
Sign up to save your podcasts
Or


Nats Alkitab : Kisah 9:17-19
Penulis : G.I. Rinna
Pernahkah, saat mengemudi, saudara mendapati ada area tertentu di sekitar kendaraan yang sulit atau bahkan tidak terlihat oleh kaca spion? Inilah blind spot atau titik buta yang dapat menyebabkan kecelakaan jika kita tidak berhati-hati. Meskipun kita sudah melihat ke spion, kendaraan atau objek yang ada di area ini tetap tidak terlihat, sehingga kita perlu memeriksa langsung dengan menolehkan kepala sebelum berpindah jalur. Ada juga cara lain, yaitu meminta tolong teman yang duduk di sebelah kita untuk mengecek keadaan.
Rupanya, titik buta ini tidak hanya hadir dalam berkendara, tetapi juga dalam kehidupan kita. Titik buta hadir dalam bentuk ketidakmampuan kita untuk melihat kekurangan atau kelemahan diri sendiri. Tentu, ini tidak melulu soal fisik, tetapi juga bisa meliputi aspek psikologis maupun kerohanian kita. Saat Saulus hendak menangkap lebih banyak pengikut Yesus dalam perjalanan ke Damaskus, rupanya dia telah hidup dalam kebutaan rohani. Di tengah perjalanan, Tuhan membutakannya secara fisik setelah dia berjumpa dengan Yesus. Saulus menjadi buta selama tiga hari. Tuhan kemudian mengutus Ananias untuk berdoa bagi Saulus agar ia dipenuhi Roh Kudus. "Seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi." (Kis. 9:18). Setelah itu, Saulus—yang menjadi Rasul Paulus—melangkah ke panggilan hidupnya.
Kisah ini mengingatkan bahwa hanya Tuhan yang dapat menyingkirkan titik buta rohani kita. Kita tidak dapat mengandalkan kekuatan sendiri, melainkan harus bergantung pada-Nya. Bapa Surgawi kita sedang bekerja untuk menyingkirkan titik-titik buta. Tunduklah kepada karya-Nya dalam hidup kita agar kita dapat memancarkan sinar kemuliaan-Nya.
“Tuhan sanggup menyingkap apa yang tersembunyi, memimpin hati untuk hidup yang sejati.”
Pertanyaan untuk direnungkan:
1. Apakah ada bagian dari hidup saya yang mungkin menjadi "titik buta" yang belum saya serahkan kepada Tuhan untuk diubah?
2. Renungkan hal-hal apa yang membuat diri saya merasa sulit untuk terbuka terhadap bimbingan Tuhan agar dapat hidup sesuai dengan kebenaran-Nya?
Nats Alkitab : Kejadian 4:6-7
Penulis : G.I. Rinna
Pernahkah Anda merasa terganggu oleh kerikil kecil yang terselip di dalam sepatu saat berjalan? Meski kecil, kerikil itu dapat mengganggu kenyamanan hingga membuat kita kesulitan berjalan. Muhammad Ali pernah berkata, "Bukan gunung yang harus didaki yang membuat Anda lelah, melainkan kerikil di dalam sepatu Anda." Hal-hal kecil sering kali mudah diabaikan, namun begitu mereka mulai menimbulkan masalah, kita baru menyadari betapa besar dampak dari apa yang kita sepelekan.
Situasi hidup manusia, sering kali hal-hal yang tampak kecil bisa berubah menjadi masalah besar jika diabaikan. Demikian juga dengan dosa. Dosa bekerja secara bertahap, dan tanpa kita sadari, dosa kecil yang kita anggap sepele dapat mengarah pada dosa yang lebih besar. Dosa selalu mencari kesempatan untuk menjebak kita. Kisah Kain memberikan gambaran yang jelas. Ketika persembahannya ditolak Tuhan, hati Kain menjadi panas dan wajahnya muram. Tuhan pun mendekatinya dan memperingatkan agar dia hati-hati, jangan memberi kesempatan bagi dosa untuk berkuasa. Sayangnya, Kain tidak mengindahkan peringatan itu. Alih-alih bertobat, dia membiarkan dosa bersarang di hatinya hingga akhirnya membunuh adiknya. Kain tidak hanya memberikan persembahan yang tidak diperkenan Tuhan, tetapi juga membunuh saudaranya.
Ketika kita mulai salah arah, jangan abaikan orang-orang yang Tuhan tempatkan untuk mengingatkan kita. Teguran yang mungkin terasa berat di hati bisa jadi penyelamat jika kita respons dengan positif. Dengan begitu, kita dapat menutup kesempatan bagi dosa untuk berkembang dan terhindar dari kesalahan yang lebih besar. Kasih setia Tuhan akan selalu memperbarui kita melalui Firman-Nya. Tuhan rindu kita senantiasa sadar dan peka terhadap dosa yang mengintip diam-diam dalam hidup kita. Dengan kasih karunia dan hikmat-Nya, mari kita terus mengisi pikiran kita dengan Firman Tuhan agar kita dapat menghindari godaan dosa dan mematikan dosa-dosa kecil sekalipun.
“Kasih Tuhan memimpin kita untuk menanggalkan dosa, sekecil apa pun itu.”
Pertanyaan untuk direnungkan:
1. Apakah ada dosa-dosa yang kita anggap remeh dan bagaimana dampaknya terhadap hubungan saya dengan Tuhan?
2. Ketika mendapat teguran atau peringatan, bagaimana saya meresponsnya? Apakah saya terbuka untuk memperbaiki diri atau justru mengabaikannya?
創世紀 4: 6-7
你是否曾經在走路時鞋子裡進了小石子而感到困擾呢?儘管它們很小,但這些小石子會讓我們感到很不舒服,使我們行走時很不自在。穆哈默德.阿里(Muhammad Ali) 曾經說過: “讓你疲憊不堪的不是你要爬的山,而是你鞋子裡的小石子” 小事情往往很容易被忽視,但它們一旦開始積累起來變成了問題時,我們才恍然大悟,原來我們所認為是微不足道的事情它的影響是何等的大。
人的一生中,一旦忽視了那些看似微不足道的事情,就會釀成大禍。罪也是如此。罪是逐漸形成的,在我們沒意識到的情況下,我們認為微不足道的小罪可能會導致更大的罪。罪總是尋找機會來網羅我們。該隱的故事給我們提供了一幅清晰的圖畫。當上帝看不中該隱的供物時,他就大大地發怒,變了臉色。上帝走近他,警告他要謹慎,不要讓罪有掌理之機。不幸的是,該隱並沒有在意上帝的警告。他不但沒有悔改,反而讓罪孽在心裡滋生,最終把他的弟弟殺死了。該隱不僅獻上了上帝不悅納的祭物,而且還殺害了他的兄弟。
當我們開始走錯方向時,不要忽視那些上帝差派來提醒我們的人。如果我們積極地回應,也許沈重的斥責會成為我們的救恩。如此一來,我們就可以杜絕罪惡滋生發展的機會,也避免犯下更大的錯誤。上帝的慈愛總是藉著他的話語來更新我們。上帝渴望我們始終對潛伏在我們生活中的罪惡保持警惕和敏銳。靠著祂的恩典和智慧,讓我們繼續將上帝的話語充滿我們的心思,這樣我們就可以避免罪的誘惑,甚至連小罪也能把它治死。
“無論多麼小的罪,
上帝的愛都會引導我們把它除去。”
作 者:椰嘉達基督徒會堂卡帝尼堂會- 蕭麗娜傳道
翻譯員:蔡立基
默想的問題:
1. 我們是否認為有一些罪是微不足道的,而它們又如何影響我與上帝的關係?
2. 當我被譴責或被警告時,我該如何回應?我是否願意敞開更新自己還是忽視它呢?
雅各書 3:8–10
一首歌曲裡的歌詞有這麼念誦: “舌頭無骨” 這句話的涵義是什麼? 這並不意味著舌頭完全沒有骨頭;舌頭確實有柔軟的軟骨結構,能讓它自由活動並感受不同的味道。其實,這首歌的主要目的是要凸顯人類的舌頭實在是難以被制伏。
雅各書3章5節這麼說: “這樣,舌頭在百體裡也是最小的,卻能說大話。看哪,最小的火能點著最大的樹林” 舌頭確實是小,但影響力卻很大,猶如小火能燒毀廣大的樹林.舌頭雖小,但卻能灼傷人的情緒,以致釀成大禍。然而,我們不可忘記,聖經也提及,舌頭能說大話。這意味著舌頭的影響力取決於如何控制它,以及其使用目的。作為基督徒, 我們如何制伏自己的舌頭呢? 我們是否已經用舌頭來頌讚和榮耀上帝呢?我們是否用舌頭讓人們認識耶穌為主和救贖主,抑或用舌頭來造謠誹謗、散布謊言和製造紛爭呢?
親愛的弟兄們,我們已經能制伏自己的舌頭了嗎?制伏你的舌頭不說不恰當,不好的話並不容易,尤其是周圍的環境常常會影響我們說壞話。作為信徒,讓我們更加親近上帝,如此一來,我們就能操練自己和制伏我們的舌頭去做有益處和有造就性的事情。第8節再度提醒我們: “唯獨舌頭沒有人能制伏,是不止息的惡物,滿了害死人的毒氣” 唯有在上帝的幫助下,生活在祂的引導下,我們才能制伏我們的舌頭。
每句話語都可能成為一座建築物,
抑或餘燼 – 好好制伏你的舌頭吧!
作 者:椰嘉達基督徒會堂卡帝尼堂會- 蕭麗娜傳道
翻譯員:蔡立基
默想的問題:
1. 處於令我生氣或沮喪的情況下,我會如何制伏自己的舌頭,以便繼續為他人帶來祝福?
2. 今天我可以採取哪些步驟來操練自己說出能傳達上帝良善和慈愛的話語?
Nats Alkitab : Yakobus 3:8-10
Penulis : G.I. Rinna
Sebagian dari lirik sebuah lagu, melantunkan kata “lidah memang tidak bertulang.” Apa arti dari ungkapan ini? Bukan berarti lidah benar-benar tidak memiliki tulang; lidah memang memiliki struktur tulang rawan yang lunak yang memungkinkannya bergerak dan merasakan rasa. Namun, maksud lagu ini sebenarnya adalah menyoroti kesulitan manusia dalam mengendalikan apa yang dikatakan melalui lidah.
Yakobus 3:5 berkata, “Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, ia dapat memegahkan hal-hal yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya, api dapat membakar hutan yang besar.” Lidah memang kecil, tetapi pengaruhnya besar, seperti api kecil yang bisa membakar hutan luas. Walaupun kecil, lidah mampu membakar emosi seseorang hingga menimbulkan bencana besar. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa Alkitab juga menyebut lidah mampu memegahkan hal-hal yang besar. Ini berarti bahwa dampak dari lidah tergantung pada kendali dan tujuan penggunaannya. Sebagai orang Kristen, bagaimana kita mengendalikan lidah kita? Apakah kita sudah menggunakan lidah untuk memuji dan memuliakan Allah? Apakah kita telah menggunakan lidah kita untuk membawa orang mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, atau malah menggunakannya untuk menyebarkan fitnah, dusta, dan menciptakan pertengkaran?
Saudara yang terkasih, sudahkah kita mampu mengendalikan lidah kita? Tidak mudah melatih lidah untuk menahan diri dari kata-kata yang tidak baik, terutama karena lingkungan sekitar sering mempengaruhi kita untuk berbicara buruk. Sebagai orang percaya, marilah kita mendekatkan diri kepada Allah agar kita senantiasa melatih diri dan lidah kita untuk hal-hal yang berguna dan membangun. Ayat 8 mengingatkan kita bahwa “tidak seorang pun dapat menjinakkan lidah. Ia tidak terkuasai, jahat dan penuh racun mematikan.” Hanya dengan pertolongan Allah dan hidup dalam pimpinan-Nya kita dapat mengendalikan lidah kita.
"Setiap kata bisa menjadi bangunan atau bara – kendalikan lidahmu."
Pertanyaan untuk direnungkan:
1. Dalam situasi yang membuat saya marah atau frustrasi, bagaimana saya dapat mengendalikan lidah saya agar tetap menjadi berkat bagi orang lain?
2. Apa langkah yang dapat saya ambil hari ini untuk melatih diri dalam berkata-kata yang membawa kebaikan dan kasih Tuhan?
傳道書 3:11–15
世界各地的人們都擁有相同的時間,就是一天24個小時,不多也不少。然而,我們卻經常聽到人們說時間不夠用,為何會如此呢?還有些人經常抱怨自己“沒時間”。問題不在於時間的長短,而是我們如何管理和利用時間。我們是否明智地把陪伴家人的時間、工作的時間、事奉的時間和靈修的時間都平衡地分配好呢?
傳道書作者提醒我們“凡事都有定期”(傳道書3:1)時間不是用來追逐的,而是明智地被利用。平衡地把陪伴家人的時間、工作的時間、事奉的時間和自己的時間分配好吧!這個世界上沒有什麼是完美的,時間也是如此; 沒有完美的時機讓我們做某件事,有的是我們如何敏銳回應上帝在我們生命中的旨意。
我們經常會為我們認為重要的事情,例如工作或事奉,而犧牲時間,但往往卻忽略了同樣重要的事情,例如家庭。我們不能只專注於工作或事奉,而不關注於家庭的關係,後果可能一團混亂不堪設想。上帝希望我們能平衡地利用我們的時間,不僅是為了滿足個人的願望,也是為了祂的榮耀。第11節提醒我們: “上帝造萬物,各按其時成為美好,又將永生安置在世人心裡。然而上帝從始至終的作為,人不能參透” 上帝賜予我們完美的24小時。明智地將它用於平衡的事物上,並回應祂的呼召。我們在生活的每一步都要對上帝的聲音保持敏銳,因為上帝所賜予的每一時刻都有美好的旨意。
“上帝所賜予的時間已經很完美了,
為了祂的榮耀明智地使用它吧!”
作 者:椰嘉達基督徒會堂卡帝尼堂會- 蕭麗娜傳道
翻譯員:蔡立基
默想的問題:
1. 我在哪些方面仍然沒有在工作、家庭和事奉之間平衡地利用時間?
2. 我如何能克服障礙明智地管理好我的時間?
Nats Alkitab : Pengkhotbah 3:11-15
Penulis : G.I. Rinna
Manusia hidup di mana saja mempunyai waktu yang sama yaitu 24 Jam sehari, tidak lebih dan tidak kurang. Tetapi kita sering mendengar orang mengatakan kekurangan waktu, mengapa bisa demikian? Ada pula orang sering mengeluh “tidak ada waktu.” Masalahnya bukan pada jumlah waktu, tetapi bagaimana kita mengelola dan menggunakan waktu tersebut. Apakah kita telah bijaksana membagi waktu kita dengan seimbang, waktu untuk keluarga, waktu untuk bekerja, waktu untuk pelayanan dan waktu untuk menenangkan diri.
Pengkhotbah mengingatkan bahwa "segala sesuatu ada masanya" (Pkh 3:1). Waktu bukan untuk dikejar, tetapi untuk digunakan dengan bijaksana. Seimbanglah dalam membagi waktu: untuk keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan untuk diri sendiri. Di dunia ini tidak ada yang sempurna, demikian juga dengan waktu, tidak ada waktu yang sempurna untuk kita melakukan sesuatu, yang ada adalah bagaimana kita peka terhadap apa yang Tuhan inginkan dalam hidup kita.
Sering kali kita mengorbankan waktu untuk hal-hal yang kita anggap penting, seperti bekerja atau melayani, tetapi mengabaikan hal-hal yang sama pentingnya, seperti keluarga. Kita tidak bisa hanya fokus pada pekerjaan atau pelayanan tanpa memperhatikan relasi dengan keluarga yang bisa berantakan. Tuhan ingin kita menggunakan waktu secara seimbang, bukan hanya untuk memenuhi keinginan pribadi, tetapi juga untuk kemuliaan-Nya. Ayat 11 mengingatkan kita bahwa, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Tuhan memberi kita waktu 24 jam yang sempurna. Gunakanlah dengan bijak untuk hal-hal yang seimbang dan sesuai dengan panggilan-Nya. Peka terhadap suara Tuhan dalam setiap langkah hidup kita, karena setiap waktu yang Tuhan beri memiliki tujuan yang indah.
“Waktu yang Tuhan beri sudah sempurna, gunakanlah dengan bijaksana untuk kemuliaan-Nya.”
Pertanyaan untuk direnungkan:
1. Dalam area apa saja saya masih belum menggunakan waktu dengan seimbang antara pekerjaan, keluarga, dan pelayanan?
2. Hal apa yang dapat saya lakukan untuk mengatasi hambatan dalam mengatur waktu saya dengan bijaksana?
列王紀上 19:10-15
許多人會做出倉促的決定,尤其是當他們確實需要工作時。有的時候,報酬優厚誘人的工作,實際上會讓人難免陷入勞累的例行公事之中,直到最後心也被一種絕望與失望的感覺佔據了。因此,我們常常自問: “我什麼時候才能有時間事奉上帝呢? 我的生活為何只有忙碌,沒有時間停下來歇會兒呢?” 亨利.努文(Henri Nouwen)表示:“在一個如此重視成功和事業的世界裡,我們可能會對自己的使命充耳不聞. ” 我們處在這忙碌又喧囂的生活中,我們的呼召不僅變得模糊不清,甚至連上帝的聲音我們也難以聽見。
先知以利亞的故事就是一個明顯的例子。先知以利亞在積極服事的過程中,卻發現自己精疲力盡,感覺自己未能完成自己的使命。然而,他不但沒有尋求上帝,反而引咎自責,認為自己不配,並將自己與有罪的祖先相提並論。諷刺的是,以利亞在喧囂忙碌的日程中再也聽不到上帝的聲音了。幸然,就在他最低潮的時候,上帝竟然出現;不但沒有嚴厲地斥責他,而是還溫柔地問候他。上帝提醒先知以利亞回到他的職責上,停止思考他的失敗抑或弱點,並繼續執行上帝所託付給他的事工。
我們也是如此。上帝渴望與我們建立親密的個人關係。當我們忙於生活時,聖靈會不斷輕聲細語地提醒我們上帝對我們和他人的愛,並在不同情況下賜於智慧。然而,我們在我們活動和野心中,有時會對那些輕柔低語缺乏敏銳。倘若我們訓練自己如何對上帝的聲音保持敏銳,我們會發現其實上帝總是主動想與我們溝通,為我們的每個步伐提供方向和力量。
“在你的心靈裡創造一個安靜的空間吧!
這樣你就能聆聽到祂的聲音。”
作 者:椰嘉達基督徒會堂卡帝尼堂會- 蕭麗娜傳道
翻譯員:蔡立基
默想的問題:
1. 我在哪些方面太專注於自己,而忘卻了上帝的呼召?
2. 我該如何安排時間,以便有時間來聆聽上帝的聲音並與上帝溝通?
Nats Alkitab : 1 Raja-Raja 19:10-15
Penulis : G.I. Rinna
Banyak orang terburu-buru mengambil keputusan, terutama saat mereka sangat membutuhkan pekerjaan. Terkadang, pekerjaan yang menawarkan imbalan menggiurkan justru membuat seseorang terjebak dalam rutinitas yang melelahkan, hingga akhirnya rasa putus asa dan kekecewaan menguasai hati. Akibatnya, kita sering bertanya-tanya, “Kapan saya punya waktu untuk melayani Tuhan? Mengapa hidup saya hanya diisi dengan kesibukan dan tak ada waktu untuk berhenti sejenak?” Henri Nouwen berkata, “Dalam dunia yang begitu mementingkan kesuksesan dan karier, kita bisa jadi tuli akan panggilan kita.” Tidak hanya panggilan kita yang kabur, tetapi suara Tuhan pun menjadi sulit kita dengar di tengah hiruk-pikuk kesibukan hidup.
Kisah nabi Elia adalah contoh nyata. Saat giat melayani, nabi Elia menemukan dirinya kelelahan dan merasa gagal dalam panggilannya. Alih-alih mencari Tuhan, ia malah menyalahkan dirinya sendiri, merasa tak layak, dan menyamakan dirinya dengan nenek moyangnya yang berdosa. Ironisnya, di tengah hiruk-pikuk kesibukannya, Elia tidak lagi mampu mendengar suara Tuhan yang sesungguhnya. Di saat terendahnya, Tuhan justru hadir, bukan dengan teguran keras, tetapi dengan sapaan lembut. Tuhan mengingatkan nabi Elia untuk kembali ke tugasnya, untuk berhenti memikirkan kegagalan atau kelemahannya, dan melanjutkan apa yang telah Tuhan percayakan kepadanya.
Kita pun seperti itu. Tuhan sangat rindu untuk menjalin hubungan yang dekat dan pribadi dengan kita. Saat kita sibuk menjalani kehidupan, Roh Kudus terus berbisik, mengingatkan akan kasih Tuhan bagi kita dan bagi orang lain, serta memberikan hikmat bagi setiap situasi. Namun, di tengah aktivitas dan ambisi kita, terkadang kita kehilangan kepekaan terhadap bisikan lembut itu. Jika kita melatih diri untuk peka terhadap suara-Nya, kita akan mendapati bahwa Tuhan selalu ingin berkomunikasi dengan kita, memberikan arahan dan kekuatan di setiap langkah.
“Ciptakan ruang tenang dalam hati agar dapat mendengar suara-Nya.”
Pertanyaan untuk direnungkan:
1. Dalam hal apa saya merasa terlalu fokus pada diri sendiri sehingga melupakan panggilan Tuhan?
2. Bagaimana saya bisa mengatur waktu agar ada momen untuk mendengar dan bersekutu dengan Tuhan?
何西阿書 10:9-15
2024年10月15日,一名男子在阿根廷首都布宜諾斯艾利斯邊走邊滑手機,不知不覺闖進了鐵軌區(質料來源:detik.com2024年10月17日)。剎那間,一列火車向著他飛馳。男子在千鈞一髮之際,他立即清醒,縱身跳開,險些因疏忽大意而喪失生命。是什麼原因導致了這起事件呢?其實,不是因為他沒看到鐵路,而是因為他沒注意自己的腳步. 除此之外,他也忽略了周圍的警告標誌。
我們猶如那個男子一樣,經常在我們的生活中忙於追求成功、個人抱負或舒適。結果,我們忘了自己的腳步是否合乎上帝的旨意。也許我們感到無災無病,是因為犯錯的懲罰還沒臨到。今天的靈修經文中,上帝斥責了持續犯罪並拒絕悔改的以色列人。儘管一而再,再而三地被提醒,他們仍然選擇了自己的道路,依靠自己的力量、財富,甚至拜偶像。當他們選擇忽視上帝時,他們最終必須為自己選擇的行為承擔後果。
聖經闡明以色列人: “耕種奸惡,收割詭詐,吃謊話的果子”(第13節)。結果,以色列人必遭受毀滅。這個警告也間接告誡我們,提醒我們在生活中要時時刻刻保持警惕,不要重蹈毀滅的覆轍。讓我們繼續尋求上帝,以上帝為生活的中心,按照上帝的旨意行事, 這樣我們就不會被世界誘惑而隨波逐流。
“遠離上帝,就是讓自己更接近毀滅。”
作 者:椰嘉達基督徒會堂卡帝尼堂會- 蕭麗娜傳道
翻譯員:蔡立基
默想的問題:
1. 現今,我是否在生活中的某個領域已走在真理中,抑或走在傲慢中,而忽略了上帝的旨意?
2. 請停下來想一想,是否有什麼罪惡阻礙了我靈命的成熟?
From the publisher's feed