Narasipostmedia

Narasipostmedia

By NarasipostNewsDaily News
Download on the App Store

Narasipostmedia episodes

  • Ruang Sesak Oligarki di Balik Megaproyek Ibu Kota Baru

    Ruang Sesak Oligarki di Balik Megaproyek Ibu Kota Baru

    Oleh.Renita

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent: Giriyani

    NarasiPost.Com-Keterpurukan negara akibat pandemi tampaknya tak menyurutkan langkah pemerintah untuk terus mengejawantahkan berbagai proyek ambisius mereka, salah satunya megaproyek Ibu Kota Negara (IKN) baru. Meskipun sebelumnya sempat mandeg karena adanya penanganan pandemi, namun akhirnya persiapan IKN mulai memasuki babak baru.

    Sebagaimana diberitakan dari liputan6.com (5/9/2021), Menteri PPN/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, mengungkapkan persiapan IKN sudah mulai berjalan, mulai dari skema pembangunan hingga RUU IKN sudah disiapkan. Selanjutnya, tinggal dilakukan pembagian segmentasinya terkait waktu untuk memulai pengerjaannya. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024 telah dipaparkan rencana pemindahan ibu kota ini. Pengerjaannya sendiri diperkirakan akan memakan waktu hingga 15-20 tahun. Adapun persiapan yang dilakukan yakni membangun sarana penyelenggaraan pemerintahan di ibu kota baru serta kegiatan pembangkit ekonomi bagi IKN dan sekitarnya. Meskipun banyak pihak yang melontarkan kritik pedas terkait megaproyek ini, nyatanya semua itu tetap tak digubris oleh pemerintah. Pemerintah berdalih adanya megaproyek ini akan dapat mempercepat pemerataan ekonomi di Indonesia. Benarkan demikian?

    Kilas Balik Wacana Pemindahan Ibu Kota

    Awalnya megaproyek ini digaungkan pada 26 Agustus 2019, saat pertemuan di istana negara, Jokowi mengumumkan Kalimantan Timur yakni di Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian Kabupaten Kutai Kartanegara sebagai lokasi ibu kota baru. Anggaran untuk pemindahan ibu kota ini diperkirakan mencapai Rp466 triliun dengan rincian sebanyak 19 persen akan ditanggung oleh APBN, sedangkan sisanya didapatkan melalui Kerjasama Pemerintah dan Badan usaha (KPBU) serta investasi langsung dari swasta dan BUMN. Menurut Badan Pertanahan Nasional (BPN), luas ibu kota baru mencapai 180 hektare, yakni sebanyak 90 persen lahan pemerintah dan 10 persen lahan milik swasta. (Bisnis.tempo.co, 21/8/2021)


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/09/19/ruang-sesak-oligarki-di-balik-megaproyek-ibu-kota-baru/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    13 min
  • Rasulullah SAW Sangat Menyukai Barley

    Rasulullah SAW Sangat Menyukai Barley

    Oleh: Miladiah al-Qibthiyah

    (Tim Redaksi NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent: Dewi F

    NarasiPost.Com-Pernahkah Anda mendengar kata barley? Barley tampaknya masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat Indonesia. Ya, barley atau lebih familiar dikenal dengan nama jelai adalah salah satu dari sekian banyak jenis biji-bijian yang kaya akan kandungan nutrisi. Barley biasanya dijadikan sebagai bahan baku dalam pembuatan roti hingga kue kering. Pengolahan barley selain dalam bentuk kue dan roti, barley juga dapat diolah dan dikonsumsi sebagai sup, teh, sereal, salad, hingga pengganti nasi.

    Poaceae adalah golongan famili jenis barley yang merupakan jenis biji-bijian. Barley menduduki posisi keempat terbesar di dunia sebagai produksi terbanyak setelah beras, gandum dan jagung. Di Indonesia, barley memang tidak cukup populer, namun barley telah banyak dikonsumsi sejak lama. Salah satunya adalah sebuah penelitian arkeologi yang menunjukkan bahwa biji-bijian ini telah ada serta tumbuh di negeri Mesir sejak lebih dari 10.000 tahun yang lalu.

    Barley yang berasal dari Timur Tengah, membuat kebanyakan negara Barat menggunakan barley atau jelai sebagai pakan ternak. Bahkan saat ini negara Arab Saudi merupakan importir jelai pakan terbesar di dunia.


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/09/03/rasulullah-saw-sangat-menyukai-barley/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • Tanpa Tanda Jasa

    Tanpa Tanda Jasa

    Oleh: Afiyah Rasyad

    (Kontributor Tetap NarasiPost.com)

    Voice Over Talent: Maya R

    NarasiPost.Com-Niat lillah teramat bersih

    Semangat juang begitu gigih
    Kecerdasan negeri terus diraih
    Dari langkah kaki dan asa yang tak pernah letih

    Segala harap mengangkasa

    Mengukir ilmu sepanjang masa
    Mengikis perihnya rasa
    Demi kemajuan anak bangsa

    Hati tulus penuh budi

    Menyulam luhurnya akhlak dan pekerti
    Dalam jiwa tertanam tujuan mengabdi
    Pendidikan dan pengajaran sangatlah berarti

    Tak terhitung segala jasa

    Tak ternilai ratusan rupiah saja
    Berbagai ilmu kautancap di jiwa
    Dalam tawa riang wajah polos tanpa dosa

    Sepatu tampak lusuh

    Sempurna tubuh bersimbah peluh
    Meski PPPK berbenteng angkuh
    Namun, semudera hati tak pernah keruh

    Rasa kecewa memang menyapa

    Namun, jiwa bersih menepisnya
    Terhapus segala duka lara
    Mengukuhkan sosok pahlawan tanpa tanda jasa


    Naskah Selengkapnya :https://narasipost.com/2021/10/01/tanpa-tanda-jasa/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    4 min
  • Pejabat Makin Kaya, Rakyat Makin Sengsara

    Pejabat Makin Kaya, Rakyat Makin Sengsara

    Oleh. Aulia Rahmi

    Voice Over Talent: Dewi N

    NarasiPost.Com-Selama pandemi Covid-19, hasil laporan kekayaan harta penyelenggara negara (LKHPN) memperlihatkan kenaikan harta kekayaan pejabat negara. KPK mencatat adanya kenaikan sebesar 70,3%. Fenomena ini terjadi bukan hanya pada oknum tertentu saja. Namun, terjadi pada banyak orang di berbagai level jabatan. Deputi Pencegahan dan Monitoring KPK, Pahala Nainggolan mengatakan kenaikan yang paling banyak terlihat pada tingkat Kementerian dan DPR mencapai lebih dari Rp1 miliar. Sedangkan, di tingkat legislatif dan eksekutif daerah penambahannya berkisar di bawah Rp1 miliar. Persentase kenaikan harta dalam Kabinet Indonesia Maju di bawah naungan Presiden Joko Widodo ini yaitu sebesar menteri 58%, DPR/MPR 45%, gubernur/wakil 30%, DPRD 23%, 18 % bupati/walikota, dan DPRD Kota/Kabupaten dengan 11%.

    Hal ini sungguh miris, jika melihat keadaan rakyat. Dilihat dari Survei konsumen Bank Indonesia yang diwakili oleh rumah tangga responden, menghasilkan 70% lebih responden rumah tangga mengaku kondisi ekonomi mereka memburuk selama pandemi. Padahal, respondennya termasuk rumah tangga golongan menengah keatas. Belum lagi rakyat yang terkena dampak covid. Perekonomian mereka hancur, seperti para pelaku mikro usaha kecil yang banyak gulung tikar dan pemutusan hubungan kerja (PHK).

    Dari manapun harta yang didapatkan pejabat, memunculkan kesenjangan yang tajam. Hal ini cukup membuktikan, hilangnya empati penguasa pada kondisi rakyat. Selain itu, pemerintah juga mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak menjamin kebutuhan masyarakat. Misalnya, rencana kebijakan menaikkan pajak pertambahan nilai atas jasa pendidikan, menaikkan harga bahan pokok, memberlakukan PPKM namun tidak menjamin kebutuhan rakyat, dan kebijakan-kebijakan lain yang menyulitkan rakyat.

    Di lain sisi, pemerintah justru memberikan honor dan tunjangan kepada pejabat negara, seperti bonus fantastis yang akan diterima wakil menteri (Wamen). Hal ini tertuang pada Perpres 77/2021 tentang perubahan kedua terkait Wakil Menteri (Wamen) yang ditandatangani Presiden Joko Widodo. Miris, rakyat seharusnya menjadi pihak yang diayomi oleh pejabat, namun yang terjadi justru sebaliknya.

    Hal ini akan menimbulkan distrust atau lunturnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Sebab, kebijakan yang dikeluarkan tidak dapat menyelesaikan persoalan masyarakat.


    Naskah Selengkapnya :https://narasipost.com/2021/10/03/pejabat-makin-kaya-rakyat-makin-sengsara/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Menjadi Remaja Islam Sadar Perubahan

    Menjadi Remaja Islam Sadar Perubahan

    Oleh: Ismawati

    (Penulis dan Aktivis Dakwah Remaja)

    Voice Over Talent: Dewi F

    NarasiPost.Com-Hi Dear, bagaimana kabarmu hari ini? Masih semangat dong, menjalani hari meski terjarak karena PPKM. Biasanya pagi hari kita harus siap-siap berangkat ke sekolah. Namun, kini siap-siap melihat layar hape untuk menunggu tugas dari Bu Guru. Lama-lama, pasti merasa bosan kan, dengan keadaan? Hidup kok begini-begini terus, kangen sekolah, kangen keabsurd-an teman-taman saat jam pelajaran kosong. Eh! Maksudnya, kangen belajar dan para guru. Begitu tidak, Dear?

    Akan tetapi, pernahkah kalian berpikir, kenapa pandemi ini tak kunjung usai? Apakah ada konspirasi lain dari dunia antah berantah? Atau ada orang yang sengaja pelihara si corona biar tidak hilang-hilang?

    Waduh! Tentu tidak, ya, Dear. Memang pandemi lama belum hilang dari peredaran. Justru angka penyebarannya semakin meningkat. Variannya pun sudah bermacam-macam. Tahu-tahu, ada saja tetangga atau bahkan kita sendiri yang mengalami gejala seperti terpapar corona.

    Alhasil, waktu pembelajaran tatap muka kita ditunda sampai kondisi benar-benar aman dan stabil dari virus. Pasti kamu tidak mau kan, terpapar virus corona? Yang kita tahu bahwa virus ini mudah sekali menyebar, bahkan orang yang terpapar tidak langsung bergejala.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/06/menjadi-remaja-islam-sadar-perubahan/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Utopia Pemberantasan Korupsi dalam Sistem Kapitalisme

    Utopia Pemberantasan Korupsi dalam Sistem Kapitalisme

    Oleh. Aya Ummu Najwa

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent: Titis U

    NarasiPost.Com-Masih hangat dalam benak masyarakat, kasus korupsi Honggo di kasus Kondensat yang kerugiannya mencapai Rp35 triliun. Kasus Jiwasraya, yang melibatkan mantan petinggi Kepala Staf Presiden, dengan kerugiannya mencapai angka Rp13 triliun. Kasus Asabri, juga melibatkan pemangku kekuasaan dan merugikan negara dengan total lebih kurang Rp10 triliun. Terbaru, ditangkapnya Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin, dengan dugaan menyuap bekas penyidik KPK, dalam pengurusan penanganan kasus dugaan korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Lampung Tengah.

    Kasus-kasus di atas, seakan membenarkan betapa mengguritanya korupsi di seluruh lembaga dan lini kekuasaan negeri ini. Tak hanya berpusat pada lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Namun, partai politik pun menjadi penyumbang angka korupsi yang tak kalah besar. Ironisnya, semua mega korupsi ini terjadi tatkala kemiskinan rakyat kian kronis. Di kala beban penderitaan rakyat yang kian bertambah berat, utang negara mencapai Rp6.017 triliun, defisit APBN meroket menjadi Rp283,2 triliun, penerimaan pajak 2021 yang meleset dari target, di mana realisasi penerimaan pajak hanya mencapai Rp1.229,6 triliun, atau hanya 82,4% dari target APBN. Maka, yang terjadi adalah jumlah penduduk miskin pada Juli 2021 mencapai 27,54 juta orang.

    Di tengah masifnya korupsi, KPK justru dilemahkan. Drama perburuan Harun Masiku menjadi bukti betapa lembaga ini kian ringkih. Pada saat yang sama, bukannya mendukung dan menguatkan KPK, serta memperbaiki kinerja ekonomi, pemerintah justru sibuk membuka keran impor dan memasang baliho di berbagai tempat dengan dana yang fantastis di tengah pandemi, meski musim kampanye belum resmi di buka.

    “Berlanjut dengan terpilihnya pimpinan KPK yang bermasalah, kinerja KPK yang melemah, baik secara kuantitas maupun kualitas,” kata Asfinawati, Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), kepada Tempo, Senin (27-09- 2021).


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/03/utopia-pemberantasan-korupsi-dalam-sistem-kapitalisme/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    13 min
  • Keamanan Kritis di Negara Kapitalis

    Keamanan Kritis di Negara Kapitalis

    Oleh. Dia Dwi Arista

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent: Giriyani

    NarasIPost.Com-Keamanan minim, terjadi di Indonesia. Perampokan, pemerkosaan, pencurian, penjarahan, dan pengeroyokan kerap menghantui. Sasarannya pun tidak bisa diprediksi, semua orang dengan segala rentang usia bisa menjadi korban. Terbaru, terjadi pemukulan terhadap seorang Ustaz di Batam, Kepulauan Riau pada 20/9/21, korbannya adalah Ustaz Abu Syahid Chaniago. Beliau tengah memberi ceramah di Masjid Bait Asy-Syakur ketika peristiwa itu terjadi (regional.kompas.com, 20/9/2021).

    Pelaku yang datang dengan pakaian rapi, tiba-tiba menyerang Ustaz Abu. Parahnya, pemukulan tersebut terjadi pada tengah hari di hadapan ibu-ibu yang menjadi peserta pengajian. Pelaku yang sudah ditangkap akhirnya dibawa ke Polresta Barelang. Anehnya, ketika diinterogasi, pelaku meracau dan berbelit-belit. Tak hanya itu, kasus penembakan kepada ustaz juga terjadi di Pinang, Kota Tangerang. Korban yang bernama Ustaz Armand atau Ustaz Alex ditembak dua orang pelaku seusai sholat maghrib. Menurut keterangan saksi, dua pria selama tiga hari berturut-turut selalu nongkrong di warung sekitar rumah korban. Korban yang kehilangan banyak darah akhirnya meregang nyawa saat dibawa ke rumah sakit terdekat (m.liputan6.com, 21/9/2021).

    Keamanan menjadi salah satu kebutuhan yang wajib dipenuhi dalam bermasyarakat. Namun, ketika keamanan sudah dalam tahap kritis, bagaimana nasib kehidupan rakyat? Apalagi jika negara yang seharusnya memberi rasa aman pada setiap warga malah senyap kehadirannya.


    Naskah Selengkapnya :https://narasipost.com/2021/10/01/keamanan-kritis-di-negara-kapitalis/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    12 min
  • Jika Aku Bisa

    Jika Aku Bisa

    Oleh. Yeni Marlina, A.Ma.

    (Aktivis Muslimah)

    Voice Over Talent: Arien S

    NarasiPost.Com-Jangan engkau tanya

    Apa rasa hati dan perasaan ini
    Hanya bisa meratapi sembari menundukkan hati
    Pada Sang Ilahi

    Mereka menjerit, tersengal

    Terhempas kerasnya derita dunia
    Nyawa tak lagi berharga
    Duhai Rohingya, Afrika, Palestina dan saudaraku di luar sana

    Ohh…

    Jika aku bisa…
    Aku datangi kalian sembari bisikkan, sabarlah wahai saudaraku
    Kuatkan iman di qalbu
    Mereka hanyalah tentara bedebah

    Jika aku bisa…

    Aku akan panggil seluruh tentara-Nya
    Lenyapkan semua para penista durjana
    Hancurkan kepongahan para digdaya


    Naskah Selengkapnya :https://narasipost.com/2021/10/07/jika-aku-bisa/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    3 min
  • Ironi Nasib Guru Honorer di Balik PPPK

    Ironi Nasib Guru Honorer di Balik PPPK

    Oleh: Ummu Ainyssa

    Voice Over Talent: Yeni M

    NarasiPost.Com-Guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, ungkapan tersebut tidaklah menjadi hal yang asing lagi di telinga kita. Bukan berarti mereka para guru tidak berjasa, tetapi justru karena besarnya jasa yang mereka berikan terkadang tidak bisa kita balas, atau bahkan sering tidak mendapatkan perhatian.

    Mereka telah mencurahkan tenaga dan pikiran mereka untuk mendidik para siswa siswinya, namun seringkali usaha yang mereka lakukan tidak dihargai oleh pemerintah. Misalnya saja gaji yang mereka terima tidak sebanding dengan usaha yang mereka lakukan. Bahkan terkadang mereka masih harus mencari kerja sampingan untuk bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Seperti yang dialami oleh beberapa guru honorer di negeri ini.

    Tahun ini pemerintah seolah memberikan secercah harapan kepada mereka. Adanya program untuk mengangkat guru honorer menjadi ASN melalui seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) seolah menjadi solusi untuk mengubah nasib mereka. Perekrutan satu juta guru melalui seleksi PPPK ini dianggap sebagai angin segar, harapan baru untuk para guru honorer untuk mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik lagi. Realitanya, kebijakan ini hanya memupus harapan dari sebagian mereka, seleksi PPPK ini masih menyisakan berbagai kisah.

    Cerita tentang mereka para guru honorer pun selalu menarik perhatian publik. Terlebih jika guru tersebut sudah berusia senja dan telah lama mengabdi. Seperti yang dialami oleh salah seorang guru honorer berusia 57 tahun yang tidak lolos tes seleksi PPPK baru-baru ini. Kisahnya viral setelah Novi Khassifa, seorang perempuan yang mengaku sebagai pengawas ruang PPPK TUK SMKN 1 Praya, Nusa Tenggara Barat menulis kisah pilu guru honorer tersebut melalui surat terbuka yang ia tulis untuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim.


    Naskah Selengkapnya :https://narasipost.com/2021/10/01/ironi-nasib-guru-honorer-di-balik-pppk/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • Cemburu yang Diberkahi

    Cemburu yang Diberkahi

    Oleh: Novida Sari, S.Kom.

    Voice Over Talent: Dewi N

    NarasiPost.Com-Tidak ada satu pun zat yang lebih pencemburu dibandingkan dengan Allah Swt., karena (kecemburuan) ini, Allah Swt. mengharamkan segala perkara yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi dan tidak ada satu pun zat yang lebih suka dipuji daripada Allah Swt. (HR. Imam Al Bukhari dan Imam Muslim melalui hadits Sulaiman Ibnu Mahran Al A’Masy dari Abi Wail, dari Abdullah Bin Mas’ud)

    Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan bahwa cemburu ataupun ghirah merupakan bentukan dari perubahan hati yang disebabkan karena persekutuan ataupun penyejajaran di dalam hal-hal yang khusus (ikhtishas). Misalkan sepasang suami istri yang saling mencintai, hingga suatu ketika suami melihat istrinya dekat dan bermesraan dengan laki-laki lain. Kemesraan di sini harusnya menjadi ikhtishas atau sesuatu yang dikhususkan bagi suami. Akan tetapi, si istri menyejajarkan hal ini dengan orang lain. Sehingga, suami yang tadinya rida berubah menjadi ghadab atau marah. Kecintaan istri yang tadinya bersifat ikhtishas, akhirnya disejajarkannya dengan laki-laki lain. Maka, ini merupakan cemburu yang sesuai dengan hukum syara’.

    Cemburu yang Disukai dan Dibenci Allah Swt.

    Ada dua karakter cemburu di sisi Allah Swt. Karakter pertama, cemburu yang dipuja dan dicintai oleh Allah Swt. Cemburu jenis ini apabila berada dalam kondisi roibah (keraguan). Roibah maksudnya berdasarkan realitas, bukanlah hal yang mengada-ada. Sedangkan karakter yang kedua merupakan cemburu yang Allah Swt. murka, yakni cemburu yang tanpa dilandasi keraguan. Langsung menuding tanpa fakta bahkan jauh dari realitas. Meskipun tidak ada ungkapan kata cemburu, namun kata-kata ataupun sikap yang ditunjukkan menunjukkan kecurigaan yang penuh selidik, sinis, bahkan marah, meskipun yang dicemburui tidak melakukan hal yang dituduhkan.


    Naskah Selengkapnya :https://narasipost.com/2021/10/01/cemburu-yang-diberkahi/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    9 min

About Narasipostmedia

From the publisher's feed

Audio tentang sastra, opini, surat pembaca motivasi, food dan sebagainya dari karya-karya para penulis ideologis yang naskahnya publish di media www.narasipost.com