkan arahan presiden, Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Ahmad Nurwakhid, menyebutkan beberapa indikator penceramah radikal. Pertama, yang menyebarkan ide prokhilafah international. Kedua, yang mengajarkan pemahaman takfiri yaitu mengafirkan orang lain yang berbeda pemahaman. Ketiga, menanamkan sikap antipemerintah yang sah. Keempat, memiliki sikap ekslusif terhadap lingkungan. Kelima, berpandangan antibudaya atau kearifan lokal. (kabar24.bisnis.com, 07/03/2022)
Dilansir oleh CNNIndonesia, Ketua Umum YLBHI, Muhammad Isnur, mengungkapkan isu radikalisme merupakan upaya pembungkaman terhadap pihak-pihak yang sering mengkritisi kebijakan pemerintah. Ketua MUI, Cholil Nafis, juga mengingatkan agar hal ini tidak ditujukan kepada para penceramah yang selama ini melakukan kritik dalam rangka amar makruf nahi munkar. Ketua Umum Presidium Alumni 212, Slamet Maarif, juga menilai BNPT otoriter mau merasa benar sendiri, bahkan terkesan islamfobia.
Kecurigaan bahwa pemerintah mengalami islamofobia memang beralasan. Tuduhan radikalisme secara jelas ditujukan pada mereka yang selama ini getol menyuarakan khilafah. Mereka dianggap berbahaya dan ancaman bagi keutuhan NKRI. Padahal, khilafah sendiri adalah pembahasan yang sudah ada dalam kitab para ulama sehingga penentangan terhadap khilafah sama artinya mengingkari ajaran Islam itu sendiri.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/15/ada-apa-di-balik-isu-radikalisme/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Kunci Meraih Kebahagiaan
Oleh. Nur Hayati
Voice over talent:Armina Ahza
NarasiPost.Com-Semua orang pasti menginginkan kebahagiaan. Berbagai cara sering kali dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan tersebut. Namun, tak sedikit yang tetap merasa gagal meski sudah menempuh banyak jalan. Lantas, di manakah sebenarnya letak kebahagiaan itu? Apa kunci untuk meraih kebahagiaan?
Guys, seseorang emang akan sulit bahagia ketika standar kebahagiaannya ialah sesuatu yang bersifat materi. Seperti prestasi, kekayaan, kecantikan, kepopuleran, percintaan maupun persahabatan. Sebab, materi bersifat terbatas. Ketika materi semakin lama dinikmati, maka semakin berkurang kenikmatannya.
Mengejar standar kebahagiaan yang didasarkan pada materi, tentu tak akan pernah ada habisnya, Guys! Mengejar dunia ibarat mengejar bayangan. Ibnu Al Qayyim rahimahullah berkata, “Dunia ini ibarat bayangan, bila kau kejar, dia akan lari darimu. Palingkan badanmu darinya dan dia tidak punya pilihan lain kecuali mengikutimu.”
Allah sebagai Sang Pencipta sekaligus Sang Pengatur kehidupan manusia, telah menyebut dalam Al-Qur’an bahwa standar kebahagiaan yang benar adalah sesuatu yang sifatnya abadi, tidak akan pernah hilang meskipun sudah lama dinikmati yakni rida Allah Swt.
Dalam QS. Al-Fath ayat 4, Allah Swt. berfirman, “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” So, kebahagiaan hakiki akan kita dapatkan ketika menjadi hamba Allah yang taat, Guys.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/02/kunci-meraih-kebahagiaan/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Indonesia Darurat Kejahatan Seksual
Oleh. Afiyah Rasyad
Voice over talent: Dewi nasjag
NarasiPost.Com-Wajah Indonesia yang ramah kini sudah tak tampak lagi. Serangkaian permasalahan terus menaungi negeri ini. Segala lini kehidupan dicekam persoalan yang seakan tak berkesudahan. Kejahatan demi kejahatan membanjiri pemberitaan media lokal maupun nasional, tak terkecuali kejahatan seksual yang kian marak menghiasi negeri ini.
Kejahatan Seksual Kian Brutal
Syahdan, krisis multidimensi membentang dari Sabang sampai Merauke. Sebagian besar masyarakat seakan kehilangan hati nurani. Rasa peduli dan empati mulai tergerus oleh segunung permasalahan individu yang tak kunjung usai. Serangan gaya hidup Barat tepat mengenai jantung masyarakat. Walhasil, hedonisme dan liberalisme berparade menggerus pemikiran masyarakat negeri ini yang mayoritas muslim.
Kejahatan seksual kini mengintai siapa saja, terutama pada remaja dan anak-anak. Baru-baru ini tersiar kabar memilukan dari seorang pelajar SMP usia 13 tahun. Dia dirudapaksa oleh oknum perwira polisi Polda Sulawesi Selatan (Sulsel), AKBP M. AKBP M resmi, dijadikan tersangka kasus dugaan pemerkosaan dan menjadikan siswi SMP berusia 13 tahun sebagai budak seks. Hal itu membuatnya dijerat UU perlindungan anak. (detik.com, 4/3/2022)
Betapa memilukan apa yang menimpa gadis belia usia SMP itu. Kehormatan yang harusnya dijaga, justru ternoda di tangan aparat. Kelakuan bejat aparat yang harusnya mengayomi masyarakat justru membuat trauma dan membuat masa depan seorang gadis buram. Demi hawa nafsu jinsiyah, laki-laki itu tega memperlakukan seorang gadis belia dengan penuh kehinaan.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/15/indonesia-darurat-kejahatan-seksual/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Kontroversi Terapi Konversi, Bagaimana Pandangan Islam?
Oleh. drh. Lailatus Sa’diyah
Voice over talent: Giriyani
NarasiPost.Com-Terapi konversi untuk menyembuhkan orientasi seks menyimpang LGBTQ telah lama menjadi polemik. Penolakan muncul di berbagai negara, bahkan tidak sedikit negara yang melarang terapi ini. Lalu, apakah sebenarnya terapi konversi ini? Pasalnya saat ini, terapi konversi secara praktiknya masih ditemukan, namun berkamuflase menggunakan berbagai nama lain.
Kontroversi
Terapi konversi merupakan terapi psikoterapi yang dilakukan dengan tujuan untuk mengembalikan orientasi seksual menjadi normal (heteroseksual), termasuk untuk homoseksual, lesbian, biseksual, transgender, interseks dan queer. Namun, terapi ini menjadi kontroversi di berapa negara dilihat dari metode penyembuhan serta dampaknya.
Terapi konversi ini merujuk pada asumsi bahwa menjadi seorang yang memiliki penyimpangan seksual adalah penyakit mental yang bisa disembuhkan. Ada beberapa metode dalam terapi konversi yang diklaim mampu “menyembuhkan“, dari metode yang paling ringan hingga yang ekstrem. Berikut beberapa cara terapi konversi yaitu mulai dari terapi bicara, memanjatkan doa, ritual pengusiran setan, kekerasan fisik, makan makanan secara paksa atau bahkan kekurangan makanan, dan yang paling ekstrem adalah pemerkosaan kolektif dimana ini merupakan metode penyembuhan orientasi seksual yang sudah ilegal.
Dalam realisasinya, tidak ada bukti kuat bahwa terapi konversi dapat mengubah atau gagal menyembuhkan penyimpangan orientasi seksual. Organisasi kesehatan dunia, WHO, telah mendiskreditkan dan Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menggambarkannya sebagai upaya “penyiksaan”.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/11/kontroversi-terapi-konversi-bagaimana-pandangan-islam/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
The Day You Say Goobye To Me
Oleh. Andrea Ausie
Voice over talent: Dewi Nasjag
My tears fell from my eyes
Air mataku menetes
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/09/the-day-you-say-goobye-to-me/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Belajar tentang Ketaatan dari Sosok Abu Bakar Ash-Siddiq
Oleh. Annisa Fauziah, S.Si.
Voice over talent: Sofia Ariyani
NarasiPost.Com-Hidup di tengah sistem saat ini memang tidaklah mudah. Berbagai gempuran pemikiran Barat yang kita temui dalam keseharian tentu berpengaruh terhadap pola pikir dan pola sikap umat Islam. Tanpa sadar kaum muslimin menerima pemahaman, standar nilai, serta keyakinan yang bukan berasal dari Islam.
Identitas seorang muslim pun tergerus secara perlahan. Bahkan, hampir roboh fondasinya, yaitu akidah Islam. Berbagai produk pemikiran Barat yang disebarluaskan melalui kurikulum pendidikan, gaya hidup, hingga tontonan yang kita saksikan setiap hari. Sampai umat Islam tak menyadari bahwa jati diri seorang muslim tinggalah titel belaka.
Terkadang kita ingin menangisi diri sendiri. Sebab, kita lebih tahu kisah hidup para artis dibandingkan dengan kisah hidup Rasulullah saw. serta para sahabatnya. Tak jarang pula banyak dari kita yang begitu menggandrungi artis hingga menjadikan mereka sebagai idola. Tempat-tempat hiburan seolah menjadi tempat yang nyaman bagi kita untuk mencari kebahagiaan. Padahal, bukankah di akhirat kelak kita ingin bertemu dengan orang-orang yang kita cintai?
Adapun hadir di majelis ilmu menjadi sesuatu hal yang dianggap membosankan. Bahkan membuat kita begitu sulit untuk mengorbankan waktu dan pikiran. Alasannya karena kita penuh dengan kesibukan. Saat diajak untuk berdakwah muncul banyak penolakan. Sebab, merasa tak mampu untuk menjaga keistikamaah. Nah, bukankah ketaatan dan keistikamahan itu adalah sesuatu yang harus diperjuangkan?
Kisah sahabat Rasulullah saw., yaitu Abu Bakar Ash-Siddiq bisa dijadikan teladan. Ketika beliau senantiasa berjalan dalam ketaatan. Membaca kisah tersebut tentu bukan semata agar kita tahu sejarah. Namun, yang lebih penting adalah agar semakin menguatkan keimanan dan kecintaan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya. Melalui kisah, kita bisa mengambil banyak hikmah kehidupan yang bisa direfleksikan dengan tantangan hidup saat ini.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/12/belajar-tentang-ketaatan-dari-sosok-abu-bakar-ash-siddiq/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Bobroknya Perilaku Generasi Dipayungi Demokrasi
Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S
Voice over talent: Giriyani
NarasiPost.Com-Seorang cendekiawan sekaligus ulama yang hidup di masa kekhilafahan Bani Umayyah, Hasan Al-Bashri, pernah mengatakan bahwa seorang yang mencari ilmu, akan tampak di wajah, tangan dan lidahnya serta dalam kerendahan hatinya kepada Allah. Abu Bakar Ash-Siddiq r.a pun pernah mengatakan bahwasannya ilmu merupakan kehidupan bagi pikiran. Artinya, ilmu memengaruhi kualitas pemikiran dan corak perilaku seseorang.
Orang yang berilmu memang selayaknya mencerminkan ilmu tersebut ke dalam dirinya, tak sekadar tersimpan di ruang benak. Namun, terpancar dalam keagungan akhlak dan moralitas. Namun sayangnya, sistem pendidikan hari ini rupanya telah gagal mencetak generasi berilmu sekaligus bertakwa dan berakhlak. Betapa banyak kita jumpai fakta generasi intelektual berstatus pelajar atau mahasiswa yang justru terlibat perbuatan asusila dan kriminal.
Sebagaimana yang baru-baru ini viral, seorang mahasiswi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau bercumbu di depan layar Zoom pada saat perkuliahan online berlangsung. Akibat perbuatannya tersebut, sang mahasiswi terkena drop out (DO) secara tidak hormat dari pihak kampus karena dianggap telah merusak nama baik kampus. (Sindonews.com/03-03-2022)
Selama pandemi yang notebenenya pembelajaran dilakukan secara online, kasus serupa sudah sering terjadi sebelumnya, baik di dalam maupun luar negeri. Alangkah bobroknya perilaku generasi hari ini, bahkan saat forum ilmu pun mereka melakukan hal itu. Naudzubillah!
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/03/08/bobroknya-perilaku-generasi-dipayungi-demokrasi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed