
Sign up to save your podcasts
Or


Ketahanan Keluarga Kian Rapuh, Penerapan Islam Kaffah Solusi Ampuh
Oleh. Atien
Voice Over Talent: Giriyani
NarasIPost.Com-Sudah menjadi tugas seorang ibu untuk membesarkan dan mendidik anaknya. Kasih sayang ibu yang begitu melimpah kepada anak tidak akan pernah sirna, meskipun anaknya mungkin sudah remaja atau bahkan sudah dewasa. Ucapan ibu yang kadang disertai nada marah adalah salah satu bentuk perhatian dan kasih sayang. Namun, perhatian yang berisi kalimat untuk mengingatkan ketika anak bersalah, justru memicu masalah. Merasa tidak nyaman dengan perlakuan ibunya, akhirnya anak menyikapi dengan cara berbeda. Emosi sesaat bisa berujung petaka. Nyawa sang ibu pun berakhir di tangan anaknya.
Peristiwa tragis itu terjadi di wilayah Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Seorang remaja berinisial MF (17) tega membunuh SM (34) ibu kandungnya sendiri. Ibu ini ditusuk dengan sebilah pisau yang mengakibatkan nyawanya tidak tertolong dan akhirnya meninggal dunia. Kasus yang terjadi pada Minggu (19/9/2021, kumparanNEWS), kini ditangani oleh Polres Jepara.
Kasatreskrim Polres Jepara, AKP M Fachrur Rozi, dalam keterangannya menyampaikan, “Tadinya pelaku berbohong dengan mengatakan kepada para tetangga bahwa ada orang gila yang masuk rumah dan melukai ibunya. Meskipun awalnya mengelak, MF akhirnya mengaku bahwa dia yang telah menganiaya dan membunuh ibunya. MF merasa kesal dengan ibu kandungnya karena sering dimarahi. Kekesalan tersebut membuatnya gelap mata dan berujung dengan peristiwa pembunuhan.”
MF terkena Pasal 44 Ayat (3) UU RI No 23 Tahun 2004 tentang PKDRT dengan hukuman 15 tahun penjara atau denda sebesar Rp45 juta.Tidak terbayang oleh kita, di usia yang masih muda MF harus menjalani hari-harinya di balik jeruji besi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/14/ketahanan-keluarga-kian-rapuh-penerapan-islam-kaffah-solusi-ampuh/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Menjadi Pemimpin pun Ada Adabnya
Oleh. Mariyah Zawawi
Voice Over Talent: Armina A
NarasiPost.Com-Hakikatnya, setiap manusia adalah pemimpin. Seorang kepala negara adalah pemimpin bagi rakyatnya. Seorang direktur adalah pemimpin bagi karyawannya. Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya. Seorang majikan adalah pemimpin bagi pegawainya. Bahkan, seorang istri adalah pemimpin dalam urusan manajerial rumah tangganya.
Dalam Islam, setiap perbuatan ada tuntunannya. Setiap perbuatan ada adabnya. Adab itu harus diperhatikan oleh setiap orang yang hendak melakukannya. Ada adab makan, bertamu, berbicara, bahkan saat di kamar kecil. Melaksanakan suatu perbuatan atau amal sesuai dengan adabnya akan mendatangkan pahala bagi pelakunya.
Adab merupakan perkara yang sangat penting. Itu sebabnya, Imam Malik memerintahkan untuk mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu. Termasuk adab saat menjadi seorang pemimpin. Dalam sebuah hadis dari Abu Sa’id al-Khudry ra., Nabi saw. bersabda,
أحسنوا إذا وليتم واعفوا عما ملكتم
“Bersikap baiklah kalian apabila kalian memegang kekuasaan, dan berilah maaf atas kesalahan hamba sahayamu.” (HR. Ibnu Laal dalam bab Akhlak-Akhlak yang Mulia)
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/10/menjadi-pemimpin-pun-ada-adabnya/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Implementasi Keteladanan Nabi
Yeni Marlina, A.Ma.
Voice Over Talent: Dewi N
NarasiPost.Com-“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (TQS. al-Ahzab [33] : 21)
Umat Islam tidak asing dengan ayat ini, jaminan Allah atas sosok manusia pilihan yang telah diutus membawa risalah Islam sebagai agama penyempurna untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia. Sosok yang layak dijadikan teladan hidup di dunia hingga membawa keselamatan sampai yaumil akhir kelak.
Kehidupan ini adalah media penempaan bagi setiap hamba mempersiapkan diri menuju kehidupan yang kekal abadi. Sudah pasti butuh tuntunan agar berjalan sesuai tujuan penciptaan manusia yaitu untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Al-Qur’an sebagai kalamullah telah menuntun kita memilih sosok yang akan menjadi role model dalam berbagai aspek kehidupan, dialah Rasulullah saw. Keteladanan kesempurnaan telah ada pada diri beliau. Patut untuk diikuti, dicontoh dalam seluruh aspek kehidupan. Baik dari sisi kekuatan mengimani Islam (akidah), ibadah, muamalah, merealisakan syariah hingga berpolitik mengelola pemerintahan.
Kekuatan akidah dan keyakinan kepada Islam terlihat ketika Rasulullah saw. pertama kali menerima wahyu dari Allah melalui perantaraan malaikat Jibril. Ketaatan yang sudah tertancap mendorong Rasul saw. segera merealisasikan perintah Allah untuk meyakinkan yang lain atas kebenaran iman yang sudah diterimanya. Menyeru manusia untuk beriman kepada Allah sekalipun secara alamiah akan menghadapi penentangan dari masyarakat jahiliah. Baginda Nabi saw. tak ragu ataupun surut walau selangkah pun. Kekuatan tekad tampak dalam kesungguhan nabi membina para sahabat dengan iman Islam. Jadilah mereka sebagai generasi pengukir sejarah yang namanya harum hingga sepanjang masa.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/20/implementasi-keteladanan-nabi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Industri Itu Bernama Demokrasi
Oleh. Ni’mah Fadeli
Voice Over Talent: Arien S
NarasiPost.Com-Indonesia akan melangsungkan pemilihan umum (Pemilu) pada tahun 2024. Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara telah menganggarkan dana sebesar Rp86 triliun untuk Pemilu dan Rp26,2 triliun untuk pilkada serentak. Anggaran dana ini dinilai Wakil Ketua Komisi II DPR, Junimart Girsang terlalu besar. Menurutnya, anggaran dana pemilu dan pilkada yang lebih dari Rp100 triliun itu sangat berlebihan apalagi di masa pandemi seperti sekarang (www.beritasatu.com, 23/09/2021).
Sementara itu, Wakil Ketua DPD RI Sultan B. Najamudin menilai perlunya meninjau kembali sistem pemilu yang boros dan cenderung menyebabkan kerentanan sosial seperti ini. Menurutnya pemilu langsung sudah seperti industri dalam demokrasi bangsa ini. Biaya yang jumbo akan sangat rawan menyebabkan penyalahgunaan anggaran. Belum lagi jika ditambahkan dengan modal pemilu milik partai politik dan capres, pemilu langsung hanya akan jadi ajang adu kuat dan modal politik yang sumbernya berasal dari cukong dan oligarki. Apalagi sebagai negara berkembang, angka ratusan triliun untuk sebuah pemilu tentu terlalu mubazir. (Republika.co.id, 19/09/2021).
Pemilu adalah mekanisme yang biasa dilakukan dalam sistem perwakilan demokrasi. Dalam sebuah negara demokrasi, pemilu merupakan salah satu pilar utama dari proses akumulasi kehendak masyarakat. Pemilu dipandang adil karena seluruh rakyat dilibatkan secara langsung. Faktanya, selama ini pemilu menjadi ajang untuk melanggengkan kekuasaan dalam sistem demokrasi.
Betapa banyak contoh penguasa yang “menjadikan” anak, menantu atau keponakannya sebagai penguasa demi keberlanjutan kekuasaan mereka yang telah habis masanya. Pemilu menjadi ajang kekuatan untuk melakukan pencitraan dan menunjukkan kemampuan membeli suara. Para pemburu kekuasaan dan mereka yang berkepentingan siap membayar berapapun demi keuntungan besar yang ingin diraihnya. Menyebarkan hoax, money politics, pembunuhan karakater adalah hal yang wajar terjadi ketika pesta demokrasi tersebut diselenggarakan.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/05/industri-itu-bernama-demokrasi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Generasi Emas Terkulai Lemas, Butuh Rekonstruksi Sistem yang Totalitas
Oleh: Nurjamilah, S.Pd.I.
Voice Over Talent: Fani R
NarasiPost.Com-Indonesia memiliki momen istimewa setiap tanggal 23 Juli, yakni peringatan Hari Anak Nasional (HAN). Tahun ini mengangkat tema “Anak Terlindungi, Indonesia Maju” dengan tagar #AnakPeduliMasaDepan. Dalam jangka panjang, Indonesia ingin menggapai target Generasi Emas tahun 2045. Namun, awan kelabu masih memayungi kawah pandemi yang semakin mengganas. Anak Indonesia dengan seabrek permasalahan, ditambah hantaman gelombang virus corona, semakin tak berdaya dan nyaris terenggut masa depannya. Kini perayaan HAN, dirasakan hanya selebrasi semata. Dilansir dari www.tribunnews.com, (23/07/2021) dalam peringatan Hari Anak Nasional 2021, Presiden Jokowi berpesan agar anak Indonesia tetap semangat belajar dan bergembira di masa pandemi.
Namun, kita dihadapkan pada suatu kenyataan pahit di antaranya terdapat 5.463 kasus kekerasan pada anak; bertambahnya orang miskin menjadi 27,54 juta orang termasuk anak; meningkatnya angka putus sekolah dikarenakan iuran SPP yang tak terbayar, bekerja, menikah, dan kecanduan game online (www.beritasatu.com, 06/03/2021).
HAN telah diperingati tidak kurang dari 36 kali terhitung sejak 1985. Namun, mengapa persoalan anak tak juga tersolusikan? Lantas, apa yang menjadi persoalan mendasar dari problem anak ini? Adakah langkah praktis untuk mewujudkan generasi cemerlang?
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/09/17/generasi-emas-terkulai-lemas-butuh-rekonstruksi-sistem-yang-totalitas/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Limbah, Persoalan Klasik di Negeri Kapitalistik
Oleh. Dia Dwi Arista
Voice Over Talent: Dewi N
NarasiPost.com-Tak dapat dimungkiri, perkembangan zaman pasti diikuti dengan perkembangan industri. Negara yang maju juga ditandai dengan majunya perindustrian. Selain dari sisi positif perindustrian, ada sisi lain yang menjadi masalah klasik dari banyaknya industri dalam sebuah negara, yakni limbah. Hampir semua negara mengalami pencemaran lingkungan akibat limbah berlebihan. Namun, persoalan ini bertambah pelik jika negara diatur oleh peraturan kapitalistik.
Diwartakan cnnindonesia.com (02/10/2021), para peneliti dari Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mendapati dua pantai di Jakarta, Muara Angke dan Muara Ancol tercemar dengan parasetamol berkonsentrasi tinggi. Kandungan parasetamol di Muara Ancol sebesar 420 nanogram per liter, sedangkan kandungan parasetamol di Muara Angke tercatat lebih tinggi lagi, yakni berada di angka 610 nanogram per liter. Angka ini mengantarkan kedua teluk tersebut menjadi teluk dengan konsentrasi parasetamol lebih tinggi dari Brazil dan Portugal.
Hal ini dikhawatirkan berbagai pihak akan berpengaruh pada peternakan kerang di sekitar laut Jakarta. Belum lagi dampak jangka panjang yang belum diketahui, membuat pemerintah harus ekstra waspada. Sebab, pencemaran tersebut terkait dengan keselamatan lingkungan dan warga. Prof Zainal Arifin, salah seorang peneliti dari BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) mengatakan bahwa kemungkinan sumber pencemaran berasal dari tiga hal. Pertama, berasal dari pembuangan penduduk yang memakai parasetamol secara berlebihan, mengingat parasetamol adalah obat bebas tanpa resep dokter. Kedua, limbah rumah sakit. Ketiga, limbah produsen farmasi. Data yang diperoleh tim ini menunjukkan dua dari lima muara terdapat kandungan parasetamol, yakni Muara Sungai Ciliwung Ancol serta Muara Sungai Angke. (inet.detik.com, 3/10/2021)
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/14/limbah-persoalan-klasik-di-negeri-kapitalistik/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Demokrasi Digugat, Islam Solusi Tepat
Oleh. Neneng Sri Wahyuningsih
Voice Over Talent: Titis U
NarasiPost.Com-Indonesia merupakan salah satu negara yang menganut demokrasi, sehingga di dalamnya menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan. Bagi demokrasi, kebebasan merupakan ruh sekaligus pilar pengokohnya. Tanpanya, demokrasi bisa mati. Sehingga negara akan senantiasa menjaga nilai-nilai tersebut demi langgengnya sistem ini. Hanya saja, saat ini negeri zamrud khatulistiwa tengah mendapatkan rapor merah atas pelaksanaan demokrasinya. Mengapa demikian?
Diwartakan dalam laman cnnindonesia.com (27/9/2021), pada bulan September, Indikator Politik Indonesia (IPI) telah melakukan survei secara random kepada 1.200 responden mengenai tingkat kepuasan masyarakat Indonesia dalam pelaksanaan demokrasi di negeri ini. Dari survei tersebut diperoleh bahwa tingkat ketidakpuasan meningkat dari 32,1 persen menjadi 44,1 persen. Adapun penyebab dari peningkatan ketidakpuasan ini, menurut Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Asfinawati, dikarenakan adanya tindakan pemerintah yang telah menyalahgunakan wewenang, yakni banyak penangkapan kepada para pendemo dan aktivis. Beginilah nasibnya ketika para pejuang demokrasi (penguasa) justru telah menodainya.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/03/demokrasi-digugat-islam-solusi-tepat/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Membangun Kemandirian Sejak Dini, Menanam Investasi Masa Depan Buah Hati
Oleh. Dwi Indah Lestari
Voice Over Talent: Arien S
NarasiPost.com-“Apa yang ditanam, itu yang dituai”. Pola didik yang kita terapkan pada anak-anak, adalah investasi untuk masa depan mereka, salah satunya adalah dengan membangun kemandirian. Bekal kemandirian akan akan sangat berguna untuk mereka dalam menghadapi kehidupannya kelak.
Fitrah Kemandirian pada Manusia
Pada dasarnya, fitrah manusia untuk mandiri sudah ada sejak ia lahir. Bahkan bayi-bayi yang baru lahir telah dibekali kemampuan untuk belajar. Pada saat bayi mulai menyusu pada ibunya, bayi sebenarnya sedang belajar kemandirian dalam memenuhi rasa laparnya. Bayi harus sedikit lebih “berjuang” untuk mendapatkan ASI langsung dari ibu, dibandingkan bila memperolehnya melalui botol dot.
Begitu pula kita akan dapati pada proses tumbuh kembangnya, para bayi juga sedang berlatih mandiri. Saat beranjak usia 3 atau 4 bulan, seiring dengan perkembangan ototnya, bayi mulai dapat mengangkat kepalanya. Perkembangan ini terus meningkat dengan bertambahnya usia sang bayi. Hingga kemudian kita dapati mereka mampu berguling, lalu belajar untuk duduk, merangkak hingga berjalan.
Seluruh fase yang dijalani oleh seorang anak manusia itu, menunjukkan bahwa fitrah kemandirian telah diberikan oleh Allah Swt, sehingga manusia mampu mengarungi kehidupan dunia. Maka, sebagai orang tua, kita perlu menyadari bahwa anak-anak kita perlu untuk berlatih mandiri sejak dini. Orang tua tak perlu takut memberikan tugas dan membiarkan mereka mencoba menyelesaikan rintangan-rintangan yang mungkin dihadapinya.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/12/membangun-kemandirian-sejak-dini-menanam-investasi-masa-depan-buah-hati/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Panggung Megah bagi Mantan Narapidana
Oleh. Dia Dwi Arista
Voice Over Talent: Arien S
NarasiPost.Com-Negara ini sudah berjuang melawan kekerasan seksual pada anak sejak puluhan tahun lalu. Komnas PA (Perlindungan Anak) berdiri di garda terdepan dalam menyuarakan perlindungan hak anak. Mereka juga merehabilitasi anak-anak yang mengalami kekerasan dan pelecehan seksual. Namun, usaha bertahun-tahun Komnas PA bagai disapu air bah, sia-sia. Semenjak seorang mantan narapidana kasus pelecehan seksual, Saiful Jamil (SJ), bebas dari bui.
Saipul Jamil yang berprofesi sebagai penyanyi dangdut, terjerat kasus pelecehan anak dan kasus suap. SJ yang masuk bui pada 2016 lalu, akhirnya bisa menghirup udara kebebasan pada 2 September 2021. Yang menjadi sorotan masyarakat adalah sikap yang ditunjukkan SJ pasca keluar dari gerbang penjara. Bukannya rasa bersalah dan malu yang terpampang, wajah tersenyum dan banggalah yang muncul di permukaan. Apalagi kebebasannya disambut keluarga dan orang terdekat bak pahlawan yang pulang dari perang. Dengan karangan bunga yang menggantung di leher, ditambah mobil Porsche yang mentereng. Tak lupa, berbagai media turut menyambutnya. Inilah suguhan panggung megah bagi bekas tahanan pelecehan seksual. (m.tribunnews.com, 6/9/2021)
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/09/29/panggung-megah-bagi-mantan-narapidana/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
PAJAK
Oleh: Aya Ummu Najwa
Voice Over Talent: Maya R
NarasiPost.Com-Pajak
Utang menggunung
Negara rasa bakulan
Empati membusuk
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/14/pajak/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed