
Sign up to save your podcasts
Or


Mencapai Target Net Zero Emission, Cukupkah dengan Pajak Karbon?
Oleh.Renita
Voice Over Talent: Giriyani
NarasiPost.Com-Wacana perubahan iklim tengah menjadi isu seksi yang diperbincangkan di dunia internasional. Bagaimana tidak, eksploitasi kekayaan SDA energi ala kapitalis nyatanya menimbulkan ancaman mengerikan bagi lingkungan. Masifnya pembakaran energi fosil telah menstimulasi emisi gas rumah kaca yang berimbas pada pemanasan global. Demi membenahi masalah tersebut, akhirnya pemerintah menggulirkan pemberlakuan pajak karbon bagi perusahaan batu bara di negeri ini.
Sebagaimana diwartakan dari beritasatu.com (8/10/2021), mulai April tahun depan, sektor PLTU batu bara akan dikenai pajak karbon secara bertahap. Beleid ini termaktub dalam Rancangan Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP) yang telah selesai digodok pada Sidang Paripurna hari kamis (7/10). Yasonna Laoly selaku Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM), mengungkapkan bahwa mekanisme pajak karbon akan diberlakukan pada batas emisi sesuai cap dan tax dengan tarif Rp30 per kilogram karbon dioksida ekuivalen (CO2e). Program ini merupakan irisan dari roadmap green economy yang disejajarkan dengan carbon trading dalam rangka mengurangi emisi karbon, namun tetap memberi iklim yang nyaman bagi dunia usaha. Adanya regulasi tersebut seolah mempertegas keseriusan pemerintah dalam menangani problem perubahan iklim yang kian mengkhawatirkan. Pemerintah juga diklaim sebagai pioner pertama pajak karbon di dunia yang berasal dari negara ekonomi baru. Namun, akankah pemberlakuan pajak ini benar-benar dapat merealisasikan target net zero emission? Bagaimanakah cara Islam mengelola SDA melimpah dalam rangka kemaslahatan masyarakat?
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/22/mencapai-target-net-zero-emission-cukupkah-dengan-pajak-karbon/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Wakil Rakyat (Kembali) Terlibat Suap
Oleh. Deena Noor
Voice Over Talent: Fani R
NarasiPost.Com-Korupsi dan suap-menyuap seolah menjadi tabiat pejabat di sistem demokrasi kapitalisme sekuler. Ia menjadi penyakit bawaan sistem cacat ini yang susah untuk disembuhkan. Bisa dikatakan bahwa mustahil untuk menghilangkannya, kecuali bila sistemnya yang diberantas.
Penyalahgunaan jabatan dan tindakan melanggar hukum yang dilakukan oleh pejabat negeri ini seolah tiada pernah berhenti. Penangkapan Wakil Ketua DPR, Azis Syamsuddin, menjadi bukti ke sekian kalinya. Dia ditangkap oleh KPK karena kasus suap penanganan perkara dana alokasi khusus (DAK) di Lampung Tengah. Azis kini ditahan di rutan Polres Jakarta Selatan selama 20 hari ke depan, yakni hingga 13 Oktober 2021. (newsdetik.com, 25/9/2021)
Azis Syamsuddin ditangkap karena menyuap eks penyidik KPK, Stepanus Robin Patuju, dalam kasus jual beli jabatan yang melibatkan Wali Kota Tanjung Balai, M. Syahrial. Penyuapan tersebut agar penyelidikan terhadap dugaan korupsi yang terjadi di pemerintahan kota (Pemkot) Tanjung Balai tidak dilanjutkan tingkatannya oleh KPK. (liputan6.com, 25/9/2021)
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/09/30/wakil-rakyat-kembali-terlibat-suap/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Saat Iblis Menolong sang Muazin, Abdullah bin Ummi Makhtum
Oleh. Novida Sari, S.Kom.
Voice Over Talent: Maya R
NarasiPost.Com-Abdullah bin Ummi Makhtum merupakan salah satu sahabat Nabi Muhammad saw. yang menyandang disabilitas. Ia menjadi penyebab salah satu turunnya wahyu yang terekam pada surat ‘Abasa. Karena pada waktu itu, Abdullah datang tiba-tiba meminta izin untuk menanyakan satu hal kepada Rasulullah saw., namun Rasulullah saw. sempat tidak menghiraukannya karena sedang berbicara dengan pemuka Quraisy.
Setelah ditegur langsung oleh Allah Swt. perihal ini, maka Rasulullah saw. pun memanggil Abdullah bin Ummi Makhtum. Rasulullah saw. menerangkan terkait dengan turunnya wahyu itu kemudian mengajarkan Abdullah bin Ummi Makhtum akan hal-hal yang ingin ditanyakannya. Hingga pada akhirnya Abdullah bin Ummi Makhtum masuk Islam. Sejak saat itu, Rasulullah saw. memuliakan Abdullah bin Ummi Makhtum. Bahkan, ia menjadi orang kepercayaan Rasulullah saw. Setiap kali Rasulullah saw. melakukan safar ke medan perang, maka Rasullullah mengangkat Abdullah bin Ummi Makhtum untuk menjadi wali sementara di kota Madinah selama Rasul safar. Selain itu, Rasulullah saw. juga menunjuknya menjadi muazin selain sahabat Bilal bin Rabah.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/12/saat-iblis-menolong-sang-muazin-abdullah-bin-ummi-makhtum/#comment-568
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Fenomena ‘Kutu Loncat’ Parpol, Isyarat Politik Demokrasi Penuh Kepentingan?
Oleh.Renita
Voice Over Talent: Dewi F
NarasiPost.Com-Fenomena ‘pindah ke lain hati’ bukanlah hal yang asing dalam sepak terjang partai politik di Indonesia. Betapa banyak kita lihat ulah para politikus yang menjelma bak ‘kutu loncat’. Dulu memutuskan untuk berseberangan, sekarang malah bermesraan dengan rival politiknya. Inilah yang terjadi pada Partai Amanat Nasional setelah pertemuannya dengan Presiden Joko Widodo. PAN yang berstatus oposisi akhirnya mantap untuk merapat ke dalam partai koalisi pemerintah.
Sebagaimana diwartakan nasional.tempo.co (31/8/2021), Partai Amanat Nasional memutuskan untuk bergabung dalam koalisi pemerintahan Joko Widodo setelah pertemuan yang diadakan Presiden Jokowi dengan para petinggi PAN dan para petinggi sejumlah parpol koalisi pemerintah, yakni PDI Perjuangan, Golkar, Gerindra, Nasdem, dan PPP. Alhasil, partai oposisi hanya tersisa Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Demokrat. Aroma reshuffle kabinet pun terendus setelah pertemuan ini. Namun, pihak koalisi membantah kabar tersebut, mereka mengatakan pertemuan tersebut hanya membahas terkait perkembangan penanganan Covid-19, ketatanegaraan, persoalan makro ekonomi, juga ibu kota negara baru.
Keputusan PAN untuk bergabung dengan koalisi pemerintah dinilai sebagai sesuatu yang tak mengejutkan. Pasalnya, selama ini PAN terlihat seperti ‘oposisi oplosan’ meskipun berada di luar pemerintah, namun parpol berlambang matahari itu kerap kali mendukung kebijakan pemerintah. Namun, apakah koalisi ini akan berdampak pada konstelasi politik nasional? Akankah kekuasaan pemerintah semakin melenggang dengan adanya koalisi ini?
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/09/12/fenomena-kutu-loncat-parpol-isyarat-politik-demokrasi-penuh-kepentingan/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Anak Bunuh Ibu Kandung : Kapitalis Sistem Bengis, Lahirkan Generasi Sadis
Oleh.Renita
Voice Over Talent: Giriyani
NarasiPost.Com-“Surga itu di bawah telapak kaki ibu”. (HR. Ahmad, An-Nasaai, Ibn Maajah dan Al-Hakim)
Hadis di atas mengungkapkan betapa mulianya kedudukan seorang ibu. Seorang anak yang menginginkan surga diwajibkan untuk menaati dan berbakti kepada ibunya. Sayangnya, hal ini tak terjadi pada anak di bawah asuhan sistem kapitalis. Bukannya memuliakan, sang anak justru menghilangkan nyawa ibunya dengan sadis.
Sebagaimana diwartakan dari kompas.com (21/9/2021), seorang remaja putus sekolah berinisial MF (17) telah menghilangkan nyawa ibu kandungnya, setelah sebelumnya terlibat cekcok di rumahnya di Desa Singorojo, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. AKP M Fachrur Rozi selaku Kasat Reskrim Polres Jepara, mengungkapkan hasil pemeriksaan medis, diketahui korban meninggal dunia setelah ditikam menggunakan sebilah pisau dapur. Dari hasil visum didapati luka memar pada jasad korban bekas dihantam putranya. Motif pembunuhan dilandasi oleh kekesalan pelaku pada korban karena sering dimarahi dan menyebut dirinya seorang pengangguran yang hanya bisa makan, tidur dan nonton televisi.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/07/anak-bunuh-ibu-kandung-kapitalis-sistem-bengis-lahirkan-generasi-sadis/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Istirahatlah Sebentar, Bu
Oleh. Deena Noor
Voice Over Talent: Arien S
NarasiPost.Com-Assalamu’alaikum, Bu? Apa kabarmu hari ini? Apakah engkau tengah sibuk di dapur dengan peralatan tempurmu? Ataukah sedang mencuri-curi waktu untuk menulis sambil menemani buah hati? Atau mungkin kau tengah memacu motor matic mengantarkan putra-putrimu yang kini mulai PTM di sekolah? Atau barangkali kau sedang asyik mencatat apa yang disampaikan pak ustaz dalam kajian online?
Ataukah engkau tengah berbaring di ranjang karena sakit memaksamu meninggalkan semua tugas sementara waktu? Ataukah mungkin kau sedang menangis tersedu dalam sujud panjang di hadapan Rabb-mu?
Salam takzimku padamu, Ibu. Semoga Allah memberikan kesehatan yang paripurna selalu untukmu. Semoga kebahagiaan senantiasa mewarnai hari-harimu.
Ibu, engkau sungguh luar biasa. Dalam sehari, entah berapa banyak pekerjaan yang kau lakukan. Lebih dari 20 jam waktumu bergerak ke sana ke mari mengerjakan ini dan itu. Terkadang kantuk menyerang di tengah aktivitasmu. Bukan karena kau malas, terlalu banyak makan atau menganggur, melainkan waktu tidur yang amat kurang tak mampu mencegah lelah pada tubuh.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/21/istirahatlah-sebentar-bu/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Ideologi Tak Pernah Punah
Oleh. Yeni Marlina, A.Ma
Voice Over Talent : Giriyani
NarasiPost.Com-Ketakutan akan bangkitnya kembali Komunis di Indonesia bukan tanpa alasan. Rakyat Indonesia punya sejarah kelam masa lalu, betapa bengisnya kelompok ini. Partai Komunis Indonesia (PKI) telah merenggut banyak nyawa dan tragedi penuh darah. Wajar jika geliat yang sama, dikhawatirkan akan bangkitnya kembali Komunis di Indonesia, sementara kapitalis tetap eksis. Lalu mana yang lebih berbahaya? dan mana di antara keduanya yang harus diwaspadai.
Komunis atau Sosialis adalah sebuah ideologi, sama halnya dengan Kapitalis, begitu juga Islam. Sebab di dunia ini ada tiga ideolagi ( mabda). Mabda adalah sebuah keyakinan atau aqidah aqliyah yang melahirkan peraturan untuk memecahkan dan mengatasi berbagai problematika hidup manusia, menjelaskan bagaimana pelaksanaannya serta tata cara menyebarkannya. Inilah tabiat sebuah mabda/ideologi.
Ketiga ideologi ini memiliki perbedaan dari berbagai aspek, baik dari aspek mendasarnya yaitu akidah, sumber hukum yang digunakan, cara pandang terhadap kehidupan dan bagaimana tata cara menyebarkan mabdanya masing-masing.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/05/ideologi-tak-pernah-punah/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Lamaran Meriah, Kok Tak Sesuai Syariah?
Oleh. Messy Ikhsan
Voice Over Talent: Fani R
NarasiPost.Com-Hello, Guys! Kalian pada tahu yang lagi ramai di jagat maya. Yups, perihal lamaran salah satu publik figur yang begitu meriah dan bahkan disiarkan oleh televisi nasional, loh. Waw, daebak! Siapa sih yang tidak mau hari bahagianya menjadi inspirasi banyak orang? Siapa sih yang tidak mau hari bahagianya juga menjadi hari bahagia orang lain? Pasti pada mau banget dong, ya.
Akan tetapi, bagaimana kalau apa yang kita lakukan malah menuai kontroversi dan membuat masyarakat jadi bingung? Bingung, apakah yang dilakukan oleh si publik figur itu baik dan sesuai syariat atau malah sekadar ikutan tren yang ada? Sebab, apa yang dilakukan oleh sang idola sedikit banyak pasti ditiru oleh para pengemarnya. Ini tentu membuka peluang dosa jariah yang luar biasa. Betul apa benar, Guys?
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan perihal perayaan acara pernikahan yang meriah dan super mewah selama sesuai standar syariat. Akan tetapi, sebelumnya sudah terikat ijab qabul dan sah di mata Allah Ta’ala. Masalahnya ini masih dalam tahap lamaran dan belum ijab qabul, eh… sudah publikasi sana-sini. Sudah pamer konten uwu yang bisa membuat netizen baper dan meraung-raung ke udara.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/06/lamaran-meriah-kok-tak-sesuai-syariah/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Pernikahan Dini, Akibat Kebebasan Berekspresi
Oleh : Ira Rahmatia
Voice Over Talent: Dewi F
NarasiPost.Com-Pernikahan anak semakin marak terjadi selama pandemi. Hal ini memberikan kekhawatiran pada sejumlah elemen masyarakat, baik di Indonesia maupun masyarakat Internasional.
Dilansir dari Liputan6.com, Persatuan Bangsa-Bangsa alias PBB mengecam praktik pernikahan paksa di bawah umur. Kecaman ini muncul setelah kematian seorang remaja perempuan Zimbabwe berusia 14 tahun usai melahirkan. Insiden ini memicu kemarahan warga dan aktivis HAM. Laporan dari statistik resmi menunjukkan bahwa satu dari tiga gadis Zimbabwe dinikahkan sebelum usia 18 tahun.(10/8/2021)
Pemerintah di Zimbabwe kerap menutup mata terhadap praktik perkawinan anak. Negara ini memiliki dua perangkat hukum pernikahan, yakni undang-undang perkawinan dan undang-undang perkawinan adat. Tidak ada dari dua undang-undang itu yang memberikan batasan usia minimum untuk menikah, sedangkan hukum adat memperbolehkan poligami. (Merdeka.com, 8/8/2021)
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/08/29/pernikahan-dini-akibat-kebebasan-berekspresi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Perlukah Ibu Rumah Tangga Bersahabat dengan Lidah Buaya?
Oleh. Dia Dwi Arista
Voice Over Talent: Dewi N
NarasiPost.Com-Seorang ibu rumah tangga dituntut mempunyai skill kehidupan multitasking. Tak hanya menjadi ibu, koki, guru dan ahli gizi, seorang ibu juga dituntut menjadi dokter keluarga. Kegiatan yang beragam terkadang menimbulkan sedikit kecelakaan. Tentu seringkali ketika memasak, lengan terkena cipratan minyak, tersenggol panci panas, bahkan menyetrika juga bisa menjadi sebab terbakarnya beberapa bagian tubuh . Tak hanya itu, si kecil yang aktif sangat berisiko terluka dan tergores. Luka-luka kecil ini membutuhkan tindakan pertama agar bakteri tidak bisa menginfeksi. Nah, lidah buaya bisa menjadi alternatif murah, mudah, dan ramah bagi ibu rumah tangga.
Sejarah Penggunaan Lidah Buaya sebagai Obat
Mengutip Kabar.Lumajang.com, dariDengan segudang zat yang mampu mempercepat kesembuhan, tentu tanaman ini layak dijadikan sebagai sahabat bagi ibu rumah tangga. Sebab, selain dari harganya yang terjangkau, ia juga mudah ditanam, baik dalam pot maupun di tanah pekarangan. Bahkan lidah buaya adalah tanaman yang mampu bertahan hidup meski beberapa hari tidak terkena air. Selain itu, tanaman berduri ini juga bisa dibuat bahan makanan, seperti es lidah buaya, nata de aloe vera, jelly, dan lain sebagainya. Mengutip Kabar.Lumajang.com, My Garden Florest, lidah buaya diyakini berasal dari Benua Hitam Afrika. Kemudian melalui perdagangan, tanaman sukulen ini pun tersebar ke seluruh penjuru dunia.
Naskah Selengkapnya:https: //narasipost.com/2021/09/30/perlukah-ibu-rumah-tangga-bersahabat-dengan-lidah-buaya/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed