
Sign up to save your podcasts
Or


Nats Alkitab : Matius 5:16
Penulis : Pdt. Pierre Tilaar
Beberapa bulan lalu, istri saya diajak oleh salah satu simpatisan gereja untuk mengunjungi rumah rekan bisnis mereka. Ternyata rekan bisnisnya adalah orang yang belum percaya kepada Kristus. Melalui pertemuan yang baik tersebut, istri saya mengisahkan bahwa pertemuan tersebut sangat indah, karena Injil dapat disampaikan dengan lancar. Kalau bukan karena rekanan bisnis, maka pertemuan tersebut tidak terjadi. Tanpa pertemuan yang tepat tersebut maka orang lain tak bisa melihat kesaksian baik dalam hidup kita. Tanpa kesaksian yang baik, maka Injil pun tak mungkin tersampaikan.
Matius 5:16 mengingatkan kita, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." Ayat ini mengajarkan bahwa sebagai pengikut Kristus, hidup kita harus memancarkan terang yang dapat dilihat oleh orang lain. Setelah itu, kita bisa menjalin relasi yang baik dengan mereka. Setelah relasi yang baik terjalin, maka dari sini, berita Injil akan lebih mudah disampaikan kepada mereka. Hanya dengan cara ini orang lain dapat mengenal Tuhan. Salah satu cara terbaik untuk menjadi saksi Kristus adalah melalui pekerjaan kita. Pekerjaan adalah ladang pelayanan yang sering kali tidak kita jadikan sarana untuk bersaksi. Ketika kita bekerja dengan integritas, ketekunan, dan kasih, kita menunjukkan karakter Kristus kepada orang-orang di sekitar kita. Mungkin kita tidak selalu memiliki kesempatan untuk berbicara tentang iman secara langsung, tetapi melalui karakter yang baik, orang lain dapat melihat perbedaan yang ada dalam hidup kita. Perbuatan baik dapat kita lakukan dengan membantu rekan kerja, jujur dalam transaksi, atau sabar menghadapi tekanan adalah bentuk terang yang menerangi kegelapan dunia. Melalui pekerjaan, kita bisa memberikan kesaksian yang hidup tentang siapa Tuhan itu.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menjadikan pekerjaan kita sebagai bentuk pelayanan kepada Tuhan dan sesama. Di saat kita menghadapi tantangan di tempat kerja, kita harus ingat bahwa setiap keputusan dan tindakan kita bisa menjadi kesempatan untuk memuliakan Tuhan. Bisa bekerja dengan hati yang tulus, menunjukkan kasih kepada rekan-rekan kerja, merupakan tindakan menjadi terang yang memancar di tengah kegelapan. Mari kita renugkan, apakah pekerjaan kita sudah mencerminkan nilai-nilai Kristus melalui cara kita bekerja? Mari kita jadikan pekerjaan sebagai alat yang efektif untuk menyaksikan kasih Kristus.
“Dunia pekerjaan adalah ladang yang sangat baik untuk menaburkan benih kasih dan karya keselamatan dari Allah”
Pertanyaan untuk Direnungkan:
1. Pernahkah saudara bersaksi tentang Kristus di kampus atau tempat kerja? jika belum, apa penyebabnya?
2. Bagaimana cara menyaksikan Kristus di lingkungan pekerjaan Anda?
創世記 2:15
我曾經聽到一位先生憤怒地說: “由於罪的詛咒, 地球上所有的男人都必須勞苦工作. 如果夏娃沒有吃分別善惡樹上的果子並將其交給亞當,那麼人類就不會陷入罪中.因為罪,上帝用勞苦工作來懲罰男人。” 豈不是抱有這種觀點的男人也不少? 因為罪, 工作就變成了負擔。工作是一件很累人的活動。因此之故,馬馬虎虎工作的人也不少。工作只是為延續生存的一種強迫性的作為。是否辛苦地工作乃是從一開始就掌控著人類的詛咒嗎? 聖經對工作有怎樣的說法?
創世記2:15記載: “耶和華神將那人安置在伊甸園,使他修理看守。” 這段經文指示自從創世以來,工作一直是人類生命中的重要部分。上帝創造人類不僅僅是為了享受世界的美麗, 也是為了使他們修理和看守祂的創造物。這確實證明了工作是上帝對人類崇高榮耀計劃的一部分。從這個角度來看,工作不是詛咒、懲罰或束縛的負擔,而是直接蒙受上帝賜福的呼召。修理和看守園地不僅關乎管理自然資源,還關乎生活技能, 責任感以及與上帝和其創造物的關係。這教導我們,工作是上帝與人類之間的一種合作形式。在每一份工作中,我們都被要求負責任地工作,照顧和維護這個世界是上帝託付給我們的受造物。我們的工作是我們參與正在持續進行中的創造工作之方式。
我們是否感覺工作和日常任務乃是背負或被壓著的重擔? 當我們把工作視為一種負擔時,我們只會對那些能快速輕鬆賺大錢的工作感到喜愛。難怪有這麼多人陷入網路賭博、欺詐性虛假投資、貪污和各種不擇手段的工作。這不是上帝最初計劃中的工作, 而是一種罪惡。那應該怎麼辦? 當我們工作的時候,要像管理和照顧上帝的創造物一樣, 滿懷感恩和有責任感。從這角度來看,每一天都成為活出上帝完美計劃的機會。
“因為工作是上帝自創世以來賦予的責任,
所以工作就是事奉上帝的一種行動。”
作 者:椰嘉達基督徒會堂喜盛喜地堂會-萬碧恩牧師
翻譯員:張賽瓊
默想的問題:
1. 我們是否明白我們現在的工作所蘊含之神的計劃? 我們是否明白了神的工作計劃?
2. 我們如何透過工作活出上帝的計劃來?
Nats Alkitab : Kejadian 2:15
Penulis : Pdt. Pierre Tilaar
Saya pernah mendengar seorang bapak yang marah-marah dan berkata demikian, “Semua pria di bumi ini harus bekerja keras karena kutuk dosa. Seandainya Hawa tidak makan buah pengetahuan dan memberikannya kepada Adam, maka manusia tidak jatuh dalam dosa. Karena dosa, Allah menghukum laki-laki dengan bekerja keras.” Mungkin tak sedikit kaum pria yang berpandangan demikian bukan? Pekerjaan adalah sebuah beban akibat dosa. Pekerjaan adalah aktivitas yang melelahkan. Maka dari itu, tak sedikit pula orang yang asal-asalan dalam bekerja. Bekerja hanyalah sebuah keterpaksaan untuk menyambung hidup. Benarkah bekerja keras adalah sebuah kutukan yang menjajah manusia sejak semula? Apa yang Alkitab katakan tentang bekerja?
Kejadian 2:15 mencatat, "TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya di taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu." Ayat ini menunjukkan bahwa sejak awal penciptaan, pekerjaan sudah menjadi bagian penting dalam hidup manusia. Allah tidak menciptakan manusia hanya untuk menikmati keindahan dunia, tetapi juga untuk mengusahakan dan memelihara ciptaan-Nya. Ini menegaskan bahwa pekerjaan adalah bagian dari rencana Allah yang mulia untuk umat manusia. Dalam perspektif ini, bekerja bukanlah sebuah kutuk, hukuman atau beban yang mengikat, namun sebuah panggilan yang langsung diberkati Allah. Mengusahakan dan memelihara taman bukan sekadar soal mengelola sumber daya alam saja, tetapi juga tentang kecakapan mengelola hidup, tanggung jawab, dan hubungan dengan Tuhan serta ciptaan-Nya. Hal ini mengajarkan kita bahwa pekerjaan adalah wujud partnership antara Tuhan dan manusia. Dalam setiap pekerjaan, kita diundang untuk bekerja dengan penuh tanggung jawab, merawat dan memelihara dunia ini sebagai ciptaan yang Tuhan percayakan kepada kita. Pekerjaan kita adalah cara kita berpartisipasi dalam karya penciptaan yang berkesinambungan.
Apakah kita sedang merasa terbebani atau tertindih beban pekerjaan dan tugas sehari-hari? Tatkala kita menganggap pekerjaan sebagai sebuah beban, maka kita hanya merasa senang dengan pekerjaan yang menghasilkan banyak uang dengan cepat dan mudah. Tak heran, berapa banyak orang yang terperangkap dalam praktik judi online, investasi bodong, korupsi dan berbagai pekerjaan menghalalkan segala cara. Ini bukan pekerjaan seperti yang dirancang Allah sejak semula, tapi sebuah kejahatan. Jadi bagaimana seharusnya? Ketika kita bekerja, kita harus melakukannya seperti sedang mengelola dan memelihara ciptaan Tuhan, penuh rasa syukur dan bertanggung jawab. Dengan perspektif ini, setiap hari menjadi kesempatan untuk menghidupi rencana Allah yang sempurna itu.
“Karena bekerja adalah sebuah penugasan Allah sejak penciptaan, maka bekerja adalah sebuah tindakan melayani Allah”
Pertanyaan untuk Direnungkan:
1. Sudahkah kita memahami rencana Allah yang terkandung dalam pekerjaan yang sedang kita geluti saat ini? Sudahkah kita telah memahami rencana Allah dalam pekerjaan?
2. Bagaimana cara kita menghidupi rencana Allah melalui pekerjaan kita?
以弗所書 2:10
我們每天工作多少個小時? 我們豈不是已經花了那麼多時間在工作上嗎? 無論我們是職工、企業家、家庭主婦或神的僕人,工作已經成為我們生命中花費最多時間的一部分。若是我們要正確的數一數,但願那不是我們人生的一半。我們用一生中的大部分時間來工作,我們是否曾經停下來問自己: 我工作是為了什麼?我所有的努力和辛苦的主要目的是什麼?
今天的聖經經文說道: “我們原是祂的工作,是在基督耶穌裡造成的,為要叫我們行善,就是神所預備叫我們行的。”這節經文提醒我們,每個信徒都是基督裡新造的人. 作為新造的人,我們有一個更大的目標,而不僅僅是完成日常事務。上帝以崇高的目的創造了我們,並且我們能在這個世界上行善。什麼是行善呢?就是實行榮耀祂名的工作. 以弗所書2:10所說的行善不僅僅是按照世俗標準完成的工作,而是基於對基督的信仰和愛而工作。我們所做的每項工作, 是經商或者服務都應該成為向同事展示上帝的愛和良善的管道。這些善行不僅是為了個人的成就或世俗的成功,而是為了如何讓別人看到我們身上的基督品格。當我們明白我們是為此目的而受造時,我們可以更强大的責任感來過活,並將我們所行的一切來榮耀神。,
是否直到今天,我們工作只是為了賺錢、得成就和盡可能積累更多的財富? 懷著這樣的目的去努力並沒有錯,但這除了短暫性之外並沒有更崇高的價值。我們的工作成果與成就只是為了金錢、財富而作的,並沒有達到上帝呼召信徒的標準。願我們一生中供獻給工作的一半時間能夠因按照上帝的目標而變得完美。為何如此呢? 因為上帝賜給我們工作不只是為了滿足生活需要,也是呼召我們去榮耀祂並成為他人的祝福。祝你在工作和事業上建立崇高的目標!
“為了獲得更高的生活品質而供獻一生
去工作並沒有錯。但是讓我們透過
活出上帝的目標來完善這一切吧!”
作 者:椰嘉達基督徒會堂喜盛喜地堂會 - 萬碧恩牧師
翻譯員:張賽瓊
默想的問題 :
1. 我們是否錯過了為家人、朋友和同事
帶來祝福的最佳機會? 這是為什麼?
2. 我們如何改變工作的方向和目標?
Nats Alkitab : Efesus 2:10
Penulis : Pdt. Pierre Tilaar
Berapa jam kita bekerja setiap hari? Bukankah kita telah menghabiskan begitu banyak waktu untuk bekerja. Baik kita sebagai karyawan, pengusaha, ibu rumah tangga, atau pelayan Tuhan, pekerjaan telah menjadi salah satu bagian waktu terbesar yang kita habiskan dalam kehidupan ini. Kalau mau kita hitung dengan benar, jangan setengah waktu kehidupan kita, didedikasikan untuk pekerjaan. Dengan memberi sebagian besar waktu hidup kita untuk bekerja, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: Untuk apa saya bekerja? Apa tujuan utama dari semua usaha dan jerih lelah saya?
Nas Alkitab hari ini menyatakan, "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Ayat ini sepatutnya menyadarkan kita, bahwa setiap orang percaya adalah ciptaan baru dalam Kristus. Sebagai ciptaan baru, kita memiliki tujuan yang lebih besar dari sekadar menjalani rutinitas sehari-hari. Allah menciptakan kita dengan tujuan mulia, dan pekerjaan baik yang dapat kita kerjakan di dunia ini. Apakah pekerjaan baik itu? Yaitu melakukan pekerjaan yang memuliakan nama-Nya. Pekerjaan baik yang dimaksud dalam Efesus 2:10 bukanlah sekadar pekerjaan yang berprestasi menurut ukuran dunia, tetapi pekerjaan yang berdasar pada iman dan kasih Kristus. Setiap pekerjaan, usaha atau pelayanan yang kita kerjakan, sepatutnya dapat menjadi saluran untuk menunjukkan kasih dan kebaikan Tuhan kepada rekan kerja kita. Pekerjaan baik ini tidak hanya melulu untuk pencapaian pribadi atau kesuksesan duniawi, tetapi bagaimana orang lain melihat karakter Kristus dalam kita. Tatkala kita memahami bahwa kita diciptakan untuk tujuan ini, kita dapat menjalani hidup dengan rasa tanggung jawab yang lebih besar, mengarahkan segala sesuatu yang kita lakukan untuk memuliakan Tuhan.
Apakah sampai hari ini, kita bekerja hanya sebatas untuk mencari uang, prestasi dan mengeruk kekayaan sebanyak mungkin? Bekerja dengan tujuan seperti ini tidak salah, tapi ini tidak memiliki nilai yang lebih mulia, selain sekadar kefanaan saja. Hasil pekerjaan dan prestasi yang hanya untuk uang dan kekayaan saja, belum mencapai standar panggilan Allah bagi orang percaya. Kiranya separuh waktu hidup yang telah kita dedikasikan untuk bekerja, kita sempurnakan dengan tujuan Tuhan di dalamnya. Mengapa demikian? Karena Tuhan tidak hanya memberi kita pekerjaan sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup semata, tetapi juga sebagai panggilan untuk memuliakan Dia dan menjadi berkat bagi sesama. Selamat membangun tujuan mulia dalam pekerjaan dan usaha Anda.
“Mendedikasikan waktu hidup dalam pekerjaan demi memperoleh kualitas hidup yang lebih tinggi itu tidak salah. Tapi marilah kita sempurnakan itu semua dengan menghidupi tujuan Allah di dalamnya”
Pertanyaan untuk Direnungkan
1. Pernahkah Kita kehilangan kesempatan terbaik untuk menjadi berkat bagi keluarga, teman dan rekan kerja kita? Mengapa demikian?
2. Bagaimana cara kita mengubah arah dan tujuan kita dalam pekerjaan?
腓立比書 2:3-4
日常生活中,我們經常會看到一些非常渴望得到讚揚和認可的人。他們希望無論身在何處都能受到尊重、被看得起,甚至特別的看待。願意盡一切的方法為獲得被別人尊重的人並不罕見。他們炫耀自己在學校或工作上的成功,引人注意甚至幫助別人來獲得受他幫助的人的讚揚。當在教會生活範圍中,我們遇見這樣的會眾成員或聖工人員時我們可能會感到吃驚。
透過今天的經文,保羅提醒我們要遠離因個人驕傲或野心的驅使而追求尊重或個人榮譽。相反地,作為基督的跟隨者,我們要改變自己對尊重的看法,即把別人的事放在首位並謙卑自己。保羅說: “不可貪圖虛浮的榮耀。只要存心謙卑、各人看別人比自己強。各人不要單顧自己的事、也要顧別人的事。"在這節經文中,保羅強調基督徒的生活應該以謙卑和關心他人為標誌。渴望榮譽或尊敬是正常的,但如果我們的動機是出於驕傲或競爭,想要被認為比別人更強,那麼我們就會遠離基督的本性。相反的,保羅教導我們要看別人比自己強,把他人的事置於自己的事以先。如此一來,我們就彰顯了基督願意為了他人的利益而犧牲自己的愛。
我們是否常常對批評我們的人感到失望? 更何況每當我們做完一件好事,在講臺上事奉,探訪會眾,向教會奉獻了一大筆款項, 不但沒有獲得讚揚和感激。相反的,卻受到了批評或被忽視。如果我們仍然感到如此的失望,也許我們還是喜愛以自己的利益為優先。為了實踐這一教導,我們需要操練謙卑並以真誠的謙卑來生活。開始學會給予一些東西時,不期望從人而來的尊重或稱讚,而是我們是奉獻給上帝。當我們以這種心態而活時,我們會看到真正的尊重來自上帝,而不是來自世界。
“渴望上帝的稱讚比期待人的稱讚
更有意義及令人喜樂滿溢”
作 者:椰嘉達基督徒會堂喜盛喜地堂會 - 萬碧恩牧師
翻譯員:張賽瓊
默想的問題:
1. 當我們提供良好的服務卻受到批評時,
我們是否曾感到失望?
2. 我們該做什麼才能得到上帝的稱讚呢?
3Nats Alkitab : Filipi 2:3-4
Penulis : Pdt. Pierre Tilaar
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat orang yang sangat haus akan pujian dan pengakuan. Mereka ingin dihormati, dihargai, bahkan diistimewakan di mana pun mereka berada. Tak jarang, demi mendapatkan penghormatan, seseorang rela melakukan segala cara. Mereka menunjukkan keberhasilan mereka di sekolah atau tempat pekerjaan, mencari perhatian dan bahkan menolong orang lain agar memperoleh puji-pujian dari orang yang mereka tolong. Dalam kehidupan bergereja, mungkin saja kita bisa dikejutkan saat berjumpa dengan anggota jemaat atau pelayan yang seperti ini.
Melalui nas hari ini, Paulus mengingatkan kita untuk menghindari pencarian hormat atau kehormatan diri yang didorong oleh kesombongan atau ambisi pribadi. Sebaliknya, hidup sebagai pengikut Kristus memanggil kita untuk mengubah cara pandang kita tentang penghormatan, dengan mengutamakan kepentingan orang lain dan merendahkan diri. Paulus katakan, “Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Dalam ayat ini, Paulus menegaskan bahwa hidup Kristen seharusnya ditandai dengan kerendahan hati dan kepedulian terhadap orang lain. Menginginkan penghormatan atau kehormatan adalah hal yang wajar, tetapi jika motivasi kita didorong oleh kesombongan atau persaingan untuk diakui lebih baik dari orang lain, itu akan menjauhkan kita dari sifat Kristus. Sebaliknya, Paulus mengajarkan kita untuk menganggap orang lain lebih utama dari diri kita sendiri, mengutamakan kepentingan mereka di atas kepentingan pribadi. Dengan cara ini, kita menunjukkan kasih Kristus yang rela mengorbankan diri untuk kebaikan orang lain.
Apakah kita sering kecewa dengan orang yang mengkritik kita? Apa lagi setiap kita selesai melakukan hal yang baik, sudah melayani di atas mimbar, sudah melakukan pembesukan jemaat, sudah memberi sumbangan besar ke gereja. Jangankan memperoleh pujian dan ucapan terima kasih. Malah sebaliknya, memperoleh kritik atau diacuhkan. Apabila masih merasakan kekecewaan seperti demikian, barangkali kita masih gemar mengutamakan kepentingan diri. Untuk menerapkan ajaran ini, kita perlu berlatih merendahkan hati dan hidup dengan kerendahan hati yang tulus. Mulailah belajar memberi sesuatu tanpa mengharapkan penghormatan atau pujian dari manusia, tapi kepada Tuhan. Ketika kita menjalani hidup dengan sikap ini, kita akan melihat bahwa penghormatan yang sejati datang dari Tuhan, bukan dari dunia.
“Merindukan pujian dari Allah jauh lebih berarti dan mendatangkan sukacita melimpah, daripada mengharapkan pujian dari manusia”
Pertanyaan untuk Direnungkan:
1. Pernahkah kita kecewa saat setelah melakukan pelayanan dengan baik, namun dikritik?
2. Apa yang patut kita lakukan untuk memperoleh pujian dari Allah sendiri?
耶利米書 29:11
幾年前,有一位已經退休的先生來找我. 目的是要在我事奉的教會裡申請工作. 這位先生表示他願意在任何部門工作,最重要的是讓年老的他有事可做。據該先生說,找工作不是為了滿足經濟的需求,而是需要從事一些活動能讓他退休後的生活有意義.原來,人類生命的目標之一,就是“尋找生命的意義”。可惜的是,面對世界的挑戰, 我們在努力尋找生命意義的過程中往往感到困惑,甚至迷失。
今天的經文提醒我們,上帝對我們的生命有一個美好的意念。是賜平安的意念,不是降災禍的意念。這對於任何尋求生命意義的人是穩固的根基。耶利米書29:11記載: “耶和華說、我知道我向你們所懷的意念、是賜平安的意念、不是降災禍的意念、要叫你們末後有指望。”這節經文表明了每個人都有上帝意念的目的。上帝作為我們的創造者,不僅瞭解我們,而且還以充滿慈愛和良善籌劃我們的未來。祂對我們的籌劃將引領我們走向平安,而不是毀壞或困惑。雖然我們並不總是瞭解人生旅程的每一步,然而我們可以相信上帝為我們擁有更大更好的計劃。
我們是否經常對未能實現的人生計劃感到失望?事實上,這種失望是因為我們總是無法理解上帝對我們生命中的意念。我們總是以為,今生的平安與幸福的決定因素,完全在於我們自己的人生計劃。我們應該覺悟,我們的生命並不是因自己的努力而得的結果,而是來自上帝對我們完美的意念。祂籌劃了我們的生命有著超乎我們能想像更大的目標。讓我們允許上帝按照祂的意念來指引我們的生命。當我們沉浸在祂的意念裡時,並不意味著我們所有的計劃都必須實現。即使我們的計劃失敗了,我們也會說: “上帝所籌劃的對我來說是最好的計劃。我相信上帝知道什麼是對我最好的,祂會引導我走向最好的人生方向。”
“生命的真正意義乃是當我們明白,
上帝知道什麼是對我們最好
並且祂正引導我們走向
那最好的生命。”
作 者:椰嘉達基督徒會堂喜盛喜地堂會 - 萬碧恩牧師
翻譯員:張賽瓊
默想的問題
1. 我們是否曾因未能實現自己設立的所有人生計劃而感到活得毫無意義? 失望會讓你成為更好的人嗎?
2. 我們是否意識到上帝知道什麼是對這生命最好的?當我們為今生計劃一些好的事情時,我們應該做什麼呢?
Nats Alkitab : Yeremia 29:11
Penulis : Pdt. Pierre Tilaar
Beberapa tahun lalu, saya dihampiri oleh seorang bapak usia pensiun. Maksudnya adalah untuk melamar kerja di gereja tempat saya melayani. Bapak ini menawarkan diri untuk bekerja di bagian apa saja, yang penting ia punya kegiatan di masa tua. Menurut bapak ini, mencari pekerjaan bukan untuk memenuhi kebutuhan uang lagi, tapi membutuhkan kegiatan yang akan memberi makna dalam hidup masa pensiunnya. Ternyata salah satu tujuan hidup manusia adalah tentang “pencarian makna hidup”. Sayangnya, di tengah tantangan dunia, sering kali kita merasa bingung atau bahkan tersesat dalam upaya menemukan makna hidup ini.
Nas hari ini mengingatkan kita, bahwa Tuhan memiliki rancangan yang baik bagi hidup kita. Rancangan yang penuh damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan. Ini adalah dasar yang kokoh bagi siapa pun yang sedang mencari makna hidup. Yeremia 29:11 mengatakan, "Sebab Aku mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada kamu hari depan yang penuh harapan." Ayat ini menyatakan bahwa setiap orang memiliki tujuan yang sudah Tuhan rancangkan. Tuhan, sebagai Pencipta kita tidak hanya mengetahui kita, tetapi juga telah merencanakan masa depan kita dengan penuh kasih dan kebaikan. Rancangan-Nya untuk kita adalah rancangan yang membawa kita kepada kedamaian, bukan kepada kerusakan atau kebingungannya. Meskipun kita tidak selalu memahami setiap langkah dalam perjalanan hidup kita, namun kita bisa percaya bahwa Tuhan memiliki rencana yang lebih besar dan lebih baik bagi kita.
Apakah kita sering kecewa dengan rancangan hidup yang tak terlaksana? Sesungguhnya kekecewaan ini terjadi karena kita selalu gagal memahami rancangan Allah atas hidup kita. Kita selalu menganggap, bahwa penentu damai dan kebahagiaan hidup ini terletak pada rancangan hidup kita semata. Seharusnya kita sadar, bahwa hidup kita bukanlah hasil dari upaya kita sendiri, tapi dari rancangan Allah yang sempurna. Ia telah merancangkan hidup kita dengan tujuan yang lebih besar dari semua yang bisa kita pikirkan. Mari izinkan Tuhan mengarahkan hidup kita, sesuai dengan rancangan-Nya. Saat kita membenamkan diri dalam rancangan-Nya, bukan berarti semua rencana-rencana kita harus terlaksana. Kalau pun rencana kita gagal, kita akan berkata, “rancangan Tuhan adalah rancangan terbaik bagiku. Aku percaya, bahwa Tuhan tahu yang terbaik bagiku dan Ia akan membawaku ke arah hidup yang terbaik.”
“Makna hidup yang sesungguhnya adalah ketika kita paham, bahwa Tuhan tahu yang terbaik bagi kita dan Ia sedang membawa kita ke arah hidup yang terbaik itu”
Pertanyaan untuk Direnungkan
1. Pernahkah kita pernah diliputi oleh rasa tidak berarti karena gagal mencapai segala rancangan hidup yang telah kita bangun? Apakah rasa kecewa membuat saudara menjadi lebih baik?
2. Sadarkah kita, bahwa Tuhan tahu yang terbaik bagi hidup ini? Apa yang patut kita lakukan saat merencanakan sesuatu yang baik untuk hidup ini?
Nats Alkitab : Matius 6:19-21
Penulis : Pdt. Pierre Tilaar
Patut kita akui, bahwa hidup di zaman ini, tak ubahnya sebuah permainan monopoli. Semua orang berkompetisi mengumpulkan dan memenuhkan pundi-pundi mereka. Orang yang memiliki uang atau harta yang banyak, akan dipandang sebagai orang sukses dan pasti mengalami bahagia. Inilah ukuran sukses yang dibangun oleh kebanyakan masyarakat. Pertanyaan yang muncul, apakah benar memiliki uang dan harta yang banyak pasti hidup bahagia? Pernahkah saudara mendengar kisah orang yang berkelimpahan uang dan hartanya, namun masih terus merasa kurang dan kurang? Apakah ini yang disebut sebagai bahagia?
Dalam nas kita hari ini, Yesus mengingatkan agar kita tidak menggantungkan kebahagiaan pada harta duniawi yang sementara. Yesus mengajak kita untuk memfokuskan hati pada perkara yang kekal dan yang tidak bisa rusak atau dicuri oleh siapa pun. Yesus berkata, "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi, di mana ngengat dan karat merusaknya dan pencuri membongkar serta mencurinya.” (ay. 19). Di sini Yesus menekankan, bahwa segala yang kita miliki di dunia ini bersifat sementara dan rapuh. Kekayaan duniawi bisa hilang seketika, entah oleh bencana, pencurian, atau kerusakan alami. Sedangkan harta di Surga, merujuk pada hubungan kita dengan Tuhan, kebaikan, dan perbuatan yang sesuai dengan kehendak-Nya. Ini adalah sesuatu yang kekal dan tidak bisa dicuri atau rusak oleh siapa pun. Kalimat Yesus, “di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada" (ay. 21) menunjukkan bahwa apa yang kita anggap sebagai harta akan menunjukkan apa yang benar-benar kita hargai dalam hidup. Jika kita lebih mendambakan kekayaan dunia, itu akan mempengaruhi kecenderungan hati kita.
Saudaraku, di manakah hati kita benar-benar berada? Apakah kita terlalu sibuk mengejar kekayaan duniawi hingga kita lupa akan tujuan hidup yang lebih besar? Untuk menerapkan ajaran Kristus ini, kita perlu mengubah prioritas kita, yaitu dengan lebih banyak menginvestasikan waktu, tenaga, dan sumber daya kita untuk tujuan yang lebih kekal. Apakah tujuan yang kekal itu? Melayani Tuhan, membantu sesama, dan berintegrits. Mari kita mulai dengan mengurangi fokus kita pada pemuasan diri dan berusaha untuk menjadi berkat bagi orang lain.
“Mengutamakan kerajaan Allah dalam setiap keputusan hidup akan membawa kita pada kebahagiaan yang penuh”
Pertanyaan untuk Direnungkan
1. Pernahkah kita serius memikirkan tujuan hidup termulia orang yang percaya?
2. Setelah kita menemukan tujuan mulia hidup orang percaya, maka siapakah yang patut menerima seluruh pencapaian hidup kita?
From the publisher's feed