
Sign up to save your podcasts
Or


Sistem Paripurna
Oleh : Bunda FaHsan
NarasiPost.Com-Tubuhnya telah renta
Usianya telah senja
Sepeda usang ia jadikan harapan
Seharusnya ia tinggal menikmati usia tuanya
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Sengkarut Garuda Indonesia, Optimisme Tetap Mengudara
NarasiPost.Com-Rakyat Indonesia masih harus mengelus dada, mendengar kabar sejumlah BUMN kembali merugi. Di antara yang paling panas dibicarakan adalah PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk atau GIAA. Selain mengalami kerugian, Garuda Indonesia juga memiliki utang sebesar Rp70 triliun. Tawaran pensiun dini kepada karyawan dilakukan demi menyelamatkan kondisi keuangan yang berdarah-darah. Dewan komisaris pun bersepakat untuk tidak menerima gaji sementara, demi mengurangi beban perusahaan berpelat merah tersebut.
Beban Sewa Pesawat Tinggi
Dikutip dari laman Kompas.com, Mantan Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo menjelaskan penyebab Garuda Indonesia merugi, salah satunya karena jumlah pesawat yang disewa terlalu banyak, namun tidak diimbangi dengan okupansi penumpang yang mencukupi. Ditambah lagi dengan kondisi Covid-19 yang mengakibatkan berkurangnya penumpang hingga pembayaran sewa pun tertunda. Akhirnya, banyak pesawat yang di-grounded oleh pihak lessor.
Armada pesawat yang dimiliki Garuda Indonesia jika dirinci berjumlah 142 pesawat. Enam di antaranya merupakan milik perseroan, sementara 136 pesawat lainnya berstatus sewa. Namun, untuk saat ini tersisa 53 pesawat yang beroperasi akibat banyaknya pesawat yang di-grounded. (cnnindonesia.com, 11/6/2021)
Dengan kondisi minimum tersebut, akhirnya diputuskan untuk melakukan utang. Data Kementerian BUMN menyebutkan beban biaya Garuda Indonesia setiap bulannya mencapai 150 juta dolar AS. Sementara pendapatan yang dimiliki hanya 50 juta dolar AS. Artinya, setiap bulan perusahaan mengalami kerugian 100 juta dolar AS atau sekitar Rp1,43 triliun jika kurs Rp14.300 per dolar AS. (9/6/2021)
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Mengenalkan Buku Sejak Bayi
Oleh : Armina Ahza
NarasiPost.Com-Mungkin ada orang tua yang bertanya, sebaiknya sejak kapan anak dikenalkan pada buku?
Selain mengharapkan anak-anak kita menjadi anak yang saleh, tentu orang tua juga tidak lupa untuk mencetak mereka menjadi generasi cinta ilmu. Salah satunya dengan mencintai buku karena buku adalah menjadi gudangnya ilmu.
Wajar jika banyak sekali para ulama salaf lebih mencintai buku daripada emas, dan sangat gemar membelanjakan hartanya untuk membeli buku.
Sebagaiamana yang diceritakan oleh Ali bin Muhammad Al-‘Imran dalam bukunya yang bejudul ‘Gila Baca ala Ulama’, bahwa Ibnul Jauzi menyebutkan biografi Thahir bin Abish Shaqr dalam bukunya, Al-Muntazham,
Dia adalah orang yang senang mengembara ke segenap penjuru tempat dan banyak berguru kepada para ulama dari berbagai negeri. Dia pernah mengatakan,
“Buku-buku ini lebih aku cintai dari sebongkah emas.”
Apa lagi Allah Swt. telah menjadikan surah Al-‘Alaq ayat 1-5 sebagai misi pertama yang diwahyukan kepada Rasulullah sallallahu’alaihi wassalam.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (TQS: Al-‘Alaq ayat 1-5)
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Bola Panas TWK, Upaya Melibas Konsistensi KPK di Balik Tameng Islamofobia
Oleh : Miliani Ahmad
NarasiPost.Com-Negara ini makin gaduh. Satu masalah belum terselesaikan, masalah lainnya justru bermunculan. Belakangan ini Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) yang diinisiasi oleh KPK telah menuai banyak masalah. Tes yang awalnya berfungsi sebagai media penilaian alih fungsi status pegawai KPK menjadi ASN berubah menjadi bola panas dan berpotensi memecah belah. Disinyalir tes tersebut merupakan upaya untuk melemahkan KPK dengan cara menyingkirkan orang-orang yang selama ini memiliki komitmen tinggi untuk memberantas tindak pidana korupsi.
Setidaknya berdasarkan hasil TWK tersebut sebanyak 1.274 pegawai KPK dinyatakan lulus kecuali 75 orang pegawai lainnya. Di antara 75 orang pegawai yang tak lulus tersebut dikabarkan ada nama Novel Baswedan yang diketahui khalayak sebagai orang yang gigih memperjuangkan “kebersihan negara” dari para tikus pengerat uang rakyat.
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Menapaki Jalan Hijrah yang Tak Selalu Mudah
Oleh: Ana Nazahah
NarasiPost.Com-Beberapa orang mungkin patut mensyukuri hidupnya yang lahir dari keluarga taat. Ayah yang memahami syariat. Ibu salehah cerminan ummu warabatul bait. Bahkan ada yang dari kecil Allah beri nikmat berupa tempat tinggal bernuansa Islami, karena orangtuanya keturunan kyai dan membuka pasantren, membentuk masyarakat bernapaskan Islam.
Kenikmatan ini, kadang menjadi impian mahal bagi orang-orang di luar sana. Karena tak semuanya bisa mengenal Islam sejak dilahirkan. Memang benar ayah dan ibu beragama Islam. Tapi keluarga tak memahami syariat Islam. Sehingga anak-anak tak dididik dengan akidah Islam. Perilaku dan akhlak jauh dari ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam.
Sehingga saat berhijrah perlu proses berliku dan panjang. Penuh rintangan dan hambatan. Mengalami jatuh bangun di jalan hijrah. Tak jarang, karena beratnya beban hijrah membuat sebagian menyerah. Semangat memeluk akidah pun padam. Terkekang oleh kejamnya perlakuan dunia yang menentang.
Ya, kondisi inilah yang saya dan beberapa teman hijrah alami. Hijrah yang merupakan keinginan fitrah awalnya tak berjalan segampang yang orang-orang bayangkan. Ada banyak sekali godaan dan cobaan yang menghadang jalan hijrah dan perjuangan. Sehingga tak sedikit teman saya harus berbalik arah, menyerah.
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
KPK di Titik Nadir
Oleh. Rita Handayani
NarasiPost.Com-KPK, lembaga independen antirasuah yang menjadi harapan negara dan rakyat agar korupsi bisa enyah dari negeri pertiwi nampaknya semakin jauh panggang dari api. Meskipun dengan adanya KPK belum kuat mencabut korupsi dari akarnya, namun sepak terjang KPK mampu membuat para pelaku korupsi panas dingin, khawatir kena OTT (Operasi Tangkap Tangan). Sehingga, terlihat nyata adanya upaya-upaya untuk melemahkan KPK.
Upaya pelemahan KPK real terlihat sejak tahun 2009. Berarti telah lebih dari satu dekade atau satu dasawarsa, dengan cara pengajuan revisi undang-undang KPK oleh DPR. Hingga saat ini upaya pelemahan badan antirasuah ini lewat jalur revisi UU KPK masih kerap dilakukan, upaya lain untuk melemahkan KPK adalah kontroversi kepemimpinan Firli Bahuri serta perubahan status kepegawaian independen menjadi ASN. Dan yang terbaru polemik tidak lulusnya 75 pegawai KPK dalam tes wawasan kebangsaan untuk beralih status menjadi ASN, salah satunya penyidik senior yang berintegritas, seperti Novel Baswedan.(tribunnews.com, 8/5/2021)
Hal tersebut membuat banyak kalangan menilai KPK berada di posisi titik nadir, salah satunya Wakil Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mohamad Sohibul Iman, menyatakan, “sekarang KPK berada di titik nadir yang kewenangannya tidak lagi extraordinary, pegawai yang berintegritas disebut tidak nasionalis dan dibenturkan dengan permasalahan kebangsaan, dianggap taliban.” (kompascom.com, 29/5/2021)
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/09/kpk-di-titik-nadir/
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Voice Over : Dewi Fitriana
Sejenak Menepi
NarasiPost.Com-Ketika raga tak lagi kuasa
Ketika hati merintih sedih
Ketika dunia sudah tak lagi bersahabat
Menepilah sejenak saja
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/18/sejenak-menepi/
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Voice Over : Ratu Ika
KPK dan Korupsi
Oleh. Mimin Diya
NarasiPost.Com-Dari era Orde Baru hingga era demokrasi saat ini, negara tidak bisa lepas dari praktik korupsi dan kolusi. Uang negara yang seharusnya dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan rakyat harus digerogoti oleh para koruptor. Negara pun telah rugi besar hingga triliunan.
Pada akhirnya negara berupaya membentuk lembaga berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK). Lembaga independen ini dituntut mampu bekerja secara profesional, intens, berkesinambungan, dan berjiwa pancasilais. Posisi KPK pun semakin dijunjung oleh negara lewat pengangkatan anggota menjadi ASN (Aparatur Sipil Negara) melalui tahap seleksi pada bulan Mei 2021. Hasilnya sebanyak 1276 pegawai KPK lulus seleksi. Sementara 75 orang tidak memenuhi syarat setelah mengikuti Tes Wawasan Kebangsaan (TWK). Tes tersebut menilai dari segi aspek integritas, netralitas ASN, dan antiradikalisme. (Kompas, 6/5/2021)
Namun, beberapa pengamat politik menilai bahwa proses seleksi tidak tepat. Menurut Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, TWK yang dijalani pegawai KPK berpotensi melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Karena menyeleksi pegawai berdasarkan pandangan agama dan paham politik individu.(Kompas, 6/5/2021)
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/05/kpk-dan-korupsi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Khasiat Buah Tin yang Perlu Kamu Tahu
Oleh: Hana Annisa Afriliani, S.S
NarasiPost.Com-”Demi buah Tin dan buah Zaitun, demi gunung Thursina,” (at-Tin: 1-2)
Setiap muslim tentu familiar dengan surat At-Tin dalam Al-Qur’an juz 30. Ya, nama surat tersebut diambil dari nama buah, Tin. Buah yang berasal dari Asia Barat ini bernama latin Ficus Carica, atau biasa juga disebut dengan buah Ara. Buah ini bisa tumbuh dengan baik di iklim tropis. Karakteristik buahnya sedikit berair, bijinya kecil-kecil dan bisa dimakan, serta rasanya manis. Buah ini berwarna hijau saat muda, dan berwarna ungu saat sudah masak. Sayangnya, buah Tin tidak bisa bertahan lama jika sudah masak, kecuali jika dimasukkan ke dalam lemari es atau dikeringkan.
Buah ini mengandung banyak khasiat bagi kesehatan tubuh kita, di antaranya dapat melancarkan metabolisme tubuh karena buah Tin mengandung tinggi serat. Oleh karena itu, buah Tin juga dapat melancarkan pencernaan dan mengatasi sembelit, serta mencegah obesitas.
Kandungan kaliumnya yang tinggi dan sodiumnya yang rendah sangat bermanfaat bagi penderita hipertensi, karena mampu menenangkan syaraf. Tak hanya itu, buah Tin juga dapat mencegah kanker dalam tubuh kita, di antaranya kanker lambung karena buah Tin mengandung enzim proteolitik dan kandungan fenol dan asam lemak yang terkandung di dalamnya mampu menurunkan risiko kanker kulit.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/19/khasiat-buah-tin-yang-perlu-kamu-tahu/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Voice Over : Dewi Fitriana
Indahnya Berjamaah
Oleh: Aya Ummu Najwa
NarasiPost.Com-Pernahkah kita merasa futur dalam dakwah atau dalam amanah yang dibebankan kepada kita? Tentu setiap orang yang menapaki jalan dakwah pernah mengalami ini. Merasa lelah, berat, kadang merasa dikejar-kejar oleh tanggung jawab. Bahkan kadang tak jarang yang malah melihat dengan iri, dan ingin seperti orang yang tak dibebankan kepadanya amanah dakwah, hingga rasanya ingin mundur dari amanah, berhenti dan berbalik arah, agar tenang, bisa rehat dan tak ada yang mengusik.
Ketika kita futur atau lelah dalam amanah dakwah, adakah sahabat atau saudara yang menasihatimu? Menyemangatimu? Apa reaksimu dengan semangat yang dia alirkan? Apakah masa bodoh? Atau merasa marah dan tersinggung? Atau senang karena merasa mendapatkan kasih sayang seorang saudara seakidah?
Bagimu yang marah ketika saudaramu menasihatimu, ingatlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berikut,
عن أنس – رضي الله عنه – ، عن النَّبيّ – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : ( لا يُؤمِنُ أحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحبُّ لِنَفْسِهِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, berkata, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah sempurna iman seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari: 13 dan Muslim: 45).
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/13/indahnya-berjamaah/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Voice Over : Miladiah
From the publisher's feed