Narasipostmedia

Narasipostmedia

By NarasipostNewsDaily News
Download on the App Store

Narasipostmedia episodes

  • Di Ambung-Ambung Taji

    Di Ambung-Ambung Taji

    Oleh. Afiyah Rasyad

    (Kontributor Tetap NarasiPost.com)

    Voice Over Talent: Mels

    NarasiPost.Com-Liar sangat goncangan kehidupan

    Kapitalisme menghajar dunia penuh penderitaan
    Masygul penguasa muslim dalam ketundukan
    Jumawa di atas tahta kezaliman

    Tak ada setitik risau muncul di dada

    Suluh peradaban tak terbersit dalam kuasa
    Fatamorgana dunia mencekik kebaikan rasa
    Di ambung-ambung taji rakyat jelata menyulam asa

    Pintalan ideologi kian kusut

    Kondisi negeri dipenuhi karut-marut
    Tahun ini tetap berselimut kemelut
    Penderitaan mendera di tiap-tiap sudut

    Lihatlah…

    Lihat di sana
    Berapa banyak saudar muslim dihina-dina
    Kehormatan terkoyak kemuliaan tak terjaga
    Dalam cengkraman strategi politik adikuasa


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/12/24/di-ambung-ambung-taji/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    4 min
  • Liberalisasi Merusak Tata Pergaulan Generasi

    Liberalisasi Merusak Tata Pergaulan Generasi

    Oleh. Emil Apriani, S.Kom

    (Pemerhati Sosial dan Generasi)

    Voice Over Talent: Giriyani

    NarasiPost.Com-Betapa mengerikan kondisi pergaulan generasi muda saat ini, dan akhir-akhir ini dalam kondisi mengkhawatirkan. Permasalahan pergaulan bebas generasi muda setiap tahunnya semakin merajalela, bahkan kerap kali menjadi sorotan utama di tengah masyarakat.

    Seperti yang terjadi baru-baru ini, kasus yang cukup menyita perhatian publik. Seorang mahasiswi (NW) memilih mengakhiri hidupnya dengan menenggak racun di samping makam ayahnya pada Kamis (2/12). Hal tersebut nekat dilakukan (NW) karena merasa depresi setelah kekasihnya memaksanya untuk aborsi.

    Hal tersebut terungkap setelah pihak kepolisian melakukan pemeriksaan kepada mantan kekasihnya yang merupakan oknum polisi. Menurut Wakapolda Jawa Timur, Brigjen Pol Slamet Hadi Supraptoyo, keduanya kerap melakukan hubungan layaknya suami istri yang terjadi mulai 2020 hingga 2021. Dan selama pacaran, NW sudah dua kali melakukan tindakan aborsi. Hal itu dilakukan pada Maret 2020 dan Agustus 2021 (news.okezone.com, 05/12/2021). Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun.

    Kasus tersebut mendapat tanggapan dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPPPA), Bintang Puspayoga, beliau menyebut dalam keterangan pers tertulisnya bahwa kasus yang menimpa (NW) termasuk ke dalam kategori kekerasan dalam berpacaran atau dating violence dan setiap bentuk kekerasan adalah pelanggaran HAM (5/12/2021).


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/12/28/liberalisasi-merusak-tata-pergaulan-generasi/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Jebakan Narasi Moderasi Beragama

    Jebakan Narasi Moderasi Beragama

    Oleh. Zidniy Ilma

    Voice Over Talent : Armina A

    NarasiPost.Com-Agenda besar moderasi beragama yang dikampanyekan oleh rezim hari ini tampaknya semakin masif dilakukan. Penguatan pemahaman moderasi beragama ala penguasa kepada masyarakat masuk ke segala lini. Mulai dari sekolah menengah, perguruan tinggi, ASN, hingga tokoh-tokoh agama. Lalu apa sebenarnya maksud dan tujuan diadakannya penyuluhan-penyuluhan moderasi beragama ini?

    Upaya Mengarusderaskan Agenda Moderasi Beragama

    Dalam salah satu webinar di Jakarta, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Amany Lubis, mengatakan bahwa moderasi beragama berbeda dengan moderasi agama. Dia mengartikan moderasi agama adalah memoderatkan agama dan itu jelas tidak boleh. Sedangkan moderasi beragama adalah memoderatkan cara beragama, maka itulah yang harus kita lakukan. Memoderatkan cara beragama yang dia maksudkan adalah Islam wasathiyah, yakni Islam yang tidak ekstrem, Islam yang memiliki prinsip fleksibel dalam hukum-hukumnya. Jelas ini merupakan pernyataan yang keliru.

    Sebelum membahas lebih jauh tentang bahayanya moderasi beragama, terlebih dahulu akan dibahas upaya penguasa dalam mengarusderaskan agenda moderasi beragama ini. Beberapa hari yang lalu, sejak tanggal 30 November sampai dengan 3 Desember 2021 diadakan penyuluhan moderasi beragama bagi stokeholder angkatan pertama. Penyuluhan ini diikuti oleh 60 orang dari unsur ASN Kanwil, Penyuluh Kemenag kabupaten /kota, dan Kesbangpoldagri. Diawali dengan pembukaan dari Kakanwil Kemenag NTB, Dr. M. Zaidi Abdad, sampai penyampaian dari Ketua Panitia, Kasubag Ortala dan KUB, Muhammad Salim. Workshop penyuluhan yang diadakan di Lombok Barat ini bertujuan untuk mempercepat sosialisasi pemahaman moderasi beragama di tengah-tengah masyarakat. ASN yang dianggap memiliki pengaruh besar dalam masyarakat karena kedudukannya yang strategis, diharapkan bisa menyukseskan agenda ini.


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/12/17/jebakan-narasi-moderasi-beragama/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • Khilafah Solusi Negeri (Degradasi Moral)

    Khilafah Solusi Negeri(Degradasi Moral)

    Oleh. Dia Dwi Arista

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent : Giriyani

    NarasiPost.Com-Membicarakan masalah degradasi moral dalam sistem kapitalisme memang tidak akan ada habisnya. Derasnya arus modernisasi, berbanding lurus dengan tingginya degradasi moral. Begitu pula yang terangkum dalam bergulirnya masa hingga tiba di penghujung 2021, modernisasi berkembang dengan pesat, teknologi yang semakin canggih, memberikan ruang bebas bervirtual bagi siapa saja. Bahkan, transaksi pun terjalin dengan mudah, semudah tarian jari di layar touchscreen. Adanya globalisasi bagai pisau bermata dua. Tak hanya memberikan manfaat, namun dampaknya pun juga tak main-main.

    Ditambah dengan adanya pandemi selama dua tahun, mengakibatkan penggunaan media sosial semakin tinggi. Berakhir pada lebih seringnya berkomunikasi secara virtual daripada secara langsung. Ketika bervirtual, terkadang moral ditinggalkan, berbeda jika berinteraksi secara langsung, ada norma kesopanan yang akan terus terjalin, apalagi jika berkomunikasi dengan yang lebih tua.

    Globalisasi dituding sebagai penyebab degradasi moral yang mengancam eksistensi norma kesopanan. Sebab, modernisasi yang telah mendunia berasal dari Barat yang nilai-nilai kebebasannya sungguh sangat kebablasan. Sekularisme yang menjadi asas kehidupan mereka, menuntut kebebasan mutlak bagi individu. Sehingga, sebagian besar dari warganya terbiasa dengan kehidupan serba bebas, tanpa terikat dengan norma kemasyarakatan. Dan paham kebebasan inilah yang terus mereka iklankan ke seluruh dunia.

    Ideologi kapitalisme yang memakai asas sekularisme, akan terus digencarkan hingga seluruh penduduk dunia memiliki pemikiran dan perilaku yang sama. Hasilnya, negeri-negeri pengikut akan mudah dikuasai, sebab sumber daya manusianya telah terinfeksi paham sekuler dan liberal. Terbiasa berpikiran bebas, akan sangat mudah untuk menanggalkan moralitas yang selama ini dibangun oleh keluarga.


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/12/25/khilafah-solusi-negeridegradasi-moral/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Ilusi Keadilan, Kapitalisme Biang Kesengsaraan

    Ilusi Keadilan, Kapitalisme Biang Kesengsaraan

    Oleh. Afiyah Rasyad

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent : Armina A

    NarasiPost.Com-“Apakah sekarang

    Berlaku lagi hukum rimba
    Golongan yang kuat
    Menindas golongan yang lemah
    Segelintir orang
    Yang haus akan kekuasaan
    Membuat dunia
    Penuh penderitaan”

    “Hentikanlah penindasan

    Hentikanlah kezaliman
    Kapan kiranya akan tegak keadilan?”

    Lirik lagu Serakah H. Rhoma Irama seakan menguliti sistem peradilan yang ada di negeri ini. Keadilan dalam lembaga hukum peradilan kian susah dijumpai. Benar dan salah seakan tak ada pembeda yang pasti. Peradilan seolah hanya sebuah ilusi.

    Kapitalisme Menjauhkan Keadilan, Datangkan Kesengsaraan

    Duhai, betapa susah keadilan dijumpai di negeri pertiwi. Padahal, jargon negara hukum tersemat pada negeri kaya ini. Keadilan hanya seperti alat transaksi jual beli. Peradilan seakan menjadi lembaga lelucon dalam memutuskan perkara yang terjadi.

    Syahdan, sebuah perkara seorang kakek tua yang harus mendekam dalam jeruji. Dia dijebloskan ke dalam tahanan dengan tuntutan selama dua tahun tersebab membela diri dari aksi pencuri. Kasus Mbah Minto menyita perhatian masyarakat. Ia menjadi pesakitan usai membacok seorang pencuri ikan. Dia mengaku nekat membacoknya karena ingin membela diri (kumparan.com, 29/11/2021).

    Upaya permohonan restorative justice dilakukan, namun sayang permohonan itu ditolak. Ada apa gerangan? Ternyata kasus Mbah Minto terkategori kasus penganiayaan yang berat. Sementara laporan kasus pencurian didapatkan oleh Polres Demak sebulan setelah Mbah Minto ditetapkan sebagai tersangka pembacokan (CNNIndonesia, 30/11/2021).

    Motif bela diri si kakek ternyata masuk kategori penganiayaan dalam sistem hukum saat ini. Sementara kasus pencurian sepertinya tidak ditelusuri karena laporan baru disampaikan sebulan kemudian. Sungguh memprihatinkan nasib orang yang hendak membela diri dari kejahatan ternyata harus menerima ganjaran jeruji besi. Sungguh memilukan, proses pengusutan kasus ini sebagai proses hukum sepertinya belum tuntas. Penulusurannya tak sampai pada titik sebab akibat kenapa Mbah Minto berani membacok untuk membela diri.


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/12/10/ilusi-keadilan-kapitalisme-biang-kesengsaraan/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    9 min
  • Istikamah Wujudkan Resolusi Tahun Baru? Why Not!

    Istikamah Wujudkan Resolusi Tahun Baru? Why Not!

    Oleh.Renita

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent : Giriyani

    NarasiPost.Com-Hello, Guys. Lagi pada ngapain nih? Nggak terasa ya sekarang kita sudah berada di penghujung bulan di tahun 2021 ini. Hmm… biasanya nih kalau udah akhir tahun gini, orang-orang tuh ramai membahas tentang resolusi tahun baru. Ngomongin soal resolusi, gimana nih kalian udah punya resolusi belum? Kalo belum, coba deh mulai buat resolusi supaya kita punya target yang jelas dalam menjalani hari-hari kita di tahun yang baru. Hehee…

    Resolusi untuk Kebaikan

    Guys, seperti kita tahu nih, resolusi itu adalah janji yang dibuat pada diri sendiri untuk memulai sesuatu yang baik dan menghentikan kebiasaan buruk mulai dari hari pertama di tahun baru. Kedengarannya bagus banget ya, dengan adanya resolusi ini tentu bisa memacu kita untuk membuat target menjadi lebih baik, ya kan! Nah, pastinya banyak banget ya, Guys, orang yang pengen hidupnya jauh lebih baik dari sebelumnya. Nggak mau kan ya, hidupnya gini-gini aja, nggak ada perubahan alias jalan di tempat. Huft… Apalagi, kalau sampai menjadi pribadi yang lebih buruk. Naudzubillah.

    Guys, biasanya nih target orang-orang di tahun baru tuh di antaranya, ingin menjadi pribadi yang lebih baik dalam hal ibadah, dalam penampilan, lebih rajin mengkaji Islam, ingin menambah hafalan Al-Qur’an, lebih bermanfaat untuk lingkungan sekitar dan lainnya. MasyaaAllah keren banget ya. Tentunya target kebaikan itu harus jadi impian kita dong? Setuju nggak? Nah, gimana nih dengan kalian? Apa resolusi yang kalian udah targetkan untuk tahun 2022? Jangan sampai nggak punya target apa pun di tahun yang baru. hehehe..

    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/12/29/istikamah-wujudkan-resolusi-tahun-baru-why-not/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • Sisi Negatif di Balik Kesuksesan Film Yuni

    Sisi Negatif di Balik Kesuksesan Film Yuni

    Oleh. Ageng Kartika

    Voice Over Talent : Dewi N

    NarasiPost.Com-Perfilman di Provinsi Banten berbangga hati karena film dengan judul Yuni mendapat apresiasi berupa penghargaan Platform Prize di Toronto International Film Festival 2021 pada Minggu (19/9). Telah tayang perdana di bioskop-bioskop Indonesia pada 9 Desember 2021, setelah penayangan di sejumlah festival film internasional (Kompas.com, 9/12).

    Mengangkat cerita tentang remaja yang dipaksa untuk menikah ketika usia sekolah di sebuah desa di Serang, Banten. Berbagai alasan menuntut Yuni sebagai perwakilan remaja tersebut untuk menikah dini, antara lain faktor ekonomi, menjaga martabat keluarga, dan menghindari hamil di luar nikah yang dianggap membawa aib keluarga. Akhirnya Yuni bangkit melawan tekanan keluarga dan masyarakat sekitar dengan caranya sendiri.

    Inilah wujud patriarki yang dianut masyarakat dari dahulu hingga sekarang, terkhusus di daerah-daerah. Kentalnya ketaatan akan agama dan budaya timur menjadi alasan diterapkannya pernikahan dini, berikut kepatuhan anak terhadap orang tua dan istri terhadap suami. Tetapi sering kali penerapannya salah kaprah. Yang tampak justru kediktatoran atas kekuasaan orang tua terhadap anaknya atau suami terhadap istrinya.

    Perempuan ditempatkan untuk tidak memilih ambisinya mencapai cita-cita demi kebaikan di dalam keluarga dan lingkungan sekitar. Dan ketaatan istri dibalas dengan kesewenang-wenangan suami dalam memperlakukannya di dalam rumah. Akhirnya, menikah dini seperti mimpi terburuk bagi para gadis yang menginginkan kebahagiaan dalam berkeluarga.

    Sayangnya, salah satu wujud aktualisasi perlawanan Yuni terhadap pemikiran patriarki dan tuntutan lingkungan desa untuk menikah dini adalah melalui adegan hubungan di luar nikah atas dasar persetujuan dari Yuni sendiri. Hal ini dianggap sebagai bentuk pengendalian atas dirinya agar terbebas dari tuntutan ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender yang mendarah daging terutama di desanya.

    Tentu saja perlawanannya dari ketidakadilan ini bukan dengan persetujuan atas hubungan yang dilarang agama dan merusak tatanan sosial yang masih menjunjung tinggi norma agama di tengah masyarakat. Apabila remaja-remaja pencinta film memaknainya dengan menyetujui bentuk persetujuan atas tubuh sendiri walaupun merusak masa depannya, tentu ini menjadi bumerang bagi perlawanan atas patriarki tersebut. Seharusnya, film ini meniadakan adegan yang justru merusak pola pikir generasi perempuan. Bagaimanapun sekarang para generasi telah dirusak oleh pergaulan bebas yang semakin hari semakin memprihatinkan.

    Sistem yang sedang mencengkeram pemahaman generasi bangsa yaitu sekularisme (pemisahan aturan agama dari kehidupan), kapitalisme, dan liberalisme menjadi landasan dalam membuat film yang mampu bersaing di kompetisi internasional. Cerita dibuat selain mewakili visi yang diemban atas kebebasan dalam mewujudkan pemikiran (liberalisasi), Yuni juga menjadi agen dalam menampilkan wujud sekuler pada perlawanan atas tuntutan sosial di film tersebut. Tentu saja isi cerita yang ditampilkan mengikuti kemauan pasar penikmat film, agar mampu meraup keuntungan besar

    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/12/23/sisi-negatif-di-balik-kesuksesan-film-yuni/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    9 min
  • Perjuangan Kaum Feminis, Benarkah Memuliakan Perempuan?

    Perjuangan Kaum Feminis, Benarkah Memuliakan Perempuan?

    Oleh. Athiefa Dienillah

    Voice Over Talent : Giriyani

    NarasiPost.Com-Menurut artikel di yayasanpulih.org tentang “Feminis dan Perjuangan Kesetaraan Gender”, dinyatakan bahwa feminis bukanlah gerakan perempuan pembenci laki-laki, perempuan melawan suami ataupun perempuan yang terpengaruh pemikiran Barat yang anti pada agama. Anggapan yang dianggap negatif dan terlalu menghakimi perempuan. Padahal feminisme adalah gerakan yang dilandasi kesadaran untuk mengubah keadaan perempuan agar tidak lagi mengalami diskriminasi, kekerasan, eksploitasi, dan penindasan.

    Ketidakadilan terhadap perempuan, tetap masih dirasakan hingga saat ini, terutama dalam beberapa hal;

    1. Stigma Negatif pada Perempuan.
    2. Anggapan bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah dan emosional membuat perempuan dianggap tidak layak menduduki posisi strategis di sektor publik, baik dalam struktur pemerintahan ataupun swasta. Di tengah masyarakat seolah telah tercipta pembagian peran sosial yang tidak adil bagi perempuan.

      1. Pendidikan yang Terbatasi.
      2. Anggapan di tengah masyarakat, bahwa perempuan setelah menikah hanya akan di rumah saja mengurusi anak dan suami, membuat para perempuan kurang termotivasi dalam meraih gelas S2 dan S3 dalam pendidikan. Akibatnya, tentu saja perempuan sulit menjadi pendidik di perguruan tinggi.

        1. Sulit Mandiri dalam Kehidupan Ekonomi.
        2. Peran perempuan setelah menikah yang dibatasi sebagai ibu dan pengatur rumah tangga membuat perempuan menjadi sosok yang tidak berdaya, secara ekonomi tidak mandiri dan harus bergantung pada laki-laki.


          Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/12/29/perjuangan-kaum-feminis-benarkah-memuliakan-perempuan/

          Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

          Follow us on:https://narasipost.com/2021/12/29/perjuangan-kaum-feminis-benarkah-memuliakan-perempuan/

          instagram: http://instagram.com/narasipost

          Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

          Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

          Twitter: Http://twitter.com/narasipost

          11 min
        3. TOBAT

          TOBAT

          Oleh. Aya Ummu Najwa

          Voice Over Talent: Mels

          NarasIPost.Com-Bersimpuh dalam sujud panjangku

          Luruh dalam ratap sesalku
          Atas setiap khilaf salahku
          Atas setiap lumpur noda dalam hidupku

          Bersujudku dalam malam-malamku

          Mengharap simpati sang pemilik kalbu
          Masihkah ada pengampunan untukku
          Sedang diri penuh dosa melaut biru

          Lagi dan lagi kuterjerembab

          Dalam kubangan lumpur maksiat
          Padahal sering kumengaku bertobat
          Namun terus kuterperosok dalam lorong gelap

          Dalam gemerlap dunia aku alpa

          Dalam panjangnya angan kuterlena
          Padahal kematian senantiasa mengintai
          Tapi bodohnya diri masih sering lalai


          Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/12/25/tobat/

          Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

          Follow us on:

          instagram: http://instagram.com/narasipost

          Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

          Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

          Twitter: Http://twitter.com/narasipost

          4 min
        4. Potret Pilu Muslim Anak Benua, Derita Umat yang Tak Berjunnah

          Potret Pilu Muslim Anak Benua, Derita Umat yang Tak Berjunnah

          Oleh. Rosmiati

          Voice Over Talent : Giriyani

          NarasiPost.Com-Umat Islam di Distrik Gurugram Haryana India mendapat larangan untuk menunaikan salat Jumat di lokasi yang bahkan telah ditentukan oleh otoritas pemerintah setempat dari kelompok Hindu sayap kanan. Dengan dalih, banyak penduduk sekitar yang keberatan. (telisik.id, 09/12/2021)

          Larangan beribadah bagi kaum muslimin ini tentu bukanlah yang pertama. Semenjak partai Hindu Bharatiya Janata Party (BJP) pimpinan pemerintah berkuasa, setidaknya sudah terjadi beberapa kali tragedi pilu melanda umat Islam di beberapa negara bagian di India. Dan umat Hindu sayap kanan inilah yang tampil sebagai pelopor setiap aksi tersebut.

          Dilansir dari ihram.com (18/11/2021), polisi bahkan menangkap beberapa pekerja dari kelompok Hindu sayap kanan di lokasi yang sama, setelah mereka mencoba mengganggu kaum muslim yang tengah beribadah. Bahkan kelompok Hindu sayap kanan ini berani mengancam pihak keamanan jika tidak segera menutup izin salat Jumat, mereka akan berjalan sendiri melakukan tindakan. (Republika.co.id, 05/11/2021)

          Dan akhirnya pada 2 November lalu, pemerintah sendiri telah mencabut izin salat Jumat di delapan dari 37 lokasi. Karena massifnya laporan keberatan dari penduduk sekitar. Tak hanya itu, serangan kekerasan terhadap muslim juga telah terjadi di negara bagian Tripura pada bulan lalu. Toko-toko kaum muslimin serta tempat ibadah dirusak oleh kalangan radikal Hindu.

          Menurut Asosiasi Perlindungan Hak Sipil, setidaknya 16 masjid dirusak dan rumah serta toko milik muslim dibakar. Kelompok itu mengatakan setidaknya ada 27 insiden massa sayap kanan yang dikonfirmasi menyerang masjid, rumah, dan individu di wilayah muslim. (Ihram.com, 18/11/2021)

          Malang nian nasib muslim di anak benua. Mengapa bisa terjadi?

          Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/12/23/potret-pilu-muslim-anak-benua-derita-umat-yang-tak-berjunnah/

          Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

          Follow us on:

          instagram: http://instagram.com/narasipost

          Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

          Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

          Twitter: Http://twitter.com/narasipost

          8 min

        About Narasipostmedia

        From the publisher's feed

        Audio tentang sastra, opini, surat pembaca motivasi, food dan sebagainya dari karya-karya para penulis ideologis yang naskahnya publish di media www.narasipost.com