Narasipostmedia

Narasipostmedia

By NarasipostNewsDaily News
Download on the App Store

Narasipostmedia episodes

  • Menyikapi Rasa Lelah di Jalan Dakwah

    Menyikapi Rasa Lelah di Jalan Dakwah

    Oleh. Yeni Marlina, A.Ma.

    (Pemerhati Kebijakan Publik dan Kontributor NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Dewi Nasjag

    NarasiPost.com-Pernah mendengar ungkapan hati sebagian kecil saudara-saudara kita: “Kalau masih begini-begini saja rasanya ingin keluar dari jalan perjuangan dakwah. Masih sangat panjang jalan yang harus ditapaki, sementara di ufuk sana belum terlihat secercah cahaya kemenangan akan tiba. Rasa lelah mulai terasa, ingin berhenti saja biarlah orang-orang kuat yang tersisa dan akan terus berjalan melanjutkan perjuangan.”

    Terkadang kalimat di atas muncul atau terlintas dalam benak sebagian pengemban dakwah. Walhasil ada yang rela memutuskan untuk berhenti dan keluar dari barisan perjuangan. Namun, sebagian besar tetap bertahan karena prinsip dan keyakinan bahwa perjuangan di jalan dakwah memang sejatinya demikian.

    Bukan dakwah namanya jika tidak dirasa ada efek, membutuhkan kesiapan pengorbanan. Sebab dakwah bukan hanya berkata-kata, namun mengandung makna seruan. Seruan mengajak pada kebaikan dan meninggalkan kemungkaran. Itulah esensi dakwah yang sesungguhnya, perintah Allah subhanahu wa ta’ala kepada umat Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang diciptakan sebagai umat terbaik di kalangan umat manusia.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/06/29/menyikapi-rasa-lelah-di-jalan-dakwah/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Sanggraloka yang Tersandera

    Sanggraloka yang Tersandera

    Oleh. Sartinah

    (Tim Kontributor NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Giriyani SS

    NarasiPost.Com-Perputaran aktivitas manusia tidak terbatas waktu dan tempat. Kelelahan dan kepenatan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan hidup manusia. Kelelahan ini pula yang menuntut manusia untuk sejenak rehat dan melepas penat. Salah satunya dengan mengunjungi berbagai sanggraloka yang terbentang dari timur ke barat negeri ini. Namun, apa jadinya jika hasrat mengunjungi destinasi wisata justru terganjal mahalnya harga?

    Tiket ‘Selangit’

    Tiket naik ke stupa Candi Borobudur tengah ramai diperbincangkan. Kenaikan harga tiket tersebut diumumkan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam akun Instagram pribadinya pada Minggu, 5 Mei 2022. Terang saja, kenaikan drastis tersebut membuat rakyat terperangah. Pasalnya, tiket untuk turis lokal ditetapkan sebesar Rp750 ribu, untuk turis mancanegara sebesar US$100 (Rp1,4 juta), sementara untuk pelajar sebesar Rp5.000,00. (Detik.com, 05/06/2022)

    Namun, respons masyarakat yang keberatan dengan tarif baru tersebut, membuat Luhut mengklarifikasi pernyataannya. Dia mengatakan, tarif tersebut belum final dan akan meminta pihak-pihak terkait untuk mengkaji kembali besaran tarif baru untuk turis lokal agar bisa diturunkan. Lantas, apa sejatinya alasan pemerintah menaikkan tiket ke Candi Borobudur? Benarkah demi menjaga kelestarian situs, atau justru demi kepentingan ekonomi semata?


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/06/08/sanggraloka-yang-tersandera/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    13 min
  • Ketika para Sahabat Menumpahkan Khamar

    Ketika para Sahabat Menumpahkan Khamar

    Oleh. Mariyah Zawawi

    (Tim Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Anita Yulianti

    NarasiPost.Com-Khamar adalah minuman yang memabukkan. Minuman ini dihasilkan dari fermentasi buah, biji-bijian, dan madu. Misalnya buah anggur, kurma, atau biji gandum. Namun, saat teknologi semakin berkembang, khamar tidak melulu dihasilkan dari buah atau biji. Misalnya di Singapura yang mengolah bir dari limbah air seni manusia.

    Khamar bisa tahan bertahun-tahun, bahkan ratusan tahun. Menurut para peminum khamar, semakin lama khamar disimpan, rasanya akan semakin nikmat. Harganya pun semakin mahal. Itulah sebabnya ada pabrik khamar yang sengaja menyimpan khamar dalam terowongan selama bertahun-tahun.

    Proses pembuatan khamar sangat rumit. Dibutuhkan ketepatan suhu, kebersihan wadah, dan sebagainya. Jika ada sedikit saja kesalahan, rasa dan warnanya akan berbeda. Karena itu, perusahaan-perusahaan khamar saat ini menggunakan pengontrolan melalui komputer, agar produk yang dihasilkan benar-benar sama.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/07/03/ketika-para-sahabat-menumpahkan-khamar/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    11 min
  • Islamofobia Kembali Melanda India

    Islamofobia Kembali Melanda India

    Oleh. Mahganipatra

    (Pegiat literasi dan Aktivis Forum Muslimah Peduli Generasi)

    Voice over talent: Dewi Nasjag

    NarasiPost.com-Atmosfer sosial politik di India kembali memanas, akibat sikap para elite politik partai Bharatiya Janata (BJP) yang sedang berkuasa. Mereka melakukan penghinaan terhadap Al-Qur’an, Rasulullah saw, dan Islam.

    Sikap Nupur Sharma dan Naveen Jindal sebagai juru bicara partai BJP yang menyerang dan mengolok-olok Al-Qur’an dengan menyamakannya dengan “Bumi itu datar”. Kemudian menghina Rasulullah saw dan istrinya Aisyah r.a.di media sosial, telah mengundang reaksi keras umat Islam di seluruh dunia.

    Seruan untuk memboikot produk India dan demonstrasi yang mengecam negara India oleh umat Islam di beberapa negara dianggap sangat wajar, mengingat sepak terjang politisi India yang terus melakukan penghinaan terhadap ajaran Islam beserta simbol-simbol Islam secara berulang-ulang. Sikap sombong, hipokrit, dan zalim seringkali ditunjukkan oleh negara-negara kafir seperti India dan negara-negara kafir Barat yang menganut paham sekularisme-liberalisme.

    Sementara itu, sikap partai Bharatiya Janata (BJP) yang sedang berkuasa, telah menyatakan bahwa tindakan Nupur Sharma dan Naveen Jindal bukan merupakan representatif dari partai. Mereka sangat menentang ideologi apa pun yang menghina atau merendahkan sekte atau agama apa pun. Lewat Kementerian Luar Negeri, Pemerintah India mengatakan tweet dan komentar ofensif juru bicara BJP tidak mencerminkan pandangan pemerintah.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/06/24/islamofobia-kembali-melanda-india/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Mampukah Nama “Turkiye” Mewakili Peradaban Islam?

    Mampukah Nama “Turkiye” Mewakili Peradaban Islam?

    Oleh. R. Raraswati

    (Kontributor NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Maya Rohmah

    NarasiPost.Com-Sebagaimana dilansir detik.com pada 6/6/2022 menurut Erdogan, nama Turkiye lebih mewakili identitas negara. Ia berpandangan, perubahan nama menjadi Turkiye bisa menjadi perwakilan peradaban, budaya, ekspresi, dan nilai-nilai negeri. Peradaban seperti apa yang dimaksud?

    Dunia tahu, Turki telah mewarisi sejarah dari peradaban Islam di Arab dan Persia. Semua itu bisa kita lihat hingga sekarang. Hagia Sophia adalah satu contoh nyata bahwa peradaban Islam pernah mengubah sebuah gereja di masa Byzantium menjadi masjid pada masa Turki Utsmani. Meski sempat dijadikan museum pada rezim Attaturk berkuasa, kini Hagia Sophia kembali difungsikan sebagai masjid. Namun, pengaruh pemikiran negara-negara Barat pun ada di negara ini. Pertanyaannya sekarang, mampukan nama Turkiye membangkitkan kembali peradaban Islam?

    Memang nama adalah doa dan harapan. Namun, mengubah nama suatu negara bukan serta-merta dapat menjadikan keadaan lebih baik tanpa didukung dengan upaya pemerintah untuk mewujudkannya. Terlebih, ada sebuah artikel yang menyebutkan bahwa kata “Turkiye” pada pencariaan di Google muncul berbagai arti. Salah satu artinya adalah ayam kalkun yang biasa menjadi hidangan makan perayaan Natal di Amerika Serikat.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/06/26/mampukah-nama-turkiye-mewakili-peradaban-islam/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    9 min
  • Dalam Persimpangan

    Dalam Persimpangan

    Oleh. Tsuwaibah Al-Aslamiyah

    (Tim Redaksi NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Giriyani SS

    NarasiPost.Com-“Abi, kenapa sih membela ibu terus? Dalam setiap masalah, pasti selalu ummi yang disalahkan. Apa ummi gak berhak dapat keadilan?” Braaak, pintu kamar ditutup dan terdengar isak tangis dari dalam kamar.

    Ini bukan pertama kalinya sang istri geram dan mengamuk pada suaminya. Semenjak menikah, memang kerap kali terjadi gesekan antara ‘menantu dengan mertua’. Dari hal yang sepele hingga prahara pelik terus mendera. Sang suami pun kadang kelabakan dalam mendamaikan keduanya.

    Apakah kamu pernah mengalami kejadian serupa? Terbakar api cemburu! Bukan pada rekan kerja suami, tetangga, atau sahabatnya. Namun, pada ibunya alias mertua kita sendiri. Monogami rasa poligami. Semua serba berbagi.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/07/06/dalam-persimpangan/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    15 min
  • Serata Dunia

    Serata Dunia

    Oleh. Afiyah Rasyad

    (Tim Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Ayin

    NarasiPost.Com-Tak terbilang dalam hitungan purnama

    Sengkarut kehidupan memamerkan kepongahan penuh drama
    Banyak insan yang bermaksiat dalam satu irama
    Normalisasi kezaliman adalah kekejian yang utama

    Kebahagiaan tercabut dalam sekali entakan

    Berayun dosa besar dalam tiap helai kebijakan
    Setangkup asa tak lagi ada dalam ruas harapan
    Terperosok semakin jauh dari teguhnya kebenaran

    Lembaran kebijakan kusut mengintai tiap-tiap manusia

    Menebar aroma busuk menepis rasa bahagia
    Kehidupan kalang kabut jauh dari kata mulia
    Dalam dekapan kezaliman yang terus bersukaria


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/07/02/serata-dunia/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    5 min
  • Negeri Kanguru Dilanda Krisis Energi, Bagaimana Bisa?

    Negeri Kanguru Dilanda Krisis Energi, Bagaimana Bisa?

    Oleh. drh. Lailatus Sa’diyah

    (Tim Kontributor Tetap Narasipost.Com)

    Voice over talent: Dewi Nasjag

    NarasiPost.Com-Sebagai negara pengekspor batu bara dan gas alam cair terbesar nomor dua di dunia, beberapa negara bagian Australia justru mengalami krisis energi. Kebijakan pemadaman listrik pun tak dapat dielakkan. Lalu bagaimana hal ini bisa terjadi? Bukankah sebagai salah satu negara pengekspor batu bara dan gas alam cair terbesar di dunia, harusnya Australia mampu memenuhi kebutuhan pasokan energinya?

    Masalah Serius

    Kini Australia diterpa krisis energi, bahkan ini merupakan kondisi terburuk dalam 50 tahun terakhir. Ternyata status sebagai salah satu produsen utama batu bara dunia, tidak bisa menjamin Negeri Kanguru terhindar dari kelangkaan energi. Menteri Energi, Chris Bowen, dan Pasar Energi Australia (AEMO) memperingatkan bahwa Australia sedang menghadapi ‘badai sempurna’ dari pasokan energi yang terbatas dan kenaikan harga listrik? (cnbcindonesia.com, 16/06/2022)

    Kondisi ini mendorong pemerintah Australia untuk meminta orang-orang yang tinggal di New South Wales melakukan penghematan energi sebanyak mungkin. Termasuk melakukan pemadaman listrik selama 2 jam pada malam hari. Beberapa hal yang bisa menjadi gambaran kondisi Australia dalam menghadapi krisis energi saat ini adalah : Pertama, harga grosir listrik melonjak lima kali lipat lebih tinggi dari tahun 2021. Sebagian besar dikarenakan oleh kenaikan harga batu bara dan gas secara global. Harga grosir sendiri memberikan kontribusi sebesar 35% dari tagihan rumah tangga di Australia. Di area lain, Regulator Energi Australia pun menaikkan harga listrik sebanyak 18% di South Australia, Queensland, dan New South Wales. Harga listrik di Victoria juga mengalami kenaikan sebesar 5%. Sedangkan beberapa pengecer energi yang lebih kecil seperti ReAmped bahkan akan menaikkan tarif listrik hingga 2 kali lipat.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/06/25/negeri-kanguru-dilanda-krisis-energi-bagaimana-bisa/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • Tidak Ada Toleransi pada Maksiat

    Tidak Ada Toleransi pada Maksiat

    Oleh. Mita Nur Annisa

    (Pemerhati Sosial dan Kontributor NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Mimi Muthmainnah

    NarasiPost.Com-Holywings telah melakukan tindakan yang lancang dalam mengeluarkan promosinya dengan menggunakan nama yang diagungkan umat Islam. Wajar jika akhirnya menuai kecaman. Bagaimana tidak, promosi itu berisikan minuman alkohol disertai nama Muhammad dan Maria.

    Seperti yang dilansir oleh detikNews (26/06/2022), Holywings Indonesia kembali menyampaikan permintaan maaf terkait promosi minuman alkohol gratis khusus untuk pelanggan bernama ‘Muhammad’ dan ‘Maria’. Dalam pernyataan terbuka, Holywings berbicara nasib 3.000 karyawan yang bergantung pada usaha food and beverage tersebut.

    “Holywings minta maaf. Kami memohon doa serta dukungan dari masyarakat Indonesia agar masalah yang terjadi bisa segera diselesaikan sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku, demi keberlangsungan lebih dari 3.000 karyawan di Holywings Indonesia beserta dengan keluarga mereka yang bergantung pada perusahaan ini,” kata Holywings Indonesia dalam akun Instagram resminya.

    Penyampaian maaf yang dilakukan oleh Holywings dan kekhawatiran akan nasib dari karyawannya, apakah hal yang perlu diperhitungkan dan menjadi sebuah solusi? Karena promosi yang dilakukan merupakan tindakan penistaan agama terhadap Islam.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/07/07/tidak-ada-toleransi-pada-maksiat/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Uang Bukanlah Segalanya

    Uang Bukanlah Segalanya

    Oleh. Maman El Hakiem

    (Kontributor NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Giriyani SS

    NarasiPost.com-Uang bukan segalanya, tapi segalanya harus pakai uang. Idiom kapitalisme ini telah menjadikan manusia pontang-panting hanya untuk mendapatkan uang. Peras keringat, banting tulang adalah peribahasa yang sering digunakan untuk menunjukkan betapa susahnya mendapatkan lembaran rupiah

    Urgensi orang bekerja atau berusaha dalam sudut pandang kapitalisme adalah nilai manfaat yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan kompensasi berupa harga dalam bentuk materi atau uang. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia harus berusaha memproduksi barang atau jasa. Jika berkaitan dengan barang atau benda, maka nilai guna (utility) dari benda tersebut yang menjadi harga, sedangkan tenaga atau keahlian adalah nilai manfaat (value) yang bisa ditukar.

    Seiring zaman, manusia menjadikan uang sebagai satu-satunya alat tukar dan nilai dari harga itu sendiri. Sebelumnya manusia mengenali uang sebagai alat tukar saja, harga atas barang dan jasa dapat ditentukan berdasarkan nilai hakiki benda atau jasa tersebut. Berbeda dengan kehidupan manusia modern saat ini, uang tidak lagi sekadar alat tukar (medium of excharge), melainkan telah menjadi standar harga dari barang atau jasa tersebut. Uang telah menjelma sebagai kebutuhan yang selalu dicari manusia untuk melangsungkan hidupnya karena dengan uang semua kebutuhannya dapat terpenuhi.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/06/22/uang-bukanlah-segalanya/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    9 min

About Narasipostmedia

From the publisher's feed

Audio tentang sastra, opini, surat pembaca motivasi, food dan sebagainya dari karya-karya para penulis ideologis yang naskahnya publish di media www.narasipost.com