
Sign up to save your podcasts
Or


腓立比書 4:11-13
4:11 我並不是因缺乏說這話、我無論在甚麼景況、都可以知足、這是我已經學會了.
4:12 我知道怎樣處卑賤、也知道怎樣處豐富、或飽足、或飢餓、或有餘、或缺乏、隨事隨在、我都得了秘訣。
4:13 我靠著那加給我力量的、凡事都能作。
你是否玩過水上樂園裡的水滑梯嗎? 玩水滑梯的人通常都會被建議在溜滑的時候保持手部一定的位置和身體的姿勢,對吧? 他的任務只是滑行並順著水流滑下去,無論滑道的曲線是什麼形狀。當然,在這個姿勢下,玩家不會與水流對抗,而是順應水流,並繼續“前進” 滑行。我們的生活也是如此;有時我們太努力地與生活的趨勢對抗,以至於精疲力竭,而事實上上帝要我們將控制權交給祂,並享受其中的滿足。
腓立比書是保羅在羅馬監獄中寫的 (約主曆61年)。腓立比會眾是以對保羅傳道事工的熱愛和忠誠的支持而聞名,包括透過以巴弗提送達的援助。在第4章中,保羅對他們的支持表示感謝(第10節),但他強調,他的喜樂不僅是因為會眾給予的關注,也因為他學會了在任何情況下過著知足生活的秘訣(第11節),就是知道怎樣處卑賤也知道怎樣處豐富(第12節)。保羅衡量幸福的標準,不是金錢、食物或舒適,而是與基督的親密關係。他在第13節說:“我靠著那加給我力量的、凡事都能作.” 這意味著向上帝降服不是被動的,而是一種完全相信上帝來掌控一切的態度,此內心保持平靜, 無論在任何情況下都能充滿平安。他生活的焦點不在於他擁有什麼,而是在於完全掌管他生命的基督。因此,保羅對生活的滿足感是來自於對上帝的完全降服。
在我們的人生旅途中,當事情順利時,我們經常會感到心裡平安,但當需求沒有得到滿足或計劃不順利時,我們就開始感到焦慮。降服於上帝意味著相信上帝知道什麼是最好的,那就是我們內心得滿足之關鍵,即使我們不理解祂的道路。當我們的心降服時,我們衡量喜樂的標準不再是我們擁有什麼,而是誰與我們同在。滿足並非源自於所有問題得到解決,而是源自於知道上帝始終與我們同在。正如一位老水手曾經對他的徒弟說過的話: “航行的秘訣不在於掌握風向,而是在於利用風力來調整船帆。” 我們的生活也是如此。我們無法控制所有的情況,但我們可以調整我們的心去遵循上帝的旨意。
“真正的滿足是源自於當心靈能平靜地降服于祂的時候。”
作 者:椰嘉達基督徒會堂寶麗斯佈道所 - 鄭艶輝傳道
翻譯員:張賽瓊
默想的問題:
1. 在哪些方面,我仍然試圖掌控自己的生活,以至於難以完全降服于上帝?
2. 我該如何操練自己的心,即使在環境不如心意的情況下,也能因上帝的同在而感到滿足?
Nats Alkitab : Filipi 4:11-13
Penulis : G.I. Retno Wulaningsih
Pernahkah Saudara bermain water slide di sebuah Waterpark? Seseorang yang bermain water slide biasanya dianjurkan untuk meluncur dengan posisi tangan dan tubuh tertentu bukan? Tugasnya hanya meluncur dan ikuti aliran air yang membawanya turun mengikuti bentuk seluncuran tersebut, seperti apa pun bentuk lekukannya. Tentu saja dalam posisi ini pemain tidak berjuang melawan arus, ia pasrah pada aliran air, dan terus “bergerak maju” mengikuti alurnya. Demikian juga hidup kita—kadang kita terlalu berusaha melawan arus hidup hingga kelelahan, padahal Tuhan ingin kita menyerahkan kendali kepada-Nya dan menikmati kepuasan di dalamnya.
Surat Filipi ditulis Paulus dari penjara di Roma (sekitar tahun 61 M). Jemaat Filipi dikenal penuh kasih dan setia dalam mendukung pelayanan Paulus, termasuk mengirim bantuan melalui Epafroditus. Di pasal 4, Paulus menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan mereka(ay.10), namun ia menegaskan bahwa rasa sukacitanya bukan hanya karena perhatian jemaat yang diberikan, tetapi karena ia telah belajar rahasia hidup berkecukupan dalam segala keadaan (ay.11)—baik saat kekurangan maupun kelimpahan (ay.12). Paulus tidak mengukur kebahagiaannya dari uang, makanan, atau kenyamanan, tetapi dari hubungan eratnya dengan Kristus. Ia berkata di ayat 13, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Artinya, keberserahan kepada Tuhan bukanlah pasif, melainkan sikap percaya penuh bahwa Tuhan memegang kendali, sehingga hati tetap tenang – ada damai sejahtera yang penuh dalam keadaan apa pun. Fokus hidupnya bukan apa yang ada pada dirinya, melainkan pada Kristus yang berkuasa penuh atas hidupnya. Jadi kepuasan hidup yang Paulus miliki lahir dari keberserahan total kepada Tuhan.
Dalam perjalanan hidup kita, kita sering merasa damai saat keadaan baik, tetapi mulai gelisah ketika kebutuhan belum terpenuhi atau rencana tidak berjalan. Berserah pada Tuhan berarti percaya bahwa Tuhan tahu yang terbaik, meski kita tidak mengerti jalan-Nya dan itulah kunci kepuasan batin kita. Ketika hati berserah, kita tidak lagi mengukur sukacita dari apa yang kita miliki, tetapi dari siapa yang menyertai kita. Kepuasan akan hadir bukan karena semua masalah selesai, melainkan karena kita tahu Tuhan selalu ada beserta. Seperti seorang pelaut tua pernah berkata kepada muridnya, “Rahasia berlayar bukan mengendalikan arah angin, tapi mengatur layar agar memanfaatkan angin yang ada.” Hidup kita pun demikian—kita tidak bisa mengatur semua keadaan, tetapi kita bisa menata hati untuk mengikuti kehendak Tuhan.
“Kepuasan sejati lahir saat hati belajar diam dalam keberserahan kepada-Nya.”
Pertanyaan Untuk Direnungkan:
1. Dalam hal apa saya masih berusaha mengendalikan hidup sendiri sehingga sulit berserah penuh kepada Tuhan?
2. Bagaimana saya bisa melatih hati untuk puas dengan kehadiran Tuhan, meskipun keadaan belum sesuai harapan?
約翰福音 4 : 3-28
4:3 他就離了猶太、又往加利利去.
4:4 必須經過撒瑪利亞。
4:5 於是到了撒瑪利亞的一座城、名叫敘加、靠近雅各給他兒子約瑟的那塊地。
4:6 在那裡有雅各井。耶穌因走路困乏、就坐在井旁.那時約有午正。
4:7 有一個撒瑪利亞的婦人來打水.耶穌對他說、請你給我水喝。
4:8 那時門徒進城買食物去了。
4:9 撒瑪利亞的婦人對他說, 你既是猶太人, 怎麼向我一個撒瑪利亞婦人要水喝呢。原來猶太人和撒瑪利亞人沒有來往。
4:10 耶穌回答說、你若知道 神的恩賜、和對你說給我水喝的是誰、你必早求他、他也必早給了你活水。
4:11 婦人說、先生沒有打水的器具、井又深、你從那裡得活水呢。
4:12 我們的祖宗雅各, 將這井留給我們. 他自己和兒子並牲畜, 也都喝這井裡的水、難道你比他還大麼。
4:13 耶穌回答說、凡喝這水的、還要再渴.
4:14 人若喝我所賜的水就永遠不渴. 我所賜的水, 要在他裡頭成為泉源, 直湧到永生.
4:15 婦人說、先生、請把這水賜給我、叫我不渴、也不用來這麼遠打水。
4:16 耶穌說、你去叫你丈夫也到這裡來。
4:17 婦人說、我沒有丈夫。耶穌說、你說沒有丈夫、是不錯的.
4:18 你已經有五個丈夫.你現在有的、並不是你的丈夫.你這話是真的.
4:19 婦人說、先生、我看出你是先知。
4:20 我們的祖宗在這山上禮拜.你們倒說、應當禮拜的地方是在耶路撒冷。
4:21 耶穌說, 婦人, 你當信我, 時候將到, 你們拜父, 也不在這山上, 也不在耶路撒冷.
4:22 你們所拜的, 你們不知道. 我們所拜的, 我們知道. 因為救恩是從猶太人出來的。
4:23 時候將到, 如今就是了, 那真正拜父的, 要用心靈和誠實拜他,因為父要這樣的人拜祂.
4:24 神是個靈所以拜祂的、必須用心靈和誠實拜祂。
4:25 婦人說, 我知道彌賽亞, (就是那稱為基督的) 要來.祂來了, 必將一切的事都告訴我們。
4:26 耶穌說、這和你說話的就是祂。
4:27 當下門徒回來、就希奇耶穌和一個婦人說話.只是沒有人說、祢是要甚麼.或說、祢為甚麼和祂說話。
4:28 那婦人就留下水罐子、往城裡去、對眾人說
在電影《少年派(Pi)的奇幻漂流》中,派所乘坐的船沉沒後,他與一隻孟加拉虎一起被困在一艘救生艇, 漂流在茫茫的大海中。他拼命在掙扎求生存。在這種情況下, 他真正需要的就是飲用水。即使他周圍有無限多的水,但那鹹水不可能解渴,更別說是能滿足他了。他需要的是礦泉水或“真正的“飲用水”來解渴。同樣的, 我們人類就像世界 “海洋”中的人一樣;許多人感到口渴,而追求工作的滿足感,愛情;人際關係或娛樂, 但仍舊感到乾涸、口渴和不能滿足。
約翰福音第 4 章述說了耶穌在雅各井邊與一位撒瑪利亞婦女的談話。這一事件發生在敘加,這是一座位于撒馬利亞地區的城市根據歷史與猶太人的關係並不好。但這段經文說耶穌必須經過那個地區 (第4節); 這是上帝有意對撒馬利亞所設定的一個大計劃。這個婦人在午正 (一個不尋常的時間) 來打水,為什麼? 這可能是因為她不想見其他人. 她的生活充滿了痛苦和羞恥;是因她曾結過五次婚,現在卻和一個不是她丈夫的男人同居。在與撒瑪利亞婦女的這次相遇中,耶穌首先開口要求給祂水喝,然後就向她提起有關 “活水”的事。耶穌說: “人若喝這水, 還要再渴; 人若喝我所賜的水, 就永遠不渴.” (約翰福音4:13-14); 這是一個聖靈充滿和心靈滿足的新生命的象徵。是從這個世界無法得到的, 無論是藉著人際關係, 社會地位或者是物質資源。正如布萊茲·帕斯卡(Blaise Pascal) 在《思想錄》中寫道: “每個人心中都有一處空間, 唯有上帝才能填滿.”耶穌在十字架上所表達的愛, 不僅能夠打破罪惡的鎖鏈, 赦免罪孽, 恢復心靈, 賜予永恆的盼望, 而且只有祂的同在才能填補人類內心的空虛,給予人類生命真正的滿足和意義。
當許多像這位撒瑪利亞婦女一樣的人試圖用人類的愛、成就、認可、財產或人際關係來填補生活的空虛並滿足它。一切都像井水一樣:必須一次又一次地汲取,但最終還是會感到口渴。只有耶穌才能賜予真正的生命和滿足的“活水”。祂邀請我們來就近祂,不僅是為了祈求祝福, 而是為了與祂建立親密的關係。每天透過祂的話語和禱告汲取祂的活水時,我們會找著任何環境或他人都無法奪走的滿足。
“當我們來到生命之水的源泉耶穌時, 才能得到真正的滿足。
作 者:椰嘉達基督徒會堂寶麗斯佈道所 - 鄭艶輝傳道
翻譯員:張賽瓊
默想的問題:
1. 哪些習慣或心態阻礙了我能充分享受從耶穌而來的活水?
2. 怎樣才能使我與上帝的相遇,成為我每日生活中最主要的滿足之源泉?
Nats Alkitab : Yohanes 4:3-28
Penulis : G.I. Retno Wulaningsih
Dalam film Life of Pi, Pi terdampar di lautan luas bersama seekor harimau Bengal di sekoci setelah kapal yang ditumpanginya tenggelam. Dia berjuang untuk bertahan hidup. Salah satu yang sangat dia butuhkan dalam situasi itu tentu saja air minum. Meski dia dikelilingi air yang tak terhingga, namun air asin itu tidak akan pernah bisa menghilangkan dahaganya, apalagi memuaskannya. Yang dia butuhkah adalah air mineral atau air minum yang ‘sesungguhnya’ untuk memuaskan dahaganya. Begitu juga dengan kita manusia yang bagaikan dalam “lautan” dunia — banyak yang kehausan, dan mengejar kepuasan dari pekerjaan, cinta – relasi, atau hiburan, tetapi tetap merasa kering, dahaga dan tidak puas.
Yohanes 4 menceritakan percakapan Yesus dengan seorang perempuan Samaria di sumur Yakub. Peristiwa ini terjadi di Sikhar, sebuah kota di wilayah Samaria yang secara historis memiliki hubungan yang kurang baik dengan orang Yahudi. Tapi dikatakan di bagian perikop ini bahwa Yesus harus melewati daerah itu (ay.4) – ada kesengajaan, sebuah rencana besar Tuhan bagi Samaria. Perempuan ini datang menimba air pada siang hari (jam yang tidak lazim), mengapa? Kemungkinan karena ingin menghindari berjumpa dengan orang lain. Hidupnya penuh luka dan rasa malu — dia sudah lima kali menikah dan kini tinggal dengan seorang laki-laki yang bukan suaminya. Dalam perjumaan dengan perempuan Samaria ini, Yesus memulai percakapan dengan meminta air, tetapi kemudian menawarkan “air hidup.” Yesus berkata: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi; tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya” (Yohanes 4:13–14) sebuah simbol kehidupan baru yang dipenuhi oleh Roh Kudus dan kepuasan rohani yang tidak dapat diberikan oleh dunia ini. Baik melalui hubungan manusia, status sosial, atau sumber materi. Seperti tulisan Blaise Pascal (dalam Pensées) berbunyi “Di dalam setiap hati manusia ada satu ruang kosong yang tidak akan bisa diisi dengan apa pun kecuali oleh Tuhan.” Cinta Yesus yang diungkapkan dalam karya salib, tidak saja sanggup mematahkan belenggu dosa, mengampuni dosa, memulihkan hati, dan memberi pengharapan kekal, namun kehadiran-Nya – lah satu-satunya yang dapat mengisi ruang kosong di hati manusia dan memberi kepuasan sejati serta arti dalam hidupnya.
Banyak orang seperti perempuan Samaria ini yang mencoba mengisi kekosongan hidup dan memuaskannya dengan cinta manusia, prestasi, pengakuan orang, harta, atau relasi. Semua itu seperti air sumur: harus diambil lagi dan lagi, dan akhirnya tetap membuat haus. Hanya Yesus yang bisa memberikan “air hidup” yang akan memberi hidup dan kepuasan sejati. Dia mengundang kita untuk datang kepada-Nya, bukan hanya untuk meminta berkat, tetapi untuk hidup dalam relasi yang intim dengan Dia. Saat kita minum dari-Nya setiap hari melalui firman dan doa, kita akan menemukan kepuasan yang tidak dapat diambil oleh keadaan atau orang lain.
“Kepuasan sejati dimiliki ketika kita datang kepada Yesus Sang sumber air hidup.”
Pertanyaan Untuk Direnungkan:
1. Apakah kebiasaan atau pola pikir yang menghalangi saya untuk menikmati air hidup dari Yesus sepenuhnya?
2. Bagaimana saya bisa menjadikan perjumpaan dengan Tuhan sebagai sumber utama kepuasan hidup saya setiap hari?
詩篇 131:2
131:2 我的心平穩安靜、好像斷過奶的孩子在他母親的懷中.我的心在我裡面真像斷過奶的孩子。
想像一下,有人每隔幾分鐘就會查看一次社交媒體,擔心錯過最新趨勢、熱門話題或視頻群聊的邀請。我們將這種現象稱為錯失恐懼症 (FOMO=Fear of Missing Out). 我們覺得必須時刻保持最新狀態,處於事件的圈子中,害怕如果跟不上,就會被視為不合時宜.但現實往往是,我們越是追逐這一切,內心就越是焦躁和疲憊。
詩篇131篇是一篇很短的朝聖詩 (上行之詩),只有三節,但是充滿意義。大衛的這首詩描述了完全信靠上帝所帶來的謙卑的心和靈裡的寧靜。在大衛的時代, 生活充滿了不確定性, 政治, 戰爭和陰謀。但大衛學會了不讓野心, 嫉妒或憂慮控制他的心。他並不急於追求某種東西來獲得認可或證明自己,而是在上帝的同在中找到滿足。大衛在詩篇131:2中說道: “我的心平穩安靜、好像斷過奶的孩子在他母親的懷中. 我的心在我裡面真像斷過奶的孩子”。描述一個斷奶的孩子他可以滿足地享受與母親的親密接觸, 一幅親密關係的描繪, 展現出一種安全感、滿足感, 以及對重大或失控的事情不會感到焦慮.大衛教導說,當我們不再追逐所有我們想要緊握的東西,並學會只對上帝感到滿足時, 真正的平安就會到來。
在這個充滿資訊的數字時代, 人們很容易感到落後; 即是在職業, 交往的朋友, 生活方式的趨勢,甚至事奉。錯失恐懼症 (FOMO)讓我們想要隨時隨處都在場、凡事都做到,以至於我們的心永不停歇. 詩篇131篇邀請我們放慢腳步, 將心思集中在上帝身上。今天, 讓我們暫停片刻。關掉通告, 放下手機, 安靜地坐在上帝面前。學會說: “主啊,有你就足夠了。” 當我們的心安靜在祂面前時, 我們會發現其實我們沒有錯過任何東西;反而我們是在最正確的位置, 在祂的面前。
“最大的恐懼不是錯過這世界的時機,
而是錯過認識唯一永不止息的滿足源泉耶穌之機會。”
作 者:椰嘉達基督徒會堂寶麗斯佈道所 - 鄭艶輝傳道
翻譯員: 張賽瓊
默想的問題:
1. 有哪些事情或時刻讓我害怕錯過,讓我的心焦躁不安?
2. 我該如何切實地抽出時間,讓自己擺脫世俗的干擾,安靜地坐在上帝面前?
Nats Alkitab : Mazmur 131:2
Penulis : G.I. Retno Wulaningsih
Bayangkan seseorang yang terus memeriksa media sosialnya setiap beberapa menit, takut ketinggalan tren terbaru, berita terhangat, atau undangan untuk hangout. Fenomena ini kita kenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out). Kita merasa harus selalu up to date, ada di lingkaran peristiwa, takut jika tertinggal, kita akan dianggap tidak relevan. Tetapi sering kali kenyataannya, semakin kita mengejar semuanya, semakin hati kita resah dan lelah.
Mazmur 131 adalah mazmur ziarah (Song of Ascents) yang sangat singkat, hanya tiga ayat, namun sarat makna. Mazmur Daud ini memotret kerendahan hati dan ketenangan jiwa yang lahir dari kepercayaan penuh kepada Tuhan. Pada zaman Daud, kehidupan penuh dengan ketidakpastian, politik, peperangan, dan intrik. Namun Daud belajar untuk tidak membiarkan ambisi, iri, atau kekhawatiran menguasai hatinya. Ia tidak terburu-buru mengejar sesuatu demi pengakuan atau membuktikan diri, melainkan menemukan kepuasan dalam kehadiran Tuhan. Daud berkata dalam Mazmur 131:2: “Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.” Gambaran seorang anak yang disapih menunjukkan kepuasan karena ketenangan menikmati kedekatan dengan sang ibu, sebuah gambaran keintiman yang menunjukkan rasa aman, puas, dan tidak gelisah terhadap hal-hal besar atau di luar kendali. Daud mengajarkan bahwa kedamaian sejati datang ketika kita berhenti mengejar semua hal yang ingin kita genggam, dan belajar puas hanya dengan Tuhan.
Di era digital yang penuh informasi ini, kita mudah merasa tertinggal — dari karier, pencapaian teman, tren gaya hidup, bahkan pelayanan. FOMO membuat kita ingin selalu hadir di semua tempat dan melakukan semua hal, hingga hati kita tidak pernah beristirahat. Mazmur 131 mengajak kita untuk slow down dan memusatkan hati kepada Tuhan. Hari ini, berhentilah sejenak. Matikan notifikasi, letakkan ponsel, dan duduk tenang di hadapan Tuhan. Belajarlah berkata, “Tuhan, Engkau cukup.” Saat hati kita diam di hadapan-Nya, kita akan menemukan bahwa kita tidak ketinggalan apa-apa — justru kita sedang berada di tempat yang paling tepat, di hadapan-Nya.
“Ketakutan terbesar bukanlah ketinggalan momen dunia, tetapi kehilangan kesempatan untuk mengenal Yesus — satu-satunya sumber kepuasan yang tidak pernah habis.”
Pertanyaan Untuk Direnungkan:
1. Apa saja hal atau momen yang membuat saya takut tertinggal sehingga hati saya gelisah?
2. Bagaimana saya bisa secara praktis meluangkan waktu untuk “disapih” dari distraksi dunia dan duduk tenang di hadapan Tuhan?
約翰福音 8:30-36
8:30 耶穌說這話的時候、就有許多人信他。
8:31 耶穌對信他的猶太人說、你們若常常遵守我的道、就真是我的門徒。
8:32 你們必曉得真理、真理必叫你們得以自由。
8:33 他們回答說、我們是亞伯拉罕的後裔、從來沒有作過誰的奴僕.你怎麼說、你們必得自由呢。
8:34 耶穌回答說、我實實在在的告訴你們.所有犯罪的、就是罪的奴僕。
8:35 奴僕不能永遠住在家裡、兒子是永遠住在家裡。
8:36 所以天父的兒子若叫你們自由、你們就真自由了。
有一次,一位被長期監禁的囚犯到了他被釋放的時間。他邁開腳步走出高高的牢門, 可以自由行動了, 但奇怪的是, 他卻呆滯不知道自己該往何處去。他的身體雖自由了,但他的思想仍然被恐懼, 內疚和舊生活的習慣所禁錮。真正的自由不僅是打開大門而已, 但也是引導走向真正滿足的生活, 那就是心靈的恢復和人生方向的指引。
耶穌在與那些相信祂但仍持有律法思想的猶太人對話時說了這番話。因為從肉身來說,他們是亞伯拉罕的後裔,所以他們覺得已經“自由”了 (第33節)。然而, 耶穌強調,真正的自由與社會地位、政治或血統後裔無關,而是從罪惡的奴僕中得釋放並恢復與天父的關係。只有耶穌基督才能徹底將我們從罪的奴僕中得釋放; 釋放我們的心靈, 思想和靈魂,這樣我們才能在與上帝的關係中經歷到真正的滿足 (第36節)。只有在耶穌裡才有真正的自由。不是世人所定義的自由; 即是可隨意做任何事的自由; 而是可以從靈魂敗壞和沉淪的罪惡捆綁中得釋放。耶穌裡的自由也恢復了身份,消除了罪惡感, 並引導我們的生活朝向上帝的目標旨意。這是一種令人滿足的自由,因為我們不再受恐懼或欲望的控制,而是被上帝的愛和完美的平安所掌理。
許多人覺得“自由”,但他的生活仍舊空虛。他們從一種習慣換成別種不良的習慣,不斷取得各樣成就,卻依然得不到滿足。真正的自由不是關乎“不存在規定”的問題, 而是關乎 “生活在真理中” 所帶來真正平安與滿足的問題。今天, 讓我們省察一下自己的內心。我們真的自由了嗎? 還是我們只是表面上感到自由, 卻內裡仍然被憤怒, 沉迷, 內疚或某些罪惡所束縛? 來到基督面前吧, 讓祂不僅僅解開鎖鏈, 但也恢復心靈, 讓我們能享受到滿足的喜樂。
“唯有透過基督的自由生活才能找到真正的滿足。”
作 者:椰嘉達基督徒會堂寶麗斯佈道所 - 鄭艶輝傳道
翻譯員:張賽瓊
默想的問題:
1. 雖然我表面上看似自由,但究竟有哪些 “鎖鏈” 仍舊暗暗地束縛著我的內心?
2. 我怎樣才能更好地享受耶穌賜予我的屬靈自由,使我的生命在祂裡面充滿滿足?
Nats Alkitab : Yohanes 8:30-36
Penulis : G.I. Retno Wulaningsih
Satu kali seorang narapidana yang telah lama dipenjara tiba waktunya dibebaskan. Ia melangkahkan kaki keluar gerbang penjara yang tinggi itu dan bebas untuk melangkahkan kakinya, tetapi anehnya, ia terdiam tidak tahu harus ke mana. Fisiknya bebas, tapi pikirannya masih terpenjara oleh rasa takut, rasa bersalah, dan pola hidup kebiasaan lamanya. Kemerdekaan sejati tidak cukup hanya membuka pintu gerbang, tetapi juga menuntun pada kepuasan hidup sejati yaitu pemulihan hati dan memberi arah hidup.
Yesus mengucapkan perkataan ini saat berdialog dengan orang Yahudi yang percaya kepada-Nya tetapi masih berpikir secara legalistik. Mereka merasa sudah “merdeka” karena secara fisik mereka keturunan Abraham (ay.33). Namun Yesus menegaskan bahwa kemerdekaan sejati bukanlah soal status sosial, politik, atau karena garis keturunan, melainkan pembebasan dari perbudakan dosa dan dipulihkannya relasi dengan Allah Bapa. Hanya Yesus Kristus yang dapat membebaskan secara tuntas perbudakan dosa itu — membebaskan hati, pikiran, dan jiwa, sehingga seseorang bisa mengalami kepuasan sejati dalam hubungan dengan Allah (ay.36). Hanya di dalam Yesus kemerdekaan yang sejati itu ada. Bukan kemerdekaan seperti definisi dunia — bebas melakukan apa saja — tetapi kebebasan dari belenggu dosa yang merusak dan mengosongkan jiwa. Kemerdekaan di dalam Yesus juga memulihkan identitas, menghapus rasa bersalah, dan mengarahkan hidup kita kepada tujuan Allah. Inilah kemerdekaan yang memuaskan, karena kita tidak lagi dikuasai oleh rasa takut atau hawa nafsu, tetapi dikuasai oleh kasih Allah dan damai sejahtera yang sempurna.
Banyak orang merasa “bebas” tetapi hidupnya tetap kosong. Mereka berpindah dari satu kebiasaan ke kebiasaan lain yang merusak, dari satu pencapaian ke pencapaian berikutnya, namun tetap tidak puas. Kemerdekaan sejati bukan soal “tidak ada aturan,” tetapi soal “hidup di dalam kebenaran” yang membawa damai dan kepuasan sejati. Hari ini, mari periksa hati kita. Apakah kita benar-benar merdeka, atau hanya merasa merdeka secara lahiriah tetapi batin kita masih terikat oleh amarah, kecanduan, rasa bersalah atau dosa tertentu? Datanglah kepada Kristus, izinkan Dia bukan hanya membuka rantai, tetapi juga memulihkan hati, sehingga kita bisa menikmati kepuasan yang penuh sukacita.
“Kepuasan sejati hanya ditemukan melalui kemerdekaan hidup oleh Kristus.”
Pertanyaan Untuk Direnungkan:
1. Apa “rantai” yang diam-diam masih mengikat hati saya meskipun secara lahiriah saya tampak bebas?
2. Bagaimana saya dapat lebih menikmati kemerdekaan rohani yang Yesus sudah berikan, sehingga hidup saya penuh kepuasan di dalam Dia?
詩篇 63 : 3-4
63:3 因祢的慈愛比生命更好、我的嘴唇要頌讚祢。
63:4 我還活的時候要這樣稱頌祢.我要奉祢的名舉手。
一位從長期戰爭中歸來的士兵講述了他之所以能夠生存下來,不僅因為有食物供應,還因為他每週都會收到妻子充滿愛和盼望的來信。那些信比軍糧給予了更大的力量和堅持 (士兵的愛情短篇小說 : 一個士兵的奮鬥故事) 。上帝的同在和愛也是如此, 超越了給予肉體上的豐足的力量和滿足。
這就是詩篇63篇的作者大衛在猶大曠野 (第1節) 時的經歷, 很可能當時他正在逃避他兒子押沙龍的叛變 (撒母耳記下15章至18章)。大衛身體疲憊、饑渴難耐,身處險境。然而,在這肉體空虛之中,他找到了堅定不移的屬靈滿足。第4-5節說:“我還活的時候要這樣稱頌你.我要奉你的名舉手。…我的心就像飽足了骨髓肥油.我也要以歡樂的嘴唇讚美你。” 大衛用筵席的言語來描述屬靈上的滿足。雖然他的身體缺乏食物和水,但他的心靈卻充滿了上帝的慈愛。令人滿足的不是環境,而是上帝的同在。大衛教導說,真正的滿足不是來自於情況的改變,而是來自於我們內心的改變。當我們的心充滿上帝時,即使是曠野也能成為屬靈宴席的地方。充滿愛與能力的上帝是同在、相伴的神。上帝能夠用新的力量滿足大衛的渴求並帶來盼望。大衛以上帝為主要的滿足之源,在讚美和敬拜中享受祂的同在。
我們生活在摩登的“曠野”之中; 生活充滿壓力,無論是來自工作、家庭問題、孤獨、疾病還是對未來的擔憂。自然地,我們會試圖以娛樂、成就、財富或人際關係的形式尋找“水”和“食物”來填補所有這些需求。但就像海市蜃樓一樣,所有的這一切都只能給人帶來短暫的滿足,甚至只是一種幻覺,卻讓我們比之前更加飢渴。讓我們花時間讚美上帝,舉起雙手敬拜祂吧 !不是因為事情進展順利,而是因為祂在任何情況下都值得讚美。請相信當我們將心思集中在上帝身上讚美與敬拜時,我們將經歷不依賴於外界情況的心靈滿足。
“真正的滿足不是來自物質的富足,而是來自上帝的同在。”
作 者:椰嘉達基督徒會堂寶麗斯佈道所 - 鄭艶輝傳道
翻譯員:張賽瓊
默想的問題:
1. 當我讚美和敬拜上帝時,我是否真的感到滿足?還是這只是日常敬拜的一部分?是什麼導致了這種情況?
2. 本週我可以採取哪些措施, 在個人讚美和敬拜的時間裡更深刻地享受上帝的同在?
Nats Alkitab : Filipi 4:10-13
Penulis : G.I. Sara Kurnia Kristi
Seorang petani tua tinggal di sebuah desa kecil dengan ladang sederhana dan rumah yang sangat bersahaja. Suatu hari, seorang pengusaha kota datang berkunjung dan berkata, “Pak Tua, kalau Anda pindah ke kota dan bekerja dengan saya, Anda bisa punya lebih banyak uang, rumah besar, bahkan mobil mewah.” Si petani hanya tersenyum dan menjawab, “Tapi saya sudah punya semua yang saya butuhkan: keluarga yang saya cintai, makanan yang cukup, dan hati yang tenang.” Di tengah dunia yang menilai identitas dari kepemilikan dan pencapaian, kita mudah sekali merasa kurang. Media sosial, budaya konsumerisme, dan tekanan hidup membuat kita percaya bahwa kita belum cukup—belum sukses, belum berharga. Padahal, rasa cukup bukan soal apa yang kita punya, tetapi kepada siapa hati kita bergantung. Ketika Kristus menjadi pusat hidup, kita bisa berkata, “Aku cukup, karena aku milik-Nya.”
Dalam nas hari ini Rasul Paulus menulis dari dalam penjara, namun kata-katanya justru penuh damai. Ia berkata, “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” Ini bukan sekadar sikap pasrah, tetapi pernyataan iman. Paulus mengalami kelimpahan dan kekurangan, tetapi dalam semua itu, ia menemukan satu hal yang tetap: Kristus. Ayat 13 yang terkenal, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku,” bukan sekadar tentang kekuatan menaklukkan tantangan, tetapi tentang kemampuan untuk tetap teguh dan bersyukur dalam segala musim kehidupan—karena identitas dan pengharapannya berakar di dalam Kristus.
Rasa cukup yang sejati lahir bukan dari apa yang dimiliki, melainkan dari siapa yang dimiliki. Ketika kita tahu bahwa kita adalah anak Allah, dikasihi tanpa syarat, disertai dalam setiap langkah, kita belajar berkata, “Aku tidak butuh pengakuan dunia untuk merasa berharga.” Rasa cukup adalah bukti kedewasaan iman. Itu membebaskan kita dari iri hati, ambisi kosong, dan rasa cemas. Di dalam Kristus, kita menemukan damai yang melampaui pengertian—dan dari sanalah rasa cukup mengalir. Rasa cukup bukan berasal dari kepemilikan, tetapi dari pengenalan akan Kristus yang menjadi sumber kekuatan dan pengharapan kita. Di dalam Dia, kita tahu siapa kita dan untuk siapa kita hidup. Itulah identitas sejati yang tidak tergoyahkan oleh keadaan.
"Belajar mencukupkan diri adalah bentuk tertinggi dari kepercayaan kepada penyertaan Tuhan."
Pertanyaan Untuk Direnungkan
1. Apa yang selama ini membuatmu merasa belum cukup—dan apakah hal itu benar-benar menentukan nilai dirimu?
2. Bagaimana kamu bisa lebih bersandar kepada Kristus agar mengalami rasa cukup yang sejati dalam hidupmu?
From the publisher's feed