Narasipostmedia

Narasipostmedia

By NarasipostNewsDaily News
Download on the App Store

Narasipostmedia episodes

  • Himmah ‘Aaliyah Penuh Berkah

    Himmah ‘Aaliyah Penuh Berkah

    Oleh. Tsuwaibah Al-Aslamiyah

    (Tim Redaksi NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Ayin

    NarasiPost.Com-Terbitnya fajar kemenangan Islam tidak boleh menjadi angan-angan belaka. Bukan pula dengan berpasrah tiada daya. Sebab, momen itu telah dijanjikan Allah Swt. dalam QS. An-Nur ayat 55: “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa…”

    Oleh, karenanya kemenangan itu harus disongsong dengan perjuangan yang dimotori keimanan, pemikiran, dan tsaqafah mustanirah. Pun ditopang himmah ‘aaliyah. Sebagaimana penuturan Ali bin Abi Thalib r.a. :

    علو الهمة من الايمان

    “Tingginya tekad adalah bagian dari keimanan”.

    Lantas, sudahkah kaum muslim memahami makna himmah ini? Apakah manusia paling mulia, Baginda Nabi Muhammad saw. juga mengamalkannya?


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/06/02/himmah-aaliyah-penuh-berkah/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    12 min
  • Melambungnya Harga Tiket Masuk Candi Borobudur, Kapitalisasi Sektor Pariwisata

    Melambungnya Harga Tiket Masuk Candi Borobudur, Kapitalisasi Sektor Pariwisata

    Oleh. Rochma Ummu Arifah

    ( Kontributor NarasiPost.Com )

    Voice over talent: Dewi Fitriana

    NarasiPost.Com-Tak dapat dimungkiri, pemerintah dan sejumlah jajarannya acapkali melontarkan statement atau pun kebijakan yang mengejutkan bahkan mencenggangkan publik. Salah satunya adalah rencana kebijakan yang dilontarkan oleh Menteri Luhut Binsar Panjaitan terkait naiknya harga tiket masuk ke Candi Borobudur.

    Alasan Kenaikan Harga Tiket

    Rencana Pemerintah untuk menaikkan harga tiket naik Candi Borobudur menjadi Rp750 ribu untuk turis lokal dan USD 100 untuk turis mancanegara mengejutkan masyarakat. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, mengatakan seiring dengan rencana ini pihaknya sepakat membatasi kuota turis yang ingin naik ke Candi Borobudur hanya 1.200 orang per hari dengan biaya USD 100 untuk turis mancanegara dan Rp750 ribu untuk turis lokal. Alasan utama yang mendasari hal ini disebutkan oleh Luhut adalah semata-mata demi menjaga kekayaan sejarah dan budaya Nusantara. Candi Borobudur merupakan destinasi wisata berkualitas dengan konsep yang akan dikembangkan sebagai cagar budaya bertaraf internasional.

    Selain itu, Luhut juga menyatakan bahwa nantinya semua turis yang berkunjung ke Candi Borobudur diharuskan menggunakan jasa pemandu wisata dari warga lokal. Sekali lagi hal ini ditujukan untuk menciptakan lapangan kerja baru bagi warga di sekitar kawasan Borobudur. (News.detik.com/05/07/2022)


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/06/09/melambungnya-harga-tiket-masuk-candi-borobudur-kapitalisasi-sektor-pariwisata/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Titik

    Titik

    Oleh. Afiyah Rasyad

    (Tim Kontributor Tetap NarasiPost.com)

    Voice over talent: Maya Rohmah

    NarasiPost.Com-Warna-warni layangan menghiasi langit sore yang agak mendung. Bisikan angin menambah kesejukan bagi anak-anak yang asyik mengejar layangan putus karena sambetan. Kaki telanjang mereka begitu lincah berloncatan saat ada gundukan tanah di pematang yang dilewati. Badan mereka pun rela terjun ke sungai yang tak dilalui jembatan demi sebuah layang-layang. Netra Amoora takjub menyaksikan suguhan pemandangan yang tak pernah ditemuinya di kota.

    Ada sejumput rasa bahagia yang melingkupi dada Amoora. Suasana sore ini sungguh membelai jiwanya mesra. Berbagai beban selama ini seakan dibawa terbang angin entah ke mana. Amoora sungguh bahagia dengan suasana ini. Di hadapannya, ada Zaenab dan Bu Hanum yang asyik mencabut tanaman kacang tanah. Barisan kacang itu sudah tinggal sedikit. Pak Rosyid sudah mulai mengangkutnya pulang.

    Horizon mulai berwarna jingga. Zaenab dan Bu Hanum mengajak Amoora pulang. Netra Amoora mengekor dua wanita di hadapannya. Pertanyaan beradu di dalam benaknya. Bagaimana bisa kedua wanita baik itu bekerja di sawah yang agak becek karena bekas hujan dengan pakaian kedodoran? Anehnya, Bu Hanum dan Zaenab enjoy saja. Pendengaran Amoora tak menangkap satu pun kata sesal dengan kondisi mereka.

    Rumah semi permanen menyambut kedatangan mereka. Mereka masuk ke pintu samping yang langsung disambut kamar mandi dan ruang ganti tuan rumah kala datang dari sawah. Di sana juga sudah ada kacang yang menggunung. Amoora baru memahami kenapa kalau dari sawah tidak lewat dalam rumah. Zaenab pernah menyampaikan padanya bahwa di dalam rumah itu suci dan juga ada ruangan yang dipakai untuk salat. Maka, mereka lewat samping agar tidak membawa najis, bukan hanya karena kotor. Pengetahuan agama yang baru dicicipinya di kampung ini. Bukan sebatas mengaji alif ba ta saja.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/06/19/titik/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Perbudakan Atas Nama Pendidikan

    Perbudakan Atas Nama Pendidikan

    Oleh. Diyani Aqorib

    (Aktivis Muslimah Bekasi)

    Voice over talent: Giriyani SS

    NarasiPost.Com-Masyarakat Bekasi dibuat geram sehubungan pemberitaan mengenai siswa-siswa Praktik Kerja Lapang (PKL) yang diupah murah oleh sebuah hotel di Bekasi. Bagaimana tidak? Mereka hanya diberi upah 10 ribu rupiah per hari dengan jam kerja sekitar 10-13 jam. Upah yang sangat kecil untuk jam kerja yang sangat panjang. Sungguh tidak manusiawi!

    Seperti dilansir dari suarabekasi.id (19/5/2022) terdapat kasus dugaan siswa PKL yang diupah sangat murah dengan jam kerja yang sangat panjang. Hal ini sontak menjadi sorotan publik, terutama ketika diunggah di salah satu akun media sosial. Banyak netizen yang menuntut agar kasus ini segera diusut tuntas.

    Menanggapi hal tersebut, Plt Kadisparbud Kota Bekasi, Dedet Kusmayadi, menuturkan bahwa pihaknya sudah mendengarkan keluhan dari para orang tua siswa yang melaksanakan PKL dan berjanji akan memanggil pihak hotel. Ia juga akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Ketenagakerjaan Kota Bekasi terkait aturan upah bagi siswa yang melaksanakan PKL sebagai bagian dari tugas sekolah. (suarabekasi.id, 19/5/2022)


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/06/02/perbudakan-atas-nama-pendidikan/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    7 min
  • Mimpi Naik Haji

    Mimpi Naik Haji

    Oleh. Rosmita

    ( Kontributor NarasiPost.Com )

    Voice over talent: Dewi Fitriana & Anita Yulianti

    NarasiPost.Com-Labbaik allahumma labbaik

    Labbaika laa syariika laka labbaik
    Innal hamda wanni’mata laka wal mulk laa syariika laka…

    “Mun, bangun, Mun. Mimpi ape sih sampe ngigo segale?” teriak Enyak membangunkan anak semata wayangnya.

    “Aye mimpi naek haji, Nyak,” jawab Munah.

    “Masyaallah, cakep banget mimpinye, tapi kaga bae abis subuh tidur lagi,” nasihat Enyak.

    “Iye, Nyak. Tadi abis tadarus, aye ketiduran,” ujar Munah.

    “Yaudeh mandi dulu sono terus bantuin Enyak jualan.” Munah pun langsung bangun dan mandi.

    Maemunah atau yang biasa dipanggil Munah adalah seorang gadis berusia 20 tahun. Sehari-hari pekerjaannya membantu Enyak jualan nasi uduk, sedangkan sore hari dia mengajar mengaji di masjid dekat rumahnya. Munah cuma hidup berdua dengan Enyak karena Babenya sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Impian Munah adalah naik haji bersama Enyak. Meskipun kedengaran mustahil, tetapi Munah yakin bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika Allah menghendaki.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/06/07/mimpi-naik-haji/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    13 min
  • Ketika Keturunan PKI Diberi Ruang

    Ketika Keturunan PKI Diberi Ruang

    Oleh. Erdiya Indrarini

    (Pemerhati Publik)

    Voice over talent: Dewi Nasjag

    NarasiPost.Com-Bahaya laten, itulah PKI (Partai Komunis Indonesia). Betapa bahayanya, sehingga harus ditumpas hingga ke akar-akarnya. Namun, kini pejabat cenderung longgar terhadap keberadaan komunisme di Indonesia, mengapa?

    Panglima TNI, Jendral Andika Perkasa menyatakan, bahwa keturunan Partai Komunis Indonesia (PKI) boleh mendaftar menjadi prajurit TNI. Pernyataan ini dilihat melalui akun Youtube pribadinya yang diunggah 30 Maret lalu. Ia menyebut, tidak ada dasar hukum yang melarang keturunan PKI untuk mendaftar. Ia pun menyatakan bahwa Tap MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 tidak bisa dijadikan dasar hukum larangan tersebut, karena yang dilarang adalah paham komunisme, bukan keturunannya.

    Berkenaan dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD mengatakan, bahwa TNI bukan institusi pemerintahan pertama yang menghapus syarat keturunan anggota PKI tak boleh mendaftar sebagai prajurit. Seperti syarat menjadi calon legislatif, kepala daerah, bahkan untuk menjadi PNS pun, sudah lama tidak memakai syarat tersebut.

    Pernyataan Mahfud ini mengacu pada keputusan MK (Mahkamah Konstitusi) pada 2004 silam yang membatalkan ketentuan Pasal 60 huruf g UU Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilu. Isinya, syarat calon anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota yang bukan bekas anggota organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia, termasuk organisasi massa, atau bukan orang yang terlibat langsung ataupun tak langsung dalam G30S PKI atau organisasi terlarang lainnya (Cnnindonesia.com, 4/4/2022).


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/04/17/ketika-keturunan-pki-diberi-ruang/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    12 min
  • Urgensi Dakwah dalam Menghadapi Fitnah Akhir Zaman

    Urgensi Dakwah dalam Menghadapi Fitnah Akhir Zaman

    Oleh. Ana Nazahah

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Giriyani SS

    NarasiPost.Com-Hari ini kita merasakan begitu sulit menjaga iman, dan tetap istikamah di jalan yang benar. Pasalnya, kemaksiatan dibungkus begitu indah, sehingga tampak dari luar bak surga menggiurkan. Sedang ketaatan malah dianggap lambang ketertinggalan. Sehingga sumbernya (agama) harus dijauhi dan dihilangkan dari kehidupan.

    Sedih memang! Tapi inilah fakta yang tak bisa dielakkan. Gambaran umat yang kehilangan pijakan ternetra jelas di depan mata, akidah tak lagi menjadi pijakannya. Fenomena ini membuat kita bertanya-tanya, apakah ini tanda-tanda akhir zaman? Lantas bagaimana cara kita menghadapinya?

    Tanda-Tanda Fitnah Akhir Zaman

    Seperti halnya hujan yang ditandai mendung, kukuruyuk ayam pertanda pagi datang, fitnah akhir zaman pun ada tanda-tandanya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Ibnu Majah, Ahmad, dan Al-Hakim, “Fitnah-fitnah datang laksana sepotong malam. Di mana pada pagi hari seseorang dalam keadaan beriman, tetapi pada sore hari ia menjadi kafir. Sebaliknya, pada sore hari seseorang dalam keadaan beriman, namun di pagi hari ia kembali menjadi kafir.”


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/05/31/urgensi-dakwah-dalam-menghadapi-fitnah-akhir-zaman/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Panasnya Menggenggam Bara Idealisme

    Panasnya Menggenggam Bara Idealisme

    Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S

    (RedPel Narasipost.com)

    Voice over talent: Maya Rohmah

    NarasiPost.Com-“Gara-gara Nisa, Islam tuh jadi tercoreng tau!” Kata seorang perempuan muslimah berhijab kakak tingkatku di kampus.

    Deg. Pernyataan yang tegas dan sungguh menyakitkan. Bisa-bisanya dia tega mengatakan itu persis di depan wajahku.

    “Padahal Islam tuh agama yang damai, toleran, penuh kasih sayang…” lanjutnya lagi dengan tatapan mata tajam. Aku masih diam, menata hati sekaligus kata-kata untuk kusampaikan padanya.

    “Nisa itu ekslusif! Terlalu saklek, radikal, ekstremis!” tudingnya.

    Sungguh semakin menusuk relung kalbu perkataannya. Tetapi aku mencoba tetap tenang, tak ingin terpancing emosi. Aku selalu ingat bahwa ketika emosi meningkat, maka kecerdasan menurun. Jadi, aku selalu meredam emosi seburuk apa pun kondisi yang kuhadapi. Dan bukankah Allah juga memuji orang-orang yang mampu menahan marahnya?


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/06/04/panasnya-menggenggam-bara-idealisme/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • Milenial Negara Maju Memilih Menjomlo, Ini Alasannya!

    Milenial Negara Maju Memilih Menjomlo, Ini Alasannya!

    Oleh. Nay Beiskara

    (Tim Redaksi NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Dewi Fitriana

    NarasiPost.Com-Benarkah para milenial zaman now banyak yang gak mau nikah, punya anak, dan lebih bahagia hidup bersama pasangan boneka atau hewan peliharaannya? Aduh duh duh… Sebenarnya, apa yang terjadi ya, Sob?”

    Lonely

    I’m Mr. Lonely
    I have nobody
    For my own

    Hai, Sob! Masih ingat dong lirik lagu “Lonely” yang dinyanyikan oleh Ikon. Yup, bagi kamu pecinta musik Barat pasti sudah hafal banget. Loh, kok ngobrolin musik Barat sih? Tunggu dulu, Sob! For your information aja nih, kalo lirik lagu ini mengisahkan seorang laki-laki yang sedih karena ditinggal kekasihnya. Akhirnya, dia merasa kesepian dan merindu sendirian.

    Tapi nih, Sob… Kayaknya, perasaan sedih karena ditinggal kekasih gak berlaku lagi di zaman resesi seks seperti sekarang ini. Mau tahu alasannya? Karena generasi Z alias generasi milenial saat ini banyak yang lebih suka menjomlo alias hidup tanpa kekasih atau pasangan hidup, terutama mereka yang hidup di negara maju seperti AS, Korea Selatan, Eropa, Jepang, China dan beberapa negara maju lainnya. Mereka sudah merasa bahagia dengan hidup sendiri aja, Sob!


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/06/12/milenial-negara-maju-memilih-menjomlo-ini-alasannya/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    13 min
  • Nujuman Merusak Iman

    Nujuman Merusak Iman

    Oleh. Mariyah Zawawi

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Dewi Nasjag

    NarasiPost.Com-Rara kembali menarik perhatian. Ini bukan Rara adik Nussa yang manis, lucu, dan menggemaskan. Namun, Rara si pawang hujan. Kali ini ia menggegerkan publik dengan ramalannya tentang Emmiril Khan Mumtadz, putra Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Gara-gara ramalan itu, namanya sempat trending di Twitter.

    Peramal atau ahli nujum biasanya menggunakan media untuk meramal. Ada yang menggunakan kartu tarot, melihat telapak tangan, atau rasi bintang. Pertanyaannya, bagaimana peramal mendapatkan informasi tentang nasib seseorang?

    Allah Swt. Pemegang Kunci-kunci yang Gaib

    Manusia adalah makhluk yang sangat lemah. Pengetahuan yang dimilikinya sangat terbatas. Ia hanya mampu memahami apa yang telah terjadi serta merencanakan apa yang hendak dan ingin dilakukannya. Namun, ia tidak mengetahui apa yang sesungguhnya akan terjadi pada dirinya.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/06/03/nujuman-merusak-iman/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    10 min

About Narasipostmedia

From the publisher's feed

Audio tentang sastra, opini, surat pembaca motivasi, food dan sebagainya dari karya-karya para penulis ideologis yang naskahnya publish di media www.narasipost.com