Narasipostmedia

Narasipostmedia

By NarasipostNewsDaily News
Download on the App Store

Narasipostmedia episodes

  • Keteguhan Anak-Anak di Gaza, Palestina

    Keteguhan Anak-Anak di Gaza, Palestina

    Oleh : Tri Rejeki

    NarasiPost.Com-Sudah begitu lama Palestina dijajah oleh zionis Israel. Penjajahan itu telah membuat kerusakan yang sangat parah dan mengerikan bagi penduduk Gaza, terutama anak-anak. Penjajahan ini juga membuat trauma yang begitu mendalam  bagi mereka.

    Anak-anak  hidup dalam ketakutan, di tengah bisingnya suara ledakan meriam dan kekhawatiran akan reruntuhan puing-puing bangunan. Masa kecil mereka direnggut. Keluarga mereka banyak yang menjadi korban, bahkan tubuh-tubuh mungil itu pun ikut terluka, tersayat, terkena ledakan, berdarah-darah dan bahkan tidak sedikit dari mereka yang kehilangan anggota tubuh akibat ledakan rudal yang dijatuhkan oleh zionis Israel.

    Mereka hidup serba kekurangan, berada di dalam tekanan penjajahan, pembantaian, dan sakit yang tiada berkesudahan.

    Mereka tahu, zionis Israel telah meledakkan dan menghancurkan rumah-rumah mereka, menyakiti mereka, dan  membunuh anggota keluarga mereka. Zionis Israel ingin membinasakan dan menguasai tanah kelahiran mereka, yaitu Palestina. Namun, dengan keteguhan hati, mereka tidak lari dari  negerinya.

    Mereka tahu, bahwa mereka akan dibunuh, dibantai, dan dibinasakan, tetapi mereka tetap teguh, menetap di Palestina. Kenapa? Padahal, mungkin mereka bisa pergi dari negeri itu dan menyelamatkan diri, tetapi mereka tidak melakukannya.

    Saudaraku, anak-anak dan saudara-saudara kita di Gaza, Palestina, berjuang mempertahankan tanah airnya, ternyata bukan semata-mata karena ingin merdeka, bukan pula karena ingin hidup bebas dari penjajahan, tetapi mereka sedang berjuang mempertahankan kehormatan umat Islam di seluruh dunia, termasuk kita.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/05/08/keteguhan-anak-anak-di-gaza-palestina/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    Voice Over : Arien S

    5 min
  • Mulianya Tawadhu

    Mulianya Tawadhu

    Oleh: Aya Ummu Najwa

    NarasiPost.com – Tawadhu diartikan sebagai sikap rida seseorang apabila dirinya dianggap berkedudukan lebih rendah dari yang seharusnya. Sifat tawadhu ini merupakan sifat yang berada di pertengahan antara sifat sombong dan menghinakan diri.

    Jika kesombongan telah mengakibatkan setan diusir dari surga dan menjadi makhluk terlaknat, maka sikap tawadhu telah berhasil menjadikan Adam dan Hawa sebagai manusia yang diampuni setelah keduanya melakukan dosa. Karena di antara banyaknya ciri dari sifat tawadhu seseorang adalah kemauan untuk mengakui kesalahan dirinya sendiri.

    Jika ia laki-laki dan seorang suami, maka salah satu tanda tawadhunya adalah kerelaannya untuk membantu istrinya dalam hal pekerjaan rumah. Dalam hal ini, Rasulullah pun telah mencontohkannya, sebagaimana diceritakan oleh ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam terbiasa membantu pekerjaan rumah istrinya saat beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam ada di rumah dan beliau akan keluar rumah ketika telah tiba waktunya shalat.

    Suatu saat Fudhail bin Iyadh rahimahullah pernah ditanya terkait sikap tawadhu, kemudian beliau menjawab; Tawadhu adalah tunduk dan patuh kepada kebenaran, siapapun yang menyampaikannya akan ia terima, walaupun mungkin kebenaran itu ia dengar dari anak kecil. Bahkan jika mendengar kebenaran itu dari orang yang paling bodoh sekalipun” (Madarij as-Salikin 2/329)

    Begitu pula, Imam Al Hasan al Bashri rahimahullah, beliau menjawab dalam pertanyaan terkait tawadhu; menurutnya tawadhu adalah ketika kamu keluar rumah, sedang kamu menganggap setiap muslim yang kamu jumpai adalah lebih baik darimu. (Dalam kitab At-Tawadhu’ wal Khumul hlm 154, juga Ihya Ulumuddin 3/342).


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/03/mulianya-tawadhu/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    Voice Over : Miladiah

    9 min
  • Islam Wujudkan Kebangkitan Hakiki

    Islam Wujudkan Kebangkitan Hakiki

    Oleh. Nina Marlina, A.Md

    (Muslimah Peduli Umat)

    NarasiPost.Com-Dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) tahun 2021, Wakil Bupati Bandung, Sahrul Gunawan meminta para pemuda di Kabupaten Bandung untuk tidak menjadi generasi rebahan atau pemalas di era pesatnya teknologi informasi. Mereka harus memanfaatkan teknologi informasi secara kreatif. Menurutnya, teknologi informasi harus dimanfaatkan pemuda untuk membangun bangsa. Salah satunya dengan memberikan kritik dan saran yang membangun secara santun terhadap program-program pemerintah. (iNewsJabar.id, 20/05/2021)

    Faktanya memang Indonesia merupakan negara berkembang yang sudah 75 tahun merdeka. Negeri yang subur, kaya raya dengan sumber daya alam yang melimpah ruah. Negeri dengan sumber daya manusia yang banyak, meski dengan kualitas yang masih kalah jauh dengan negara maju.

    Dalam peringatan Harkitnas yang setiap tahun dilakukan, mengingatkan apakah Indonesia sudah benar-benar bangkit? Karena faktanya negara ini banyak tertinggal dalam berbagai bidang dibandingkan dengan negara lain, seperti ekonomi, pendidikan dan sosial. Dalam bidang ekonomi, banyak SDA yang dikelola atau dikuasai oleh asing dan swasta, utang negara menembus angka Rp6000 triliun, dan terus meningkatnya angka kemiskinan. Di bidang pendidikan, masih banyaknya anak yang putus sekolah, minimnya fasilitas dan sarana belajar, serta rendahnya kualitas output anak didik. Sementara di bidang sosial, tindak kriminal atau kejahatan semakin menggila. Kasus kekerasan, pencurian, perampokan, pembunuhan dan perkosaan selalu mengisi berita di layar kaca.

    Dengan ini, Indonesia belum bangkit. Indonesia belum menjadi negara yang unggul, mandiri dan berdaulat. Penyebabnya Indonesia masih mengekor pada negara asing. Bahkan dikuasai ekonomi dan politiknya. Sistem ekonomi kapitalisme dan politik demokrasinya telah menciptakan persekutuan jahat antara pengusaha dan politikus. Dengannya lahirlah berbagai aturan atau undang-undang yang menguntungkan para pemilik modal. Kepentingan rakyat pun diabaikan.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/01/islam-wujudkan-kebangkitan-hakiki/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    Voice Over : Armina

    5 min
  • Esensi Syahrul Qur’an

    Esensi Syahrul Qur’an

    leh : Atik Hermawati

    NarasiPost.Com-Ramadhan, Syahrul Qur’an. Wahyu pertama turun pada Nabi Muhammad Saw. di bulan penuh kemuliaan ini. Sebagai mukjizat terbesar, juga petunjuk bagi manusia. Petunjuk mengarungi kehidupan hingga akhir zaman.

    Allah Swt berfirman,

    “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)…” (QS. Al Baqarah:185).

    Di bulan ini, lantunan Al-Qur’an dari berbagai sudut begitu menggema. Dari perkotaan hingga pedesaan. Berbagai surau saling bersahutan, membaca Al-Qur’an dari selepas sahur hingga sahur kembali. Suasana yang istimewa dan lebih baik dari bulan biasa. Target khatam Al-Qur’an menjadi agenda rutin di rumah-rumah bukan pesantren saja.

    Dalam waktu yang sama, kemaksiatan masih merajalela. Seolah tak peduli bulan puasa atau bukan. Seolah-olah ada sekat antara yang menghayati bulan Ramadhan dan mereka yang tidak beriman. Apalagi kasus penistaan yang sangat menyayat hati, masih ada hingga kini. Negara berdiam diri, lebih sibuk mengurus korporasi.

    Tertegun saat membaca tafsir juz 16, QS. Thaha ayat 123,

    “Allah berfirman, “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka” (QS. Tha Ha: 123).


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/05/08/esensi-syahrul-quran/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    Voice Over : Arien S

    4 min
  • Cerita Palestina

    Cerita Palestina

    Oleh: Hafida N.

    NarasiPost.Com-Jiwa sendu merayapi kalbu

    Menebas bahagia menghilangkan suka
    Menoreh tinta luka menambah perihnya lara
    Melukis sayatan panjang yang menggoreskan cerita

    Tentang raga yang tak lagi utuh

    Tentang diri yang tak lagi bisa mengeluh
    Tentang hidup yang tak pasti
    Tentang nafas yang kini mulai pergi

    Kalian yang sedang berjuang

    Tak pernah merasa pantang
    Menantang apa saja yang ada di depan
    Yang telah merebut Palestina, tanah kelahiran

    Bertahun-tahun lamanya kalian berjuang sendirian

    Masih menanti uluran bantuan
    Bukan hanya sekadar obat dan makanan
    Namun, juga sebuah pasukan

    Sayangnya, kami, saudara kalian hanya bisa diam

    Hanya sedikit yang ikut menyuarakan
    Bahwa kalian membutuhkan ketenangan
    Membutuhkan suatu pembelaan


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    Voice Over : Yeni M

    3 min
  • Uang Rakyat Raib di Kantong PNS Gaib

    Uang Rakyat Raib di Kantong PNS Gaib

    Oleh. Dwi Nesa Maulani (Komunitas Pena Cendekia)

    NarasiPost.Com-Publik kembali dikejutkan dengan adanya pemberitaan 97.000 PNS fiktif. Setiap bulan PNS fiktif sebanyak itu menerima gaji dan dana pensiun. Tetapi orangnya gaib alias tidak ada. Informasi ini disampaikan oleh Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN), Bima Haria Wibisana, dalam tayangan YouTube Pengumuman BKN Kick Off Meeting Pemutakhiran Data Mandiri hari Senin (24/5). (okezone.com, 29/5/2021)

    Bima menuturkan bahwa dirinya telah menemukan hampir 97.000 PNS fiktif sejak pemutakhiran data yang kedua yaitu pada tahun 2014. Sedangkan pemutakhiran data pertama kali, yaitu pada tahun 2002. Artinya PNS fiktif sudah ada sejak tahun 2002, penemuannya pada tahun 2014, dan baru diungkap pada tahun 2021. Sungguh luar biasa bukan?

    Mari kita hitung kerugian negara yang diperoleh. Andaikan dirata-rata gaji yang dibayarkan sebesar Rp3 juta dikali 97.000 hasilnya Rp 29,1 milyar perbulan. Jumlah tersebut jika dikalikan selama sembilan belas tahun (2002 sampai 2021) hasilnya Rp 6,64 triliun lebih. Jumlah yang fantastis. Uang sebanyak itu akan lebih bermanfaat jika digunakan dengan baik, seperti mengentaskan kemiskinan, membangun infrastruktur jalan, jembatan, dana pendidikan, dan sebagainya. Tetapi lagi-lagi uang sebanyak itu menguap sia-sia. Uang negara raib demi menggaji orang siluman.

    Bukan kali ini saja adanya data fiktif. Dulu pernah terungkap juga adanya desa fiktif. Desa tersebut menerima dana desa seperti desa-desa nyata pada umumnya. Lalu ke mana aliran uang dari yang fiktif-fiktif itu bermuara? Terkait kasus PNS fiktif ini masih dalam penyelidikan.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/09/uang-rakyat-raib-di-kantong-pns-gaib/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    Voice Over : Mba Mels

    8 min
  • Kue Komisaris ala Kapitalis

    Kue Komisaris ala Kapitalis

    Oleh. Rita Handayani (Opinion Maker dan Pemerhati Publik)

    NarasiPost.Com-There is no free lunch alias tak ada makan siang gratis. Adagium ini memang sangat mencerminkan kehidupan di alam demokrasi. Demikianlah pola kebijakan yang dipertontonkan para pemilik kekuasaan. Daripada menyerahkan jabatan strategis di perusahan milik negara, seperti komisaris BUMN kepada orang yang berkompeten atau ahli di bidangnya, lebih baik dijadikan jalan balas budi atas jasanya pada masa kampanye silam.

    Demikianlah yang terindera oleh khalayak. Bahwa, Presiden Jokowi telah membalas jasa para pendukungnya dari segala kalangan, menggunakan uang rakyat. Dengan menjadikan mereka komisaris yang bergaji ratusan juta. Salah satunya Abdi Negara atau yang akrab dipanggil Abdee Slank. Musisi dari grup band slank ini diangkat menjadi komisaris PT. Telkom Indonesia. Ia menjadi sorotan karena latar belakang dan kapasitasnya dianggap para ahli tidak sesuai sebagai komisaris BUMN. (detiknews.com, 30/5/2021)

    Berdasarkan catatan detikcom setidaknya ada 26 para pendukung presiden yang masuk dalam jajaran komisaris BUMN. Berikut daftarnya:

    Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), sebagai komisaris utama merangkap independen PT. Pertamina (Persero). M Arief Rosyid Hasan menjadi Komisaris Independen di Bank Syariah Indonesia. Rizal Malaranggeng sebagai komisaris PT. Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM). Lukman Edy menjabat sebagai wakil komisaris utama merangkap komisaris independen PT Hutama Karya (Persero). Zulnahar Usma sebagai komisaris PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Arya Sinulingga komisaris PT Inalum (Persero). Arif Budimanta komisaris PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI). Irma Suryani Chaniago komisaris independen PT Pelindo I (Persero). Dudy Purwagandhi komisaris PT PLN (Persero). Fadjroel Rachman komisaris PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT). Andi Gani Nena Wea presiden komisaris PT PP (Persero) Tbk (PTPP). Ulin Ni’am Yusron komisaris ITDC. Eko Sulistyo komisaris PLN. Dyah Kartika Rini komisaris independen Jasa Raharja. Kristia Budiarto komisaris independen PT.Pelni (Persero). Zuhairi Misrawi komisaris independen PT. Yodya Karya (Persero). Victor S Sirait, komisaris di Waskita Karya. Paiman Raharjo komisaris PGN. Dwi Ria Latifa komisaris PT.Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Fary Djemy Francis, komisaris utama PT.Asabri (Persero). Budiman Sudjatmiko. komisaris independen PTPN. Sunanto, komisaris utama PT.Istaka Karya (Persero). Said Aqil, komisaris utama merangkap komisaris independen PT.KAI (Persero). Bambang Brodjonegoro, komisaris Utama PT.Telkom Indonesia. Abdi Negara Nurdin, PT.Telkom Indonesia. Wishnutama Kusubandio, komisaris utama di Telkomsel. (detikfinance.com, 30/5/2021)

    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/06/kue-komisaris-ala-kapitalis/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    Voice Over : Ratu Ika

    7 min
  • Membangun Rumah di Surga

    Membangun Rumah di Surga

    Oleh: Ira Rahmatia

    NarasiPost.com-Sejatinya dunia hanyalah tempat persinggahan. Kita bagaikan seorang musafir, yang pergi mencari bekal untuk kembali ke kampung sebenarnya. Di kampung tersebut kita dijanjikan rumah yang indah serta dialiri sungai-sungai di bawahnya.

    Pemandangan yang tak pernah terlihat oleh mata dan seluruh pelayanannya yang menakjubkan. Semua itu hanyalah di peroleh manusia jika ia bertakwa. Takwanya menjadikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala Rida padanya.

    Kabar baiknya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala sudah menuntun manusia dengan Al-Qur’an dan Hadis-hadis yang disabdakan oleh manusia suci, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam.

    Sungguh rugi jika masih terlena dengan dunia yang hanya tipuan, juga tidak berusaha mencintai aturan-aturan-Nya.

    Lalu, membangun Rumah di Surga, bagaimana bisa? Salah satunya mengerjakan shalat sunnah rawatib.

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

    “Barangsiapa yang shalat 12 rakaat di dalam sehari semalam maka dibangunkan baginya sebuah rumah di dalam surga.” (HR Muslim no 728).

    Juga salah satu sabda beliau yakni:

    “Barangsiapa membangun masjid karena Allah sebesar sarang burung atau lebih kecil. Maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Nah, lantas bagaimana kita sebagai muslimah masuk ke dalam surga, apakah ada cara tersendirinya?


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/05/membangun-rumah-di-surga/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    Voice Over : Giriyani

    6 min
  • Menjadi Jurnalis Muslim

    Menjadi Jurnalis Muslim

    Oleh : Deny Setyoko Wati, SH

    NarasiPost.Com-Jurnalis muslim, penyebutan ini tak sekadar seorang muslim yang bekerja atau beraktivitas sebagai seorang jurnalis. Tapi lebih dari itu, penyebutan tersebut berkaitan erat dengan identitasnya sebagai seorang muslim yang selanjutnya juga menentukan keberpihakannya. Seringkali kita mendengar bahwa menjadi seorang jurnalis, ia harus memiliki sikap netral. Tapi sejatinya tak pernah ada sikap ‘netral’. Bagi mereka yang menyatakan netral, sejatinya ia berpihak juga dengan ‘apa yang disebut ‘netral’ tersebut. Nah, demikian juga sebagai seorang jurnalis muslim, maka keberpihakannya harus cenderung kepada Islam. Tentunya, keberpihakannya terhadap Islam, harus didasari oleh pemahaman yang benar tentang Islam.

    Oleh karena itu, seorang jurnalis muslim harus (semestinya) menjadikan Al-Qur’an dan As Sunnah sebagai kode etiknya dalam proses mengumpulkan, membuat, dan menyebarkan berita. Mindset seorang jurnalis muslim pun harus dibangun berpondasikan tauhid, artinya ia menyadari bahwa tugas jurnalis merupakan amanah dari Allah ta’ala untuk menyampaikan kebenaran, bukan untuk promosi diri, melukai pihak lain ataupun menjual berita. Aktivitas jurnalis harus sejalan dengan tujuan Allah menciptakan alam dan kehidupan.

    Mengutip pemaparan Ustaz Ismail Yusanto, setidaknya ada empat prinsip yang harus dipegang teguh oleh seorang jurnalis muslim yaitu: Pertama, kebenaran (Haq), seorang jurnalis muslim harus menyampaikan kebenaran. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam QS. Al-Baqarah : 42 yang menyatakan tidak boleh mencampurkan hal yang benar (haq) dengan hal yang salah (batil). Selain itu, untuk menjadikan kabar yang benar merujuk pada konsep kabar shadiq, yakni kabar benar itu berdasarkan Al-Quran dan As Sunnah. Serta dalam memetakan kebenaran, terdapat tiga macam kebenaran ), yaitu kebenaran i’tiqadi (Janji Allah Ta’ala), kebenaran syar’i (berdasarkan kabar dari Al Qur’an), dan kebenaran waqi’ (berdasarkan realita).

    Prinsip kedua adalah tablig. Seorang jurnalis muslim harus menyampaikan kebenaran dan kebaikan. Secara tidak langsung, jurnalis muslim juga menjadi detonator kebaikan dan melakukan amar ma’ruf nahi mungkar.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/10/menjadi-jurnalis-muslim/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    Voice Over : Dewi Fitriana

    6 min
  • Luka Lelah Lillah

    Luka Lelah Lillah

    leh : Deena Noor

    NarasiPost.Com-Maafkan, airmata

    Tertumpah juga akhirnya
    Diri tak kuasa
    Menahan lara

    Kata yang terucap tanpa rasa

    Begitu ringannya
    Seolah lupa
    Pedihnya tersisa di sukma

    Laku mencaci, teramat menyakiti

    Nurani tunduk pada materi
    Menari-nari
    Penuh arogansi

    Lelah, inginkan berhenti

    Sejenak menepi
    Untuk mengobati
    Luka di hati

    Sayang, deraan tak memahami

    Terus datang bertubi
    Menggelayuti
    Hari-hari tanpa henti


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/03/05/luka-lelah-lillah/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    Voice Over : Fani Ratu

    4 min

About Narasipostmedia

From the publisher's feed

Audio tentang sastra, opini, surat pembaca motivasi, food dan sebagainya dari karya-karya para penulis ideologis yang naskahnya publish di media www.narasipost.com