
Sign up to save your podcasts
Or


耶利米書 29:11
29:11 耶和華說、我知道我向你們所懷的意念、是賜平安的意念、不是降災禍的意念、要叫你們末後有指望。
有個小孩曾經在一個人山人海的市場裡走失了。他左顧右盼,希望能在人群中找到熟悉的面孔。然而,他卻彷彿感到自己孤身一人,淚水頓時不禁奪眶而出。突然,他看到一隻熟悉的手伸向他,原來那就是他父親的手。他迅速地握住它, 再次感到安全感。握手不僅僅給予幫助; 還是自己並不孤單的保證, 他是有所屬的, 必定會有人引領他回家的。這也是我們生活的寫照。當我們在困惑、失敗抑或自我探索的過程中,常會感到迷茫。但上帝, 我們的天父,總是伸出祂的手。問題是: 我們是否也願意伸出我們的手握住祂的呢? 讓我們透過今天的靈修經文汲取新知,那就是只有我們願意伸出手來握住上帝的手時,我們才能找到我們真正的身份。
握住上帝的手,不只是在困境中時獲得幫助,更是將我們的整個身份和生活方向全然交托於祂。今天的靈修經文不僅僅有關於美好的應許,更是上帝對祂子民愛的宣告, 即使他們身處被擄流亡。上帝要他們知道, 即使他們的狀況並不理想, 祂仍賜平安的意念。同樣, 我們在我們的生活中有時會感到離“應當的位置”還很遙遠, 或許是因為失敗, 過去的創傷, 或是尋求生活意義。但我們的身份並非由環境塑造,而是由我們在基督裡的所是塑造的。當我們握住上帝的手時, 我們其實選擇了信靠祂的意念。我們將個人的野心和恐懼交托於祂,讓祂來引領我們。
耶穌在約翰福音第10章28節中親自說過,沒有人能從祂手裡把我們奪去。這表明上帝對我們生命的掌握是多麼緊密和肯定。但若想要體驗到這一點,首先我們必須藉著信心、信靠和謙卑,願意先放下主權,並握住祂的手。真正的身份並非建立於“找到自我”之時,而是建立於我們認識到自己在基督裡的所是,即蒙愛、蒙赦免、被呼召去完成祂旨意的兒女。在這個充滿身份困惑的世界裡, 握住上帝的手, 就是找到我們真正身份的開始。當我們信靠祂的意念時,我們不再被世界塑造,而是由上帝為我們的生活所安排的愛和永恆目標所塑造。
“上帝不只是為你指明道路,祂還會握著你的手,與你同行。”
作 者:椰嘉達基督徒會堂萬登岸堂會 – 古撒拉傳道
翻譯員:蔡立基
默想的問題:
1. 你在生活的哪些方面感到迷茫,並需要再次握住上帝的手?
2. 你的身份是基於基督,抑或會改變的事物,例如:成就、地位還是他人的意見?
Nats Alkitab : Yeremia 29:11
Penulis : G.I. Sara Kurnia Kristi
Seorang anak kecil pernah tersesat di tengah keramaian pasar. Ia menoleh ke kanan dan kiri, mencari wajah yang dikenalnya. Matanya mulai berkaca-kaca saat ia menyadari dirinya sendirian. Namun, tiba-tiba ia melihat sebuah tangan terulur di hadapannya itu tangan ayahnya. Dengan cepat ia meraihnya dan merasa aman kembali. Pegangan tangan itu bukan sekadar bantuan; itu adalah jaminan bahwa ia tidak sendirian, bahwa ia dimiliki, dan bahwa ada seseorang yang akan membimbingnya pulang. Begitulah hidup kita. Di tengah kebingungan, kegagalan, atau pencarian jati diri, kita sering merasa tersesat. Tapi Tuhan, Bapa kita, selalu mengulurkan tangan-Nya. Pertanyaannya adalah: apakah kita mau meraihnya? Dalam perenungan hari ini, mari kita belajar bahwa identitas kita yang sejati hanya ditemukan saat kita memilih untuk meraih tangan Tuhan.
Meraih tangan Tuhan bukan hanya tentang menerima pertolongan dalam keadaan sulit, tetapi juga tentang menyerahkan seluruh identitas dan arah hidup kita kepada-Nya. Nas hari ini bukan sekadar janji indah; ini adalah deklarasi kasih Allah kepada umat-Nya, bahkan ketika mereka berada dalam pembuangan. Tuhan ingin mereka tahu: meski kondisi mereka tidak ideal, Dia masih punya rancangan damai sejahtera bagi mereka. Demikian juga dalam hidup kita terkadang kita merasa jauh dari "tempat seharusnya," mungkin karena kegagalan, luka masa lalu, atau pencarian makna hidup. Tetapi identitas kita tidak dibentuk oleh keadaan, melainkan oleh siapa kita di dalam Kristus. Saat kita meraih tangan Tuhan, kita sedang memilih untuk percaya pada rancangan-Nya. Kita menyerahkan ambisi pribadi dan ketakutan kepada Dia, dan membiarkan Dia yang menuntun.
Yesus sendiri berkata dalam Yohanes 10:28 bahwa tidak seorang pun dapat merebut kita dari tangan-Nya. Ini menunjukkan betapa erat dan pasti pegangan Tuhan atas hidup kita. Tapi untuk mengalami itu, kita harus bersedia melepaskan kendali dan meraih tangan-Nya terlebih dahulu—dengan iman, kepercayaan, dan kerendahan hati. Identitas sejati dibangun bukan saat kita "menemukan diri", tapi saat kita mengenali siapa kita di dalam Kristus—anak-anak yang dikasihi, diampuni, dan dipanggil untuk tujuan-Nya. Dalam dunia yang penuh kebingungan identitas, meraih tangan Tuhan adalah awal dari menemukan siapa kita sebenarnya. Saat kita percaya pada rancangan-Nya, kita dibentuk bukan oleh dunia, melainkan oleh kasih dan tujuan kekal yang Tuhan tetapkan atas hidup kita.
"Tuhan tidak hanya menunjukkan jalan—Dia memegang tanganmu dan berjalan bersamamu.”
Pertanyaan Perenungan
1. Di area mana dalam hidupmu kamu merasa tersesat dan perlu meraih tangan Tuhan kembali?
2. Apakah kamu sedang mendasarkan identitasmu pada Kristus, atau pada hal-hal yang bisa berubah seperti pencapaian, status, atau opini orang lain?
羅馬書 6:6-7
6:6 因為知道我們的舊人、和他同釘十字架、使罪身滅絕、叫我們不再作罪的奴僕。
6:7 因為已死的人、是脫離了罪。
19世紀時,美國內戰結束後,奴隸制度也故此被廢除了然而,有一個美國奴隸卻做出了一件不尋常的事。儘管事實上他在律法上已獲得自由,但他每天早上依然來到他前主人家,如往常一樣到田裡工作,等待主人的命令。當人們問他為什麼還依然如故時,他回答說:“我已經習慣做他的奴隸了。” 其實,他已經獲得了自由,更何況他前主人也不再有權勢轄制他的生活,但他卻無法脫離成為他主人奴僕的“習慣”。
今天的靈修經文強調說, 我們的“老我”已與基督同釘十字架了, 得以擊垮罪的權勢. “老我”這一詞不僅指不良行為,更指我們整個與亞當一同被罪綑綁的生命。罪的綑綁因基督在十字架上所成就的工而得以釋放。然而,這並不意味著信徒就永遠不會再犯罪。他們仍會被誘惑而犯罪,但罪不再是他們的主人。換言之,我們不再是罪的奴僕了。第7 節解釋了為什麼我們若是與基督同死,就是“脫離了罪”。保羅形容他如同一個已死了的奴僕, 既死了,他的主人對他就無權勢了。同樣,藉著基督的贖罪之死,我們脫離了罪的轄制, 在上帝面前被稱義,得以自由地為祂而活。這新生命是基督的救贖工作,祂結束了舊有的生活方式,並引導我們以真理和聖潔來事奉上帝。
因此,作為那些已與基督同釘十字架的人,我們需要分辨出我們舊有的生活方式中的哪些習慣、思考模式抑或慾望。然後,刻意地拒絕它,並將其交托於基督。每當誘惑來臨時,我們要切記罪的權勢已被打破了,所以我們可以選擇說 “不”,並選擇真理。當我們跌倒時,我們應當立即悔改並歸向祂,不再讓罪作主作王。如同得了釋放的奴僕,我們不再順服前主人,而是選擇順服那位釋放我們的上帝,使我們的生命成為福音大能的見證。
“凡與基督同釘十字架的人,就不再是罪的奴僕了。”
作 者:椰嘉達基督徒會堂卡蒂尼堂會 – 宋國壽牧師
翻譯員:蔡立基
需要思考的问题:
1. 儘管基督已經釋放了我,哪些舊習慣抑或思考模式仍然讓我猶如“奴隸”一般地生活?
2. 在我面臨最近一次的誘惑中,我選擇屈服於罪惡還是服從基督?
Nats Alkitab : 2 Korintus 5:17
Penulis : G.I. Sara Kurnia Kristi
Bayangkan seseorang yang terus-menerus memikul ransel berat ke mana pun ia pergi. Di dalamnya ada batu-batu besar yang bertuliskan penyesalan, luka lama, dan kesalahan masa lalu. Ia tahu beban itu melelahkan, tetapi entah mengapa ia enggan meletakkannya. “Ini bagian dari diriku,” pikirnya. Namun, yang ia tidak sadari adalah ransel itu membuat langkahnya berat dan pandangannya terbatas. Banyak orang hidup seperti ini terpenjara dalam bayang-bayang masa lalu, entah karena dosa, kegagalan, atau pengalaman pahit. Mereka membentuk identitas dari apa yang telah terjadi, bukan dari siapa mereka di dalam Kristus. Padahal, Tuhan tidak pernah memanggil kita untuk hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Ia memanggil kita untuk berjalan dalam terang identitas baru yang dibentuk bukan oleh luka, tetapi oleh kasih dan karya Kristus.
Rasul Paulus menulis dalam nas hari ini mengatakan bahwa siapa yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru. Ini bukan sekadar perubahan perilaku atau kebiasaan, melainkan perubahan identitas yang radikal. Di luar Kristus, kita mungkin dikenal oleh kegagalan kita: mantan pecandu, anak nakal, korban, atau pelaku. Tetapi di dalam Kristus, identitas lama itu tidak lagi berlaku. Yang lama telah berlalu—artinya, semua catatan masa lalu yang menuduh kita telah dibatalkan oleh darah Kristus di kayu salib. Namun, proses melepaskan masa lalu bukanlah hal yang mudah. Sering kali kita membiarkan dosa, rasa malu, atau trauma mengikat kita, bahkan setelah kita percaya. Kita memerlukan iman untuk benar-benar percaya bahwa Allah tidak melihat kita berdasarkan masa lalu kita, melainkan berdasarkan karya Kristus di dalam kita.
Yesaya 43:18-19 juga berkata, “Janganlah ingat-ingat hal yang dahulu... Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru.” Tuhan ingin kita mengalihkan pandangan dari belakang dan mulai membangun hidup atas dasar identitas baru di dalam-Nya. Ketika kita mengizinkan Kristus mendefinisikan siapa kita, kita dibebaskan dari rasa bersalah, diberi harapan, dan diberi tujuan yang baru. Kita tidak lagi hidup berdasarkan label dunia, tetapi berdasarkan kasih karunia-Nya yang memulihkan. Identitas sejati dibangun bukan dari masa lalu, melainkan dari siapa kita di dalam Kristus. Melepaskan masa lalu bukan berarti melupakan, tetapi memilih untuk tidak lagi membiarkannya mendikte masa depan. Kristus telah memberi identitas baru—ciptaan baru yang bebas, dikasihi, dan memiliki tujuan mulia di dalam-Nya.
"Yesus tidak mati agar kamu tetap terikat oleh masa lalu. Dia mati untuk membebaskanmu darinya."
Pertanyaan Perenungan:
1. Apakah ada bagian dari masa lalu saya yang masih mempengaruhi cara saya melihat diri sendiri hari ini? Apakah itu?
2. Bagaimana saya dapat lebih lagi hidup berdasarkan identitas saya sebagai ciptaan baru di dalam Kristus?
加拉太書 2:19-20
2:19 我因律法、就向律法死了、叫我可以向神活著。
2:20 我已經與基督同釘十字架.現在活著的、不再是我、乃是基督在我裡面活著.並且我如今在肉身活著、是因信神的兒子而活、他是愛我、為我捨己。
尼爾.莫爾斯 (Neal Morse) 是一位才華洋溢的音樂家, 曾是著名搖滾樂隊的成員。然而, 他在2002年改信基督教後, 一切都發生了翻天覆地的變化。他下定決心離開其樂隊, 因為他意識到自己無法在一個只專注於物質和個人野心的樂隊中表達自己的信仰。莫爾斯隨後致力於創作榮耀基督的音樂。他甘願捨棄世俗名利,並專注於神聖的呼召,用音樂做為表達信仰的方法。這是一個人的生命如何從“為自己而活” 轉變為“為基督而活”的真實例子。
保羅向加拉太會眾強調, 那些既然已經接受了基督救贖之恩的人, 就不再受律法的約束來獲得救恩。藉著基督的死, 他們與祂同“釘在十字架上”。這意味著擺脫舊有的以我中心的生活,並進入一個完全獻身於基督的新生命。這不僅是外在行為的改變,而是身分認同和生活中心的徹底改變。不再是“我”在掌權,而是住在信徒心中的基督。“與基督同釘十字架” 的意思是說: 意識到舊生命, 包括所有自私野心和對自義的追求, 都在十字架上終結了。如今, 信徒生命的每一步都由基督的愛和祂的真理來引導。因此,他們的生活不再需要極力滿足律法來獲得上帝的接納,而是一種源自於與首先愛他們、救贖他們的基督的個人關係之感恩的回應。
同樣,身為信徒,我們被呼召來脫去舊日以我為中心的生活,活出獻身於祂的新生命。活出“不再是我,乃是基督”的生命, 意味著每一個決定, 計畫和優先事項都順服於上帝的旨意。這意味著我們在家庭中要謙卑地愛, 尊重和服事我們的配偶和兒女, 如同基督謙卑地服事我們一樣。我們在工作抑或事業中, 應當正直, 誠實, 並以榮耀上帝為目的地工作, 並非僅僅為了尋求利益抑或認可。我們在教會事奉, 我們奉獻, 付出時間和精力不是為了我們自己的名聲, 而是為了基督的榮耀。
“我的生命不再屬於我,而是在我裡面的基督。”
作 者:椰嘉達基督徒會堂卡蒂尼堂會 – 宋國壽牧師
翻譯員:蔡立基
需要思考的问题:
1. 我所做的每個抉擇、所說的每句話、所做的每個行動的中心是什麼?
2. 我生活的哪些部分仍是為己堅持,還沒有完全降服於基督呢?
Nats Alkitab : Galatia 2:19-20
Penulis : Pdt. Siujono Sung
Neal Morse adalah musisi berbakat yang sebelumnya tergabung dalam rock band terkenal. Namun segalanya berubah drastis ketika pada tahun 2002, ia mengalami pertobatan menjadi orang Kristen. Ia memutuskan untuk keluar dari band tersebut karena menyadari bahwa tidak mungkin ia dapat mengekspresikan imannya di dalam konteks band yang berfokus pada materi dan ambisi pribadi. Morse kemudian mencurahkan hidupnya untuk menciptakan musik yang memuliakan Kristus. Ia dengan sukarela meninggalkan ketenaran duniawi demi memprioritaskan panggilan ilahi, yakni menjadikan musiknya sebagai sarana untuk menyatakan iman. Ini merupakan contoh nyata bagaimana hidup seseorang diubahkan dari yang dulunya “hidup untuk diri sendiri” menjadi “hidup bagi Kristus.”
Paulus menegaskan kepada jemaat Galatia bahwa mereka yang telah menerima anugerah keselamatan tidak lagi berada di bawah kuasa hukum Taurat sebagai jalan pembenaran. Melalui kematian Kristus, mereka turut “disalibkan” bersama-Nya. Ini berarti mati terhadap hidup lama yang berpusat pada diri sendiri, dan dibangkitkan untuk hidup baru yang sepenuhnya dipersembahkan bagi Kristus. Ini bukan sekadar perubahan perilaku luar, tetapi perubahan total identitas dan pusat hidup. Bukan lagi “aku” yang memegang kendali, melainkan Kristus yang hidup di dalam diri orang percaya. Makna “disalibkan dengan Kristus” mengandung kesadaran bahwa hidup lama, dengan semua ambisi egois dan tuntutan untuk membenarkan diri sendiri, telah berakhir di salib. Kini, setiap langkah hidup orang percaya diarahkan oleh kasih Kristus dan kebenaran-Nya. Dengan demikian, hidup mereka bukan lagi perjuangan untuk memenuhi hukum demi diterima oleh Allah, melainkan respons syukur yang lahir dari hubungan pribadi dengan Kristus yang sudah lebih dulu mengasihi dan menebus mereka.
Demikian pula kita sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menanggalkan hidup lama yang berpusat pada diri dan menjalani hidup baru yang dipersembahkan bagi-Nya. Hidup “bukan aku, tapi Kristus” berarti menundukkan setiap keputusan, rencana, dan prioritas kepada kehendak Tuhan. Dalam keluarga, ini berarti kita mengasihi, menghormati, dan melayani pasangan serta anak-anak dengan kerendahan hati seperti Kristus melayani kita. Dalam pekerjaan atau usaha, kita bekerja dengan integritas, kejujuran, dan tujuan untuk memuliakan Tuhan, bukan sekadar mencari keuntungan atau pengakuan. Dalam pelayanan gereja, kita memberi persembahan, waktu, dan tenaga bukan demi nama sendiri, tetapi untuk kemuliaan Kristus..
“Hidupku bukannya aku lagi, tapi Kristus dalamku.”
Pertanyaan untuk direnungkan:
1. Apakah yang menjadi pusat dari setiap keputusan, perkataan, dan tindakan saya?
2. Bagian mana dari hidup saya yang masih saya pertahankan untuk diri sendiri, dan belum saya serahkan sepenuhnya kepada Kristus?
歌羅西書 3:17上
3:17 無論作甚麼、或說話、或行事、都要奉主耶穌的名。
1991年,一名美國駐肯亞大使史密斯.亨普斯通(Smith Hempstone)受到全球關注。他在一次公開採訪中,當眾批評了當時因腐敗和鎮壓反對派而臭名昭著的肯亞政府. 他的言論引發了外交緊張局勢,因為肯亞政府認為這些言論代表了美國官方的立場。故此,兩國之間的一些貿易政策確實因該言論而受到干擾。此事提醒我們,一位官方代表的言語從不只代表他本人,他的一言一行都體現著他所代表的國家。
作為信徒,我們是“基督的使者”。世人透過我們的言行看見了耶穌。這與使徒保羅在今天的經文中的警戒相符。他強調信徒蒙召是要將基督耶穌置於一切事物的中心。保羅使用“無論”這一詞,是指信徒生活的方方面面,從看似大件事到看似極簡單的事,一切都應該奉主耶穌的名去做。“名”這個字在希臘文化中代表著權柄、性格和他所代表的。因此,“奉耶穌的名”行事意味著活在祂的權柄之下,與祂的性情相符,並為榮耀祂名而活。因此,這節經文呼籲我們將信仰融入我們的整個生活,讓耶穌不僅成為我們生活的一部分,而且是掌控並激勵我們一言一行的中心。
以基督為中心,意味著將祂作為我們一切言行的理由、尺度標準和目標。我們在說話之前,先要省察一下我們的言語是否與基督的名和性情相符。我們在行動之前,也須要先省察一下我們的行為是否榮耀祂的名。這個原則適用於我們的日常言談、工作方式、事奉方面、人際關係,甚至是閒暇時光。倘若以基督為中心,我們就不會胡言亂語、行事魯莽,或是追求自己的榮耀。相反,我們的整個生活變成了一面反映基督的鏡子,別人能透過我們所做的一切看到祂。
“讓基督成為改變生命的中心吧!”
作 者:椰嘉達基督徒會堂卡蒂尼堂會 – 宋國壽牧師
翻譯員:蔡立基
默想的問題:
1. 你最近有沒有說過抑或做過一些沒奉主耶穌的名的事呢?那是什麼呢?
2. 倘若人們只根據你的言行舉止來判斷耶穌,他們將會看到怎樣的畫面?
Nats Alkitab : Kolose 3:17a
Penulis : Pdt. Siujono Sung
Tahun 1991, seorang duta besar Amerika Serikat untuk Kenya, Smith Hempstone, mendapat sorotan dunia. Dalam sebuah wawancara publik, ia secara terbuka mengkritik pemerintahan Kenya yang saat itu terkenal korup dan menindas oposisi. Ucapannya memicu ketegangan diplomatik karena pemerintah Kenya menganggap kata-katanya mewakili sikap resmi Amerika Serikat. Bahkan, beberapa kebijakan perdagangan antara kedua negara sempat terganggu akibat pernyataan tersebut. Peristiwa ini menjadi pengingat betapa seorang wakil resmi tidak pernah berbicara hanya untuk dirinya sendiri, setiap kata dan tindakannya mencerminkan negara yang diwakilinya.
Sebagai orang percaya, kita adalah “duta Kristus.” Dunia melihat Yesus melalui apa yang kita katakan dan lakukan. Hal ini sesuai dengan peringatan rasul Paulus dalam nas hari ini. Ia menegaskan panggilan hidup bagi orang percaya untuk menempatkan Kristus Yesus sebagai pusat segala sesuatu. Pada saat Paulus menggunakan istilah “segala sesuatu,” maka ia memaksudkan bahwa seluruh aspek kehidupan orang percaya, dari yang tampaknya merupakan hal besar sampai hal yang sederhana sekalipun, hendaknya dilakukan di dalam nama Tuhan Yesus. Dalam budaya Yunani, “nama” mewakili otoritas, karakter, dan perwakilan. Oleh karena itu, bertindak “dalam nama Yesus” berarti hidup di bawah otoritas-Nya, selaras dengan karakter-Nya, dan demi kemuliaan-Nya. Dengan demikian ayat ini memanggil kita mengintegrasikan iman dengan seluruh kehidupan, sehingga Yesus tidak hanya menjadi bagian dari hidup kita, tetapi pusat yang menguasai dan menjiwai setiap perkataan dan perbuatan.
Menjadikan Kristus sebagai pusat berarti menempatkan Dia sebagai alasan, ukuran, dan tujuan dari semua perkataan dan perbuatan kita. Sebelum kita berbicara, perhatikan apakah kata-kata tersebut sesuai dengan nama dan karakter Yesus. Sebelum kita bertindak, pikirkan apakah tindakan tersebut memuliakan nama-Nya. Prinsip ini berlaku baik dalam percakapan sehari-hari, cara kita bekerja, melayani, berelasi, maupun dalam kita mengisi waktu luang. Jika Kristus adalah pusat, kita tidak akan berbicara sembarangan, bertindak gegabah, atau mencari kemuliaan diri. Sebaliknya, seluruh hidup kita menjadi cermin yang memantulkan kemuliaan Kristus, dan orang lain dapat melihat Dia melalui segala yang kita lakukan.
“Menjadikan Kristus sebagai pusat mengubahkan kehidupan.”
Pertanyaan untuk direnungkan:
1. Apakah ada perkataan atau perbuatan Anda belakangan ini yang tidak dilakukan “dalam nama Tuhan Yesus”? Apakah itu?
2. Jika orang hanya menilai Yesus dari cara Anda berbicara dan bertindak, gambaran seperti apa yang mereka lihat?
羅馬書 6:6-7
6:6 因為知道我們的舊人、和他同釘十字架、使罪身滅絕、叫我們不再作罪的奴僕。
6:7 因為已死的人、是脫離了罪。
19世紀時,美國內戰結束後,奴隸制度也故此被廢除了然而,有一個美國奴隸卻做出了一件不尋常的事。儘管事實上他在律法上已獲得自由,但他每天早上依然來到他前主人家,如往常一樣到田裡工作,等待主人的命令。當人們問他為什麼還依然如故時,他回答說:“我已經習慣做他的奴隸了。” 其實,他已經獲得了自由,更何況他前主人也不再有權勢轄制他的生活,但他卻無法脫離成為他主人奴僕的“習慣”。
今天的靈修經文強調說, 我們的“老我”已與基督同釘十字架了, 得以擊垮罪的權勢. “老我”這一詞不僅指不良行為,更指我們整個與亞當一同被罪綑綁的生命。罪的綑綁因基督在十字架上所成就的工而得以釋放。然而,這並不意味著信徒就永遠不會再犯罪。他們仍會被誘惑而犯罪,但罪不再是他們的主人。換言之,我們不再是罪的奴僕了。第7 節解釋了為什麼我們若是與基督同死,就是“脫離了罪”。保羅形容他如同一個已死了的奴僕, 既死了,他的主人對他就無權勢了。同樣,藉著基督的贖罪之死,我們脫離了罪的轄制, 在上帝面前被稱義,得以自由地為祂而活。這新生命是基督的救贖工作,祂結束了舊有的生活方式,並引導我們以真理和聖潔來事奉上帝。
因此,作為那些已與基督同釘十字架的人,我們需要分辨出我們舊有的生活方式中的哪些習慣、思考模式抑或慾望。然後,刻意地拒絕它,並將其交托於基督。每當誘惑來臨時,我們要切記罪的權勢已被打破了,所以我們可以選擇說 “不”,並選擇真理。當我們跌倒時,我們應當立即悔改並歸向祂,不再讓罪作主作王。如同得了釋放的奴僕,我們不再順服前主人,而是選擇順服那位釋放我們的上帝,使我們的生命成為福音大能的見證。
“凡與基督同釘十字架的人,就不再是罪的奴僕了。”
作 者:椰嘉達基督徒會堂卡蒂尼堂會 – 宋國壽牧師
翻譯員:蔡立基
需要思考的问题:
1. 儘管基督已經釋放了我,哪些舊習慣抑或思考模式仍然讓我猶如“奴隸”一般地生活?
2. 在我面臨最近一次的誘惑中,我選擇屈服於罪惡還是服從基督?
Nats Alkitab : Roma 6:6-7
Penulis : Pdt. Siujono Sung
Pada abad ke-19, setelah perang saudara usai dan perbudakan dihapuskan, ada seorang budak di Amerika menunjukkan tindakan yang tidak biasa. Meskipun ia telah dinyatakan bebas secara hukum, setiap pagi ia masih datang ke rumah mantan tuannya. Ia bekerja di ladang dan menunggu perintah dari sang tuan seperti yang dulu biasa dilakukannya. Ketika orang-orang bertanya mengapa ia melakukan hal tersebut, ia menjawab, “Saya sudah terbiasa menjadi budaknya.” Padahal, ia sudah dibebaskan dan mantan tuannya tidak lagi punya hak atas hidupnya, namun ia tidak bisa melepaskan “kebiasaan” untuk menjadi budak dari tuannya.
Nas hari ini menegaskan bahwa “manusia lama” kita telah turut disalibkan bersama Kristus, sehingga kuasa dosa dipatahkan. Istilah “manusia lama” bukan sekadar merujuk kepada perilaku buruk, tetapi seluruh keberadaan kita yang terikat pada dosa di bawah solidaritas dengan Adam. Ikatan terhadap dosa dilepaskan melalui karya Kristus di kayu salib. Namun bukan berarti, orang percaya tidak mungkin akan berdosa lagi. Mereka tetap akan tergoda untuk berbuat dosa, tetapi dosa tersebut tidak lagi menjadi penguasa. Dengan kata lain, kita tidak lagi menjadi budak dosa. Ayat 7 menjelaskan alasannya, mati bersama Kristus membuat kita “dibebaskan dari dosa.” Paulus menggambarkannya seperti budak yang mati sehingga tuannya tidak lagi berkuasa atasnya. Demikian pula, melalui kematian Kristus yang menebus, kita diputuskan dari pemerintahan dosa, dinyatakan benar di hadapan Allah, dan dibebaskan untuk hidup bagi-Nya. Hidup baru ini adalah karya penebusan Kristus, yang mengakhiri cara hidup lama dan menuntun kita melayani Allah dalam kebenaran dan kekudusan.
Dengan demikian, sebagai orang-orang yang telah disalibkan dengan Kristus, kita perlu mengidentifikasi kebiasaan, pola pikir, atau keinginan yang menjadi bagian dari cara hidup lama. Kemudian dengan sadar menolaknya dan menyerahkannya kepada Kristus. Setiap kali godaan datang, kita mengingat bahwa kuasa dosa sudah dipatahkan, sehingga kita memiliki pilihan untuk berkata “tidak” dan memilih kebenaran. Saat kita jatuh, kita segera kembali kepada-Nya dengan pertobatan, bukan membiarkan dosa kembali memerintah. Seperti budak yang sudah dibebaskan, kita tidak lagi tunduk pada tuan lama, tetapi memilih taat kepada Tuhan yang telah membebaskan kita, sehingga hidup kita menjadi kesaksian akan kuasa Injil.
(Pdt. Siujono Sung - GKJ Kartini)
“Siapa yang telah disalibkan dengan Kristus bukan lagi hamba dosa.”
Pertanyaan untuk direnungkan:
1. Kebiasaan atau pola pikir lama apa yang masih membuat saya hidup seperti “budak” meski Kristus sudah membebaskan saya?
2. Dalam situasi godaan terakhir yang saya hadapi, apakah saya memilih untuk tunduk pada dosa atau taat kepada Kristus?
From the publisher's feed