Narasipostmedia

Narasipostmedia

By NarasipostNewsDaily News
Download on the App Store

Narasipostmedia episodes

  • Tes Wawasan Kebangsaan demi Moderasi

    Tes Wawasan Kebangsaan demi Moderasi

    Oleh. Novianti

    Voice Over Talent: Dewi F

    NarasiPost.Com-Setelah publik dikejutkan oleh Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) Komisi Pemberantasan Korupsi, muncul gagasan TWK bagi para dai dan penceramah. Ini disampaikan oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dalam Rapat Kerja dengan Komisi VIII (okezone.com, 01/06/2021)

    Menteri yang kerap dipanggil Gus Yaqut mengatakan bahwa tujuan sertifikasi wawasan kebangsaan ini untuk penguatan moderasi beragama bagi para dai dan penceramah. Dengan demikian diharapkan nantinya para dai dan penceramah mampu menjawab isu-isu aktual dengan metode dakwah yang menitikberatkan pada wawasan kebangsaan. Menurutnya, ini sesuai dengan semangat slogan Hubbul Wathon Minal Iman.

    Usulan Menag ini bukan hal yang baru karena tahun 2020, Menag saat itu, Fachrul Razi mengusulkan program Penceramah Bersertifikat untuk mencegah paham radikalisme (CnnIndonesia, 03/09/2020). Menteri Yaqult hanya melanjutkan program menteri sebelumnya dengan redaksi berbeda. Isu yang diangkat tidak jauh dari narasi radikalisme, terorisme, dan moderasi beragama.

    Moderasi Kembaran Deradikalisasi

    Isu terorisme, radikalisme, deradikalisasi sudah dihembuskan sejak 10 tahun yang lalu. Pada tahun 2011 ada pelarangan terhadap buku-buku tertentu yang kontennya dianggap radikal, yakni yang terkait syariah, jihad dan khilafah. (Eramuslim.com, 20/10/2011)

    Tahun 2016, Kemendikbud melarang peredaran buku ‘Anak Islam Suka Baca’ yang biasa digunakan untuk belajar membaca anak usia dini. Ini dikarenakan adanya kalimat-kalimat yang dianggap mengandung unsur kekerasan seperti ‘rela mati bela agama’,  ‘kita selalu sedia jaga agama kita demi Illahi semata’. (medcom.id, 22/01/2016)


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/06/09/tes-wawasan-kebangsaan-demi-moderasi/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Peran Parpol untuk Perubahan Umat

    Peran Parpol untuk Perubahan Umat

    Oleh. Maman El Hakiem

    Voice Over Talent: Maya R

    NarasiPost.Com-Politik itu kotor. Politik itu binasa. Politik adalah jalan untuk meraih kekuasaan. Jika masuk dalam area politik, tandanya hidup dalam keduniaan minus nilai keakhiratan. Siapa pun mau tidak mau harus bermandi lumpur maksiat dengan tipu muslihat demi kepentingan duniawi yang sesaat. Maka, berlaku adagium tidak ada kawan atau lawan yang abadi, yang ada hanya kepentingan. Siapa kawan atau lawan tidak bisa dilihat dari apa ideologinya, melainkan apa kepentingannya. Partai hijau bisa berkoalisi dengan partai kuning, namun pada lain waktu partai hijau pun bermesraan dengan partai biru, bahkan merah. Demikianlah politik dalam demokrasi, bagaikan lampu lalu lintas, meskipun nyalanya bergantian, namun masih dalam satu bingkai aturan.

    Dinamika pelacuran politik dalam sistem sekularisme memang seperti itu. Idealisme tidak menjadi acuan kualitas hadirnya sebuah partai, bukan pula primadona pilihan masyarakat. Jika sudah masuk parlemen, apa pun partainya tidak akan mampu menunjukkan jati diri, apalagi konsistensinya dalam memperjuangkan kepentingan umat. Tidak mengherankan sesalih apa pun partainya, jika masuk dalam perangkap demokrasi akan terjerembab pada perilaku maksiat, jika tidak mau mati kutu, bahkan mati beneran.

    Bercermin dari kenyataan seperti itu, wajar jika sistem demokrasi yang lahir dari induk sekularisme dan kapitalisme sebagai ayah yang “menafkahi” aktivitas politiknya, tidak akan pernah melakukan perubahan bagi perbaikan umat secara ikhlas dan menyeluruh. Yang terjadi rutin lima tahunan adalah perubahan tambal sulam. Partai politik harus pandai-pandai menggaet “investor” untuk bisa meraih kekuasaan. Sementara itu, kekuasaan yang dimenangkan parpol suara terbanyak akan membuat aturan bagaimana parpol yang seolah bersaing bisa mendukung misi yang dipesan oleh oligarki yang berada di belakangnya. Kehadiran partai politik yang bermain pada kontestasi pemilihan umum sejatinya hanyalah dagelan karena siapa pun pemenangnya akan masuk pada rumah yang sama, yaitu rumah kapitalisme. Inilah gambaran nyata betapa sempit dan kotornya makna politik tanpa melihat hukum halal dan haramnya. Karena dalam kapitalisme, halal dan haram itu urusan agama yang tidak boleh dibawa dalam urusan kekuasaan.


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/07/peran-parpol-untuk-perubahan-umat/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    9 min
  • Kapitalisme Get Out!

    Kapitalisme Get Out!

    Oleh : Nur Hajrah MS

    (Aktivis Dakwah Nisa Morowali)

    Voice Over Talent: Dewi N

    NarasiPost.Com-Bantuan Sosial Tunai (BST) Rp300 ribu dinyatakan telah resmi dihentikan mulai September 2021 oleh Menteri Sosial Tri Rismaharini. Sebelumnya, bansos ini diberikan kepada masyarakat yang terdampak wabah covid-19 dan tercatat ada 10 juta kepala keluarga yang menerima bantuan tersebut. Rencana awal Kemensos, pemberian BST hanya selama empat bulan yaitu mulai Januari-April 2021, namun akibat adanya kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM pemberian bantuan diperpanjang sampai Agustus 2021. Menurut Risma, dihentikannya BST karena roda perekonomian masyarakat sudah mulai bergerak dan menurutnya tidak semua bantuan dibebankan kepada pemerintah untuk itulah mengapa bansos tunai mulai September ditiadakan (cnnindonesia.com, 22/09/2021).

    Tentu saja keputusan tersebut menuai kekecewaan publik. Dilansir dari cnnindonesia.com, berdasarkan dari hasil survei yang diadakan oleh CNN Indonesia, yang meminta tanggapan kepada masyarakat tentang keputusan pemerintah menghentikan bansos tunai. Dari hasil survei tersebut diambil kesimpulan bahwa kebanyakan masyarakat kecewa atas keputusan tersebut. Pasalnya, walau perekonomian masyarakat Indonesia mulai bergerak tetapi kebanyakan masyarakat masih bergantung pada bantuan tersebut untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Karena pasca pemutusan hubungan kerja sampai saat ini mereka belum mendapatkan pekerjaan. Ada juga yang mengatakan bahwa bantuan tersebut tidaklah tepat sasaran.


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/04/kapitalisme-get-out/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    12 min
  • Rapor Merah Pemberantasan Korupsi Era Demokrasi, Pemberantas Malah Diberantas

    Rapor Merah Pemberantasan Korupsi Era Demokrasi, Pemberantas Malah Diberantas

    Oleh. Rindyanti Septiana, S.H.I.

    (Pemerhati Sosial dan Politik)

    Voice Over Talent: Giriyani

    NarasiPost.Com-Kita patut berduka dengan sikap pemerintah dalam memberantas korupsi. Konon katanya harus bertindak tegas tanpa pandang bulu. Namun, faktanya pemberantasan korupsi menemui jalan buntu.

    Kejahatan korupsi makin susah diberantas, intrik politik kerap kali mengitari dalam menyelesaikan setiap perkara. Bahkan, peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW), Lalola Easter menyatakan sejarah akan mencatat, betapa hancurnya pemberantasan korupsi dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo (cnnindonesia.com, 14/9/2021).

    Lola menambahkan, ada beberapa indikator terkait mandeknya kinerja pemerintah dalam memberantas korupsi. Pertama, kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengendur, dalam dua tahun terakhir terlihat penurunannya. KPK masih banyak utang menyelesaikan berbagai kasus korupsi. Kedua, adanya dugaan pelanggaran etik yang serius oleh salah satu komisioner. Ketiga, KPK lebih mengedepankan citra daripada kinerja pemberantasan korupsi.

    Dari semua indikator di atas, tampaknya KPK memang tak bertaring lagi terhadap para koruptor. Apalagi, sejak direvisi kembali UU KPK makin menunjukkan ada kepentingan tertentu di dalamnya. Pemberantasan korupsi hanya angan-angan, tidak bisa diwujudkan.


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/09/25/rapor-merah-pemberantasan-korupsi-era-demokrasi-pemberantas-malah-diberantas/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    7 min
  • Pendidikan Dipajaki, Beban Rakyat Makin Tinggi

    Pendidikan Dipajaki, Beban Rakyat Makin Tinggi

    Oleh. Pahriati, S.Si. (Praktisi Pendidikan)

    Voice Over Talent: Arien S

    NarasiPost.Com-Polemik pajak pendidikan telah bergulir sejak beberapa bulan lalu. Berawal dari rencana pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) terhadap beberapa sektor yang sebelumnya dikecualikan sebagai Objek Jasa Kena Pajak (JKP), termasuk bidang pendidikan. Rencana tersebut tertuang dalam Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Kelima atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (RUU KUP). Menteri Keuangan bersama Komisi XI DPR RI telah menyetujui rancangan tersebut. Kabarnya, RUU ini akan dibahas dalam rapat paripurna, awal pekan depan. (m.merdeka.com, 30/09/2021)

    Dikutip dari bppk.kemenkeu.go.id (17/06/21), pemerintah ingin menarik PPN dari sekolah mewah atau sekolah swasta bertaraf internasional, karena insentif PPN saat ini dianggap tidak tepat sasaran. Di tahun 2021, pemerintah menganggarkan Rp550 triliun untuk sektor pendidikan. Anggaran tersebut terpakai untuk semua fasilitas pendidikan, termasuk pendidikan mewah. Anggaran pendidikan gratis dan les privat berbayar tinggi, sama-sama tidak kena PPN. Sebagai solusi kesenjangan ini, pemerintah ingin melakukan reformasi sistem PPN dengan menyiapkan RUU KUP.

    Banyak pihak yang kemudian protes terhadap rencana ini, karena akan menyebabkan efek domino. Meski penarikan PPN hanya dilakukan untuk sekolah tertentu, tetap saja hal itu tak elok untuk diterapkan. Akan berdampak buruk bagi dunia pendidikan, terutama sekolah swasta atau lembaga pendidikan lain yang juga berperan menopang pendidikan di negeri ini. Sekolah atau lembaga yang terkena PPN tentu akan menaikkan biaya pendidikannya. Kesenjangan sosial makin terasa. Pendidikan berkualitas dan berfasilitas lengkap makin tak terjangkau oleh masyarakat “kelas bawah”.

    Rencana ini kontra produktif dengan upaya peningkatan kualitas pendidikan. Padahal harus kita akui, kualitas pendidikan Indonesia masih rendah. Menurut U.S. News & World Report yang merangkum peringkat sistem pendidikan terbaik di seluruh dunia, pada tahun 2021 Indonesia ada di peringkat 55 dari 73 negara. (detik.com, 27/07/2021)


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/05/pendidikan-dipajaki-beban-rakyat-makin-tinggi/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Perjalanan Rindu (Part 2)

    Perjalanan Rindu (Part 2)

    Oleh. Lestari Umar

    Voice Over Talent: Maya R

    NarasiPost.Com-“Assalamualaikum.” Suara Ayah Hasan mengucap salam.

    “Wa’alaikumussalam,” jawab Hasan dan ibunya.

    “Sudah siap berangkat, Hasan? Mari, Ayah antar ke sekolah.”

    “Baik, Ayah.”

    “Hasan berangkat ke sekolah dulu, Umi. Assalamualaikum.”

    Hasan berpamitan pada ibunya. Kali ini ia mencium tangan dan kembali mencium kedua pipi ibunya.

    “Wa’alaikumussalam,” jawab Shafiyyah.

    Hasan melambaikan tangan ke atas dan tersenyum lebar menatapnya. Rupanya itu adalah pertemuan terakhir Shafiyyah dengan putra bungsunya itu.

    Tak lama berselang, saat ayah Hasan tiba di rumah dari mengantar sekolah, berita yang menggemparkan itu pun terdengar hingga ke telinganya. Serangan rudal yang dilancarkan oleh tentara Israel menyasar sekolah anaknya. Ayah Hasan melangkah dengan gontai, kembali menyusuri jalan yang baru saja dia lalui beberapa saat lalu. Ia sudah tak peduli lagi dengan suara orang-orang di sekitar yang memanggilnya.

    Sementara bagi Shafiyyah, sang ibunda, pagi itu adalah kali kedua ia terpaksa harus mendengar kabar duka dan menyaksikan putra tercintanya ada dalam barisan para korban serangan brutal tak berperikemanusiaan itu. Kali ini, serangan itu menimpa Hasan, putra bungsunya, setelah terlebih dulu Ahmad, sang putra sulung menghadap Sang Pencipta akibat bentrokan, tepat setahun lalu.

    Hati ibu mana yang tidak hancur melihat pemandangan seperti itu? Dua orang putra tercintanya harus pergi dalam waktu yang berdekatan. Mereka pergi meninggalkan ayah dan ibunya dalam tragedi kemanusiaan. Tak lepas-lepas lisannya berzikir, melafazkan asma Allah, berharap memperoleh kekuatan dari-Nya.

    Batinnya bagai teriris. Jiwanya sesak akibat duka mendalam karena harus menerima takdir kehilangan dengan cara yang sangat tragis. Dua orang buah hatinya harus pergi meninggalkannya di usia yang masih sangat muda.


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/07/perjalanan-rindu-part-2/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    9 min
  • Perdarahan Hamil Muda, Berbahayakah?

    Perdarahan Hamil Muda, Berbahayakah?

    Oleh. Aya Ummu Najwa

    (Kontributor Tetap Narasipost.com)

    Voice Over Talent: Yeni M

    NarasiPost.Com-“Assalamualaikum, teman-teman mohon doanya untuk saudari kita, mba Ina. Beliau tadi malam mengalami perdarahan dan pagi ini juga masih berlanjut.”

    Deg… Kubaca WhatsApp dari temanku di grup komunitas. Temanku Mbak Ina, memang sedang mengandung anak keempat dengan usia kandungan tiga bulan. Aku langsung berpikir, apa karena kelelahan sampai Mbak Ina mengalami perdarahan? MasyaAllah, beliau memang terkenal tak bisa diam. Orangnya cekatan, mood booster team, dan inginnya semua dikerjakan, apalagi urusan dakwah. Hingga tadi malam, kami masih diskusi terkait acara dakwah esok harinya.

    Dengan sigap kucari namanya dan kukirim pesan pribadi padanya secara langsung. Kutanyakan kabarnya, namun hingga siang hari setelah agenda dakwah yang kami susun telah usai, beliau belum juga membaca dan membalas pesanku. Menurut temanku, Mbak Ina sudah memeriksakan ke dokter. Doaku semoga beliau dan calon bayinya senantiasa dalam lindungan Allah.

    Betapa setiap wanita yang sudah menikah, pasti ingin mempunyai keturunan, ingin merasakan bahagianya mengandung, melahirkan dan mengasuh anak-anaknya. Saat kabar bahagia itu datang, maka suasana bahagia memenuhi hati setiap anggota keluarga, berharap mendapatkan keturunan yang sehat sebagai penerus keluarga. Namun dalam perjalanan kehamilan, tak selalu mulus sesuai keinginan. Kadang wanita hamil mengalami beberapa kondisi, salah satunya flek dan perdarahan pada kehamilannya.


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/03/perdarahan-hamil-muda-berbahayakah/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • International Muslim Lawyer Conference: Pembelaan Hakiki terhadap Kemuliaan Umat Islam di Seluruh Dunia adalah dengan Berjuang Menegakkan Khilafah”

    International Muslim Lawyer Conference: "Pembelaan Hakiki terhadap Kemuliaan Umat Islam di Seluruh Dunia adalah dengan Berjuang Menegakkan Khilafah”

    Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S

    (Redaktur Pelaksana NarasiPost.Com )

    Voice Over Talent: Dewi N

    NarasiPost.Com-Ahad, 3 Oktober 2021 diselenggarakan acara Konferensi Advokat Internasional (International Lawyer Conference) yang dimulai pukul 08.00-12.00 WIB. Acara yang disiarkan melalui live streaming channel Youtube IMLC ini mengundang narasumber dari beberapa negara, termasuk Indonesia.

    Pembicara pertama adalah Mr.Abdul Rafee dari Amerika Serikat, beliau menyoroti persoalan muslim Rohingya. Beliau mengungkapkan bahwa muslim Rohingya mendapat perlakukan diskriminatif selama berpuluh-puluh tahun. Mirisnya mereka diperlakukan seperti itu oleh pemerintah yang terpilih secara demokratis. Pemerintah membuat kamp militer. Mr. Abdul Rafee kemudian mengungkapkan bahwa hal tersebut disebabkan karena adanya penyakit nasionalisme. Padahal itu bertentangan dengan Islam. Terakhir beliau menegaskan bahwa hanya Khilafahlah yg mampu menghentikan genosida terhadap muslim Rohingya.

    Pembicara selanjutnya dari Australia, yakni Mr. Ren Wiramie Hardja yang menyoroti soal Afganistan dan media Barat yang senantiasa membuat framming terhadap isu di Afganistan. Beliau melontarkan pertanyaan retoris, “Benarkah di bawah cengkeraman AS di Afganistan, nasib perempuan lebih baik?”

    “Sebab terjadinya masalah ini adalah sejak runtuhnya Khilafah, Barat berhasil memecah belah negeri-negeri kaum muslimin. Barat juga melakukan penjajahan terhadap negeri muslim lewat perjanjian internasional.” Ujarnya.

    Selanjutnya beliau menyampaikan hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Ahmad, “Barangsiapa yang mati karena ashobiyah, maka matinya adalah mati jahiliah.”


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/04/international-muslim-lawyer-conference-hakiki-terhadap-kemuliaan-umat-islam-di-seluruh-dunia-adalah-dengan-berjuang-menegakkan-khilafah/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • Kekayaan Penguasa Dipertontonkan, Rakyat Miskin Diabaikan

    Kekayaan Penguasa Dipertontonkan, Rakyat Miskin Diabaikan

    Oleh: Teti Rostika

    Ibu Rumah Tangga Pegiat Literasi

    Voice Over Talent: Armina A

    NarasiPost.Com-Sungguh sangat menyayat hati saat membaca berita bahwa kekayaan para pejabat penyelenggara negara meningkat dimasa pandemi, sedangkan kondisi rakyatnya semakin sekarat. Sebagaimana dilansir di www.cnnindonesia.com (07/09/2021) KPK mengungkap 70,3% harta pejabat negara meningkat selama pandemi.

    Hal ini tentu menjadi pertanyaan besar bagi rakyat. Di manakah hati nurani para pejabat negara saat rakyat kesulitan bekerja karena banyak pabrik dan perusahaan yang memberhentikannya, para penjual kaki lima tidak bisa bertransaksi dengan optimal akibat diberlakukannya aturan PSBB dan PPKM. Bahkan, saat penjual kaki lima tetap nekat berjualan dan tidak mematuhi aturan mereka, tak segan diberi denda. Tak jarang, barang dagangan mereka pun raib disita petugas.

    Selain itu, kita dapati juga penanganan negara dalam menyelesaikan pandemi sungguh sangat minim dan terkesan setengah hati. Rakyat yang terpapar Covid-19 tidak mendapat pelayanan kesehatan dan fasilitasnya yang memadai. Rumah sakit ada yang sampai menutup IGD, karena ketersediaan tempat tidur pasien penuh. Bahkan, terpaksa mereka harus tidur di dalam tenda (www.bbc.com, 4/07/2021). Masyarakat yang melakukan isolasi mandiri pun tidak semua mendapat bantuan. Bahkan, ada yang sampai meninggal saat melakukan isolasi mandiri. (www.egapolitan.kompas.com, 23/07/2021)

    Sungguh tidak elok jika pejabat negara bertumpuk harta sedangkan rakyat menderita. Sistem kapitalisme yang diusung oleh negeri ini telah membuat para penguasa kehilangan rasa empati dan rasa mengayomi. Hal ini terjadi, karena sistem kapitalisme meniscayakan bahwa negara harus minim andil dalam melayani kesehatan dan pendidikan rakyatnya. Bahkan, dalam masalah ekonomi, hubungan negara dan rakyat layaknya penjual dan pembeli. Kesejahteraan rakyat pun diabaikan. Rakyat terus dimintai pajak sebagai sumber pemasukan negara. Sedangkan, sumber daya alam sumber kesejahteraan milik rakyat malah dijual kepada pihak asing atas nama investasi.


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/04/kekayaan-penguasa-dipertontonkan-rakyat-miskin-diabaikan/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    9 min
  • Khilafah, Penjaga Utama Agama

    Khilafah, Penjaga Utama Agama

    Oleh. Nay Beiskara

    ( Tim Redaksi NarasiPost.Com )

    Voice Over Talent: Giriyani

    NarasiPost.Com-Ironi. Di negeri yang amat menjunjung tinggi toleransi, rangkaian diksi berujung penistaan agama kembali terjadi. Ungkapan M. Kece dalam sebuah video yang viral di media sosial menjadi bukti dugaan penistaan agama karena dinilai telah menghina Nabi Muhammad Saw. Dalam video tersebut dinyatakan oleh M. Kece bahwa tidak ada ayat yang mengabarkan Nabi Muhammad Saw masuk surga. Ia pun menambahkan bahwa Nabi Muhammad dikerumuni oleh jin dan dekat dengan jin. (cnnindonesia.com, 22/8/2021)

    Tidak hanya itu yang menjadi kontroversi, menurutnya kitab kuning sebagai hasil usaha manusia itu membingungkan dan menyimpang dari Al-Qur’an. Tak ayal ungkapan M. Kece di kanal Youtubenya menuai banyak protes karena jelas-jelas telah melukai hati kaum muslim di negeri ini dan berpotensi merusak harmonisasi kerukunan antarumat beragama, khususnya Islam dan Nasrani.

    Saat ini M. Kece telah ditangkap di Bali dan akan dibawa ke Bareskrim Polri. Detik.com (25/8/2021) melansir, Youtuber ini resmi berstatus sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama. Penangkapan ini terjadi setelah beberapa pihak melaporkan terkait konten ceramahnya di kanal Youtube yang meresahkan masyarakat. Polisi mengabarkan tidak ada pembiaran atas kasus ini. Polisi beserta Kominfo telah mengajukan take down atas 400 video ceramah tersangka yang dianggap kontroversial dan provokatif, tapi baru 20 video yang diblokir oleh pihak Youtube (Detik.com, 24/8/2021).


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/09/05/khilafah-penjaga-utama-agama/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    9 min

About Narasipostmedia

From the publisher's feed

Audio tentang sastra, opini, surat pembaca motivasi, food dan sebagainya dari karya-karya para penulis ideologis yang naskahnya publish di media www.narasipost.com