Penuntun Saat Teduh - Renungan Harian

Penuntun Saat Teduh - Renungan Harian

By Sinode Gereja Kristen JakartaReligion & SpiritualityChristianity
Download on the App Store

Penuntun Saat Teduh - Renungan Harian episodes

  • 7-9-2025 - 豐富的⼼ (PST GKJ Bahasa Mandarin)

    路加福音12:13-21


    12:13 眾人中有一個人對耶穌說、夫子、請祢吩咐我的兄長和我分開家業。

    12:14 耶穌說、你這個人、誰立我作你們斷事的官、給你們分家業呢。

    12:15 於是對眾人說、你們要謹慎自守、免去一切的貪心.因為人的生命、不在乎家道豐富。

    12:16 就用比喻對他們說、有一個財主、田產豐盛.

    12:17 自己心裡思想說、我的出產沒有地方收藏、怎麼辦

    12:18 又說、我要這麼辦.要把我的倉房拆了、另蓋更大的.在那裡好收藏我一切的糧食和財物。

    12:19 然後要對我的靈魂說、靈魂哪、你有許多財物積存、可作多年的費用.只管安安逸逸的喫喝快樂罷。

    12:20 神卻對他說、無知的人哪、今夜必要你的靈魂.你所預備的、要歸誰呢。

    12:21 凡為自己積財、在神面前卻不富足的、也是這樣。



    當時最著名的羅馬諺語之一是:“金錢如海水。喝得越多, 就越渴.” 這是一個對物質永不感到滿足的寫照。我們越是將金錢或物質視為安寧和滿足的源泉, 我們就越不會對它感到滿足。甚至, 一個太熱衷於追求物質, 並將其作為人生目標的人, 心靈蒙蔽,忘記自身以外的其他現實。他會忘了上帝的存在, 上帝的呼召, 以及他在世上生命是有限的事實。


    在今天的經文中, 我們發現了一個故事, 有個人請求耶穌成為斷事官, 以便從他的兄弟那裡獲得家業。這在當時是一種極不尋常的做法, 因為分家產並非拉比的職責. 而是由民政部門處理的。但是因他心中貪婪, 便請拉比耶穌作他的斷事官。此外, 根據猶太律法,分家產也受到安排 (申命記21:17)。所以, 如果有人仍然要求獲得更多的家產, 那就意味著他們想要獲得比他們應得的更多的份額。因此, 耶穌拒絕作為他的斷事官. 然後耶穌用一個關於無知財主的比喻來責備他。這比喻含有兩個成為警示的重點。第一點, 貪婪會讓人變得自私, 只追求自己的利益。貪婪使人忘記一切, 只追求個人利益. 對別人沒有任何價值, 對神的使命和事工更是如此, 一切只為了自己. 第二點, 貪婪會蒙蔽人的心靈。貪婪的人只會追求他所看到的東西。他忘記了生命是短暫的, 死後還有永生。


    耶穌以揭示了真正的現實作為祂比喻的結束 : 財主死後一無所有。他沒得到永生, 甚至世俗的產業也都享受不到。對我們揭示的重要的訊息是: 在上帝眼中, 有意義, 有智慧的生活在是富足的生命。在神面前富足, 意味著擁有一顆專注於有永恆影響的事物,願意給予他人而不是為自己囤積的心。關注點不僅在自己身上, 也流露到他人身上。進入今年區會指定的差傳月,讓我們認真反思我們的心態:我們在上帝面前是否富足以致於我們願意與他人分享生活和福音? 還是我們只關注自己的利益而最後卻像那個無知的財主一樣陷入悲慘的境地?我們來一起反思吧!

    “一顆富足的心不會專注於獲得更多,

    而是一顆感到足夠並能分流給他人的心”


    作者 : 椰嘉達基督徒會堂鐵橋堂會 – 蔡國鑽傳道

    翻譯員:黃瓊楓


    默想的問題:

    1. 無知財主的心態是如何的呢?

    2. 我們怎樣才能在神面前擁有一顆富足的心?


    8 min
  • 7-9-2025 - Hati Yang Kaya (PST GKJ Bahasa Indonesia)

    Nats Alkitab : Lukas 12:13-21

    Penulis : G.I. Swannius Bong


    Salah satu pepatah dari bangsa Romawi yang terkenal pada masanya adalah: “Uang itu seperti air laut. Semakin banyak seseorang meminumnya, semakin ia akan kehausan.” Ini adalah gambaran tentang ketidakpuasan hati terhadap materi. Semakin kita menganggap uang atau materi sebagai sumber ketenangan dan kepuasan, semakin kita tidak akan pernah puas dengan hal itu. Bahkan, seseorang yang begitu giat mengejar materi sebagai tujuan hidupnya dapat menjadi buta secara rohani, melupakan realitas lain di luar dirinya. Ia bisa melupakan keberadaan Tuhan, panggilan Tuhan, dan fakta bahwa hidupnya terbatas di dunia ini.


    Dalam nas hari ini, kita menemukan kisah seseorang yang meminta Yesus menjadi pengantara untuk memperoleh warisan dari saudaranya. Sebuah tindakan yang sangat tidak wajar pada masa itu, sebab urusan pembagian warisan bukanlah tanggung jawab seorang rabi. Ada pihak pemerintahan sipil yang mengurus hal tersebut. Namun, karena ketamakan dalam hatinya, ia meminta Yesus—seorang rabi—untuk menjadi perantaranya. Selain itu, menurut aturan Yahudi, pembagian warisan sudah diatur sedemikian rupa (Ulangan 21:17). Jadi, jika masih ada yang meminta warisan lebih, artinya ia menginginkan bagian lebih besar dari yang seharusnya. Karena itu, Yesus menolak menjadi pengantara baginya. Lalu Yesus menegurnya dengan memberikan perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh. Ada dua poin penting dari perumpamaan ini yang menjadi teguran. Pertama, ketamakan dapat membuat seseorang egois dan hanya mengejar kepentingannya sendiri. Ketamakan membuat seseorang melupakan apa pun selain mencari keuntungan pribadi. Tidak ada nilai bagi sesama, apalagi bagi misi dan pekerjaan Tuhan—semuanya hanya untuk dirinya sendiri. Kedua, ketamakan membuat seseorang buta secara rohani. Orang yang tamak hanya mengejar apa yang terlihat olehnya. Ia lupa bahwa hidupnya sementara, dan ada kehidupan setelah kematian.

    Yesus menutup perumpamaan-Nya dengan menunjukkan realitas sesungguhnya: orang kaya itu tidak memiliki apa pun setelah ajal menjemput. Ia tidak memiliki hidup kekal, bahkan hartanya di dunia tidak dapat ia nikmati lagi. Pesan penting bagi kita adalah bahwa hidup yang bermakna dan bijaksana adalah hidup yang kaya di hadapan Allah. Kaya di hadapan Tuhan berarti memiliki hati yang memperhatikan hal-hal yang berdampak kekal, hati yang rela memberi bagi sesama, bukan menimbun untuk diri sendiri. Fokusnya bukan hanya ke dalam diri, tetapi juga mengalir keluar kepada orang lain. Memasuki bulan misi Sinode GKJ tahun ini, mari kita sungguh-sungguh merenungkan sikap hati kita: apakah kita kaya di hadapan Tuhan sehingga rela berbagi hidup dan Injil bagi sesama? Ataukah kita hanya berfokus pada kepentingan diri sendiri yang pada akhirnya berakhir menyedihkan, seperti orang kaya yang bodoh itu? Mari kita renungkan bersama.


    “Hati yang kaya tidak akan berfokus untuk mendapat lebih banyak tetapi hati yang merasa cukup dan dapat mengalir keluar kepada sesama”


    Pertanyaan untuk direnungkan:

    1. Seperti apa sikap hati dari orang kaya yang bodoh itu?

    2. Bagaimana caranya agar kita memiliki hati yang kaya di hadapan Tuhan?


    7 min
  • 6-9-2025 - 準備好的僕人的賞賜 (PST GKJ Bahasa Mandarin)

    馬太福音 24:45-47


    24:45 誰是忠心有見識的僕人、為主人所派、管理家裡的人、按時分糧給他們呢。

    24:46 主人來到、看見他這樣行、那僕人就有福了。

    24:47 我實在告訴你們、主人要派他管理一切所有的。



    一位實習學生回到校園,報告了他的初次週末事工經驗。他在附近城鎮的一座大教堂服事。朋友們問他收到了多少愛心奉獻。這位學生說,離開事工時,教會領袖對他說:“謝謝,你在天上的賞賜是大的.” 然後他自費返回校園。


    有些人很負責人地服事,但卻很少或根本沒有得到讚揚、感謝或其它讚同。使徒保羅向歌羅西會衆講述了事奉祂的人將會得到的賞賜。保羅在主人家對僕人們說的這些話,也是在對我們說的。在希臘文化和羅馬文化中的僕人是對自己沒有權利的人。他們都是奴隸,在社會上不被重視。然而,保羅強調,在上帝面前,他們與其他自由人沒有什麼不同。他們將和世上信主的主人們一樣,得到上帝的賞賜。保羅使用的兩個字是得著被指定的份額和賞賜。指定份額來自希臘文 kleronomias,意思是基業或產業。而賞賜來自希臘文 antapodosin,意思是給予適當的補償或償還。這是何等美妙的事。如果僕人在天上的賞賜和份額如此豐厚,那麽他們就應該勤勉熱忱地服事。


    為一個在這世上事奉多年的僕人,也許你仍在努力思考這個問題。你可能從未得到應有的讚賞,人們可能輕易就把你忘記,你甚至可能因為你全心全意所做的服事而受到毒罵和羞辱。請不要灰心。定睛在基督的十字架上並確信你在天上的賞賜是豐厚的。上帝會在永生中賞賜你所有的辛勤工作和對祂的奉獻。這是確實而奇妙的安慰。繼續預備好去完成上帝所託付的事奉吧。


    “忠心的僕人永遠不會失去上帝應許的賞賜。”


    作者 : 椰嘉達基督徒會堂當格朗堂會 – 古發啟牧師

    翻譯員:黃瓊楓


    默想的問題:

    1. 你最近在事工上遇到了哪些掙扎?

    2. 在艱難和充滿挑戰的環境中,你是否仍準備好去做主工?


    6 min
  • 6-9-2025 - Upah Pelayan Yang Siap Sedia (PST GKJ Bahasa Indonesia)

    Nats Alkitab : Matius 24:45-47

    Penulis : Pdt. Faoziduhu Lahagu


    Seorang mahasiswa praktek kembali ke kampus dan melaporkan pelayanan akhir pekan yang baru pertama kali dilakukannya. Ia melayani di sebuah gereja besar di kota yang dekat dengan kampusnya. Teman-temannya bertanya tentang berapa besar persembahan kasih yang diterimanya. Mahasiswa itu bercerita bahwa ketika ia pergi meninggalkan tempat pelayanan itu, pemimpin gereja berkata kepadanya, “Terima kasih pelayananya, upahmu besar di sorga,” dan ia pulang kembali ke kampus dengan biaya sendiri.


    Ada orang-orang yang melayani dengan penuh tanggung jawab namun mereka sedikit atau bahkan tidak sama sekali menerima pujian, ucapan terima kasih ataupun penghargaan lainnya. Kepada jemaat Kolose, Rasul Paulus berbicara tentang upah yang akan diterima orang-orang yang melayani Dia. Ketika Paulus sedang berbicara kepada para hamba di dalam rumah tuan mereka, bagian ini juga sedang berbicara kepada kita. Para hamba dalam kebudayaan helenis dan romawi adalah orang-orang yang tidak memiliki hak atas diri mereka. Mereka adalah budak dan secara sosial mereka tidak diperhitungkan. Namun Paulus menegaskan bahwa dihadapan Allah mereka tidak berbeda dengan orang merdeka lainnya. Mereka akan menerima upah dari Allah sama seperti tuan mereka dalam dunia ini yang percaya kepada Allah. Dua kata yang Paulus pakai disini yaitu menerima bagian yang ditentukan dan upah. Bagian yang ditentukan berasal dari kaya yunani, kleronomias yang berarti warisan atau pusaka. Sedangkan upah dari kata Yunani antapodosin yang artinya memberi balasan yang sesuai atau membayar kembali. Ini adalah hal yang indah dan menakjubkan. Jika upah dan bagian seorang hamba begitu besar di sorga nanti maka mereka seharusnya giat dan bersemangat melakukan pelayanan mereka.


    Sebagai pelayan di dalam dunia ini yang sudah bertahun-tahun mengabdi, mungkin pertanyaan ini anda terus gumulkan. Anda mungkin tidak pernah mendapatkan penghargaan sebagaimana mestinya, orang-orang mungkin akan dengan mudah melupakan anda, bahkan mungkin anda menerima cacian, hinaan karena pelayanan yang anda kerjakan dengan segenap hati. Anda jangan berkecil hati. Pandanglah terus kepada salib Kristus dan yakinlah bahwa upahmu besar di sorga. Allah yang akan membalaskan segala jerih payah dan pengabdian anda kepada-Nya di dalam kehidupan kekal nanti. Ini adalah penghiburan yang pasti dan mengagumkan. Teruslah untuk siap sedia dalam pelayanan yang dipercayakan Allah.


    “Seorang Pelayan yang setia tidak akan pernah kehilangan upah yang Allah janjikan.”


    Pertanyaan untuk direnungkan:

    1. Apakah pergumulan yang sedang anda hadapi dalam pelayanan anda akhir-akhir ini?

    2. Apakah anda tetap siap sedia dalam mengerjakan pekerjaan Allah di tengah situasi sulit dan penuh tantangan?


    5 min
  • 5-9-2025 - 準備好執行職任 (PST GKJ Bahasa Mandarin)

    馬太福音 24:45-47


    24:45 誰是忠心有見識的僕人、為主人所派、管理家裡的人、按時分糧給他們呢。

    24:46 主人來到、看見他這樣行、那僕人就有福了。

    24:47 我實在告訴你們、主人要派他管理一切所有的。



    直到半夜我還在寫這篇靈修文章,身體已經發出放棄的訊號了。然而靈修文章的目標必須完成。拖延一項工作明天的工作就會變得更加繁重。我停下片刻。祈求上帝的幫助。我走出書房,然後走出了家門。夜晚清新的空氣吹進我的毛孔,片刻間我深深地吸了一口氣,心裡說: “神啊,感謝祢給了這個機會。”


    我們是一個喜歡耽誤工作的人嗎? 或是一個忽略已分配好工作的人? 基督的僕人應該盡責地履行職任。這才是被稱為忠心有見識的僕人。主耶穌用一個故事來描繪這一點: 一個僕人受主人委託,照管家裡的人。他負責按照主人的指示按時分糧食並服事他們。忠心有見識的僕人會很好地執行他的職任。所謂“執行”是指為了特定的目標而積極、持續地工作。有趣的是,保羅使用了Houtos 這個詞翻譯為“他的職任”。Houtos 的意思是指向僕人的工作風格或方式。因此,這不僅僅執行他的職任,而是要按照主人的指示執行這些職任。最後,主人來到,看見僕人正在盡職,於是賦予他承擔更大的責任。


    我們如何執行祂賦予我們的服事工作?我們的事工是否被我們內心狀態影響和驅動? 或者因為其他因素? 在人們的眼中,我們是否勤勉地做著我們的傳道工作? 是否只在有人看見的時候我們才努力地做服事工作? 我們在執行服事工作時是敷衍了事, 還是認真負責? 是否我們得到讚賞和實質利益時才盡責? 我們服事上帝是被命令去做,還是因為我們主動去做? 我們是按照自己的意願、自己的方式還是按照上帝的議程來完成我們的使命?


    “僕人必須隨時準備好執行職任.”


    作者 : 椰嘉達基督徒會堂當格朗堂會 – 古發啟牧師

    翻譯員:黃瓊楓


    默想的問題:

    1. 這麽久以來,你如何執行你的服事工作?

    2. 你如何建立上帝賦予你的事工?


    5 min
  • 5-9-2025 - Siap Sedia Melakukan Tugas (PST GKJ Bahasa Indonesia)

    Nats Alkitab : Matius 24:45-47

    Penulis : Pdt. Faoziduhu Lahagu


    Sampai tengah malam saya masih bekerja menulis artikel renungan ini. Tubuh ini sebenarnya sudah memberikan alarm tanda menyerah. Namun target renungan harus diselesaikan. Menunda satu pekerjaan saja akan membuat pekerjaan besok bertambah lebih banyak lagi. Saya berhenti sejenak. Berdoa memohon pertolongan-Nya. Saya keluar dari ruang belajar kemudian keluar rumah. Udara malam yang segar berembus menerobos pori-pori sejenak saya menarik nafas panjang dalam hati saya berkata “Tuhan terima kasih kesempatan ini.”

    Apakah kita termasuk tipe orang yang suka menunda pekerjaan? Ataukah kita orang yang mengabaikan tugas yang diberikan? Seorang pelayan Kristus seharusnya mengerjakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Inilah pelayan yang disebut setia dan bijaksana. Tuhan Yesus menggambarkan hal ini dengan cerita seorang hamba dalam sebuah rumah tangga yang dipercayakan oleh tuannya untuk mengurus orang-orang di dalam rumahnya. Ia bertanggung jawab memberikan mereka makan dan melayani mereka sesuai dengan petunjuk sang tuan itu. Hamba yang setia dan bijaksana itu melaksanakan tugasnya dengan baik. Kata “melaksanakan” dalam teks ini merujuk kepada pekerjaan yang secara aktif dilakukan secara terus menerus dengan tujuan tertentu. Menarik sekali Paulus menggunakan kata Houtos yang diterjemahkan dengan “tugasnya” dalam teks tersebut. Houtos berarti seperti ini yang mengacu kepada gaya atau cara pelayan ini bekerja. Jadi ini bukan hanya sekedar menjalankan tugasnya tetapi bagaimana ia menjalankan tugas itu sesuai petunjuk tuannya. Pada akhirnya ketika tuannya itu datang, ia mendapati hambanya sedang melaksanakan tugas sehingga ia dipercayakan tanggung jawab yang lebih besar.


    Bagaimana kita melaksanakan tugas yang dipercayakan kepada kita dalam pelayanan pekerjaan-Nya? Apakah pelayanan kita dipengaruhi dan digerakkan oleh situasi hati kita? Atau karena factor lainnya? Apakah kita mengerjakan pekerjaan pelayanan kita dengan tekun ketika dilihat oleh manusia? Apakah kita mengerjakan tugas-tugas pelayanan kita asal-asalan atau dengan penuh keseriusan dan tanggung jawab? Apakah kita melakukan tanggung jawab kita jika mendapatkan pujian dan keuntungan material? Apakah kita melayani Allah ketika kita diperintahkan atau karena kita sendiri berinisiatif melakukannya? Apakah kita menunaikan panggilan kita sesuai kehendak kita, cara kita atau sesuai agenda Allah?


    “Seorang Pelayan Haruslah selalu siap sedia dalam mengerjakan tugasnya.”


    Pertanyaan untuk direnungkan:

    1. Bagaimana anda mengerjakan pelayanan anda selama ini?

    2. Bagaimana anda membangun pelayanan yang dipercayakan Allah kepada anda ?


    6 min
  • 4-9-2025 - 做好準備並非必須完美 (PST GKJ Bahasa Mandarin)

    以賽亞書 6:8, 哥林多後書 12:9


    以賽亞書 6:8

    我又聽見主的聲音說、我可以差遣誰呢、誰肯為我們去呢.我說、我在這裡、請差遣我。


    哥林多後書 12:9

    他對我說、我的恩典夠你用的.因為我的能力、是在人的軟弱上顯得完全.

    所以我更喜歡誇自己的軟弱、好叫基督的能力覆庇我.



    前段時間,媒體報導了一位沒有任何醫療經驗的家庭主婦在她所在的地區遭遇洪災時自願到公共廚房做志工的故事。當記者問到這個問題時, 她簡單地回答說:“一開始我也不知道該做什麼,但我知道我可以幫忙。” 很多人被她的舉動受感動,並不是因為她有多厲害,而是因為她願意出現在缺乏之中。我們中的許多人推遲奉獻自己,因為覺得自己不夠好,不夠聰明、屬靈不夠成熟、還不夠有“資格”。我們等待自己成為理想的版本,然後才覺得自己可以為神使用。然而上帝的話語卻顯示了相反的模式: 上帝並非尋找完美的而是願意的人。


    當以賽亞在以賽亞書第6章中看到上帝榮耀的異象時,祂的第一個反應不是勇敢,而是恐懼說:“禍哉! 因為我是嘴唇不潔的人,又住在嘴唇不潔的民中”(第 5 節)。他深知自己不配。但就在那一刻, 上帝差遣一位天使, 用從祭壇上的紅炭沾他的嘴唇, 說:“你的罪孽除掉了,你的罪惡赦免了.”(第7節)。這很重要,因為以賽亞不是在聖潔的狀態下被呼召,而是先蒙上帝的恩典潔淨。此後,當上帝問道 “我可以差遣誰呢?”時,以賽亞並沒有列舉各種長處來回答,而是帶著一種意願回答: “我在這裡,請差遣我。” 保羅在哥林多後書 12:9 也說了同樣的話。當保羅因“肉中刺”的軟弱而掙扎時,上帝反而回答說,祂的恩典夠他用的,祂的能力不是在保羅堅強時而是在他軟弱時彰顯。這就是神之愛的邏輯: 不是因為你完美才配得被使用,而是因為你願意接受祂的恩典且願意順服祂。


    福音證明了我們得救不是因為我們夠好,而是因為基督夠好。祂選擇了平凡的門徒,使用弱者來彰顯祂的能力。所以,如果你覺得自己不合適、沒有能力、沒準備好,請記住,上帝並不是在尋找一個萬事通的人。祂尋找一顆會說: “主啊, 這是我。我雖不完美,但我願意。” 的心。


    “上帝對你的呼召並不是在你完美之後,

    而是要使你在祂的恩典中被塑造。”


    作者 : 椰嘉達基督徒會堂安貝拉堂會 – 林玲玲傳道

    翻譯員:黃瓊楓


    默想的問題:

    1. 當上帝開啟機會時, 你遲遲不願意的最大原因是什麼? 是恐懼嗎?是覺得自己不配嗎?

    2. 你如何學習說“我在這裡, 請差遣我”.不是因為你有能力有辦法, 而是因為你相信上帝會裝備?


    6 min
  • 4-9-2025 - Siap Sedia Tidak Harus Sempurna (PST GKJ Bahasa Indonesia)

    Nats Alkitab : Yesaya 6:8, 2 Korintus 12:9

    Penulis : G.I. Agnes Christina


    Beberapa waktu lalu, media menyorot kisah seorang ibu rumah tangga yang tanpa pengalaman medis ikut turun tangan jadi relawan dapur umum saat bencana banjir melanda daerahnya. Saat ditanya oleh wartawan, ia menjawab dengan sederhana, “Saya nggak tahu apa yang harus saya lakukan awalnya, tapi saya tahu saya bisa bantu.” Banyak orang tergerak oleh tindakannya—bukan karena ia luar biasa, tapi karena ia bersedia hadir di tengah kekurangan. Banyak dari kita menunda memberi diri karena merasa belum cukup: belum pintar, belum matang rohani, belum “layak”. Kita menunggu jadi versi ideal dulu sebelum merasa bisa dipakai Tuhan. Tapi Firman Tuhan justru menunjukkan pola sebaliknya: Tuhan bukan mencari yang sempurna, tapi yang bersedia.


    Waktu Yesaya mendapat penglihatan kemuliaan Tuhan dalam Yesaya 6, respons pertamanya bukan keberanian, tapi gentar: “Celakalah aku! Sebab aku ini najis bibir dan aku tinggal di tengah bangsa yang najis bibir” (ay. 5). Ia sadar betul bahwa ia tidak layak. Tapi justru di titik itu, Tuhan mengutus malaikat untuk menyentuh bibirnya dengan bara dari mezbah dan berkata: “Kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.” (ay. 7). Peristiwa ini penting—karena Yesaya tidak dipanggil dalam kondisi suci, tapi disucikan oleh anugerah Tuhan lebih dulu. Dan setelah itu, saat Tuhan bertanya, “Siapa yang mau Kuutus?”, Yesaya tidak menjawab dengan daftar kelebihan, tapi dengan kerelaan: “Ini aku, utuslah aku.” Hal yang sama disampaikan Paulus dalam 2 Korintus 12:9. Saat ia bergumul dengan kelemahan—“duri dalam daging”—Tuhan justru menjawab bahwa kasih karunia-Nya cukup, dan kuasa-Nya nyata bukan ketika Paulus kuat, tapi justru saat ia lemah. Inilah logika kasih Tuhan: bukan karena kamu perfect (sempurna) yang membuatmu layak dipakai, tapi kesediaanmu untuk menerima anugerah-Nya dan taat kepada-Nya.


    Injil adalah bukti bahwa kita diselamatkan bukan karena cukup, tapi karena Kristus yang cukup. Ia memilih murid-murid biasa, memakai yang lemah untuk menyatakan kekuatan-Nya. Maka kalau kamu merasa belum pantas, belum mampu, belum siap—ingat, Tuhan tidak sedang mencari orang yang bisa segalanya. Ia mencari hati yang berkata: “Ini aku, Tuhan. Aku belum sempurna, tapi aku mau.” Dan ketika kita datang seperti itu, Dia akan cukupkan kita, seperti yang dijanjikan-Nya. Karena kasih karunia-Nya lebih dari cukup.


    “Panggilan Tuhan tidak datang setelah Anda sempurna, tapi justru supaya Anda dibentuk di dalam anugerah-Nya.”


    Pertanyaan untuk Direnungkan:

    1. Apa alasan terbesar yang bikin Anda menunda bersedia saat Tuhan membuka kesempatan? Apakah itu rasa takut? Rasa belum layak?

    2. Bagaimana Anda bisa belajar berkata “Ini aku, utuslah aku” — bukan karena Anda sanggup, tapi karena Anda percaya Tuhan yang melengkapi?


    6 min
  • 3-9-2025 - 被要求之前先做好準備 (PST GKJ Bahasa Mandarin)

    箴言6:6-8


    6:6 懶惰人哪、你去察看螞蟻的動作、就可得智慧.

    6:7 螞蟻沒有元帥、沒有官長、沒有君王、

    6:8 尚且在夏天預備食物、在收割時聚斂糧食。



    不久前,索羅市一位年輕人的故事感動了大眾。他定期在家門口為快遞員準備飲用水和零食。他並非受到人們要求而如此做,也沒有參與任何社會活動。他只是想表達對他們辛勤工作的讚賞。這個小舉動在社群媒體上瘋傳,並不是因為他有多大舉動,而是因為他很真誠且做好準備。許多人只是在被要求或被關注後才採取行動,但有些人的心已經習慣甚至在別人吩咐之前就做好準備。在屬靈生活中我們也經常等待“重大召喚”才採取行動。我們會說,“如果以後有需要的話, 我願意.” 其實一個做好準備的性格,體現在無需別人告訴下願意主動做一些小事。做好準備不只是關乎能力,而是關乎謙卑, 即使在被召喚之前就願意挺身而出。


    箴言書要我們向螞蟻,一隻小而明智的小生物學習。螞蟻不會等待得到使喚了才去工作,螞蟻知道時間並且從一開始就做好準備。在收割時聚斂糧食,而不是在緊急情況下才準備。這不是關乎焦慮,而是關乎智慧。這節經文譴責那些喜愛拖延、只有在走投無路時才採取行動的人。說實話,我們也經常這樣: 等心情好的時候、等有空閒的時間或等得到他人認可的時候。然而一顆有準備的心不是在緊急情況下形成的, 而是在日常紀律操練中形成的。做好準備的信徒不是最快或最忙碌的人,而是那些忠實操練自己順服、在小事上堅持不懈、對上帝賜予的機會敏銳的人。準備好的靈命來自於慢慢建立的屬靈習慣的結果,而不是突然出現的。


    我們也從基督身上學到了這一切。祂來並非因為世界的呼求。祂來是因為祂的愛主動在先。祂沒有等我們改變了而是在我們還是罪人的時候就愛我們了。耶穌的準備不是對網友或任何其他人的壓力做出的快速反應,而是對屬祂的我們始終如一之愛的決定。甚至在我們意識到需要之前祂就願意犧牲自己了。因此, 當我們選擇做好服事,施捨和愛的準備時,我們就是在反映上帝的心。一顆無需先被要求, 卻隨時準備好順服的心。一顆了解祂的愛,而選擇主動出現的心。



    “如果你必須先被要求後才準備,

    你也許未真正的準備好”


    作者 : 椰嘉達基督徒會堂安貝拉堂會 – 林玲玲傳道

    翻譯員:黃瓊楓


    默想的問題:

    1. 在你的人生中,有哪些事情你一直在等待直到被要求才去做, 而你本來可以先開始的?

    2. 你如何操練你的心,使自己更做好準備,不是因為被要求去做,而是因為你已經認識了基督的愛?


    7 min
  • 3-9-2025 - Pelayan Yang Siap Sedia (PST GKJ Bahasa Indonesia)

    Nats Alkitab : Amsal 6:6-8

    Penulis : G.I. Agnes Christina


    Beberapa waktu lalu, publik tersentuh oleh kisah seorang pemuda di Solo yang rutin menyiapkan air minum dan camilan kecil di depan rumahnya untuk para kurir paket. Ia tidak diminta, tidak sedang mengikuti program sosial apa pun. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa kerja keras mereka dihargai. Tindakan kecil itu viral di kalangan media sosial, bukan karena besar, tapi karena tulus dan siap sedia. Banyak orang baru bertindak setelah diminta atau disorot, tapi ada yang hatinya memang terbiasa sedia bahkan sebelum ada yang menyuruh. Dalam hidup rohani pun, kita sering menunggu “panggilan besar” baru bergerak. Kita berkata, “Kalau nanti dibutuhkan, saya mau.” Padahal karakter yang siap sedia justru terlihat dalam kesediaan melakukan hal kecil tanpa harus diberi tahu. Kesiapan bukan hanya soal kemampuan, tapi soal kerendahan hati yang bersedia hadir — bahkan sebelum dipanggil.


    Kitab Amsal mengajak kita belajar dari semut—makhluk kecil, tapi bijaksana. Semut tidak menunggu perintah untuk bekerja. Ia tahu waktunya, dan bersiap sejak awal. Ia mengumpulkan makanan di musim panen, bukan saat darurat tiba. Ini bukan soal kecemasan, tapi soal kebijaksanaan. Ayat ini menegur mereka yang suka menunda, hanya mau bertindak saat kepepet. Dan jujur, kita pun sering seperti itu: menunggu mood baik, waktu luang, atau pengakuan dari orang lain. Tapi hati yang siap bukan dibentuk dalam keadaan darurat—melainkan dalam disiplin sehari-hari. Orang percaya yang siap sedia bukan yang paling cepat atau paling sibuk, tapi yang setia melatih diri untuk taat, tekun dalam hal kecil, dan peka terhadap kesempatan yang Tuhan hadirkan. Kesiapan spiritual berasal dari hasil kebiasaan rohani yang dibangun perlahan, bukan muncul mendadak.


    Kita pun belajar semua itu dari Kristus sendiri. Ia tidak datang karena dunia berseru meminta. Ia datang karena kasih-Nya lebih dulu aktif. Ia tidak menunggu kita berubah, tapi mengasihi saat kita masih berdosa. Kesiapan Yesus bukan soal reaksi cepat dari desakan netizen atau siapapun, tapi keputusan dari kasih yang terus-menerus bagi kita-milik-Nya. Ia sedia mengorbankan diri bahkan sebelum kita sadar akan kebutuhan itu. Maka, ketika kita memilih untuk siap sedia—dalam pelayanan, dalam memberi, dalam mengasihi—kita sedang mencerminkan hati Tuhan sendiri. Hati yang tidak perlu ditanya dulu, tapi memang sudah sedia untuk taat. Hati yang mengenal kasih-Nya, dan karena itu memilih hadir tanpa diminta.


    “Kalau Anda harus ditanya dulu baru siap — mungkin Anda belum benar-benar sedia.’’


    Pertanyaan untuk Direnungkan:

    1. Hal apa dalam hidupmu yang selama ini kamu tunggu sampai diminta, padahal sebenarnya kamu bisa mulai lebih dulu?

    2. Bagaimana kamu bisa melatih hatimu agar lebih siap sedia—bukan karena disuruh, tapi karena kamu sudah mengenal kasih Kristus?


    5 min

About Penuntun Saat Teduh - Renungan Harian

From the publisher's feed

Penuntun Saat Teduh - Renungan Harian