Narasipostmedia

Narasipostmedia

By NarasipostNewsDaily News
Download on the App Store

Narasipostmedia episodes

  • Mengenal Rasulullah saw. Seperti Anak, tetapi Tidak Mau Berpihak

    Mengenal Rasulullah saw. Seperti Anak, tetapi Tidak Mau Berpihak

    Oleh: Novida Sari, S.Kom

    Voice Over Talent: Fani R

    NarasiPost.Com-Allah Swt. telah memberitahukan bahwa sesungguhnya para ahlul kitab, baik Yahudi dan Nasrani telah mengetahui datangnya nabi akhir zaman yang akan menyempurnakan ajaran agama sebelumnya. Pada kitab-kitab mereka, telah diberikan kabar perihal ciri-ciri, asal, dan sifat sang utusan terakhir.

    Sebagaimana firman Allah Swt. di dalam surat Al Baqarah ayat 146, bahwa,

    اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَعْرِفُوْنَهٗ كَمَا يَعْرِفُوْنَ اَبْنَاۤءَهُمْ ۗ

    Artinya: “Orang-orang yang telah diberikan kepada mereka Al Kitab (Taurat dan Injil), telah mengenal Muhammad sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.”

    Sebagaimana orang tua yang mengenal dengan teliti dan detail luar dalam dari seorang anak, maka seperti itulah perumpamaan orang Yahudi dan Nasrani mengenal kenabian Muhammad saw. yang akan diutus untuk seluruh umat manusia. Tidak ada lagi nabi setelahnya, bahkan risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. menjadi kitab (tuntutan) bagi mereka untuk mengimani kenabiannya, termasuk ajaran agama yang dibawanya.


    Naskah Selengkapnya :https://narasipost.com/2021/09/25/mengenal-rasulullah-saw-seperti-anak-tetapi-tidak-mau-berpihak/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    6 min
  • Seleksi PPPK Berbelit-belit, Guru Honorer Kembali Menelan Pil Pahit

    Seleksi PPPK Berbelit-belit, Guru Honorer Kembali Menelan Pil Pahit

    Oleh.Renita

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent: Giriyani

    NarasiPost.Com-Sungguh nahas nasib guru honorer di negeri ini. Pengabdian selama puluhan tahun, tak serta merta membuat mereka hidup sejahtera. Jangankan untuk hidup layak, honor yang terima saja selalu tekor. Bahkan, untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran hidup pun, harus ditentukan oleh lolos tidaknya tes Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Hal ini seolah menegaskan buruknya sistem hari ini dalam melayani fasilitas pendidikan bagi rakyat, termasuk memosisikan pendidik dalam keadaan terhormat dan hidup layak.

    Dilansir dari detik.com (19/9/2021), pemerintah memutuskan melakukan pengangkatan guru honorer dengan program PPPK dengan kuota sebanyak 1.002.616 formasi. Guru honorer yang dinyatakan lulus akan memperoleh gaji dan tunjangan sesuai dengan level jabatan seperti halnya PNS. Dalam Perpres Nomor 98 Tahun 2020 tentang Gaji dan Tunjangan PPPK dijabarkan terkait besaran gaji dan tunjangan bagi guru PPPK. Gaji terendah berada di kisaran Rp1,7 juta dan gaji tertinggi berkisar Rp6,7 juta. Selain itu mereka juga akan memperoleh tunjangan keluarga, tunjangan jabatan struktural, tunjangan pangan, tunjangan jabatan fungsional serta tunjangan lainnya. Pengangkatan ini bukan berdasarkan masa pengabdian seorang guru, melainkan dilakukan melalui sejumlah tes. Sehingga, yang berhak menerima gaji PPPK adalah yang berhasil lolos dari tes tersebut.

    Sekilas, adanya program ini seolah menunjukkan apresiasi pemerintah terhadap nasib guru honorer yang selama ini terkatung-katung tak terurus. Tak heran, raut kebahagiaan pun terpancar di mata mereka manakala secercah harapan itu mulai terlihat. Banyak dari mereka akhirnya menggantungkan harapan perbaikan hidup pada tes PPPK ini. Namun, bagaimanakah sebenarnya potret kehidupan guru honorer di negeri ini? Apakah PPPK akan menuntaskan permasalahan kesejahteraan guru honorer?


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/01/seleksi-pppk-berbelit-belit-guru-honorer-kembali-menelan-pil-pahit/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    13 min
  • Menapaki Terjalnya Jalan Hijrah

    Menapaki Terjalnya Jalan Hijrah

    Oleh: Hana Annisa Afriliani, S.S

    Voice Over Talent: Arien S

    NarasiPost.Com-“Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka terbunuh atau mati, sungguh Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Sungguh, Dia pasti akan memasukkan mereka ke tempat masuk (surga) yang mereka sukai. Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.” (Q.S Al-Hajj: 58-59)

    Begitulah yang Allah janjikan kepada mereka yang berhijrah di jalan Allah. Ya, surgalah sebaik-baik balasan bagi mereka yang mengerahkan daya upaya demi mencapai puncak hijrah, serta istikamah dalam hijrahnya.

    Itu juga yang menjadi motivasi terbesarku ketika memutuskan berhijrah totalitas dalam satu helaan napas. Ya, tentu saja, sebab setiap muslim pasti mendamba surga sebagai tempat kembalinya. Itulah kehidupan abadi yang Allah janjikan bagi mereka yang beriman dan bertakwa.

    Sungguh, syukur tak pernah henti kupanjatkan kepada Allah atas skenario mahaindah yang Dia rancang untuk hidupku. Allah pertemukan aku dengan para muslimah salehah yang akhirnya menjadi perantara hijrahku. Di dunia kampus, saat intelektualitas menemui ruangnya, aku dipertemukan dengan komunitas yang memantik akalku untuk berpikir cemerlang.

    Aku masih ingat, di teras masjid universitas, aku dan seorang kakak angkatan di kampusku berbincang soal Islam. Entah mengapa, usai berbincang dengannya, satu per satu simpul pemikiranku terlepas. Ada mindset yang berubah tentang hidup dan kehidupan. Entah mengapa pula, aku seperti baru memahami Islam secara utuh, padahal aku muslim sejak lahir. Amazing!

    Diskusi demi diskusi terus berlanjut di hari lainnya. Aku merasa candu untuk terus berdiskusi. Banyak hal baru yang kudapatkan dari diskusi itu, lebih-lebih kakak angkatanku itu menyertai argumennya dengan banyak bukti yang bisa diterima akalku. Tak jarang dia membawa banyak kitab para ulama untuk menopang perkataannya.


    Naskah Selengkapnya :https://narasipost.com/2021/09/16/menapaki-terjalnya-jalan-hijrah/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    13 min
  • Pendidikan Berpajak, Bagaimana Kualitas Generasi?

    Pendidikan Berpajak, Bagaimana Kualitas Generasi?

    Oleh. Dia Dwi Arista

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent: Titis

    NarasiPost.Com-Pendidikan adalah hal yang krusial bagi semua negara. Negara mempunyai tanggung jawab penuh atas pendidikan bagi seluruh warganya. Namun, kenyataannya pemerintah Indonesia malah menggodok RUU (Rancangan Undang-Undang) untuk memajaki jasa pendidikan sebesar 7 persen. Jika RUU ini diteken, maka jasa pendidikan bukan lagi penghuni lingkup non-Jasa Kena Pajak (JKP).

    Kebijakan baru ini tengah digodok oleh Kemenkeu dengan Panja (Panitia Kerja) RUU KUP Komisi XI DPR RI. Agenda tersebut tertera dalam RUU tentang Perubahan Kelima atas UU No 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. (nasional.kontan.com, 9/9/2021)

    Beleid ini rencananya akan dikenakan pada sekolah non-Sisdiknas, atau sekolah swasta dan sekolah internasional. Jika sekolah swasta yang notabene adalah pembantu sekolah negeri dipajaki, lalu bagaimana nasib pendidikan negeri ini selanjutnya? Padahal kita tahu jumlah sekolah negeri jauh lebih sedikit dari jumlah sekolah swasta.


    Naskah Selengkapnya :https://narasipost.com/2021/09/22/pendidikan-berpajak-bagaimana-kualitas-generasi/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    11 min
  • Bandwagon Effect Melanda Dunia, Saatnya Milenial Muslim Jadi Trendsetter Kebaikan Penegak Peradaban Islam

    Bandwagon Effect Melanda Dunia, Saatnya Milenial Muslim Jadi Trendsetter Kebaikan Penegak Peradaban Islam

    Oleh: Nurjamilah, S.Pd.I.

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent: Arien S

    NarasiPost.Com-Hi, guys! Ayo ngaku, siapa yang suka mantengin medsos? Ehm … tentu saja aku, kamu, dan kita semua. Coba tebak, apa sih yang lagi viral saat ini? Sadar tidak sih, kalau sekarang ini lagi tren budaya ikut-ikutan?

    Sepertinya tidak keren kalau kita tidak ikut-ikutan sesuatu yang lagi viral. Misal, ketika ada challenge malaikat maut, challenge kiki, ngeprank dan lain sebagainya, beramai-ramai pada ikutan. Padahal, semua itu nirfaedah, bahkan mengundang maut, lho. Namun, tetap saja digandrungi.

    Ternyata fenomena ini disebut bandwagon. Efeknya, selain nyeleneh juga membuat kreativitas para konten kreator terpasung. Mengapa? Karena mereka hanya jadi pengekor saja, nol inovasi, cuma poles sedikit, ikut viral, dech. Nah, bagaimana dengan konten keislaman? Apakah juga laris manis? Sayangnya, untuk yang satu ini sepi pengunjung. Mengenaskan, ternyata arus budaya asing telah menggilas budaya Islam.

    Mengenal Bandwagon, Snob dan Veblen Effect

    Guys, sadar tidak, ternyata pesatnya perkembangan teknologi informasi meniscayakan perubahan psikologi seseorang dalam merespon berbagai peristiwa yang terjadi, baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Kaum milenial saat ini terjebak pada tiga jenis efek.

    Pertama, bandwagon effect alias efek ikut-ikutan, yakni kecenderungan individu mengikuti gaya, perilaku, atau sikap tertentu yang kebanyakan orang juga melakukannya. Ini dilakukan tanpa peduli alasan apa yang mendasarinya sehingga tren tertentu bisa viral karena diikuti banyak orang. Contohnya adalah dalam tren fashion, musik, sosial media, dan lain-lain.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/17/bandwagon-effect-melanda-dunia-saatnya-milenial-muslim-jadi-trendsetter-kebaikan-penegak-peradaban-islam/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • Jangan Menuntut si Kakak Dewasa Terlalu Dini

    Jangan Menuntut si Kakak Dewasa Terlalu Dini

    Oleh. Novida Sari, S.Kom

    Voice Over Talent: Dewi F

    NarasiPost.Com-Bunda, apakah si kecil telah memiliki adik? Apakah Bunda termasuk golongan subur, hingga pil KB pun tidak mempan menjarakkan usia anak? Bagaimanapun, anak adalah anugerah yang telah dipercayakan Allah Swt. kepada Bunda yang harus dijaga, dirawat, dan dididik dengan kasih sayang.

    Merawat dan mendidik anak bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan ilmu dan seni dalam membersamai anak agar tidak ada yang merasa dianaktirikan karena minus perhatian, terlebih ketika anak menjadi seorang kakak dengan hadirnya seorang adik.

    Kenalkan si Kakak Dengan Adik

    Secara fitrah, manusia senang dengan bayi. Kelucuan dan keluguan khas bayi senantiasa memikat siapa pun yang melihatnya, termasuk anak. Akan tetapi, perasaan akan tersaingi dengan kehadiran adik kecil bisa saja muncul, apalagi jika si kakak mendapatkan informasi bahwa orang tuanya tidak akan menyayanginya jika adiknya lahir. Oleh karenanya, orang tua harus mendekatkan hubungan emosional anak dengan adik sejak adik berada di dalam kandungan.

    Oleh karena itu, sejak dalam kandungan, si kakak sudah dilibatkan dengan adiknya. Caranya, bisa dengan hal kecil seperti mengajak si kakak bicara sambil memuji-muji bahwa kakak itu seorang pribadi yang baik, penyayang, perhatian, dan sayang pada adiknya. Dengan begitu, si kakak akan terstimulus sedari awal untuk menyayangi dan memiliki adik.

    Bunda juga dapat melibatkan si kakak dalam melakukan persiapan kelahiran adik, seperti memilih perlengkapan bayi dengan motif-motif lucu yang disukainya sembari memuji atas pilihan yang dijatuhkannya.


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/09/12/jangan-menuntut-si-kakak-dewasa-terlalu-dini/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Harta Pejabat Kian Meningkat, Rakyat Makin Sekarat

    Harta Pejabat Kian Meningkat, Rakyat Makin Sekarat

    Oleh: Sherly Agustina, M.Ag

    (Penulis dan Pemerhati Kebijakan Publik)

    Voice Over Talent: Dewi N

    NarasiPost.Com-Allah mencela hamba-Nya yang menumpuk (menimbun) harta. Di antara firman-Nya yaitu di dalam surat At Taubah: 34-35:

    “Ingatlah) pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka Jahanam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung dan punggung mereka (seraya dikatakan) kepada mereka, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.”

    Pandemi dan krisis yang terjadi membuat rakyat gigit jari, namun ternyata tidak bagi pejabat negeri ini. Dilansir dari Merdeka.com, dari hasil laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) yang diterima, KPK mencatat sebanyak 70,3 persen penyelenggara negara mengalami kenaikan harta kekayaan selama pandemi Covid-19. Bahkan mencapai di atas 1 miliar, mulai dari jajaran menteri hingga DPRD. (Merdeka.com, 9/9/21)

    Utang negara kian meningkat, pajak semakin mencekik rakyat dan angka kemiskinan pun meningkat. Bahkan, rakyat hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja dalam kondisi terhimpit kesulitan saat ini. Rakyat butuh empati dan bantuan dari pejabat negeri, namun itu hanyalah mimpi. Kenyataannya, pemilik harta yang banyak itu tidak memihak kepada rakyat sama sekali.

    Ketika Pengusaha menjadi Penguasa dalam Sistem Kapitalisme

    Ke mana rakyat mengadukan semua kesulitannya, jika mereka yang diamanahi mewakili rakyat saja tak peduli? Para pejabat setelah mendapat jabatan, bukan menjalankan amanah tapi sibuk memperkaya diri dan menumpuk harta. Kapitalisme memfasilitasi manusia agar semakin rakus tehadap harta dan dunia. Buktinya, harta kekayaan pejabat sebelum dan setelah menjabat melesat dengan cepat.


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/01/harta-pejabat-kian-meningkat-rakyat-makin-sekarat/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • Apa Hukum Poligami?

    Apa Hukum Poligami?

    Oleh: Armina Ahza

    Voice Over Talent: Fani R

    NarasiPost.Com-Pembahasan mengenai poligami adalah pembahasan yang seolah tak ada usangnya. Baik bagi laki-laki maupun perempuan. Selalu bisa menjadi topik pembahasan yang menarik. Sebab poligami masih dianggap kontroversial di masyarakat kita. Maka tak heran jika perbincangan dan pembahasan poligami masih menduduki juara pembahasan. Sebuat saja, misalnya Ustaz A dikabarkan berpoligami, sejagat Nusantara akan heboh dan semua media tak habis untuk memberitakannya. Mulai dari infotainment, koran, televisi dan bahkan sosial media yang kini menjadi akses dan sarana komunikasi.

    Kata yang berasal dari bahasa Yunani ini memang sangat sensitif jika dibahas. Bahkan kebanyak perempuan enggan untuk dinomorduakan apalagai dinomortigakan dan dinomorempatkan. Inilah yang selalu diangkat oleh orang-orang feminis yang selalu mengatakan bahwa poligami, beristri lebih dari satu adalah bentuk ketidakadilan laki-laki terhadap perempuan. Namun di sisi lain terdapat pula perempuan yang rela suaminya menikah kembali bahkan dirinya sendiri yang meminang untuk sang suami.

    Meski di tengah-tengah masyarakat terdapat pro dan kontra mengenai poligami, selayaknya kita sebagai seorang muslim menyikapinya dengan tepat. Sebab, ketika seorang muslim bersikap, bertindak dan menyampaikan pendapat serta menyandarkan rasa suka dan tidak suka bukanlah melalui perasaan, juga bukan melihat tanggapan masayakat pada umumnya. Jika tidak suka maka mengharamkan, jika masayarakat membenci maka melarang, tidak, tidak seperti itu. Namun, sandaran setiap berbuatan adalah berdasarkan hukum syara. Maka janganlah cepat membenci aktivitas poligami, juga jangan tergesa menyemangati untuk melakukan poligami. Bersikaplah sebagaimana Islam menyikapi, bertindaklah sebagaimana Allah dan Rasul-Nya perintahkan.


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/09/21/apa-hukum-poligami/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Menerapkan Etika Berkomunikasi dalam Media Sosial

    Menerapkan Etika Berkomunikasi dalam Media Sosial

    Oleh. Anggy Wira Pambudi S.IP., M.Sos.

    Media Sosial sebagai Bagian dari Kebutuhan Sehari-hari Masyarakat

    Voice Over Talent: Yeni M

    NarasiPost.Com-Seiring dengan perkembangan zaman yang dinamis dan progresif, kini berbagai bentuk kegiatan masyarakat telah terintegrasi secara digital ke dalam berbagai platform berbasis digital seperti media sosial. Integrasi ke dalam platform berbasis digital dilakukan guna mempermudah pelaksanaan berbagai kegiatan masyarakat tanpa adanya restriksi dalam bentuk fisik yang kemudian dapat dialihkan melalui platform berbasis digital seperti media sosial.

    Banyak platform media sosial menawarkan berbagai fitur yang beragam yang kemudian penggunaannya dapat disesuaikan dengan berbagai kebutuhan masyarakat sebagai pengguna.

    Dengan fitur yang beragam, penggunaan media sosial dapat bersifat multifungsi, di mana satu platform media sosial dapat digunakan untuk beragam kegiatan seperti kegiatan pergaulan, bisnis, hingga kegiatan hiburan.

    Dengan adanya berbagai fitur dan bentuk penggunaan yang beragam, penggunaan media sosial telah menjadi satu kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat. Setiap harinya, masyarakat sulit untuk terlepas dari penggunaan media sosial. Dengan semakin terintegrasinya berbagai bentuk kegiatan kedalam platform berbasis digital, maka penggunaan media sosial oleh masyarakat juga akan semakin meningkat.


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/09/26/menerapkan-etika-berkomunikasi-dalam-media-sosial/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    9 min
  • Usia Tua, Bukan Kendala

    Usia Tua, Bukan Kendala

    Oleh: Mariyah Zawawi

    Voice Over Talent: Arien S

    NarasiPost.Com-Seperti biasa, sebelum kursus bahasa Arab dimulai, ustazah yang mengajar menanyakan kabar kami. Beliau pun menyapa salah seorang peserta kursus, sebut saja Umu Fulanah.

    “Bagaimana kabarnya, Bu Umu Fulanah? Sudah sehat?” tanya Ustazah.

    “Alhamdulillah, sudah sehat, Ustazah,” jawab Umu Fulanah.

    “Alhamdulillah. Kemarin sakit apa?” tanya Ustazah lagi.

    “Tensi saya naik, Ustazah. Alhamdulillah sekarang sudah normal lagi,” jawab Umu Fulanah.

    Awalnya saya agak terkejut mendengar penjelasan Umu Fulanah. Akan tetapi, sejenak kemudian saya pun tersadar. Dalam hati saya berkata, “Iya ya, kami ini sudah tua, sudah lebih dari 40 tahun. Sudah ada potensi berkenalan dengan penyakit-penyakit degeratif.”

    Sebenarnya, kami belum tua-tua amat. Saya tahu, ada mereka-mereka yang usianya jauh lebih tua dari kami yang tetap bersemangat untuk belajar. Beberapa waktu yang lalu, saya pernah mengikuti kursus belajar menerjemahkan Al-Qu’ran. Di brosurnya disampaikan bahwa salah seorang pesertanya sudah berusia 78 tahun. Kemudian, di grup belajar bahasa Arab yang lain, ada nenek-nenek berusia 72 tahun yang ikut kursus.

    Sewaktu saya mengikuti sebuah webinar, salah seorang narasumber bercerita bahwa ada seorang nenek yang mengikuti kuliah lagi setelah pensiun dari pekerjaannya. Nenek itu seorang pensiunan guru. Nah, ia sengaja kuliah lagi untuk memotivasi anak cucunya agar bersemangat dalam menuntut ilmu. Si nenek mengambil program magister dan doktoral. Ia pun berhasil meraih gelar doktornya pada usia 70 tahun! Luar biasa, kan? Usia tua sepertinya tidak menjadi kendala bagi mereka untuk terus mencari ilmu.


    Naskah Selengkapnya :https://narasipost.com/2021/09/28/usia-tua-bukan-kendala/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    8 min

About Narasipostmedia

From the publisher's feed

Audio tentang sastra, opini, surat pembaca motivasi, food dan sebagainya dari karya-karya para penulis ideologis yang naskahnya publish di media www.narasipost.com