
Sign up to save your podcasts
Or


Valentine’s Day, Kapitalisasi dan Moderasi Berbalut Romansa Pinky
Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S
Voice over talent: Dewi N
NarasiPost.Com-Februari seringkali diidentikkan sebagai bulan bertabur cinta. Sebab di bulan itu, ada hari Valentine yang tentu saja sangat familier bagi masyarakat seantero dunia. Hampir semua orang menjadikannya sebagai momentum untuk merayakan cinta, terutama para milenial yang tengah dimabuk asmara.
Namun, sebagai muslim, kita perlu memahami esensi di balik Valentine’s day agar kita tidak mudah terperosok dalam budaya di luar Islam. Benarkah seorang muslim boleh ikut-ikutan merayakan Valentine’s day?
Valentine’s Day Bukan Budaya Islam
Tanggal 14 Februari pertama kali ditetapkan sebagai hari Valentine oleh Paus Roma Gelasius pada abad ke-5 Masehi. Hal tersebut bermula setelah seorang pendeta Romawi bernama St. Valentine ditangkap dan dijebloskan ke penjara, kemudian dihukum mati atas perintah Kaisar Romawi, Claudius II. Penyebabnya adalah St. Valentine secara diam-diam menikahkan banyak pasangan, padahal hal tersebut dilarang oleh Kaisar karena mengganggap bahwa seorang prajurit tidak boleh menikah. Akhirnya St Valentine dieksekusi mati pada 14 Februari tahun 470 Masehi.
Sungguh, dilihat dari akar sejarahnya, Valentine merupakan budaya kaum Nasrani. Tak ada kaitannya dengan Islam. Sayangnya, masifnya kampanye Valentine’s day ke seluruh dunia menjadikan umat Islam pun turut mengadopsinya. Padahal sudah jelas bahwa Valentine bukan berasal dari ajaran Islam, bahkan cenderung bertentangan. Sebab, perayaan Valentine yang berkemas kasih sayang tak hanya dilakukan oleh pasangan halal suami istri, namun juga pasangan muda-mudi dalam ikatan pacaran. Hal tersebut jelas merupakan kemaksiatan dalam Islam. Mengungkapkan cinta kepada seseorang yang belum halal, tak dibolehkan dalam syariat. Apalagi sampai mengumbar syahwat kepadanya. Tak sedikit juga, perayaan Valentine’s day diisi dengan penyerahan keperawanan kepada sang kekasih alias ada aktivitas zina. Sungguh memprihatinkan!
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/02/15/valentines-day-kapitalisasi-dan-moderasi-berbalut-romansa-pinky/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Muslim Minoritas Makin Tergilas, Adakah Solusi Tuntas?
Oleh. drh. Lailatus Sa’diyah
Voice over talent: Tysady Eko Muhammad
NarasiPost.Com-“Ketika menjadi mayoritas, mereka dipaksa bersikap luwes atas nama toleransi. Namun, ketika mereka hanya bagian dari minoritas, kesewenang-wenangan terus menghantui. Ironi kehidupan umat muslim saat ini”.
Ramai beredar video seorang mahasiswi, Muskaan Khan, dengan lantang dan berani mengecam perbuatan segerombol pemuda Hindu Nasionalis yang mendiskriminasi penggunaan hijab di kampusnya. Satu lagi kondisi yang mempertontonkan penindasan atas minoritas umat muslim yang ingin menjalankaan ajaran agamanya. Sempat terbesit dalam pikiran, di manakah perlindungan atas nama HAM yang begitu dielu-elukan dan dijunjung tinggi para pengusungnya? Katanya setiap orang bebas beragama, nyatanya? Biarlah ini menjadi bukti bagi orang-orang yang berpikir bahwa sejatinya HAM adalah konsep batil yang telah gagal menjamin kemuliaan manusia, temasuk untuk menjalankan ajaran agamanya.
Sudah menjadi rahasia umum, ketika yang terdiskriminasi adalah nonmuslim, HAM diangkat sebagai penyelamat, namun ketika yang terdiskriminasi adalah umat muslim, mereka seakan tak giat bersikap. Inilah salah satu alasan mengapa umat muslim seringkali cenderung takut menampakan keislamannya ketika menjadi kaum minoritas.
Muslim Minoritas Selalu Tertindas
Banyak beredar berita di sosial media, baik berupa tulisan ataupun video yang memperlihatkan bagaimana kondisi umat muslim minoritas di berbagai belahan dunia. Terdiskriminasi, teraniaya, tertindas, kelaparan bahkan ada yang menjadi korban kejahatan genosida. Kehidupan yang sangat memilukan.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/02/23/muslim-minoritas-makin-tergilas-adakah-solusi-tuntas/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Pesawat CN235, Cengkeraman Asing dalam Dunia Industri
Oleh. drh. Lailatus Sa’diyah
Voice over talent: Giriyani
NarasiPost.Com-Pesawat CN235 kini bak primadona, telah dipesan sejumlah negara karena kecanggihannya. Inilah salah satu karya anak bangsa yang kini mendunia. Ini membuktikan bahwa notabene intelektualitas anak bangsa tidak bisa diremehkan. Mengenai prototipe pesawat CN235 sendiri diresmikan oleh Presiden Seharto pada tahun 1983, didampingi BJ Habibie yang kala itu menjabat sebagai Menristek sekaligus Dirut IPTN.
Siapa yang tidak bangga, ketika perindustrian dalam negeri bisa melenggang di kancah Internasional. Tidak kurang dari 20 negara telah memesan CN235 dengan berbagai versinya, termasuk di antaranya militer Prancis, Arab Saudi, Malaysia, Thailand, UEA, Nepal hingga Republik Sinegal. Tidak mau kalah, Kemenhan Prabowo Subianto, rencananya hendak memesan 10 pesawat sekaligus.
Namun sayang, di balik itu semua, PT. Dirgantara Indonesia sebagai rumah produksinya yang digawangi oleh Gita Amperiawan sedang mengalami kendala. Minimnya pendanaan hanya memungkinkan memproduksi 4 pesawat dalam jangka waktu satu tahun. Negeri yang notabene kaya sumber daya alam, tidak mampu menopang perkembangan industri pesawat terbang yang sangat potensial ini. Padahal, kecanggihan dan multifungsi dengan berbagai versinya pesawat CN235 sangat menunjang untuk mewujukan ketahanan dalam negeri.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/02/12/pesawat-cn235-cengkeraman-asing-dalam-dunia-industri/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Duhai Ukhti, Perjuangkanlah Penerapan Syariat Islam yang Utuh, Niscaya Laramu Sembuh
Oleh. Yuliyati Sambas
Voice over talent: Dewi N
NarasiPost.Com-Afganistan tak henti dirundung lara. Rakyatnya telah lama menjalani kehidupan yang tidak mudah, terlebih bagi kaum perempuan. Potret penderitaan dan pengekangan banyak berseliweran di media pemberitaan internasional. Kondisi kian mengkhawatirkan, pasca pergantian rezim Ashraf Ghani yang didukung AS beralih ke Taliban yang kini berkuasa. “Duhai Ukhti, betapa malang nasib kalian.”
Menanggapi kesulitan hidup yang dihadapi itu salah satunya diekspresikan oleh sekelompok perempuan Afganistan dengan mengajukan protes pemenuhan atas hak-hak mereka sebagai warga. Sebagaimana diberitakan republika.co.id (16/1/2022), sekitar 20 perempuan Afganistan yang tampak dari tampilan foto mengenakan burqa biru muda berdemonstrasi di sekitaran Universitas Kabul. Mereka menuntut seputar hak pekerjaan dan pendidikan, kesetaraan dan keadilan, juga hak-hak perempuan dan HAM. Tak jauh dari tuntutan yang dikemukakan pada demo 16 Desember 2021. Mereka saat itu menuntut dipenuhinya makanan, karier, dan kebebasan. “Duhai Ukhti, kami memahami harapan kalian.”
Opini yang berkembang bahwa semua kesulitan yang dihadapi disebabkan negeri tersebut berada di bawah rezim Taliban yang keras menerapkan syariat Islam. Benarkah demikian?
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/02/09/duhai-ukhti-perjuangkanlah-penerapan-syariat-islam-yang-utuh-niscaya-laramu-sembuh/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Islam Kaffah Untuk Muslimah Afganistan
Oleh. Aina Syahidah
Voice over talent: Dewi F
NarasiPost.Com-Krisis panjang di bawah pemerintahan Taliban membuat banyak kaum muslimah di Afganistan hidup dalam bayang-bayang penderitaan. Seorang wanita bernama Zaigul mengeluhkan sulitnya hidup saat ini. Ia dan suaminya harus terpaksa kehilangan sumber mata pencaharian. Ancaman kelaparan semakin nyata di pelupuk mata. Kondisinya pun semakin diperparah kala musim dingin tiba. Rakyat terancam kelaparan dan kedinginan.
Selain, Zaigul yang berprofesi sebagai IRT. Para wanita yang selama ini bekerja sebagai pegawai negeri juga tidak mendapatkan haknya alias tidak digaji selama berbulan- bulan lamanya. (merdeka.com, 15/01/2022)
Tak hanya itu, sebagian orang tua juga terpaksa harus menjual anak-anak perempuan mereka kepada orang kaya, demi untuk menyambung hidup dan membayar utang. (news.detik.com, 19/11/2021)
Menurut pengamat independen Afganistan, Ahmed-Waleed Kakar, keuangan dan ekonomi adalah tantangan utama bagi perempuan di seluruh negeri. Betapa tidak, bagi kaum perempuan Afganistan, tantangan ekonomi itu datang dengan pembatasan yang lebih ketat atas kebebasan, lapangan kerja, pendidikan, bahkan pergerakan mereka. (merdeka[dot]com, 15/1/2022)
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/02/06/islam-kaffah-untuk-muslimah-afganistan/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Wadas Dikuras Penguasa Culas
Oleh. Ita Harmi
Voice over talent: Sofia A
NarasiPost.Com-Indonesia secara de jure telah mengenyam kemerdekaan selama 76 tahun. Penjajahan demi penjajahan sudah menjadi makanan bangsa ini hingga berpuluh tahun lamanya. Penjajahan legendaris di bumi pertiwi adalah penjajahan Belanda. Sang kapitalis dunia kala itu dengan semangat 3G, gold, glory, dan gospel mengekspansi wilayah baru dengan menjarah kekayaan rempah hasil bumi Nusantara. Semua itu dilakukan hanya untuk memonopoli perdagangan rempah di tingkat global. Kapitalisme menjadi warisan abadi para penjajah sebagai estafet kekuasaan mereka di wilayah bekas jajahannya.
Hari ini, di tengah hiruk pikuk kemerdekaan bangsa Indonesia, penjajahan dan penjarahan masih tetap lestari, namun bukan oleh bangsa asing, melainkan oleh bangsanya sendiri. Penguasa yang diharapkan akan mengurus rakyat hingga mencapai derajat kesejahteraan telah berlaku culas, berubah menjadi komprador sang kapitalis dunia, pengisap darah dan air mata saudaranya sendiri.
Wadas, terletak di salah satu sudut Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, memanas karena sejumlah lahan pertanian milik warga akan dijadikan lahan penambangan batu andesit. Menurut Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah, lahan terdampak penambangan di desa Wadas luasnya mencapai sekitar 124 hektare. Sebanyak 346 pemilik lahan sudah menyetujui lahan mereka dijadikan lokasi penambangan batu andesit dan mendapatkan ganti rugi. Sedangkan sekitar 133 pemilik lahan menolak penambangan, dan 138 pemilik lahan lainnya belum memutuskan apakah setuju atau tidak. (DW.com, 12/2/2022)
Berdasarkan keterangan dari Ditjen Sumber Daya Alam Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Wadas sendiri memiliki potensi tambang batu andesit sebesar 8,5 juta meter kubik. Batu hasil dari penambangan inilah yang rencananya akan dijadikan sebagai bahan material pembangunan Bendungan Bener yang sudah direncanakan sejak 2018 silam, dan akan mulai direalisasikan pada tahun 2023 mendatang.
Sementara Bendungan Bener merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang akan menjadi pemasok kebutuhan air ke Bandara yang baru diresmikan Presiden Joko Widodo tahun 2020 yang lalu, Yogyakarta International Airport (YAI), di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Dalam rancangannya, bendungan ini direncanakan akan memiliki volume 100,94 meter kubik, mampu mengurangi debit banjir 210 meter kubik per detik, menyediakan pasokan air baku 1,60 meter per detik, dan menghasilkan listrik sebesar 6 MW. (Kompas.com, 9/2/2022)
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/02/17/wadas-dikuras-penguasa-culas/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Pandemi Tetap Awet dengan Penanganan ala Kapitalisme
Oleh. Julfaningsih, S.PdI
Voice over talent: Giriyani
NarasiPost.Com-Juru Bicara Nasional Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, mengingatkan agar masyarakat menunda perjalanan ke luar negeri untuk mencegah penularan Covid-19 varian Omicron. “Salah satu peran kunci masyarakat dalam mencegah meluasnya penularan Covid-19 adalah dengan menunda perjalanan ke luar negeri yang tidak mendesak,” kata Wiku dalam konferensi pers daring di Jakarta, Kamis, 20 Januari 2022. Kalaupun terpaksa ke luar negeri, wajib menjalani karantina terpusat saat kembali ke Indonesia. (Tempo.co)
Tak bisa dipungkiri, pandemi Covid-19 di dunia dan khususnya di Indonesia sampai saat ini belum juga berakhir. Berbagai varian baru terus bermunculan akibat dari keganasan virus ini, dan sekarang yang sedang merebak adalah Covid-19 varian Omicron. Pada saat ini, Omicron sudah menjadi ancaman baru bagi kelangsungan hidup manusia karena lebih cepat menular meskipun dalam gejala yang ringan. Dan jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat maka bukan tidak mungkin virus ini akan banyak memakan korban jiwa.
Di Indonesia sendiri untuk jumlah kasus Omicron kian hari kian bertambah sejak pertama kali diidentifikasi pada 15 Desember 2021 lalu. Berdasarkan data per 6 Februari 2022 yang baru diunggah melalui situs resmi pada Selasa (8/2), kasus Omicron di Indonesia sudah mencapai 3.779 kasus, meningkat sebanyak 618 kasus dibandingkan laporan data pada Jumat (2/2). Kasus Omicron di Indonesia juga sudah menjadi transmisi lokal dan menyebar di 18 provinsi. (CNN Indonesia)
Akibat dari bertambahnya kasus Omicron di negeri ini, warga yang berada di sekitar Jakarta sekarang sudah mulai merasakan kesulitan mencari rumah sakit untuk melakukan perawatan. Karena tingkat keterisian bed di rumah sakit sudah mencapai 45 persen. Dan bukan tidak mungkin lonjakan kasus Omicron akan terus terjadi mengingat kegiatan masyarakat belum dibatasi secara total dan PTM pun masih berlanjut di berbagai wilayah.
Strategi Penanganan Wabah ala Kapitalis
Sejalan dengan itu, untuk mengatasi dan menghadapi lonjakan kasus Omicron, pemerintah telah melakukan upaya pencegahan dengan strategi kebijakan pengetatan karantina, terus menggencarkan vaksinasi dan mengimbau kepada masyarakat agar tidak bepergian dulu ke luar negeri kecuali dalam keadaan yang mendesak, misalnya perjalanan untuk berobat. Selain itu, pemerintah juga sudah menyiagakan 1.011 rumah sakit dan 82.168 tempat tidur serta jutaan stok obat-obatan untuk pasien Covid-19 dalam waktu tiga bulan ke depan.
Namun, apa pun kebijakan yang diambil oleh pemerintah saat ini sejatinya tidak akan memberikan dampak yang signifikan selama kebijakan tersebut selalu diukur dari nilai untung rugi. Pun dari awal kemunculan Covid-19, kebijakannya selalu mengalami tambal sulam, berputar pada kebijakan itu-itu saja. Tidak mampu membuahkan hasil yang optimal dan tuntas dalam memberantas penyebaran Covid di negeri ini.
Naskah selengkapnya:https://narasipost.com/2022/02/13/pandemi-tetap-awet-dengan-penanganan-ala-kapitalisme/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Anomali Hukum Demokrasi, di Manakah Keadilan yang Sesungguhnya?
Oleh. Ahsani Annajma
Voice over talent: Dewi N
NarasiPost.Com-Heboh beredar foto konvoi puluhan mobil mewah di ruas jalan tol Andara (Jakarta Selatan), menjadi sorotan publik. Rombongan tersebut sempat melakukan foto-foto di tengah perjalanan, sehingga menyebabkan kemacetan di sepanjang jalan (23/1). Peristiwa itu mencuat usai aparat berwenang hanya menegur dan tidak menilang rombongan mobil mewah itu.
Lagi-lagi alasan klasik terdengar, karena rombongan tersebut bersikap kooperatif dan tidak membantah. Padahal, menurut Kasat PJR Polda Metro Jaya Kompol, Sutikno, tindakan rombongan terebut dapat mengganggu pengguna jalan lain.
Melihat tindakan rombongan mobil mewah yang bersikap seenaknya dengan berhenti sejenak saat berkendara dan sempat mendokumentasikan perjalanannya, sejatinya telah melanggar ketentuan perundang-undangan yang ada. Merujuk pada ketentuan yang tertuang dalam Pasal 41 ayat 1 huruf c Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 disebutkan bahwa, pengendara roda empat dilarang berhenti selama berkendara. Ironi, ketika pelanggaran terjadi di pihak borjuis, seakan aturan berubah menjadi bisu.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/02/14/anomali-hukum-demokrasi-di-manakah-keadilan-yang-sesungguhnya/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Mempersiapkan Destinasi Terakhir Kehidupan
Oleh. Ahsani Ashri
Voice over talent: Dewi F
NarasiPost.Com-Mengarungi samudera kehidupan
Ketika saya mendengar pertama kali lirik lagu ini, terasa sekali maknanya sampai ke hati, mengingatkan kepada diri, bahwa semua manusia memiliki destinasi terakhir yang sama, yaitu kematian. Namun, ada satu hal membedakan, yaitu mati dengan keadaan sia-sia atau mati di dalam sebuah perjuangan membela agama Allah, laksana pesan yang tersirat di balik potongan lagu tersebut.
Semua manusia tentu merasakan takut ketika menghadapi kematian, terlebih kita yakin bekal kita masih kurang dalam menghadapinya. Rasa takut yang dilarang apabila rasa takut itu didasari terlalu cinta pada dunia sehingga melupakan akhirat atau dikenal dengan istilah penyakit al-wahn. Apa itu al-wahn? penyakit ini telah diisyaratkan oleh Nabi Muhammad saw. dalam sabdanya yang sahih, dari Tsauban, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda,
“Hampir-hampir umat-umat (kafir) menyeru untuk menguasai kalian (umat Islam) sebagaimana mereka memperebutkan makanan yang berada di dalam piring’.Seorang laki-laki berkata,‘Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit?’ Beliau menjawab, ‘Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di lautan. Sungguh, benar-benar Allah akan mencabut rasa takut dari dada musuh kalian, dan akan menanamkan ke dalam hati kalian al-wahn’. Seseorang lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa itu al-wahn?’ Beliau menjawab, ‘Cinta dunia dan takut mati,” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud)
Frozen Embrio Transfer, antara Solusi atau Polusi
Oleh. Ita Harmi
Voice over talent: Dewi N
NarasiPost.Com-Pasangan mana yang tidak ingin memiliki anak? Mungkin hanya segelintir orang yang tidak menginginkannya seperti para pengusung childfree yang baru-baru mencuat belakangan ini. Tampak sekali mereka hanya mengutamakan kesenangan pribadi dan ragawi semata, namun minus komitmen dan tanggung jawab. Normalnya, naluri kasih sayang yang dimiliki oleh manusia akan menginginkan anak-anak dalam kehidupan rumah tangganya. Apalagi bagi seorang muslim. Anak bukan hanya sekadar pelengkap kehidupan duniawi, tapi sekaligus memiliki nilai investasi ukhrawi. Hanya doa anak yang saleh yang akan memadamkan murka Allah atas kedua orang tuanya. “Apabila seseorang meninggal dunia maka amalnya terputus kecuali karena tiga hal; sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya. “ (HR. Ahmad, Muslim, dan Abu Dawud)
Namun, bagaimana bila yang dinanti tak jua kunjung hadir ke pangkuan suami istri? Tak sedikit memang pasangan yang bahkan sudah menikah bertahun-tahun tapi belum juga dikaruniai momongan. Tentu saja ini akan menjadi beban pikiran tersendiri bagi mereka. Belum lagi tekanan dari pihak masing-masing keluarga dan juga perbincangan para tetangga.
Dulu, bila manusia hanya bisa pasrah menerima keadaan, hari ini di saat ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang secara masif, permasalahan memiliki si buah hati bukanlah sebuah mimpi. Program fertilisasi buatan bisa menjadi salah satu solusi tepat untuk mengatasi masalah ini atau biasa dikenal dengan sebutan program bayi tabung.
Program bayi tabung atau juga dikenal dengan istilah In Vitro Fertilisation (IVF), sukses dilakukan pertama kali pada tahun 1977 oleh Steptoe dan Edwards terhadap sepasang suami istri di Manchester, Inggris. Tahun 1978, bayi tabung eksperimen pertama lahir ke dunia. Setelah itu, IVF mulai dikembangkan sebagai alternatif baru dalam usaha memiliki momongan (Wikipedia).
Sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa pasangan tokoh publik seperti para artis di Indonesia. Tren bayi tabung menjadi jalan bagi mereka untuk menghadirkan buah hati di saat mereka menghadapi kendala bertahun-tahun lamanya dengan cara alami.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/02/09/frozen-embrio-transfer-antara-solusi-atau-polusi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed