
Sign up to save your podcasts
Or


Dua Mahkota buat Ayah Bunda
Oleh:Yeni Marlina, A.Ma
Voice Over Talent : Miladiah
NarasiPost.Com-Memiliki anak saleh dan salehah adalah harapan setiap pasangan suami istri, walau standar dan targetnya masih beda-beda.
Begitupun aku. Sejak menjadi mahasiswa, aku mulai memperhatikan model keluarga kecil yang akan membangun cikal bakal generasi rabbani. Jika aku menikah kelak, apa bisa punya anak yang bisa menghafal Al-Quran hingga 30 juz?
Aku membaca buku tentang cerita ulama-ulama terdahulu. Tak sedikit dari mereka yang terus bergelut dengan ilmu dan Al-Quran. Kurasa, sangat penting mempersiapkan anak-anak masa depan untuk mengukir kembali kehidupan para pendahulu mereka.
Banyak yang mondok di pesantren. Tentu mereka tengah berjuang menghafalkan Al-Quran. Namun, tak sedikit akhirnya lupa hafalan karena putus di tengah jalan.
Keluarga besarku belum ada yang punya jejak hafal Al-Quran. Tidak ada pula yang dibiasakan nyantri dengan misi ini. Kami terbiasa berpisah dari orang tua ketika hendak melanjutkan sekolah, untuk sebuah cita-cita profesi dunia. Aku ada di antaranya.
Waktu bergulir. Animo pendidikan berbasis agama semakin diminati. Aku pun tertarik mempelajari buku-buku tentang pendidikan, bahkan pendidikan dalam Islam mulai dari tujuan, asas, target, hingga teknis kurikulum yang mengacu pada target pembentukan Sakhsiyah Islamiyah (Kepribadian Islam).
Membayangkan munculnya kembali generasi dengan kepribadian Islam tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Membentuk generasi faqih fiddin, menguasai agama dan mengemban Al-Quran dengan menghafalkan, memahami, mengamalkan dan mengajarkan kembali membutuhkan persiapan sejak awal.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/03/dua-mahkota-buat-ayah-bunda/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Sekularisme Biang Keladi Pencipta Para Penista
Oleh. Nur Hajrah
Voice Over Talent : Armina A
NarasiPost.Com-Jagat dunia maya kembali heboh setelah viralnya sebuah akun di salah satu media sosial. Akun tersebut memposting aksi pembakaran Al-Qur’an dan terdapat kata-kata yang tidak pantas ditulis dalam kitab suci umat Islam tersebut. Kepolisian telah menangkap pelaku dalam aksi pembakaran Al-Qur’an tersebut yang ternyata adalah seorang laki-laki, penangkapan dilakukan di daerah Tanjung Duren, Jakarta Barat. Aziz Andriansyah selaku Kapolres Metro Jakarta Selatan membenarkan hal tersebut, bahwa pelaku asli pembakaran Al-Qur’an telah diringkus, hanya saja Aziz tidak menjelaskan lebih jauh tentang kasus tersebut kerena menurutnya jajaran Polda Metro Jaya lebih berhak membeberkannya. Sebelumnya polisi telah melakukan pemeriksaan terhadap perempuan pemilik akun yang diduga sebagai pelaku aksi pembakaran Al-Qur’an. Tetapi sang pemilik akun menyatakan bahwa bukan dia pelaku dalam aksi pembakaran Al-Qur’an tersebut dan bukan dia yang mempostingnya, karena menurutnya akun tersebut adalah palsu yang mengatasnamakan namanya. (detik.com, 25/05/2021)
Atas perbuatannya, pelaku asli pembakaran Al-Qur’an dijerat undang-undang informasi dan transaksi elektronik dan dijatuhi hukuman selama 6 tahun di penjara (kompas.com 25/05/2021)
Penistaan agama khususnya terhadap agama Islam bukanlah kejadian yang baru terjadi di Indonesia. Sudah sering penistaan agama terjadi di negeri ini, baik dilakukan perorangan maupun kelompok, ada yang tersorot media ada juga yang tidak. Dalam kasus di atas, dilansir dari merdeka.com(25-05-2021), pelaku adalah mantan kekasih pemilik akun, motif pelaku melakukan aksinya kerena ada unsur sakit hati dan ingin membalas dendam.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/08/sekularisme-biang-keladi-pencipta-para-penista/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Tes Wawasan Kebangsaan: Formalitas Mengusir Pejabat?
Oleh: Uqie Nai
Voice Over Talent : Armina
NarasiPost.Com-Penanganan tindak korupsi memang selalu hangat diperbincangkan, di samping pelakunya dikecam tak terpuji karena menggelapkan serta merugikan uang rakyat, tindakan ini pun mau tidak mau mengharuskan adanya lembaga independen, cakap, tangkas, dan berani mengusut tuntas hingga ke akarnya. Pasalnya, para koruptor bukanlah orang-orang biasa dengan penyimpangan dana ecek-ecek, melainkan orang dengan level high class dari tingkat pejabat hingga konglomerat yang berkecimpung dengan hak publik. Maka, demikian pula dengan lembaga berwenang yang menindaknya, haruslah memiliki pribadi taat, bersih dan lurus tanpa intervensi siapapun dan dari manapun. Berangkat dari kriteria inilah disinyalir tes wawasan kebangsaan pada 75 pegawai senior KPK berujung terjadinya polemik beberapa waktu lalu.
Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham Samad menyampaikan kesangsiannya terhadap hasil tes wawasan kebangsaan atas 75 pegawai senior KPK. Menurutnya, tes tersebut adalah upaya untuk menyingkirkan 75 pegawai senior agar tidak lulus TWK hingga tidak bisa lagi berdinas di KPK alias dipecat. Samad juga menyebutkan bahwa 75 pegawai KPK tersebut adalah orang-orang lurus dan tetap menjaga marwah KPK. Maka ia tidak bisa membayangkan jika mereka disingkirkan, akankah ada OTT sekelas menteri? Ujarnya di forum diskusi Polemik Trijaya “Dramaturgi KPK.” (tribunnews.com, 8/5/2021)
Di pihak lain, sejumlah pegawai KPK mengungkapkan keanehan dalam TWK, salah satunya adalah pertanyaan yang tidak sesuai dengan kepentingan kebangsaan, misalnya pertanyaan tentang doa qunut, sikap terhadap LGBT dan soal yang mengarah pada pelecehan pada pegawai perempuan.
Namun, pihak Badan Kepegawaian Negara (BKN) membantahnya dengan mengatakan soal-soal tersebut dibuat berbeda dengan tes CPNS. Soal TWK menggunakan multimethode dan multi-asesor yang melibatkan Dinas Psikologi TNI AD, BNPT, BAIS dan Pusat Intelijen TNI AD.
Menanggapi polemik di atas, akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM), Oce Madril mengatakan bahwa tidak terlihat adanya relevansi antara soal TWK dengan kompetensi jabatan yang diemban oleh staf KPK. Oce mempertanyakan, “Apa motivasi soal-soal itu digunakan? Kenapa tes kebangsaan soalnya seperti itu?” (kompas.com, 7/5/2021)
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/01/tes-wawasan-kebangsaan-formalitas-mengusir-pejabat/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Bersama Orang Yang Kita Cintai
Oleh: Aya Ummu Najwa
Voice Over Talent : Miladiah
NarasiPost.Com-Setiap orang pasti berharap dapat bersama dengan orang yang dicintainya. Jika hal itu dapat terwujud maka itu adalah anugerah yang tak terhingga, dan pastinya kebahagiaan yang akan dirasa. Terlebih lagi, jika kebersamaan itu pada waktu yang tepat, tempat yang terbaik, dan dalam kondisi yang menyenangkan, tentu akan sangat berkesan dan kebahagiaan yang luar biasa yang akan dirasakan. Semua itu hanya tersedia di dalam surga.
Jika ditanya adakah manusia yang tak menginginkan bahagia? Adakah manusia yang tidak ingin masuk surga? Tentu jawabnya tidak, semua orang menginginkan surga. Baik orang saleh maupun orang yang paling berdosa sekali pun. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda, bahwa setiap orang dari umat beliau pasti masuk surga, kecuali yang enggan. Namun bukan keengganan masuk surganya, namun dikarenakan kebodohannya maka ia melaksanakan amalan orang-orang yang tidak masuk surga.
Selanjutnya, ketika kita diizinkan oleh Allah masuk surga, agar kebahagiaan itu terasa lengkap dan sempurna, pasti kita ingin masuk ke dalamnya bersama orang-orang yang kita cintai. Bersama Rasulullah, suami/istri, orang tua, anak, sahabat, dan sebagainya. Ternyata Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menyebutkan di dalam satu hadis beliau, bahwa manusia akan dikumpulkan bersama dengan orang yang ia cintai.
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Ritel Gulung Tikar, Perekonomian Kian Sukar
Oleh. Mila Sari, S. Th. I
Voice Over Talent : Dewi Fitriana
NarasiPost.Com-Pandemi yang melanda negeri ini sejak Maret 2020 lalu hingga saat ini telah menyisakan banyak cerita pilu, terutama dalam bidang ekonomi. Banyak di antara masyarakat yang kehilangan pekerjaannya, sehingga beban hidup menjadi semakin sulit.
Berdasarkan berita yang dilansir oleh liputan6.com (25 Mei 2021), disebutkan bahwa salah satu ritel modern, Supermarket Giant akan tutup. Dampaknya, pendapatan negara hilang dan terjadinya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) secara besar-besaran.
Masih dalam sumber yang sama, disebutkan bahwa PT Hero Supermarket Tbk. (HERO Group) memutuskan untuk menutup seluruh gerai Giant pada akhir Juli 2021. Penutupan gerai Giant ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memfokuskan bisnisnya ke merek dagang IKEA, Guardian, dan Hero Supermarket yang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan Giant. Namun hal ini tentu bisa menghilangkan pendapatan negara dan retribusi pendapatan daerah.
Adapun salah satu alasan ditutupnya gerai modern ini merupakan efek dari pandemi yang menyebabkan tingkat konsumsi dan mobilitas di daerah menjadi rendah. Alasan ini dianggap wajar sebab terjadinya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) beberapa waktu.
Dampak pandemi di sektor ritel semakin nyata terlihat dengan ketidakmampuan bertahan di tengah badai krisis yang menjadi-jadi dan semakin menyulitkan roda perekonomian, ditambah dengan ketidakseriusan mengatasi problem ekonomi dan pandemi oleh pemerintah, maka jadilah ekonomi rakyat menengah ke bawah semakin menjerit dan terhimpit.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/25/ritel-gulung-tikar-perekonomian-kian-sukar/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Elegan Yang Sebenarnya
Oleh: Ana Nazahah
Voice Over Talent : Fani Ratu
NarasiPost.com – Banyak orang mendambakan tampilan elegan. Mempermak wajah dan pakaian. Beragam kosmetikpun menjadi alternatif, selain berburu pakaian branded untuk mendukung penampilan terbaik.
Hasilnya, bibir merah delima, pipi merah merona, kulit licin bak sutra. Tidak hanya itu, pakaian yang dipakaipun megah, mahal harganya. Dengan sepatu hak tinggi, tas jinjing yang melengkapi. Semerbak parfum mewangi, menambah perfectnya sebuah penampilan. Bak sosialita sesungguhnya. Persis sosok elegan yang didambakan.
Di luar sana banyak wanita muslimah mendambakan penampilan seperti ini. Tak ada penampilan terbaik kecuali memenuhi standar kecantikan sesuai iklan di Televisi. Karenanya, mereka rela menghabiskan waktu dan merogoh kocek yang tidak sedikit demi memenuhinya. Berkerja sepanjang 30 hari, demi mengejar life style, yang masyarakat umum kagumi.
Lalu, apakah penampilan seperti itu bisa memuaskan hati? Tidak lelah bertabaruj sepanjang waktu? Hanya demi mengejar pengakuan manusia. Giliran diajak kajian kenapa nggak ada waktu? Bahkan salat lima waktu sekalipun sering ditinggalkan, karena takut make-up luntur oleh air wudhu.
Adakah orang-orang yang seperti ini? Jawabannya, banyak! Ada banyak sekali orang-orang yang demi tampilan wajah berani meninggalkan salat. Begitu tergila-gila dengan pujian manusia, sehingga takut taat karena akan terlihat jelek. Mereka beranggapan, memakai kerudung, berhijab, tampil bersahaja itu mengerikan. Jauh dari kata cantik.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/03/12/elegan-yang-sebenarnya/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Islamofobia Ambyar dalam Genggaman Khilafah
Voice Over Talent : Yeni M
NarasiPost.Com-Islamofobia dan terorisme antimuslim di Kanada kembali mencuat. Kebencian terhadap Islam dan kaum muslim tak terbendung lagi. Selama ini mereka selalu menganggap muslim bukanlah bagian dari Barat. Padahal, sejarah mencatat bahwa kemajuan negara-negara Barat saat ini tak bisa dilepaskan dari kontribusi umat Islam terdahulu. Khilafah membebaskan tanah Eropa dari kegelapan dan kenestapaan, merangkulnya menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Khilafah, negara adidaya masa itu. Eropa berjaya tersebab ideologi Islam yang diembannya, sehingga mampu menjadi kiblat dunia dalam banyak hal, termasuk ilmu pengetahuan. Sanggupkah mereka melawan lupa?
Dilansir dari www.detiknews.com (08/06/2021), satu keluarga muslim yang terdiri dari 2 orang laki-laki dan 3 orang perempuan di selatan Provinsi Ontario, Kanada tewas ditabrak truk pick-up yang dikendarai pria berusia 20 tahun bernama Nathaniel Veltman. Empat orang tewas dan satu orang selamat dengan luka parah. Polisi berhasil menangkap pelakunya yang memang telah merencanakan pembunuhan terhadap keluarga itu sebelumnya, tersebab mereka muslim.
Lantas, apakah kecaman ini merupakan ungkapan ketulusan ataukah hanya lip service belaka? Mampukah kecaman ini menjadi jurus sakti dalam menghentikan islamofobia di Kanada dan di berbagai belahan dunia lain?
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/20/islamofobia-ambyar-dalam-genggaman-khilafah/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Makin Akrab Makin Tak Sopan?
Voice Over Talent : Fani Ratu
NarasiPost.Com-Sudah sunnatullahnya manusia membutuhkan teman dalam hidupnya, karena manusia tak bisa hidup sendiri. Ia membutuhkan teman untuk berbagi dalam kehidupannya, baik cerita suka maupun duka, pengalaman, atau pun ide dan hobi. Secara naluriah manusia akan mencari teman dan berusaha untuk lebih dekat dan akrab. Ketika ia menemukan yang cocok, maka ia akan merasa nyaman, ingin banyak menghabiskan waktu bersama, ingin lebih banyak berbagi, peduli dan merasa sayang. Inilah rasa keakraban mulai tumbuh.
Namun seiring keakraban yang terjalin manusia akan berperilaku semakin biasa. Yang terkadang adab-adab pergaulan pun mulai ditinggalkan. Mulai saling memanggil dengan nama panggilan yang buruk, biasa dan tanpa canggung lagi dalam berbicara dan berperilaku, memotong pembicaraan, masuk rumah dan memakai barang tanpa izin, bahkan kadang sopan santun pun mulai hilang. Sering bergurau dan bercanda yang berlebihan dan keterlaluan, janji dan amanah yang mulai disepelekan, lawakan dan lelucon yang kadang tanpa disadari menjadi perundungan, bodyshaming, prank, dan kejutan lainnya yang tak jarang malah menjadi pelecehan dan menyakiti sesama.
Dari sini, tak jarang kita temui persahabatan yang kandas, buruknya hubungan setelah keakraban, bahkan permusuhan dan dendam, padahal sebelumnya adalah teman karib akhirnya menjadi musuh. Dan semua itu terjadi salah satunya karena ketidaksopanan dalam keakraban. Karena akrab, lebih sering bercanda dan biasa, yang kadang abai terhadap perasaan orang lain. Jika demikian, apakah keakraban menghalangi kita berlaku sopan? Atau apakah memang sudah sewajarnya semakin akrab semakin tidak sopan?
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Untukmu Anakku
Voice Over Talent : Arien S
NarasiPost.Com-Anakku, lahirmu saat zaman hendak menemui ajalnya
Anakku, lihatlah ke sekelilingmu
Anakku, lihat pula di sekitarmu
Anakku, bertumbuhlah menjadi pejuang tangguh
Anakku, pejuang tak selalu berteman dengan kenikmatan
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Balada Negeri Pajak, Rakyat (pun) Kena Palak
NarasiPost.Com-Kementerian keuangan memastikan bahwa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terhadap sekolah dan sembako yang ramai dibicarakan publik tidak akan dikenakan pada tahun ini, terkait dengan belum adanya pembahasan antara kementerian keuangan dengan DPR mengenai revisi undang-undang No.16 tahun 1983 tentang ketentuan umum dan tatacara perpajakan. Di dalam draf revisi undang-undang tersebut terdaftar sembako yang akan dikenakan pajak pertambahan nilai antara lain: beras, daging, jagung, sagu, kedelai, telur, susu, buah-buahan, sayur-sayuran, ubi-ubian, bumbu-bumbuan, gula konsumsi, dan garam.
Sebelumnya barang-barang tersebut tidak dikenakan pajak, karena menyangkut hajat hidup orang banyak, seperti diatur dalam menteri keuangan No. 16/PMK 010/2017. Dalam cuitannya di twitter, staf ahli keuangan Yustinus Pranowo, memberikan penjelasan mengenai PPN, menurutnya aturan ini masih sebatas rancangan yang dipersiapkan di masa pandemi.
Adapun sektor usaha yang akan dikenai pajak pertambahan nilai di dalam pasal 4 ayat 3, disebutkan bahwa pemerintah akan menghapus 11 jenis beban PPN, artinya dalam beberapa sektor usaha yang sebelumnya tidak dikenakan PPN, setelah dihapusnya 11 jenis PPN ini, maka pungutan pajak pertambahan nilainya akan dibebankan pada masyarakat, yakni dalam sektor usaha angkutan umum, pengiriman email melalui wesel pos, pendidikan, sektor pelayanan kesehatan medis, dan lain-lain.
Dari banyaknya rencana penarikan pajak oleh pemerintah tersebut, tentu membuat masyarakat resah, karena pada saat yang sama ada relaksasi pajak yang justru dikenakan untuk barang-barang mewah, sedangkan alasan yang disampaikan oleh pemerintah adalah relaksasi atau pengurangan pajak diberikan untuk barang-barang mewah dalam rangka menstimulus kalangan menengah atas agar mereka menaikkan tingkat konsumsinya terhadap barang-barang mewah.
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed