
Sign up to save your podcasts
Or


Pendidikan Berpajak, Apakah Bijak?
Oleh: Dewi Fitratul Hasanah
Voice Over Talent: Giriyani
NarasiPost.Com-Negeri Seribu Pajak”. Sebuah julukan yang rasanya tak berlebihan jika disematkan pada negeri tercinta ini. Bagaimana tidak, pajak hampir melabeli semua lini.
Sebagaimana diberitakan Kontan.co.id (9/9/2020) pemerintah tengah mengajukan pengenaan pajak pertambahan nilai (PPN) terhadap jasa pendidikan sebesar 7%. Beleid ini tengah dibahas oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bersama Panitia Kerja (Panja) RUU KUP Komisi XI DPR RI. Rencana tersebut menyemai respon dari berbagai kalangan masyarakat. Pemerintah dinilai seolah lepas tanggung jawab dan mengambil keuntungan tersendiri dengan dalih demi berjalannya roda ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Pasalnya, pendidikan merupakan pondasi esensial bagi generasi penerus negeri. Pendidikan seharusnya dipersembahkan kepada rakyat dengan biaya murah, bahkan gratis. Meskipun yang akan dikenai pajak adalah pendidikan berkategori swasta dan bertaraf internasional, tapi tak sepantasnya sektor pendidikan masuk dalam urutan objek yang dikenai pajak.
Sayangnya, pajak telah dianggap sebagai instrumen terjitu yang memiliki peran terbesar dalam menopang APBN di negeri ini. Dalam postur APBN 2020 saja, pendapatan negara di proyeksikan sebesar 2223,2 triliun rupiah dengan rincian penerimaan dari pajak sebesar 1.865,7 triliun rupiah, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar 367,0 triliun rupiah, dan hibah sebesar 0,5 tririlun rupiah. (Kemenkeu.go.id)
Besarnya target pendapatan dari pajak tersebut, membuat apa pun yang ada di negeri ini dijadikan objek bidikan pajak. Mulai dari pajak kendaraan, pajak penghasilan, pajak bumi dan bangunan, pajak pertambahan nilai, pajak para pengguna media sosial dan penggunaan fasilitas umum dan lain sebagainya, bahkan sekarang pun akan ada pajak untuk pendidikan.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/09/19/pendidikan-berpajak-apakah-bijak/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Pilih Childfree, Standarnya Apa?
Oleh : Riannisa Riu
Voice Over Talent: Fani R
NarasiPost.Com-Bulan Agustus lalu, warganet ramai memperbincangkan mengenai “childfree”, yakni keputusan seseorang atau pasangan yang sudah menikah untuk tidak memiliki anak. Topik ini menjadi hot issue setelah dipopulerkan oleh seorang YouTuber dan Selebgram terkenal yang saat ini tinggal bersama suaminya di Jerman. Influencer tersebut mengaku secara terang-terangan bahwa ia memilih kehidupan childfree bersama suaminya. Beberapa artis tanah air pun ada yang menyatakan dukungannya secara terbuka mengenai keputusan childfree ini.
Alasan untuk childfree terbilang banyak. Pertama, kedua orang tua mengaku tidak siap memiliki anak, sementara anak membutuhkan tanggung jawab penuh dan perhatian khusus dari kedua orang tua. Kedua, orang tua tak sanggup membayangkan biaya perawatan dan pengurusan anak hingga dewasa, apalagi di tengah kondisi ekonomi plus pandemi yang begitu menyulitkan seperti saat ini. Ketiga, mengklaim bahwa memiliki anak akan mengganggu hubungan romantisme dan keharmonisan suami istri, sehingga tidak lagi mesra seperti awal pernikahan. Keempat, alasan yang tampaknya idealis namun klise, yakni membludaknya populasi manusia di bumi ini sehingga tak perlu lagi menambah populasi manusia dengan melahirkan anak. Selain alasan-alasan ini, masih ada setumpuk alasan lain pendukung childfree.
Ketika seorang manusia ingin melakukan sesuatu, maka ia akan mengerahkan seribu upaya. Namun, jika manusia tidak ingin melakukan sesuatu, akan dikeluarkannya seribu alasan. Childfree pun demikian. Benar atau salahnya langkah untuk mengambil keputusan childfree ini bergantung pada standar kehidupan manusia itu sendiri, yakni standar yang digunakan oleh manusia tersebut dalam memilih seluruh keputusan dalam hidupnya.
Tatkala standar kehidupan yang dianut oleh manusia tersebut adalah standar yang bukan Islam, misalnya kapitalisme sekuler, maka tentulah childfree sama sekali bukan masalah baginya. Standar kapitalisme liberal memberikan berbagai bentuk kebebasan kepada manusia dalam hidupnya. Salah satunya adalah kebebasan berekspresi. Dengan standar liberal ini, baik childfree, LGBTQ+, atau dark jokes sekalipun dinilai sebagai bentuk kebebasan berekspresi yang lumrah dilakukan siapa saja. Sehingga, standar ini menjadikan manusia benar-benar bebas untuk mengekspresikan dirinya, serta menentukan keputusan apa pun yang dia anggap baik baginya. Karena bahkan negara pun tidak akan ikut campur dalam urusan kehidupannya. Itulah asas utama dari standar kapitalisme sekuler, yakni pemisahan agama dari kehidupan.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/25/pilih-childfree-standarnya-apa/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Pecel Madiun, Kuliner Legendaris dari Tanah Jawa
Oleh: Deena Noor
Voice Over Talent: Dewi F
NarasiPost.Com-Adakah yang belum pernah menyantap pecel? Bila belum, saya sarankan untuk mencobanya karena kuliner yang satu ini rasanya sungguh nikmat. Campuran sayur-mayur yang direbus dengan siraman kuah kacang yang legit dan gurih begitu menggugah selera. Ditambah rempeyek kacang atau teri dan aneka lauk-pauk pendampingnya, benar-benar membuat lidah bergoyang.
Apalagi jika Anda adalah seorang vegetarian, maka pecel menjadi pilihan yang tepat karena berisi aneka sayur yang tentu menyehatkan. Sayur yang kaya serat dipadu dengan bumbu kacangnya tak kalah lezat untuk dilahap, meski tanpa olahan daging di dalamnya. Harganya pun ramah di kantong.
Pecel yang biasanya disantap sebagai sarapan ini bisa ditemukan di mana-mana. Sajian ini sangat populer di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta dengan ciri khasnya masing-masing. Harganya yang murah meriah menjadi pilihan banyak kalangan. Tua-muda, kaya-miskin, pejabat-rakyat, semua menyukai kuliner yang amat melegenda ini.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/23/pecel-madiun-kuliner-legendaris-dari-tanah-jawa/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Menulis dan Membaca Bagai Dua Sisi Mata Uang
Oleh. Sherly Agustina, M.Ag.
Voice Over Talent: Armina A
NarasiPost.Com-Pasti ada maksud mengapa wahyu Allah Swt. pertama yang turun adalah surat Al ‘Alaq. Umat Islam hapal betul bagaimana bunyi ayat pertama surat tersebut, “Bacalah, dengan menyebut nama Tuhan-mu.”
Sebagai umat Islam, hendaknya tak lepas dari aktivitas membaca. Baik itu membaca Al-Qur’an, buku, alam sekitar, orang di sekeliling, dan sebagainya. Membaca bagian dari aktivitas mengisi nutrisi otak agar bisa berpikir dan menjadi informasi sebelumnya yang disimpan di dalam otak. Membaca adalah bagian dari aktivitas para ulama di masa dahulu. Maka tak heran, jika para ulama bisa menghasilkan karya yang banyak. Salah satunya karena para ulama banyak membaca.
Tentu patut ditiru apa yang pernah dilakukan oleh para ulama, sehingga waktu yang mereka miliki sangat berkah. Jika dilihat dalam waktu sehari semalam, para ulama bisa melahap banyak buku. Sementara kita, sehari semalam terkadang sulit walau hanya ingin mengkhatamkan satu buku. Apalagi buku yang dibaca sangat berat kontennya dan membutuhkan pemikiran ekstra dalam memahaminya.
Teladan Ulama dalam Membaca dan Menulis
Siapa yang tak kenal Ibnul Jauzi (w. 597 H), beliau pernah membaca 200.000 jilid buku lebih. Beliau mengatakan, jika menemukan buku yang belum pernah dilihat, seolah-olah mendapatkan harta karun. Ibnul Jauzi menasihati orang alim dan pencari ilmu, “Sebaiknya memiliki tempat khusus di rumah untuk menyendiri. Karena di sana kamu bisa membaca lembaran-lembaran buku dan menikmati indahnya petualangan pikiran.”
Lalu, teladan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (w. 728 H). Murid Ibnu Taimiyah, Al Hafizh Ibnu Abdil Hadi (w. 744 H) di dalam Mukhtasar Thabaqat ‘Ulama Al-Hadits menuturkan apa yang pernah dilakukan gurunya, “Beliau (Ibnu Taimiyah) banyak membaca buku, mendengarkan kajian ilmu selama bertahun-tahun, dan pernah mengkhatamkan Al-Ghailaniyyat sekali baca”.
Tahukah, bahwa kitab Al-Ghailaniyyat itu terdiri dari 11 juz. Bagi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah buku atau kitab setebal itu hanya sekali baca. Sungguh menakjubkan aktivitas para ulama, tak kenal lelah dalam menimba ilmu apa pun kondisinya.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/09/24/menulis-dan-membaca-bagai-dua-sisi-mata-uang/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Berharganya Waktu
Oleh : Armina Ahza
Voice Over Talent: Arien S
NarasiPost.Com-Pernahkah kita merasakan bahwa waktu begitu cepat berlalu? Rasanya baru kemarin kita lulus SMA, kini sudah wisuda bahkan sudah memiliki anak. Waktu memang begitu cepat berlalu. Waktu akan terus berjalan tanpa mempedulikan siapa pun. Ia tidak pernah berhenti, melambat ataupun terulang. Jika berlalu, berlalulah waktu dan tak bisa kita mengulanginya. Jika pagi ini diri teramat berat untuk bangun tidur bergegas melaksanakan salat, jika hari ini diri tak bergegas berkarya agar bermanfaat untuk umat karena rasa malas yang begitu kuat mencengkeram diri, maka tidaklah waktu akan sudi menunggu. Ia tak mau menunggu semangatmu detik demi detik berjalan. Tidak, sekali-kali tidak! Waktu tidak akan pernah mau menuggu diri yang malas, yang rebahan tiada manfaat hingga bangkit bersemangat. Jika malas dan penuh rebahan, itu artinya akan tertinggal. Sedangkan mereka yang penuh semangat dan banyak ikhtiar, akan maju dan lebih unggul. Merekalah yang banyak beramal, berkarya dan bermanfaat.
Muhasabah Bersama dalam Mengisi Umur
Mari kita sedikit bermuhasabah bersama. Tanyakan pada diri. Berapa umurku sekarang? Apa saja kebaikan yang sudah aku lakukan? Bagaimana sikapku dengan ibu dan bapakku? Bagaimana perangaiku di hadapan suami dan anak-anak? Sudahkah aku menjadi hamba yang banyak bersyukur atau justru banyak mengeluh? Berapa banyak zikir yang aku lantunkan hari ini? Berapa banyak ayat-ayat Allah yang membasahi lisanku? Berapa banyak majelis yang aku hadiri dan aku isi?
Coba bandingkan, bagaimana dengan Rasulullah dan para sahabatnya? Di usianya yang sekarang apa yang sudah mereka lakukan demi memperjuangkan agama ini? Sedangkan diri ini? Sungguh bukankah amat malu dengan minimnya amal?
Di satu sisi dalam usia yang sama, namun orang lain amal salehnya lebih banyak, dakwahnya lebih memukau, sedekahnya lebih menakjubkan, karyanya lebih melimpah. Ada yang bisa menulis setiap hari, membaca 4 buku setiap hari, bahkan mengkhatamkan Al-Qur’an tiap pekan, dll.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/18/berharganya-waktu/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Solusi Kejahatan Seksual, Ubah Sistemnya!
Oleh. Nur Hajrah MS.
Voice Over Talent: Fani R
NarasiPost.Com-Badan Legislasi (Baleg) DPR RI kembali membahas Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS). Namun, pembahasan tersebut bukan untuk segera mengesahkan RUU PKS, melainkan mengubah draf RUU PKS dan judulnya diganti menjadi Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS). Sebelumnya, RUU PKS merupakan salah satu Program Legislasi Nasional prioritas 2020, namun RUU PKS ini tidak kunjung disahkan padahal telah memasuki Prolegnas 2021. (cnnindonesia.com 07/09/2021)
Berubahnya draf RUU PKS menjadi RUU TPKS tentu saja menuai kritik dari kelompok masyarakat, pasalnya keputusan Baleg bukan hanya mengubah judul draf dari RUU PKS menjadi RUU TPKS, melainkan juga menghapus 85 pasal dan 5 jenis kekerasan seksual yang terdapat dalam RUU PKS. Sebelumnya ada 9 jenis kekerasan seksual yang tercantum di RUU PKS, yaitu:
Sedangkan dalam RUU TPKS hanya ada 4 jenis kekerasan seksual, yaitu:
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/23/solusi-kejahatan-seksual-ubah-sistemnya/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Koalisi Demi Kursi, Akibat Sistem Politik Demokrasi
Oleh Nina Marlina, A.Md
Voice Over Talent: Arien S
NarasiPost.Com-Analis politik dan Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago, berharap Partai Demokrat dan PKS tetap konsisten di pihak oposisi bila PAN betul merapat ke koalisi pemerintah. Menurutnya, idealnya kepemimpinan memiliki kekuatan koalisi dan oposisi yang berimbang. Ia pun memprediksi PAN akan mendapat satu atau dua kursi menteri jika telah merapat ke pemerintahan Jokowi.
Selain itu, Pangi pun mempertanyakan apakah ada agenda memuluskan langkah politik amandemen kelima menambah masa jabatan presiden tiga periode. Jika benar demikian, maka menurutnya publik harus dengan tegas menolak untuk menutup pintu ini serapat-rapatnya. (Tribunnews.com, 28/08/2021)
Hari ini publik dibuat kecewa lagi dengan parpol yang ikut merapat di koalisi pemerintah, yakni Partai Amanat Nasional (PAN). Khususnya umat Islam yang merupakan sebagian besar simpatisannya. Akhirnya 82 persen parlemen adalah parpol kubu penguasa. Hal ini tentu akan semakin memudahkan jalannya pengambilan keputusan yang berpihak pada rezim. Termasuk kecurigaan adanya amandemen undang-undang terkait perpanjangan rezim 3 periode.
Dengan koalisi ini, tentu akan mengubah sikap partai politik PAN yang akan mengamini setiap kebijakan pemerintah. Begitu pun dikhawatirkan berubah pula sikapnya terhadap Islam.
Inilah buah dari sistem politik demokrasi. Asas partai politiknya adalah manfaat atau kepentingan. Jika dinilai mengandung manfaat atau keuntungan, maka akan diambil. Partai politik menjadi sarana untuk meraih kekuasaan atau jabatan. Bukan lagi menampung aspirasi rakyat dan merealisasikannya. Hari ini lawan, besok bisa menjadi kawan.
Sistem politik demokrasi ini meniscayakan pengambilan keputusan berdasarkan suara mayoritas. Tak peduli halal haram. Tak peduli jika harus mengorbankan rakyat. Yang ada bagaimana caranya menguntungkan mereka dan melanggengkan kekuasaan.
Selain itu, sistem ini berbiaya mahal. Naiknya mereka di kursi kekuasaan tak terlepas dari dukungan para pemilik modal. Alhasil ketika menjabat, para kapitalis ini yang menyetir dalam pembuatan kebijakan atau undang-undang.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/24/koalisi-demi-kursi-akibat-sistem-politik-demokrasi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Susu Kedelai, Kebaikan dari Alam
Oleh: Deena Noor
Voice Over Talent: Dewi N
NarasiPost.Com-Susu kedelai atau susu soya kini telah banyak peminatnya. Susu yang berbahan dasar kedelai ini banyak ditemui dengan berbagai varian dan kemasan. Mulai dari kemasan yang eksklusif hingga yang buatan rumah tangga nan murah meriah, susu kedelai disukai oleh anak-anak hingga lansia.
Susu kedelai memiliki kandungan protein nabati yang tinggi dan rasanya pun tak kalah enak dengan susu sapi. Nutrisi susu kedelai dipercaya setara dengan susu sapi. Ditambah lagi kandungan lemak dan kalori susu kedelai yang lebih rendah dibanding susu sapi, sehingga cocok untuk berdiet. Mereka yang vegetarian juga bisa mengganti susu sapi dengan susu kedelai dalam menunya.
Susu Kedelai Berasal dari Mana?
Susu kedelai menurut ceritanya berasal dari Tiongkok. Minuman ini telah ada di sana sejak 1900 tahun yang lalu. Suatu hari, Liu An yang seorang raja Huainan dari Dinasti Han menggiling kacang kuning yang telah direndam selama beberapa jam sebelumnya hingga menjadi cairan seperti susu. Cairan putih ini yang kemudian dikenal sebagai susu kacang.
Liu An menggiling kacang itu untuk sang ibu yang sakit dan tidak bisa mengunyah makanan. Ia bermaksud memberikan cairan hasil gilingan kacang tersebut untuk memudahkan sang ibu meminumnya. Dengan begitu, sang ibu yang sakit bisa tetap mendapat asupan makanan yang bernutrisi.
Kondisi sang ibu pun berangsur membaik setelah meminum susu kacang tersebut. Karena khasiatnya yang mampu memulihkan kesehatan, akhirnya sejak saat itu susu kacang menjadi tersebar luas ke masyarakat. Minuman ini cocok diminum sepanjang tahun sehingga menjadi umum dalam kebudayaan masyarakat Tionghoa.
Kacang kedelai sendiri termasuk tanaman biji polong-polongan yang dipercaya telah ada sejak 3500 tahun yang lalu di Asia Timur. Kedelai atau Glycine max ini menjadi sumber protein dan minyak nabati dunia. Glycine max adalah turunan domestikasi dari spesies moyang, Glycine soya yang banyak dibudidayakan di daerah Asia subtropik seperti Cina dan Jepang.
Negara penghasil kedelai terbesar di dunia adalah Amerika Serikat, Brazil dan Argentina. Menurut data dari FAO (Food and Agriculture Organization) tahun 2017, jumlah produksi kedelai AS mencapai 119.518.490 ton. Sedangkan Indonesia sendiri berada di peringkat kedua negara pengimpor kedelai terbesar setelah China. (perdagangan.sariagri.id, 6/1/2021) Sungguh ironis bukan?
Padahal dengan tanah Indonesia yang luas begini, harusnya bisa mencukupi kebutuhan akan kedelainya sendiri bila mau. Tak heran jika harga pangan yang berbahan baku kedelai akan sangat terpengaruh dengan harga komoditas ekspor negara AS tersebut. Bila harga kedelai naik, maka repotlah para ibu karena pasti berimbas pada ketersediaan tahu dan tempe sebagai makanan favorit keluarga.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/24/susu-kedelai-kebaikan-dari-alam/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Singapura Takut Rezim Taliban Bangkitkan Terorisme di Asia
Oleh: Miladiah al-Qibthiyah
Voice Over Talent: Yeni M
NarasiPost.Com-Konflik Taliban-Afghanistan hingga saat ini masih menjadi topik utama di mancanegara. Taliban yang telah berhasil menguasai Afganistan rupanya memberi sinyal kekhawatiran di kawasan Asia. Menteri Dalam Negeri Singapura, K. Shanmugam, menyampaikan kekhawatirannya terhadap kekuasaan rezim Taliban di Afghanistan bila akhirnya mampu membangkitkan aksi teror di negaranya, yang notabene kawasan Asia.
Dilansir dari Channel NewsAsia, kekhawatiran Shanmugam didasari oleh laporan yang melampirkan rekam jejak Taliban yang kerap melindungi jaringan teroris selama ini. Menurutnya, Taliban adalah tempat yang dibutuhkan calon teroris atau membantu calon teroris keluar untuk melakukan hal-hal buruk. Taliban juga merupakan tempat berlindung yang aman bagi calon teroris di mana mereka dapat berlatih fisik dan memiliki senjata. Hingga mereka dibentuk menjadi radikal, baik fisik maupun pemikirannya.
Kekhawatiran Shanmugam semakin membuncah tatkala ia membahas bahwa Afghanistan memberikan tempat aman bagi kelompok teroris, seperti Al-Qaeda hingga ISIS. Ia khawatir terjadi hal serupa terhadap prospek peningkatan terorisme di kawasan Asia.
Senada dengan Mendagri Singapura, sinyal ketakutan juga datang dari Menteri Luar Negeri Australia, Marise Payne, dalam pidatonya pada Kamis (9/9) yang menyatakan bahwa Australia dan Indonesia harus bekerja sama untuk mencegah Afghanistan menjadi sarang teroris. Rusia dan India juga mengkhawatirkan bibit-bibit teroris di Afghanistan merambah di kawasan ini. Kedua negara ini memercayai jika kelompok militan asing di Afghanistan sangat berpotensi meningkatkan ancaman terorisme di kawasan Asia.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/18/singapura-takut-rezim-taliban-bangkitkan-terorisme-di-asia/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Perjalanan dari Rumah ke Rumah
Oleh: Vidya Spaey Putri Ayuningtyas, S.T., MaHS, IAI
Voice Over Talent: Dewi F
NarasiPost.Com-Sepertinya, menjalani profesi sebagai arsitek, perencana, dan peneliti perumahan selama 24 tahun adalah misi yang Allah berikan untuk saya. Dalam buku Negeri 5 Menara dituliskan bahwa misi hidup kemungkinan adalah ketika kita melakukan suatu hal positif dengan kualitas sangat tinggi dan menikmati prosesnya serta merasa baik melakukan hal tersebut.
Di tahun pertama berkarir, saya menyelesaikan perumahan setinggi 19 lantai di Jakarta untuk mengatasi housing backlog atau kekurangan jumlah rumah. Rumah susun sederhana milik (rusunami) dibangun dengan subsidi dari pemerintah bekerjasama dengan swasta dan pengusaha. Rusunami yang ditujukan bagi keluarga menengah ke bawah di beberapa kota besar dan padat di Indonesia, ternyata belum mampu dijangkau kalangan bawah, tetapi justru banyak dibeli sebagai investasi bagi kalangan atas.
Melalui pengkajian dan penelitian ulang ditemukan beberapa penyebab, antara lain karena kemampuan mayoritas masyarakat di kota besar adalah menyewa. Lebih dari itu, sistem dan persyaratan pembelian secara langsung atau angsuran menyulitkan bagi kalangan yang tidak memiliki pendapatan tetap dan tercatat setiap bulan. Harga unit apartemen menjadi tinggi karena adanya keuntungan yang diharapkan oleh swasta dari penjualan unit dan bunga bank jika melakukan metode pembelian secara kredit.
Pada tahun 2010, sebagai anak perempuan pertama yang tidak dapat bergantung pada keluarga, masyarakat atau negara, saya hijrah ke Singapura dan merancang ribuan unit rumah di kota-kota besar untuk menyelamatkan satu rumah milik kedua orang tua di kota kelahiran, Surakarta.
Menggunakan rumah sebagai jaminan untuk mendapatkan modal usaha, sering dilakukan oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Krisis ekonomi dunia menghantam bisnis milik orang tua; menyebabkan ketidakmampuan membayar angsuran beserta bunga. Rumah tinggal pun hampir disita oleh bank.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/21/perjalanan-dari-rumah-ke-rumah/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed