
Sign up to save your podcasts
Or


Kapitalisme Membidik Legalisasi Ganja
Oleh. Maman El Hakiem
Voice over talent: Dewi Fitriana
NarasiPost.Com-Ganja (Cannabis sativa) menurut UU No.35 Tahun 2009 termasuk jenis narkotika. Pengertian narkotika sendiri adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menjadikan orang ketergantungan, jenis narkotika dibedakan ke dalam golongan-golongan tertentu sebagaimana terlampir dalam UU tersebut.
Adanya upaya untuk melegalkan ganja agar mudah dimanfaatkan masyarakat dengan dalih kebutuhan medis atau pengobatan ditengarai sebagai upaya kapitalisme meraih keuntungan karena ganja secara finansial sangat menggiurkan. Menurut hasil riset CNBC yang dipublikasikan pada 29 Juni 2022, setidaknya terlihat dari sejumlah negara atau wilayah yang telah melegalkan ganja.
Menurut laporan CNBC, di AS pada tahun 2021, Departemen Keuangan negara bagian Washington berhasil mengumpulkan US$559,5 juta dari pendapatan ganja legal, US$85 juta lebih banyak dari tahun sebelumnya. Sedangkan di negara bagian Colorado mengumpulkan US$423 juta dari pendapatan pajak ganja pada tahun 2021, naik hampir 10% dari tahun sebelumnya. Dua negara bagian tersebut merupakan paling awal di AS yang melegalkan penggunaan ganja.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/07/04/kapitalisme-membidik-legalisasi-ganja/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Titik Kritis Pemuda Sebagai Agen Perubahan Masa Depan
Oleh. Desi Wulan Sari, M.Si.
Voice over talent: Maya Rohmah
NarasiPost.Com-Pemuda adalah masa depan bangsa. Sebagai tulang punggung bangsa begitu banyak peran yang akan diembannya. Maka, perlunya mempersiapkan sedini mungkin, dari segi intelektual yang sistematis dan mampu menciptakan karakter pemuda kritis serta amanah bagi negaranya sangatlah penting.
Namun, kini begitu banyak pemuda yang kita temui tengah asyik dengan kesenangan mereka sendiri. Banyaknya pengalihan dan fasilitas entertainment global era kapitalis telah membuat generasi muda kian jauh dari perannya sebagai calon intelektual tulang punggung negara. Walaupun beberapa program kepemudaan telah diupayakan untuk menghidupkan kreativitas pemuda kini, namun tantangan yang dihadapi dari sistem kapitalis teramat besar.
Seperti program kepemudaan yang dicanangkan kota Bogor yang tengah melaksanakan program-program pemberdayaan ekonomi pemuda, di antaranya HIPMI Goes to School dan petani milenial di Kampung Rambai. Sebanyak 600 siswa SMK Wikrama yang mengikuti program HIPMI Goes to School diwisuda pada Selasa, 7 Juni 2022. Marwan Suherman sebagai Ketua HIPMI Kota Bogor mengatakan program ini bertujuan memberikan pelatihan kewirausahaan kepada siswa kelas 12, mereka dimotivasi dan semangat untuk menjadi pengusaha dan enterpreneur. Dengan memperkuat mental mereka agar berani menjalankan dan menerima dana investasi dari pemerintah. (bogor-kita.com, 7/6/20220)
Naskah selengkapnya:https://narasipost.com/2022/06/24/titik-kritis-pemuda-sebagai-agen-perubahan-masa-depan/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Gelombang Resesi Ekonomi Meresahkan Dunia, Islam Berikan Solusi Nyata
Oleh. Ati Nurmala
Voice over talent: Dewi Nasjag
NarasiPost.Com-Putaran roda ekonomi dunia belum sepenuhnya pulih pasca hantaman pandemi Covid-19 yang memukul hampir seluruh negara di dunia hingga memicu resesi ekonomi. Badai Covid-19 yang menghilangkan ratusan nyawa dalam sehari itu belum sepenuhnya usai melanda dunia, namun kini sudah disambung terjadinya konflik Rusia dan Ukraina yang kian memperburuk perekonomian banyak negara. Perang antarnegara tersebut semakin memanas sehingga menimbulkan efek domino, yakni memicu hampir 60 negara di dunia mengalami resesi ekonomi.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), resesi ekonomi sendiri merupakan kondisi di mana terjadinya kelesuan dalam kegiatan industri, dagang, dan sebagainya (seolah-olah terhenti), menurunnya (berkurangnya, mundurnya) kegiatan dagang (industri). Dikutip dari Forbes, resesi adalah penurunan signifikan dalam kegiatan ekonomi yang berlangsung secara terus-menerus selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Apabila resesi ini terjadi lebih dari dua kuartal akan menjadi depresi ekonomi.
Ancaman krisis pangan, krisis energi dan inflasi adalah penyebab ambruknya sistem ekonomi banyak negara di dunia. Baru-baru ini Presiden RI, Jokowi, menyebut ada sekitar 60 negara yang akan mengalami kemerosotan ekonomi. Beliau mengatakan hal ini terjadi karena faktor dan situasi global yang tidak menentu. Karena itu, beliau mengimbau kepada jajaran pemerintahan agar lebih peka dan bersiap untuk menghadapi situasi buruk itu. Hal ini disampaikan Jokowi dalam pembukaan Rekornaswasin BPKP. Beliau menuturkan, “Bank Dunia, International Monetary Fund (IMF) menyampaikan ada sekitar 60 negara yang akan ambruk ekonominya, 40 di antaranya diperkirakan pasti.” tuturnya. (Cnbcindonesia.com, 14/06/2022).
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/06/30/gelombang-resesi-ekonomi-meresahkan-dunia-islam-berikan-solusi-nyata/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Narkoba di Tengah Arus Liberalisme
Oleh: Siti Amelia Q. A, S. IP,. M. IP.
Voice over talent: Anita Yulianti
NarasiPost.Com-Baru-baru ini muncul wacana legalisasi ganja untuk kebutuhan medis dan rekreasi di Indonesia. Bahkan di beberapa negara sudah mulai melegalkan tanaman candu tersebut. Dilansir dari halaman suara.com, Thailand baru saja menerapkan undang-undang yang melegalkan penanaman dan pengonsumsian dalam bentuk makanan atau minuman serta kepemilikan mariyuana atau ganja untuk keperluan medis sejak Kamis, (9/6/2022). Negara lain yang sudah lebih dahulu melegalkan ganja antara lain Kanada, Uruguay, beberapa negara bagian di Amerika Serikat dan sebagainya.
Ganja atau istilah lainnya mariyuana adalah sejenis psikotropika yang mengandung Tetrahidrokanabinol (THC) dan Kanabidiol yang membuat pemakainya mengalami euforia. Ganja biasanya dibuat menjadi rokok untuk dihisap supaya efek dari zatnya bereaksi. (wikipedia)
Kontroversi Ganja
Beberapa negara menggolongkan tumbuhan ini sebagai narkotika, karena memiliki kadar THC yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, yakni kisaran 1% sampai 4% yang menyebabkan seseorang semakin mudah mengalami ketergantungan.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/07/02/narkoba-di-tengah-arus-liberalisme/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Alpukat dan Rahimmu Lho!
Oleh. Andrea Aussie
Voice over talent: Giriyani & Dewi Nasjag
NarasiPost.com-“Lho, katanya mau diet kok makan alpukat sih? Bukankah alpukat sangat tinggi komposisi lemak dan kalorinya? Enggak bagus lho kalau ingin langsing!” kata Dwi keheranan.
“Aku tahu sih kalau alpukat sangat tinggi lemak dan kalorinya dibandingkan buah apel yang hanya memiliki kalori 54 gr dan lemak 0.4. Sementara alpukat memiliki kalori 84 gr dan lemak 5.4 gr dari 100 gr alpukat. Tetapi alpukat memiliki komposisi zat yang luar biasa manfaatnya terutama untuk kaum wanita seperti kita.” Jawabku sambil tersenyum.
“Maksudmu?”
“Coba perhatikan alpukat yang terbelah dua, kira-kira menurutmu, organ tubuh manusia apa yang terlintas dalam benakmu?”
“Hm… Rahim?”
“Benar. Alpukat bentuknya seperti rahim wanita. Rahim itu salah satu dari sistem reproduksi wanita. Secara keseluruhan, sistem reproduksi wanita terdiri dari labia mayora, labia minora, kelenjar bartholin, klitoris, vagina, uterus (rahim ), ovarium (indung telur ) dan tuba falopi. Organ-organ tersebut berfungsi mendukung reproduksi manusia mulai dari memproduksi telur, berhubungan seksual, melindungi, dan merawat janin selama hamil hingga melahirkan “
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/07/07/alpukat-dan-rahimmu-lho/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Peringatan Tenggelam dari Siklus Nodal Bulan
Oleh. Dila Retta
Voice over talent: Dewi Nasjag
NarasiPost.Com-Mengutip dari laman resmi BMKG pada tanggal 28 Mei 2022 lalu, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini akan terjadinya banjir rob di 15 wilayah pesisir Indonesia pada 30 Mei hingga 07 Juni 2022. Menurut BMKG, hal ini disebabkan oleh adanya fase bulan baru yang berpotensi menyebabkan naiknya ketinggian pasang air laut. Dan seperti yang sama-sama kita ketahui, saat ini beberapa wilayah di Pantai Jawa Utara (Pantura) tengah dilanda banjir rob yang cukup parah, khususnya di Semarang, Demak, Pekalongan, Rembang, dan Brebes.
Berdasarkan pemaparan yang disampaikan oleh Peneliti Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Thomas Djalaludin, terjadinya banjir rob ini disebabkan oleh fenomena siklus nodal bulan. Dikutip dari cnnindonesia.com (4/6), Thomas menjelaskan bahwa siklus nodal bulan terjadi 18,6 tahunan. Air laut mengalami pasang maksimum karena saat itu posisi bulan miring 5 derajat dari ekliptika. Ia juga menjelaskan bahwa gabungan antara pemanasan global dan siklus ini dapat memperparah kondisi pesisir Indonesia.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/06/10/peringatan-tenggelam-dari-siklus-nodal-bulan/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Nikah Beda Agama “Naik Kelas”, Sekularisme Semakin Jelas!
Oleh. Iranti Mantasari, BA.IR, M.Si
Voice over talent: Sofia Ariyani
NarasiPost.Com-Salah satu tantangan besar yang dihadapi oleh kaum muslimin hari ini adalah berusaha teguh dalam memegang syariat. Berbagai dalih dan alasan untuk meletakkan aturan menjadi lebih fleksibel begitu gencar disuarakan. Misalnya dalam urusan pernikahan. Menikah sering kali dilihat sebagai suatu masalah untuk menyatukan dua insan yang saling jatuh hati semata. Padahal, bagi umat Islam, urusan pernikahan sama sekali tidak bisa dipisahkan dari syariat-syariat terkait membangun rumah tangga. Hal ini disebabkan karena menikah bukan hanya urusan cinta di dunia saja, tapi menikah juga adalah urusan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.
Meski demikian, kondisi pemahaman ideal yang seharusnya dimiliki umat tentang pernikahan baru-baru ini mendapat guncangan lagi. Pasalnya, Pengadilan Negeri di Surabaya mengabulkan permohonan pernikahan beda agama antara pasangan muslim dan kristiani. Alasan yang diungkap oleh humas PN Surabaya tersebut adalah untuk menghindari aktivitas kumpul kebo yang bisa saja terjadi jika dua orang yang mencintai tapi tak terikat pernikahan (Sindo, 20/6/22). Pengabulan permohonan ini juga dilakukan karena menurut pihak pengadilan, belum ada regulasi yang melarang pasangan yang berbeda agama atau keyakinan untuk menikah.
Fakta ini memang mencuat di Surabaya, namun realitas pernikahan beda agama pasti sudah banyak terjadi di daerah lain, hanya tidak terangkat ke media saja. Meski sudah menjadi sebuah fenomena yang marak –jika tidak dikatakan lazim-, satu hal yang pasti dari pengabulan oleh PN Surabaya ini adalah bahwa dengan adanya hukum yang memayungi, praktik nikah beda agama ke depannya tidak menutup kemungkinan akan semakin tumbuh subur.
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/07/06/nikah-beda-agama-naik-kelas-sekularisme-semakin-jelas/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Pemuda Kerdil atau Pemuda Besar?
Oleh. Putri Dwi Kasih Anggraini
Voice over talent: Giriyani SS
NarasiPost.Com-Seorang ahli tafsir mengatakan, “kalau ada orang yang mati sibuk memikirkan diri sendiri, maka matinya mati kerdil. Mati besar adalah orang yang meninggal dalam keadaan memikirkan umat. Itulah anak muda. Dipikirkan sampai menjadi kegelisahan, karena kegelisahan itu yang akan mendorong dia bergerak, apa yang harus dilakukan. Salahuddin Al-Ayyubi memikirkan bagaimana membebaskan Palestina, Muhammad Al-Fatih berpikir bagaimana bisa menembus benteng tebal Konstantinopel. Jangan memikirkan yang sepele dan remeh. Urusan karena dibuat sedih sama teman yang update status, itu bukan orang besar. Urusan cari pekerjaan saja kok galau, urusan cari pasangan saja kok galau. Pemuda sudah harus segera selesai di urusan pribadi agar segera bisa mengurus umat ini.” Itulah sepenggal ceramah yang disampaikan oleh Ustaz Budi Ashari, Lc. dalam sebuah video YouTube.
Apa yang disampaikan beliau dalam video tersebut menjadi cambukan pada generasi muda era kini yang semakin menuju pada kerusakan. Suguhan berita yang kita temui setiap hari tidak lepas dari usia muda. Bukan prestasi positif di setiap kilas berita, namun kemaksiatan yang menambah deretan masalah negeri.
Dalam sebuah situs berita kompas.com (14/06/2022) dijumpai beberapa berita kriminal yang dilakukan oleh para pemuda seperti berita “Berkelahi karena Rebutan Pacar, Seorang Pemuda Ditusuk di Mal Palembang”. Lalu berita “Tak Diberi Uang untuk Beli Narkoba, Pemuda di Palembang Bakar Rumah Orang tua”, dan berita “Cabuli Remaja 13 Tahun, Pemuda di Tanah Bumbu Kalsel Ditangkap Polisi”. Di situs yang sama (13/06/2022) berita “Pulang Mancing, Warga Rangkapan Jaya Depok Dibegal 10 Pemuda Bersenjata Tajam.”
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/06/22/pemuda-kerdil-atau-pemuda-besar/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Terbangun dari Satu Ayat Al Qur’an
Oleh. Wininatin Khamimah
Voice over tallent: Maya Rohmah
NarasiPost.Com-Sejak berhenti bekerja karena mengikuti tugas suami ke Surabaya, praktis saya jadi ibu rumah tangga yang hampir 24 jam di rumah. Pekan pertama menikmati betul jadi orang ‘rumahan’. Segala urusan rumah tangga dikerjakan sendiri, mulai menguras bak mandi hingga bayar listrik. Satu bulan berlalu sudah. Bulan berikutnya kejenuhan, rasa minder, nelangsa dan menyesal karena ilmu tidak dipraktikkan mulai melanda. Rasa minder mungkin juga rasa iri saat ada teman kuliah dulu muncul di TV atau koran, juga saat melihat orang-orang yang sukses di bidangnya yang seusia saya, bahkan ada yang jauh lebih muda dari saya. Melihat itu semua, benar-benar I’m no one, I’m nothing.
Belum lagi dari segi finansial, biasanya punya gaji sendiri, tetapi sekarang sepenuhnya tergantung pada suami. Karena tidak punya penghasilan sendiri, mau menyisihkan uang belanja untuk membeli buku merasa sungkan. Dari situ saya melamar menjadi dosen di beberapa universitas, tetapi tak satu pun yang merespon. Maklum meski ada pengalaman mengajar di sebuah STIE di Jakarta, ijazah cuma S1. Pada saat itu mulai berlaku untuk menjadi dosen minimal harus lulusan S2. Untuk bisnis pun, bingung harus bisnis apa, pangsa pasarnya siapa, modalnya dari mana dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sulit dijawab.
Di tengah kegalauan ini, untunglah ada stasiun TV lokal yang akan mengudara. Sejak bertahun-tahun punya rancangan acara kuis di TV. Alhamdulilah, proposal acara kuis disetujui, beberapa bulan kemudian ditayangkan. Karena satu dan lain hal, kerja sama ini berakhir lebih awal. Duh! Profesi pengacara (pengangguran banyak acara) kembali dijalani. Perasaan minder, bingung harus berbuat apa dan tak berdaya terus berlangsung hingga kelahiran anak ketiga. Hingga saat membacakan majalah anak-anak untuk si sulung, saya menemukan halaman yang memuat surat An-Najm (78) ayat 39. Dalam ayat ini Allah Swt. berfirman:
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/06/22/terbangun-dari-satu-ayat-al-quan/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
RUU KIA Dirancang, Haruskah Kaum Ibu Turut Senang?
Oleh. Iranti Mantasari, BA.IR, M.Si
Voice over talent: Dewi Nasjag
NarasiPost.Com-Masa-masa setelah melahirkan bagi seorang ibu adalah periode yang krusial. Pemulihan kondisi tubuh, transisi peran yang bertambah untuk menyusui anaknya, hingga proses menata kehidupan yang baru dengan tugas sebagai seorang ibu akan langsung dijalani saat itu juga. Bagi para ibu yang memilih menjadikan rumah sebagai tempat aktivitas dominannya, perkara ini tampaknya alamiah untuk berlangsung. Namun yang sering menjadi masalah adalah ketika para working mom atau ibu bekerja harus kembali ke kantor tempatnya bekerja setelah melewati masa cuti melahirkannya.
Masalah ini sangat bisa memengaruhi kondisi sang ibu, terlebih kondisi psikisnya yang secara fitrah tentu ingin dan butuh dekat dengan anak yang baru dilahirkannya ke dunia. Tiga bulan waktu cuti yang diakomodasi oleh UU Ketenagakerjaan selama ini rasanya sangat tidak cukup untuk sang ibu menjalani peran mulianya. Fakta tentang ibu bekerja ini bukanlah hal yang baru, karena tatanan kehidupan hari ini dapat dikatakan memang mendorong perempuan untuk turut bekerja di luar rumah.
Berangkat dari keresahan tersebut, DPR melalui Baleg (Badan Legislatif) mencanangkan perumusan Rancangan UU Kesejahteraan Ibu dan Anak (RUU KIA). Tak hanya ibu, ayah juga dalam RUU ini diupayakan akan bisa mendapatkan paternity leave atau cuti ayah untuk membersamai sang istri yang baru saja melahirkan atau keguguran (DPR RI, 20/6/22). RUU banyak yang mengatakan bak oasis di tengah padang pasir, sebuah solusi yang amat dirindukan. Hanya saja, benarkah kaum muslimin secara langsung memang harus menerima RUU ini tanpa penolakan sedikit pun? Serta bagaimanakah perspektif Islam terkait masalah ini?
Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/06/29/ruu-kia-dirancang-haruskah-kaum-ibu-turut-senang/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed