
Sign up to save your podcasts
Or


Antara Kesenangan dan Ketenangan
Oleh : Nur’Aini
Voice Over Talent: Arien S
NarasiPost.Com-Air mata dan tawa senantiasa datang dan pergi di dunia yang fana ini. Susah dan senang senantiasa bergilir mewarnai hari demi hari. Ujian pun sudah pasti datang dan pergi baik berupa kesulitan ataupun kenikmatan hidup. Tetapi yang pasti semua yang terjadi dalam kehidupan di alam dunia ini adalah bersifat sementara saja.
Secara fitrah setiap manusia akan terdorong untuk beraktivitas dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup mereka, karena akan timbul masalah dalam kehidupannya apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi atau terpenuhi tetapi salah dalam pemenuhannya. Manusia senantiasa akan selalu terdorong melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Baik yang terkait dengan pemenuhan fisik yang memang harus selalu dipenuhi seperti makan, minum, dan sejenisnya, yang tentunya ketika tidak terpenuhi dengan baik bisa mengantarkan seseorang kepada gangguan fisik berupa sakit bahkan kematian. Ataupun kebutuhan terhadap hal-hal yang terkait dengan pemenuhan nalurinya, seperti naluri untuk menyucikan atau mengagungkan sesuatu, naluri berkasih sayang, juga naluri untuk melindungi dan mempertahankan diri. Kebutuhan pemenuhan terkait naluri ini pun tentunya akan menimbulkan masalah pula jika tidak terpenuhi atau salah dalam pemenuhannya.
Saat ini dapat kita saksikan dan rasakan bersama bagaimana orang berlomba-lomba untuk mengejar materi, terlepas apakah ditempuh dengan cara yang baik atau buruk. Haus akan sanjungan dan pujian, sehingga disibukan waktunya untuk meraih pujian dan sanjungan tersebut. Selain itu, tempat-tempat hiburan tidak pernah sepi dari pengunjung meskipun harus mengeluarkan biaya yang melangit. Termasuk beraneka aktivitas yang bersifat dianggap bisa menyenangkan hati pun dikejar selalu dengan penuh semangat. Demi meraih kesenangan atau dengan harapan bisa rileks sejenak atau untuk sekadar melupakan sesaat berbagai problematika yang terjadi dalam hidupnya.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/09/06/antara-kesenangan-dan-ketenangan/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Al-Qur’an Dijadikan Pembungkus, Penistanya Wajib Diringkus!
Oleh. Misnawati
Voice Over Talent: Yeni M
NarasiPost.Com-Negeri ini kembali dihebohkan dengan penemuan potongan kertas yang bertuliskan ayat-ayat suci Al-Qur’an pada pelapis petasan. Peristiwa tersebut diketahui saat petasan dibakar pada sebuah hajatan pernikahan salah satu warga di Kelurahan Parung Serab, Kota Tangerang, Banten. Tentu saja, peristiwa tersebut mengundang kemarahan masyarakat. Beragam reaksi bermunculan, tak terkecuali tokoh ulama.
Dikutip dari sindonews.com, Ketua Umum Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Trisno Raharjo, mengatakan, “Lembar Al-Qur’an tidak dibenarkan untuk digunakan sebagai media pembungkus apa pun. Pelaku yang menggunakan baik sengaja atau tidak, perlu diproses secara hukum.” kata Trisno saat dihubungi MNC Portal, Minggu (12/09/2021).
Masih hangat dalam ingatan umat, pelecehan agama oleh murtadin kece terhadap Nabi saw. Kini datang lagi petasan yang dibungkus menggunakan kertas Al-Qur’an.
Kebebasan memeluk agama Islam selalu terusik. Betapa tidak, selalu saja ada orang yang berani mengganggu dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pembungkus petasan. Seolah kasus tidak ada habisnya dan sulit diringkus. Tetapi kasus akan mendapat perhatian, bila kaum minoritas yang mengalami, tidak butuh lama aparat sudah mengetahui pelaku dan motif kejahatan yang dilakukan.
Berita pun akan menjadi santapan empuk media mainstream, siang-malam penayangan dilakukan. Lalu dengan mudahnya menyematkan kata radikal, teroris, dan intoleransi pada agama Islam.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/01/al-quran-dijadikan-pembungkus-penistanya-wajib-diringkus/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Setiap Diri Diuji
Oleh. Armina Ahza
Voice Over Talent: Dewi N
NarasiPost.Com-Pernahkah terbesit jika hidup penuh ujian? Seolah yang lain hidup enak, namun diri sangat banyak ujiannya. Wahai diri jangan salah sangka terlebih dahulu. Bahwasanya, setiap hamba akan diuji oleh Allah. Ujian-ujian yang Allah berikan, untuk melihat mana hamba yang benar-benar mencintai Allah.
Ujian dari Allah tidak selalu berbentuk rasa sedih, kehilangan, kesengsaraan, ataupun yang lainnya. Rasa senang, hidup berkecukupan, keberhasilan juga merupakan sebuah ujian. Sebab, ujian tidak hanya berbentuk kesulitan namun juga kenikmatan. Allah Subhanallahu wata’ala berfirman:
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/01/setiap-diri-diuji/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Amukan si Jago Merah di Lapas Menguak Bobroknya Sistem Hukum ala Kapitalisme
Oleh: Nurjamilah, S.Pd.I.
Voice Over Talent: Giriyani
NarasiPost.Com-Si jago merah kembali melumat salah satu lapas di negeri ini. Tak aneh, karena sudah berulang kali terjadi kegaduhan akibat overcrowding lapas yang dibiarkan tanpa solusi komprehensif. Peristiwa ini seakan membongkar buruknya sistem hukum peradilan dan pemeliharaan lembaga pemasyarakatan negeri ini.
Diwartakan dari www.cnnindonesia.com (12/09/2021), api telah melumat Lapas Kelas I Tangerang Blok C-2 yang berpenghuni 122 orang pada Rabu (8/9) pukul 01.45 dini hari. Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 03.00. Kebakaran ini menelan korban jiwa sebanyak 45 orang dan ratusan orang terluka, baik ringan maupun berat. Diduga hubungan arus pendek listrik menjadi penyebab kebakaran ini. Diakui, instalasi listrik di Lapas Tangerang belum pernah dibenahi sejak dibangun pada 1972. Lantas, bagaimanakah kondisi riil lapas di Indonesia? Benarkah penjara menjadi satu-satunya vonis yang menimbulkan efek jera? Bagaimanakah Islam memandang dan mengatur mengenai sistem hukum yang solutif dan berkeadilan?
Tumpuan Tak Terurus
Indonesia merupakan salah satu negara hukum yang menjadikan lembaga pemasyarakatan (lapas) sebagai salah satu sub sistem peradilan pidana yang memegang peranan penting. Sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan bahwa lapas diselenggarakan dalam rangka membentuk warga binaan pemasyarakatan agar menjadi manusia seutuhnya, menyadari kesalahan, tidak mengulangi kejahatannya lagi sehingga bisa diterima kembali oleh masyarakat sekitar.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/09/22/amukan-si-jago-merah-di-lapas-menguak-bobroknya-sistem-hukum-ala-kapitalisme/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Jangan Batasi Sabarmu
Oleh. Deena Noor
Voice Over Talent: Arien S
NarasiPost.Com-Orang sering kali mengatakan bahwa kesabaran itu ada batasnya. Telah cukup diri menahan atas kesulitan dan kesusahan yang tiada henti menimpa. Ujian yang terus berdatangan seolah tak mau pergi. Ia terus bertahan entah sampai kapan dan itu membuatnya lelah. Setiap kali ujian menerpa, setiap itu pula kesabarannya seperti berkurang. Masalah demi masalah seperti hendak menyerap stok sabarnya.
Kesabaran akan senantiasa dibujuk oleh emosi yang menggoda untuk dilampiaskan. Amarah telah bersiap di ubun-ubun untuk ditumpahkan. Hati begitu sesak dipenuhi rasa yang menumpuk meminta pembebasan. Cukup sedetik, maka hilanglah seluruh jeratan. Benarkah demikian?
Kesabaran dan ujian menjadi bagian yang tak terpisahkan. Ujian akan mencoba kesabaran manusia pada berbagai tingkatan. Semakin tinggi ujian, maka semakin besar pula kesabaran yang dibutuhkan.
Kesabaran akan terus meningkat seiring dengan ujian yang datang. Semakin banyak ujian yang dihadapi, bukan justru membuat sabar makin berkurang. Setiap ujian sejatinya mendatangkan kesabaran yang akan memenuhi ruang kalbu. Ibarat harta yang kita kumpulkan dari waktu ke waktu, ia akan terus tertumpuk dan tersimpan dalam rumah kita. Kelak, itu akan menjadi bekal kita menghadapi ujian berikutnya.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/09/25/jangan-batasi-sabarmu/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Impor Garam Sudah Biasa, Swasembada sekadar Retorika
Oleh. Fani Ratu R. (Aktivis Muslimah)
Voice Over Talent: Maya R
NarasiPost.Com-Masyarakat Indonesia kembali dibuat geleng-geleng kepala pasca mengetahui pemerintah Jokowi kembali memutuskan untuk mengimpor tiga juta ton garam industri di tahun ini. Meskipun Presiden Joko Widodo sudah pernah mengingatkan soal impor garam, namun tetap saja pemerintah lakukan.
PT.Garam yang digawangi oleh Achmad Hardianto sebenarnya sudah mampu membuat garam kualitas industri, baik garam yang diperoleh langsung dari ladang untuk industri Chlor Alkali Plant (CAP) maupun garam hasil olahan pabrik untuk industri pangan. Tapi memang butuh perbaikan kualitas garam, termasuk untuk memasok kebutuhan garam bagi industri farmasi. Dengan berbagai kendala yang dihadapi oleh PT.Garam untuk memenuhi kebutuhan garam di negeri ini, Pemerintah justru mengambil ‘jalan pintas’, yakni membuka kembali keran impor garam sebanyak tiga juta ton. (Kompas.com, 25/9/2021)
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/03/impor-garam-sudah-biasa-swasembada-sekadar-retorika/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Impor Hajar Cabai Petani, Kedaulatan Pangan Hanya Mimpi
Oleh. Dwi Indah Lestari, S.TP
Voice Over Talent: Mels
NarasiPost.Com-Harga cabai lokal tak lagi terasa “pedas”nya. Impor cabai yang dilakukan pemerintah telah menghajar nilai cabai petani hingga anjlok. Bila seperti ini, mungkinkah cita-cita kedaulatan pangan akan tercapai?
Sebuah video beredar memperlihatkan petani yang mengamuk, disebabkan oleh harga cabai lokal yang merosot karena masuknya cabai impor. Diketahui, pemerintah tahun 2021 telah melakukan impor cabai sebesar 27,851 ton, naik 54 persen dibanding tahun 2020 sebesar 18.075 ton. Banyak pihak menyayangkan kebijakan ini dilakukan di saat produksi cabai dalam negeri sedang surplus, serta mempertanyakan keberpihakan pemerintah terhadap petani. (rctiplus.com, 29-08- 2021)
Di Sleman, Yogyakarta, para petani cabai membagikan hasil penennya secara gratis kepada warga sebagai bentuk keprihatinan atas rendahnya harga cabai. Ketua Forum Petani Kalasan, Janu Riyanto, menyebutkan harga cabai kini hanya Rp5.000 per kilogramnya dari harga normal pada kisaran Rp11.000 per kilogramnya. (yogya.ayoindonesia.com, 29 Agustus 2021).
Kedaulatan Pangan Hanya Mimpi
Pemerintah sepertinya sangat hobi melakukan impor berbagai komoditas termasuk bahan pangan. Kebijakan ini berkali-kali telah membuat kecewa para petani, sebab menyebabkan harga produksi panen mereka menjadi tidak stabil. Padahal Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun nyatanya impor bahan pangan tak pernah absen dari daftar kebijakan pemerintah.
Naskah Selengkapnya :https://narasipost.com/2021/09/26/impor-hajar-cabai-petani-kedaulatan-pangan-hanya-mimpi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Yang Tua Mati, Yang Muda Tidak Lahir
Oleh. Muthi Nidaul Fitriyah
Voice Over Talent: Yeni M
NarasiPost.Com-Diakui oleh berbagai kalangan masyarakat di berbagai wilayahnya bahwa dunia hari ini sedang tidak baik-naik saja, banyak problem yang tidak terselesaikan bahkan semakin memburuk. Bukan tanpa upaya perubahan, upaya itu selalu ada, namun belum pernah sampai pada perubahan hidup yang diharapkan. Seperti agenda yang masih diaruskan yaitu, agenda global pengendalian jumlah penduduk. Teori ini telah digagas oleh Thomas Maltus sejak era 1800-an. Menurutnya, pangkal problem (main problem) adalah kelebihan populasi manusia. Jika populasi manusia sedikit, maka dianggap problem dunia tidak akan sebanyak hari ini. Maka gagasan childfree (komitmen pernikahan tanpa anak), waithood (menunda pernikahan), dan keengganan menikah menjadi gagasan yang tepat yang seolah harus dipropagandakan.
Problem Kelangkaan Makanan
Teori ini mungkin pernah kita dengar semasa duduk di bangku sekolah. Agenda pengendalian jumlah penduduk yang dimasukkan ke negeri muslim kala itu, khususnya Indonesia adalah melalui program keluarga berencana (KB), dengan pembahasan jika polulasi manusia tidak di batasi, maka akan menyebabkan populasi manusia semakin banyak dan akan terjadi kelangkaan makanan. Tanpa pemahaman Islam yang cukup tentu penjelasan tersebut akan dianggap sebagai kebenaran.
Sebagaimana yang diteorikan oleh Robert Maltus tahun 1798, peningkatan produksi pangan mengikuti deret hitung dan pertumbuhan mengikuti deret ukur sehingga manusia pada masa depan akan mengalami ancaman kekurangan pangan. Faktanya jumlah kekayaan dan jumlah pasokan makanan hanya berputar di kalangan tertentu saja, begitupun adanya tingkat obesitas di kalangan tertentu dan di sebagian lain kekurangan gizi, si kaya semakin kaya dan si miskin semakin miskin dengan jumlahnya yang terus bertambah.
Prediksi tentang pertumbuhan penduduk memang benar terjadi, tapi prediksi tentang kelangkaan makanan itu tidak pernah terjadi. Mengapa? Karena Allah sebagai pencipta manusia telah mencukupkan rezeki setiap individu. Sudah banyak lahir teknologi ketahanan pangan serta teknologi-teknologi di berbagai bidang pun sudah banyak ditemukan. Jadi, kesalahannya bukan pada jumlah produksi makanan, akan tetapi kesalahan pada pengelolaan dan distribusi makanan yang ini memang berkaitan langsung dengan sistem bernegara yang diterapkan.
Naskah Selengkapnya :https://narasipost.com/2021/09/21/yang-tua-mati-yang-muda-tidak-lahir/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Penista Agama Jangan Sampai Lolos!
Oleh: Miladiah al-Qibthiyah
Voice Over Talent: Dewi F
NarasiPost.Com-Hai Guys. Sudah pada baca berita belum? Tahu tidak, ada yang cari sensasi lagi lho, di dunia content creator. Dia itu menyerang Islam habis-habisan. Memang harus begini amat ya, kalau ingin mendongkrak popularitas? Harus menistakan keyakinan agama tertentu? Hadeuh ….
Dangkal amat ya, pemikiran orang macam ini. Mengaku content creator, tetapi tidak mengedukasi masyarakat. Yang ada malah menyebar konten yang menimbulkan kebencian, khususnya di kalangan umat Islam.
YouTuber bernama M Kece ini benar-benar memancing kemarahan umat Islam lho, Guys. Konten videonya sangat fatal. Masa iya, Rasulullah saw. manusia paling mulia dan terhormat di sisi Pemilik Kerajaan Langit dan Bumi ini dikatakan sebagai pengikut jin? Jelas dong, ini menebar kebencian dan permusuhan terhadap umat Islam.
Bukan hanya itu, Guys. Dia juga berani sekali menghina dan merendahkan kitab suci Al-Qur’an. Orang macam ini, di dadanya memang sudah hitam legam. Dia tidak tahu kalau perbuatannya itu akan membawa malapetaka untuk dirinya di kehidupan akhir nanti, kalau dia tidak bertobat.
Saking hebohnya konten penista ini, banyak pihak akhirnya mendesak agar si M Kece ini segera ditangkap oleh pihak berwajib. Bahkan, pihak yang mendesak itu datang dari pejabat publik di negeri ini lho, Guys. Seperti Wakil ketua MUI Komisi Fatwa, Abdul Muiz dan Wakil Ketua Fraksi PKS di DPR RI Netty Prasetiyani Aher. Mereka semua mendesak Polri untuk menangkap si penista, M Kece ini.
Naskah Selengkapnya :https://narasipost.com/2021/09/09/penista-agama-jangan-sampai-lolos/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Sandaran Terbaik
Oleh .Maharani Kusuma Artanti
Voice Over Talent: Arien S
NarasiPost.Com-“Masa remaja yang identik dengan tahap pembentukan identitas dapat memberikan peluang besar untuk merasakan penderitaan mendalam dibandingkan pada masa-masa lain akibat kekacauan peranan atau kekacauan identitas.”
Sohibati, apa tanggapan kalian mengenai kutipan di atas? Setujukah kalian?
Setuju atau tidak, banyak orang yang merasa bahwa masa remaja merupakan masa peralihan yang berat. Hal ini terjadi karena kita memiliki peran yang saling bertentangan dalam diri. Di satu sisi, kita masih ingin bertingkah seperti anak-anak, tetapi di saat yang sama harus bertingkah dan berperilaku layaknya pribadi yang lebih dewasa.
Ilmu psikologi sendiri melihat bahwa pertentangan sikap yang tidak dapat diatasi oleh diri akan menimbulkan kekacauan peranan. Artinya, bila kita tidak memantapkan diri, bisa saja kita merasa bingung harus berperan seperti apa—tetap kekanakan atau mendewasakan diri—di masa peralihan ini.
Contoh sederhana dari kekacauan peran ini dapat kita lihat dari teman-teman yang pergi merantau untuk bersekolah. Bayangkan saja, mereka yang dulunya bersekolah di SD dengan jarak lima langkah dari rumah, ketika SMP atau SMA diminta untuk masuk ke pondok pesantren. Pasti rasanya ingin menangis … huhuhu, tetapi malu.
Jadi, meskipun sedih, mereka memutuskan untuk tersenyum saat orang tua melambaikan tangan di gerbang pondok pesantren. Ya, walau lima hari berikutnya, mereka diam-diam menangis di kamar mandi karena rindu, sih, hehe. Saat merantau inilah, mau tak mau jiwa kekanakan mereka harus dikikis karena kehidupan pondok yang serba mandiri.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/09/25/sandaran-terbaik/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed