
Sign up to save your podcasts
Or


Islam Rahmatan Lil‘alamin, termasuk bagi Kelompok Disabilitas
Oleh. Iranti Mantasari, BA.IR, M.Si
Voice Over Talent: Dewi F
NarasiPost.Com-Malang sungguh malang. Harapan orang tua menitip buah hatinya yang ditakdirkan Allah memiliki kekurangmampuan agar diasuh lebih baik harus kandas di tengah jalan. Penyandang disabilitas Borderline Personality Disorder atau gangguan kepribadian ambang mengalami penganiayaan dan penyiksaan oleh orang tua asuhnya di Rumah Kasih Sayang (RKS), sebagaimana yang diwartakan oleh CNN Indonesia (05/10/2021). Sudahlah pengasuhan khusus difabel tak didapatkan, kini sang anak harus merasakan kepahitan lagi dalam hal emosinya.
Dampak dari hal ini adalah tentu penyandang disabilitas yang diasuh di RKS –yang jumlahnya dilaporkan lebih dari satu- tidak menutup kemungkinan akan menjadi lebih “sakit” lagi karena tertekan secara mental oleh siksaan yang didapatkan selama ini. Buntut dari masalah ini pun tentu panjang, karena akan menambah beban tak hanya bagi korban, namun juga bagi keluarga yang harus menerima kenyataan pahit ini.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/13/islam-rahmatan-lilalamin-termasuk-bagi-kelompok-disabilitas/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Krisis Empati Berujung Menzalimi
Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S
Voice Over Talent: Maya R
NarasiPost.Com-“Janganlah engkau mengucapkan perkataan yang engkau sendiri tak suka mendengarnya jika orang lain mengucapkannya kepadamu.” – Ali bin Abi Thalib
Perkataan salah seorang tokoh di dunia Islam tersebut mengajarkan kepada kita tentang sebuah penghargaan terhadap perasaan orang lain. Dalam kalimat itu pula terkandung pesan tentang sebuah empati. Ya, sikap peduli dan peka terhadap perasaan dan kondisi orang lain.
Namun, sayangnya di kehidupan yang serba jauh dari aturan agama hari ini, krisis empati kerap menjangkiti diri. Maka, tak heran jika banyak hati yang terluka, banyak diri yang kecewa. Sebab pemilik rasa empati kian langka saja. Aku jadi teringat dengan kejadian yang terjadi padaku beberapa waktu silam. Di saat bayiku sakit dan sangat rewel, sudah pasti aku merasakan lelah yang teramat sangat. Karena mataku harus selalu terjaga sambil terus menggendongnya. Kurang istirahat sudah pasti. Maka, ketika bayiku terlelap, terasa bagaikan sebuah anugerah besar dari Allah kepadaku. Setidaknya aku bisa merebahkan tubuhku untuk beberapa saat.
Namun, baru saja lima menit bayiku tertidur. Tiba-tiba suara beberapa anak bermain bersama teman-temannya di jalan depan rumahku terdengar sangat nyaring. Mereka menjerit, tertawa, berteriak-teriak bahkan sambil melempar benda (entah apa) dengan bisingnya. Ah, sontak saja bayiku terbangun dan kembali menangis. Ingin rasanya aku berteriak dan ikut menangis kala itu. Tapi bagaimana lagi, aku sadar bahwa kita hidup berdampingan dengan orang lain, sudah pasti kita akan menemukan banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan sesuai kemauan kita sendiri.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/11/krisis-empati-berujung-menzalimi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Dunia Pendidikan Suram, Generasi Terancam
Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S
Voice Over Talent: Titis U
NarasiPost.Com-Dari Abu Hurairah r.a berkata; Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berjalan di suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (HR. Tirmidzi)
Benarlah adanya bahwa ilmu kelak akan membawa pemiliknya kepada derajat kemuliaan, bahkan menjadi wasilah masuknya dia ke dalam surga. Oleh karena itu, Islam begitu mendorong umatnya agar menjadi orang-orang yang berilmu. Namun, sayangnya di sistem kehidupan kapitalis sekuler hari ini, menjadi orang berilmu tak mudah jalannya. Begitu banyak rintangan dan hambatan yang harus dihadapi. Mirisnya, dominasi hambatan justru tercipta oleh sistem yang ada.
Sebagaimana video yang baru-baru ini viral, yakni tiga orang siswa berseragam SD lengkap dengan tas ransel di punggungnya tengah menyebrangi sungai dengan menggunakan kotak styrofoam untuk menuju ke sekolah. Kejadian tersebut terjadi di Desa Kuala 12, Kecamatan Tulung Selapan, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan. Namun, Pemkab OKI menanggapi hal tersebut sebagai sesuatu yang biasa terjadi di desanya. Sebagaimana diungkapkan oleh Adi Perdana selaku Kepala Urusan Perencanaan dan Keuangan Desa Kuala 12 bahwa video tersebut membuat masyarakat menjadi resah karena hal kecil yang dibesar-besarkan. (Kompas.com/27-09-2021)
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/03/dunia-pendidikan-suram-generasi-terancam/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Hah, Blacklist Pasangan yang Baik?
Oleh: Messy Ikhsan
Voice Over Talent: Yeni M
NarasiPost.Com-Hello, Guys! Sebuah konten berupa question and answer tentang kriteria memilih pasangan hidup, lagi viral di dunia maya, nih. Pertanyaannya seputar mau memilih pasangan yang baik atau pasangan yang nakal? Sosok yang ditanya pun menjawab bahwa ia memilih pasangan yang tidak baik karena berdalih bahwa mereka yang baik itu tidak asyik untuk diajak maksiat, sok jaim, dan suka bawa identitas agama.
Duh … tunggu, tidak asyik diajak apa, nih? Tidak asyik diajak berbuat maksiat? Kok, tiba-tiba jadi berbau negative thinking dan jadi aneh, ya, Guys? Lah, kok bisa begitu? Pasti pertanyaan yang sama juga menggelinding di kepala kalian juga? Bukankah setiap orang ingin pasangan yang baik dan paham agama agar bisa membawa kita ke istana jannah? Tapi, kok, ada fakta yang malah berbanding terbalik, ya?
Hadeh, benar-benar bikin geleng kepala melihat ulah generasi muda zaman now. Tiap hari, ada saja hal aneh yang diproduksi. Bukannya sibuk jadi pemuda yang merangkai segudang prestasi dengan memperbaiki diri, eh … malah sibuk dengan kontroversi dan sensasi.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/09/21/hah-blacklist-pasangan-yang-baik/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Mendamba Kesejahteraan Buruh, Butuh Partai Buruh atau Sistem Tangguh?
Oleh.Renita
Voice Over Talent: Dewi N
NarasiPost.Com-Disahkannya UU Ciptaker berbuntut panjang. Tidak hanya melahirkan perlawanan berbagai pihak, situasi ini juga memantik para pekerja untuk kembali membangkitkan Partai Buruh yang telah lama mati suri. Aspirasi politik para pekerja yang selama ini dilakukan melalui corong serikat, diklaim sebagai penyebab makin merananya nasib buruh. Tak pelak, bangkitnya Partai Buruh menjadi tumpuan asa bagi para pekerja, demi memperbaiki kehidupan tak manusiawi di bawah bayang-bayang korporasi hari ini.
Dilansir dari kompas.com (5/10/2021), sejumlah organisasi buruh telah menghidupkan kembali Partai Buruh melalui kongres di Jakarta pada Senin (5/10). Jabatan Ketua Umum Partai Buruh pada periode 2021-2026 dipegang oleh Said Iqbal selaku Presiden Konfederasi Serikat Buruh Indonesia (KSPI). Iqbal mengungkapkan, adanya UU Omnibus Law merupakan pukulan telak bagi para pekerja, sehingga men-trigger reinkarnasi Partai Buruh. Dengan adanya Partai Buruh, diharapkan perjuangan para pekerja tidak lagi melalui aksi jalanan, tetapi dilakukan dengan jalur parlemen.
Di tengah kekecewaan pekerja terhadap berbagai regulasi yang membuat nasib mereka kian terpuruk, kebangkitan Partai Buruh seolah menemukan momentumnya. Apalagi menjelang kontestasi pemilu 2024, tentu saja Partai Buruh berharap dapat mengaet dukungan dari para pekerja, demi memuluskan langkahnya menuju parlemen. Namun, akankah nasib pekerja semakin baik dengan adanya Partai Buruh ini? Bagaimanakah perlakuan Islam terhadap para pekerja?
Naskah Selengkapnya:https://narasipost.com/2021/10/12/mendamba-kesejahteraan-buruh-butuh-partai-buruh-atau-sistem-tangguh/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Topeng Demokrasi
Oleh: Afiyah Rasyad
Voice Over Talent: Arien S
NarasiPost.Com-Terlihat manis
Dari rakyat
Berselaput madu
Topeng demokrasi
Topeng demokrasi
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/05/topeng-demokrasi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Sejahtera dalam Sistem Ribawi, Ilusi!
Oleh: Aya Ummu Najwa
Voice Over Talent: Giriyani
NarasiPost.Com-Sejahtera adalah cita-cita setiap individu, masyarakat, maupun negara. Indonesia, negara dengan kekayaan alam yang melimpah ini, ternyata masih berjibaku dengan angka kemiskinan yang tak pernah usai, bahkan kian parah. Terlebih sejak pandemi melanda, angka kemiskinan dan pengangguran makin menggila. Padahal, program pengentasan angka kemiskinan terus dicanangkan oleh siapa pun pemimpin yang terpilih. Namun jangankan maju, lepas dari kemiskinan saja masih begitu berat.
Wapres Ma’ruf Amin dalam keterangan resminya mengatakan, “Indonesia memiliki tingkat kemiskinan ekstrem yang mencapai angka 4 persen atau sekitar 10,86 juta jiwa. Sedangkan, tingkat kemiskinan Indonesia secara umum, bersumber pada data Maret 2021 sejumlah 10,14 persen atau 27,54 juta jiwa” (CNN Indonesia, 26/8/21).
Untuk menjadikan negeri ini sejahtera dan maju, ternyata tak cukup dengan kekayaan SDA saja. Namun, butuh sistem politik dan ekonomi yang mumpuni. Sebab, sejatinya Indonesia mempunyai kekayaan alam yang melimpah. Tapi kenyataannya, ekonomi negeri zamrud khatulistiwa ini justru berada jauh tertinggal, dari negara-negara minim SDA.
Penduduk Indonesia pun terbesar keempat di dunia. Akan tetapi, belum terlihat kepemimpinan Indonesia di mata dunia. Negeri ini kaya, tapi utang luar negerinya makin menganga. Sistem politik luar negerinya yang bebas aktif, malah menjadikan Indonesia terjebak dengan keran liberalisasi dan investasi asing. Menjadikannya terkungkung dengan kebijakan kapitalisme global dan aturan internasional.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/09/28/sejahtera-dalam-sistem-ribawi-ilusi
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Miss Queen di Kontes Meriah, Konfigurasi Diri yang Membeloti Fitrah
Oleh. Dewi Fitratul Hasanah
Voice Over Talent: Maya R
NarasiPost.Com-Sebuah kontes kecantikan bertajuk “Miss Queen Indonesia 2021” telah digelar pada jum’at 1 Oktober 2021 di Bali. Kontes bagi para LGBT ini berlangsung meriah dimana kontestan bernama Millen Cyrus terpilih menjadi pemenang dan ia berhak mengikuti kontes lanjutan bertaraf Internasional di Thailand mendatang. (MakasarTerkini.Id, 02/10/2021)
Atas terselenggaranya kontes ini, dukungan membanjiri dan penolakan menyertai. Pihak yang mendukung adalah mereka para pemuja nafsu dunia yang bersembunyi di bawah tameng HAM. Sedangkan pihak yang menolak adalah mereka yang masih menggunakan akal dan fitrahnya sebagai manusia untuk berpikir.
L987 (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) adalah perilaku
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/10/miss-queen-di-kontes-meriah-konfigurasi-diri-yang-membeloti-fitrah/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Berjumpa di Jannah-Nya
Oleh. Erni Susanti
Voice Over Talent: Arien S
NarasiPost.Com-Sudah beberapa tahun ini saya kerap dingatkan Facebook tentang mimpi-mimpi (kenangan) saya. Hal itu bahkan mampu memberikan semangat agar saya bisa terus mewujudkannya, meski tak jarang, saya diingatkan pada status lebay sebelum hijrah yang membuat saya malu sendiri. Namun, kenangan yang satu ini membuat saya termenung dan membawa ingatan saya berkelana jauh.
“… semoga kita berjumpa di Jannah-Nya. Aamiin.”
Kalimat yang saya baca itu kemudian membawa ingatan saya pada Sabtu malam tanggal 13 Juni 2020. Malam itu, perawat yang menangani Bapak mencoba menguatkan kami semua. Meskipun secara tersirat, ia meminta kami untuk pasrah menerima apa pun yang telah dan akan terjadi. Sambil menahan air mata, saya sesekali memandang wajah Bapak yang tak sadarkan diri, sambil membayangkan apa yang sebenarnya terjadi?
Jum’at sore, saya dikabari oleh adik bahwa Bapak ditemukan pingsan di tengah sawah sendiri. Menurut pengakuan warga sekitar, siang selepas salat Jum’at itu memang cukup terik. Tidak ada yang bisa memastikan apakah Bapak terpeleset atau memang sedang pusing. Warga yang menemukan sudah melihat Bapak bermandikan lumpur, tak sadarkan diri dan terus mengigau.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/10/berjumpa-di-jannah-nya/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Epidemiologi Sepsis Penyumbang Tingginya Angka Mortalitas
Oleh. Nurjamilah, S.Pd.I.
Voice Over Talent: Yeni M
NarasiPost.Com-Apakah Anda pernah mendengar sepsis? Jelas ini bukanlah jenis makanan apalagi barang branded. Sepsis merupakan salah satu jenis penyakit yang cukup berbahaya. Namun demikian, penyakit ini kurang begitu familiar di kalangan masyarakat.
Sebagian orang menyebut sepsis sebagai keracunan darah. Sepsis bisa diartikan sebagai respon mematikan dari sistem imun tubuh manusia terhadap infeksi atau cedera. Penyakit ini bisa menyerang siapa pun, khususnya bagi orang yang memiliki daya tahan tubuh lemah. Anak kecil, khususnya bayi baru lahir dan bayi prematur sangat rentan terpapar penyakit ini.
Bukan hanya itu, lansia dan orang yang alami cedera serius atau penyakit berat (diabetes, AIDS, kanker, liver, dan lainnya), pasien RS yang mendapat perawatan intensif dalam jangka waktu lama, pengguna alat medis (kateter intravena atau tabung pernafasan) yang terlalu lama dan jarang diganti, serta pengguna antibiotik (kortikosteroid).
Angka kematian sepsis pada baby newborn di Indonesia terbilang cukup tinggi, yakni 12-50% dari total angka kematian bayi. Sedangkan, angka mortalitas sepsis cukup tinggi, yakni lebih dari 50%. Setidaknya, 20% kematian pasien di RS setiap tahunnya, dialami oleh penderita sepsis. Diperkirakan 11 juta orang meninggal setiap tahunnya, diawali dengan keracunan darah ini. Kasus ini sebagian besar dialami negara-negara miskin dan berkembang. Namun, negara-negara maju pun tak luput dari paparannya (www.alomedika.com).
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/03/epidemiologi-sepsis-penyumbang-tingginya-angka-mortalitas
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed