
Sign up to save your podcasts
Or


以赛亚书 64: 5-9
有一次,我看到我的一个朋友到洗手盆洗手。过了不久,他又回到那里洗手。他反反复复地洗了好几次。尽管他第一次洗手过后,并没有拿过任何东西,但他还是反反复复地洗手。当我问他为什么洗那么多次,他只是说他不确定自己的手是否已经洗干净了。事实上,发生在我朋友身上的是一种被称为强迫症的精神症状。强迫症的病患者通常无法控制重复行动和冲动。如果出了什么问题,他内心就会产生一种恐惧不安的感觉。虽然没有强迫症患者那么极端,但我们也有相似的倾向。人们的倾向是试图摆脱失败,并尽力追求完美。问题是,这样的想法和努力真的能解决我们的问题吗?
以色列民的呼求中蕴含着悔改,因为他们意识到自己的过犯。他们承认因他们犯罪,导致他们受苦(第5节下)。他们认为虔诚的东西,原来只不过是世俗的仪式和传统(第6节)。结果,他们失去了与神和谐的关系。此关系也因为自己的不洁净而破裂。即使他们所有的义, 也无法清除掉这些污秽。罪孽使他们的地位变弱,犹如被风吹去的叶子(第6节)。他们的回应是需要上帝的恩典和饶恕,使他们在神面前有真正的悔改(第8-9节)。
对于那些已经经历过上帝的赦免、同在、真理引导等的信徒,这一切上帝的良善都是宝贵的经历,任何事物都无法替代的。因此,我们必须谨慎,切勿让不讨上帝喜悦的态度、心思和行为留下丝毫的破口。我们也切勿给那些能伤透灵魂的罪孽留下丝毫的空间.就算有时无意中重蹈覆辙犯了罪,让我们愿意真心悔改归向神。
“主耶稣能使万物都焕然一新”
作者:椰嘉達基督徒會堂區會主僕 - 李雪英傳道
翻譯員:蔡立基
思考问题:
1. 你的灵命生活常常起落不定。你对上帝的恩惠有什么反应?
2. 你如何献上一些能讨上帝喜悦的事物?
Nats Alkitab : Yesaya 64:5-9
Penulis : G.I. Eniwati
Satu kali saya melihat teman yang mencuci tangannya di wastafel. Tak lama kemudian ia kembali lagi ke wastafel dan mencuci tangannya lagi. Hal itu ia lakukan berkali-kali. Ia terus menerus mencuci tangannya sekalipun ia tidak memegang sesuatu apa pun setelah ia mencuci tangannya pertama kali. Ketika saya bertanya mengapa ia mencuci tangannya berkali-kali, ia hanya mengatakan bahwa ia tidak yakin tangannya bersih. Sebenarnya apa yang terjadi pada teman saya adalah sebuah gejala kejiwaan yang disebut dengan istilah Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Penderita OCD tidak mampu menahan dorongan melakukan tindakan berulang untuk memastikan segala sesuatu. Ada perasaan tidak aman dan ketakutan dalam dirinya kalau terjadi kesalahan. Sekali pun tidak seekstrem mereka yang menderita OCD, kita juga memiliki kecenderungan yang sama. Kecenderungan itu adalah berusaha untuk membersihkan diri dari kegagalan dan mencoba untuk melakukan apa yang benar dengan sempurna. Masalahnya, benarkah pemikiran dan usaha yang seperti itu dapat menyelesaikan masalah kita?
Seruan Israel menyiratkan pertobatan karena mereka menyadari kesalahan mereka. Mereka mengakui bahwa perbuatan dosa lah yang menyebabkan mereka menderita (ay. 5b). Yang mereka anggap saleh, ternyata hanya ritual dan tradisi yang tidak kudus (ay. 6). Akibatnya, mereka kehilangan hubungan yang harmonis dengan Tuhan. Hubungan itu rusak oleh kenajisan mereka sendiri. Kenajisan yang tidak dapat dibersihkan dengan usaha kesalehan mereka sekalipun. Perbuatan jahat membuat kedudukan mereka lemah, tak ubahnya selembar daun yang mudah diterbangkan angin (ay. 6). Respons mereka adalah membutuhkan kasih karunia dan pengampunan dari Allah yang membawa mereka pada pertobatan yang sejati di hadapan Allah (ay. 8-9).
Bagi orang beriman yang telah mengalami berbagai kebaikan Tuhan dalam pengampunan, penyertaan, tuntunan pada kebenaran; semua itu adalah pengalaman yang berharga dan tak tergantikan oleh apa pun. Karena itu kita harus menjaga agar tidak membuka peluang sedikit pun bagi sikap hidup, hati, dan tindakan yang tidak menyukakan Tuhan. Seharusnya kita tidak memberikan ruang sedikit pun bagi dosa yang sangat merusak jiwanya. Serta senantiasa bersedia mengalami pertobatan yang sejati saat dirinya kembali melakukan dosa.
Tuhan Yesus sanggup memulihkan segala sesuatu menjadi baru.
Pertanyaan untuk direnungkan:
1. Apa respons anda terhadap kebaikan Tuhan bagi hidup anda yang sering kali jatuh bangun?
2. Bagaimana cara Anda memberikan sesuatu yang menyukakan hati Tuhan?
马太福音 6 : 1-3
有一次,当我乘搭Transjakarta公交车时,车上人山人海,挤满了搭客。我不得不和其他搭客摩肩接踵。当我正站在一旁时,前面有一个年轻人站起来,让给我座位。我还没来得及向他道谢,他已经换了座位。
回想这件举手之劳的美事,令我心旷神怡。我还记得耶稣在马太福音6章所教导的。耶稣谴责在施舍的时候,故意在人前吹号的人(第2节),耶稣以与众不同的态度来教导门徒们。耶稣再三强调说,施舍不应该'故意要得人的称赞,乃是行在暗中。如此的隐蔽,连他们的左手也不知道右手所做的(第3节)。
正如与我素不相识的那位年轻人所行的善事一样,施捨的焦点不在我们自己。我们施捨是因为仁慈的上帝已将各样的恩惠多多地赐予我们(哥林多后9:6-11)。当我们在暗中行善时,我们反映了上帝的仁慈,借着我们所行的将荣耀感谢归给上帝。
“暗中所行的善彰显了上帝的仁慈”
作者:椰嘉達基督徒會堂區會主僕 - 李雪英傳道
翻譯員:蔡立基
思考问题:
1. 至到如今你在施捨方面的态度如何?是什么仍然拦阻你按照基督的教导施捨?
2. 正如今天的灵修经文所教导的,请问你在施捨的事上有什么承诺?
Nats Alkitab : Matius 6:1-3
Penulis : G.I. Eniwati
Ketika sedang dalam perjalanan dengan bus Transjakarta, kondisi kendaraan yang saya tumpangi sedang ramai penumpang. Keadaan mengharuskan saya untuk berdiri berdesakan dengan penumpang lain. Saat saya sedang berdiri di salah satu sisi, dari depan saya ada seorang pemuda memberikan tempat duduknya pada saya. Sebelum saya mengucapkan terima kasih, ia sudah berpindah ke posisi yang lain.
Mengenang indahnya kebaikan yang sederhana itu sungguh menyegarkan hati saya. Saya pun teringat pada kata-kata Yesus dalam Matius 6. Setelah mengecam orang-orang yang menggembar-gemborkan sedekah mereka kepada orang miskin (ay. 2), Yesus mengajar murid-murid-Nya suatu sikap yang berbeda. Yesus menekankan, daripada menjadikan pemberian sebagai suatu pameran atas kemurahan hati pemberinya, hal itu sepatutnya dilakukan secara diam-diam. Begitu tersembunyinya hingga digambarkan seperti tangan kiri mereka tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanannya (ay. 3)!
Seperti yang diingatkan lewat kebaikan seseorang yang tidak saya kenal itu. Fokus dari pemberian bukanlah diri kita. Kita memberi hanya karena Allah yang Maha Pemurah telah memberi dengan limpahnya kepada kita (2 Kor 9:6-11). Saat memberi dengan diam-diam dan murah hati, kita mencerminkan diri Allah—dan Dia pun menerima ucapan syukur yang memang layak diterima-Nya (ay.11).
Memberi dengan diam-diam dan murah hati mencerminkan kemurahan hati Allah
Pertanyaan untuk Direnungkan:
1. Bagaimana dengan sikap anda selama ini dalam hal memberi kepada sesama? Sikap apa yang masih menghalangi anda dalam memberi sesama seperti perintah Kristus ?
2. Apa komitmenmu dalam hal memberi sesuai yang diajarkan dalam renungan hari ini?
以弗所书 4:22-32
一位坐在飞机上的年轻人,显得非常紧张不安。他的眼睛不断扫视着飞机的窗户。然后,他闭上眼睛,深吸了一口气,让自己平静下来。他的努力,最后还是徒劳无功。当飞机起飞时,他慢慢地前后晃动着身体。坐在过道对面的我,轻轻地碰了碰年轻人的手臂,主动和他聊天,希望这样能够缓解他的焦虑。我开始问他:“你叫什么名字呀?“;“你是从哪儿来的呀” 然后,我安慰他说:“放心,我们没事的。”随后我还赞赏他说:“你真棒!” 其实,我可以选择作弄他,或者不理会他。但是我选择主动跟他打招呼。
像这样以恩慈相待的情景实在罕见。对我们大多数人来说,善良并不是与生俱来的性情。大多时候我们只会关注自己。使徒保罗劝勉信徒们说:“你们要以恩慈相待,存怜悯的心”(以弗所书4:32)。他并不是说这样的态度是因为我们办得到。我们因信耶稣领受新生命,圣灵就开始一直改变我们。衪不断地将我们的心志改换一新(第23节)。怜悯的心就在我们的生命中出现。
我们有限而且软弱。上帝是怜悯的源头。祂在我们的心中动工,好让我们有怜悯的心,去安慰帮助别人。我们这些已蒙恩经历过神大能和慈爱的人,应该帮助那些有需要的人也同样地经历神的大能和慈爱。
“心存怜悯的人才能理解别人的困难,并且乐于伸手帮助他们。”
作者:椰嘉達基督徒會堂區會主僕 - 李雪英傳道
翻譯員:蔡立基
思考问题:
1. 保罗教导我们, 以恩慈相待, 存怜悯的心。这个吩咐有时很难实践。你有什么回应?
2. 神要我们以恩慈相待。请问什么是你最难作到的呢?
Nats Alkitab : Efesus 4:22-32
Penulis : G.I. Eniwati
Seorang pemuda terlihat gelisah saat hendak duduk di pesawat. Matanya memandang bolak-balik ke arah jendela pesawat. Kemudian ia memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. Tetapi upayanya itu tidak membuahkan hasil. Ketika pesawat tinggal landas, ia pun mengayun-ayunkan tubuhnya maju-mundur dengan perlahan. Saya yang duduk di seberang lorong menyentuh lengan pemuda itu dan mengajaknya berbincang-bincang agar perhatian pemuda itu ter alihkan dari kegelisahannya. Saya tanyakan “Siapa namamu?” dan “Dari mana asalmu?.” Kemudian saya mengatakan padanya “Kita akan baik-baik saja,” dan “kamu hebat.” Saya bisa saja terusik dengan sikap pemuda itu atau bahkan mengabaikannya. Namun, saya memilih untuk menyapanya.
Gambaran indah tentang kemurahan hati seperti itu bisa jadi sudah jarang ditemukan. Kebaikan bukanlah sesuatu yang timbul secara wajar bagi sebagian besar dari kita. Kita lebih sering memusatkan perhatian kepada diri kita sendiri. Namun saat Rasul Paulus menasihati, “Hendaklah kalian baik hati dan berbelas kasihan seorang dengan yang lain (Ef. 4:32 BIS). Ia tidak bermaksud mengatakan bahwa itu semua tergantung kepada kita semata. Sesudah kita menerima hidup baru melalui iman kepada Yesus, Roh Kudus mulai bekerja untuk mengubah kita. Kebaikan merupakan karya Roh Kudus yang terus-menerus dilakukan untuk memperbaharui pikiran dan tingkah laku kita (ay. 23).
Dalam keterbatasan dan kelemahan kita, Allah yang adalah Sumber Belas Kasihan, sedang bekerja dalam hati kita dan memampukan kita meneruskan belas kasihan itu kepada orang lain melalui sentuhan kata-kata yang menguatkan sesama kita. Mari kita yang sudah mengalami besar kuasa dan kasih Allah, kita menyatakan kehadiran-Nya kepada sesama yang membutuhkan diri-Nya.
Berbelaskasihan berarti memahami kesulitan orang lain dan bersedia menolongnya.
Pertanyaan untuk direnungkan:
1. Bagaimana sikap anda kepada perintah Allah untuk menyatakan belas kasihan yang terkadang tampaknya mustahil untuk dilakukan?
2. Hal sulit apa yang Allah sedang ingin lakukan untuk menyatakan kasih kepada sesama?
诗篇 61
有一次,我在一家便利店购买感冒药。当时我突然注意到有一位老妇人在同一条过道上徘徊。我以为她也要买药,所以就让开,让她靠近货架。接着,我们还讨论了当前流感病毒的爆发。过了不久,她开始一边抱怨,一边表达她对病毒起源的看法。我静默无言,爱莫能助。后来这沮丧的老妇人怒气冲冲地离开商店。她已经倾诉了心中的不满。遗憾的是我却只有袖手旁听,没有伸手帮助她。
大卫是以色列的第二位君王。他写了许多诗篇来表达他心中的愤怒和沮丧。大卫知道上帝不单会垂听,还会采取行动帮助他。大卫在诗篇第61篇里这样写:“我心里发昏的时候,我要从地极求告你。求祢领我到那比我更高的磐石!(第2节)。上帝是大卫王的“避难所” (第3节)。“磐石”是大卫所要寻找的。
当我们自己受苦或者遇到正在受苦的人,我们可以效仿大卫的榜样。我们可以来到更高的“磐石”,或者引领其他正在受苦的人也到那里去。其实,当我在便利店遇到那位老妇人,我就应该与她分享有关上帝的教导,让她从神那里得到盼望。上帝可能没有立即除去她所有的痛苦,但是至少她可以向 神求恩,赐给她力量和平安。慈悲的神要侧耳垂听我们的呼求。
“依靠上帝,祂是我们人生的磐石。”
作者:椰嘉達基督徒會堂區會主僕-李雪英傳道
翻譯員:蔡立基
思考问题:
1. 当你发现周围的人有需要,你会用什么实际的方法来表达神的爱呢?
2. 你的服侍有没有帮助你的信心成长?
Nats Alkitab : Mazmur 61
Penulis : G.I. Eniwati
Saat hendak mencari obat flu di sebuah mini market, saya memperhatikan seorang wanita lanjut usia mondar-mandir di lorong yang sama. Karena berpikir bahwa ia juga hendak membeli obat juga, saya bergeser agar ia dapat mendekat. Kami pun berbincang-bincang tentang wabah virus flu yang sedang melanda. Beberapa menit kemudian ia mulai mengomel sambil mengungkapkan teorinya tentang asal-usul virus itu. Saya hanya bisa mendengarkan saja tanpa tahu harus berbuat apa. Tidak lama kemudian, wanita tua itu meninggalkan toko dalam kondisi marah dan frustrasi. Walaupun ia telah mengungkapkan keluh-kesahnya. Namun sayangnya, saat itu saya tidak berbuat apa-apa untuk menolongnya.
Daud, raja kedua Israel, menulis sejumlah mazmur untuk mengungkapkan rasa marah dan frustrasinya kepada Allah. Namun, Daud tahu bahwa Allah tidak hanya mendengarkan, tetapi juga dapat melakukan sesuatu terhadap kepedihan yang dialaminya. Dalam Mazmur 61, Daud menulis, “Dari ujung bumi aku berseru kepada-Mu, karena hatiku lemah lesu; tuntunlah aku ke gunung batu yang terlalu tinggi bagiku (ay 3). Allah adalah ”tempat perlindungan” Daud (ay 4) – “gunung batu” yang dituju oleh Daud.
Ketika kita menderita atau bertemu seseorang yang sedang menderita, kita dapat mengikuti teladan Daud. Kita dapat datang kepada “gunung batu” yang lebih tinggi atau mengarahkan orang lain yang sedang menderita untuk datang kepada-Nya. Seharusnya saya menceritakan tentang Allah kepada wanita yang saya temui di toko itu untuk dia memiliki pengharapan. Meskipun Allah mungkin tidak menyingkirkan seluruh penderitaan yang ada, setidaknya ia dapat percaya bahwa Allah melimpahkan damai sejahtera dan mendengar seruan hati kita
“Andalkanlah Allah, Gunung Batu kita”
Pertanyaan untuk Direnungkan:
1. Saat menyadari banyaknya kebutuhan di sekitar Anda, bagaimana Anda dapat menunjukkan kasih Allah lewat cara yang praktis?
2. Bagaimana pelayanan Anda menolong iman Anda bertumbuh?
路加福音 10: 25-37
当有人问57岁的伊斯曼(Isman),他被关押6年获释后,谁会来接他;他很困惑地回答:“我不晓得,因为我给家里打电话,无人接听,更别说来接我了。”这就是现实的社会生活。坐过牢的人出狱以后,都会被加上犯过法的特殊标签。他必须被隔离,因为担心他们又重蹈覆辙,再次犯法。
教会是一个圣洁的群体。她活出人其正的模样,那就是按照上帝的形象和样式所重造的。教会不是被呼召来给其他属于被边缘化的人贴上标签。例如:同性恋社群、精神疾患者、妓女、吸毒者、犯罪者等等。对于那些被社会排斥的人来说,福音有能力拯救他们。福音本是神的大能,不仅拯救人类,使罪人与神和解。福音也化解人与人之间的矛盾。神爱世人,祂寻找那些被鄙视的人。在好撒马利亚人的比喻中,有一个律法师想要陷害耶稣。他假装不知道 “谁是我的邻居”。因此,看来圣经知识,基督教的教义,甚至改革宗福音派神学都不能保证一个人能完全理解“我的邻舍”的真正含义。耶稣故意提到被犹太人認為“不好的”撒马利亚人。然而这个标签并没有影响那个撒马利亚人。他以怜悯的心善待那位落在强盗手中,被打的半死的犹太人。
基督徒对同性恋群体和其他不合正流标准的人有什么态度?他们的行为显然不符合圣经道德的准则。神当然憎恶罪恶。但神怜惜罪人。因此基督徙是否要像祭司和利未人,连自己的同胞都不愿关怀?一个基督徒应当注重与 神的关系。但是,我们不应该停留在那里。否则的话,对别人的冷漠恰恰证明我们自己还没有福音的能力。福音使人和睦;福音使人脱离罪的捆绑。福音应传给还未相信主的罪人。基督徒也深深地明白和体验福音的大能。这样基督徒才能認识福音改变人的大能。信徒蒙 神的呼召不是去给人贴上标签,仍是引导人去与 神和好,与人和睦。
“信靠 上帝,世上所認为的坏事 (软弱, 缺乏, 损失, 拒绝) 可以变为人生的福份。”
(提摩太 . 凯勒)
作者:椰嘉達基督徒會堂區會主僕 - 李雪英傳道
翻譯員:蔡立基
思考问题:
1. 你对那些被视为边缘群体人有什么反应?
2. 基督徒群体如何帮助我们学习真心相爱?
Nats Alkitab : Lukas 10:25-37
Penulis : G.I. Eniwati
Pak Isman, bapak berumur 57 tahun kebingungan saat ditanya siapa yang akan menjemputnya setelah ia bebas dari 6 tahun masa tahanannya. “Enggak tau saya. Telepon ke rumah aja nggak ada lagi yang mau angkat, apalagi jemput.” Inilah realita kehidupan masyarakat, di mana mantan narapidana dilabeli sebagai pembawa masalah dan harus dijauhi karena dianggap akan mengulangi kesalahannya.
Gereja sebagai komunitas yang dikuduskan, seharusnya menampilkan Injil yang memanusiakan manusia sebagai gambar dan rupa Allah. Gereja bukan dipanggil untuk memberi label pada orang lain yang tergolong sebagai kaum marginal (LGBTQ, ODGJ, PSK, pecandu narkoba, pelaku kriminal, dsb). Injil itu seharusnya lebih dari cukup bagi mereka yang tersisihkan dari kacamata manusia. Injil adalah kekuatan Allah yang bukan saja menyelamatkan, tetapi juga mendamaikan relasi antara Allah dengan manusia berdosa, antara manusia dengan sesamanya. Tuhan mencintai dan mencari mereka yang tidak mendapat label baik. Dalam perumpamaan orang Samaria yang murah hati, pembaca kisah ini diperhadapkan dengan tokoh ahli Taurat yang hendak menjebak Yesus. Ahli Taurat ini pura-pura tidak tahu “siapakah sesamanya” itu. Jadi pengetahuan akan kitab suci, doktrin yang apik, teologi yang reformed injili sekalipun tidak menjamin seseorang memahami arti “sesama manusia”. Yesus dengan sengaja menyebut tokoh orang Samaria yang di beri label “tidak baik” oleh orang Yahudi, tetapi justru label itu tidak mempengaruhi orang Samaria itu untuk menyatakan kasih kepada saudara yang dirampok dan dianiaya itu.
Bagaimana sikap orang Kristen menanggapi isu LGBTQ dan penyimpangan lain yang tidak punya “label baik” menurut standar kitab suci? Apakah orang Kristen akan bersikap seperti Imam atau orang Lewi yang acuh? Karena berpikir “cukuplah relasi dengan TUHAN itu, ngga perlu urus lainnya.” Sesungguhnya sikap acuh demikian menandakan bahwa kita belum mengalami kuasa Injil yang mendamaikan dan menyelamatkan. Kuasa Injil bukan saja diperuntukkan bagi mereka yang belum percaya dan berdosa, tetapi itu sangat dibutuhkan bagi orang percaya supaya lebih memahami kedalaman kekuatan Allah yang mengubahkan. Jadi panggilan orang percaya bukanlah pemberi label, namun menuntun orang lain kepada relasi yang diperdamaikan dengan Allah dan sesamanya.
“Hal-hal buruk yang adalah kutuk bagi dunia (kelemahan, kekurangan, kehilangan, penolakan) yang diterima dalam iman pada Allah akan berubah menjadi berkat.” (Timothy Keller)
Pertanyaan untuk direnungkan:
1. Apa yang menjadi respons anda selama ini menyaksikan keberadaan mereka yang dianggap sebagai kelompok marginal?
2. Bagaimana komunitas orang percaya membantu kita belajar mengasihi sesama sepenuh hati?
From the publisher's feed