
Sign up to save your podcasts
Or


Banyak orang bilang karya-karya Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu pintu yang bisa memperkenalkan kita ke dunia kesusastraan Indonesia. Kekuatan karyanya sudah tidak perlu diragukan lagi. Tulisan-tulisan Pramoedya banyak menyampaikan kritik terhadap penguasa dan berbicara tentang realitas sosial. Pramoedya adalah salah satu penulis yang memang layak mendapatkan begitu banyak penghargaan. Sepanjang hidupnya, ia telah menerbitkan lebih dari 40 buku, dan tidak sedikit yang begitu fenomenal dan diterjemahkan ke berbagai bahasa.
Di bab ini, @patricia.wulandari dan @astarindah merekomendasikan sebagian buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer yang wajib dibaca. Di antaranya: Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer, Bukan Pasar Malam, Larasati, Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca), Gadis Pantai, Arus Balik, Nyanyian Sunyi Seorang Bisu, Cerita dari Blora, dan Cerita dari Jakarta.
Selamat mendengarkan!
Bab rekomendasi buku Podcast Main Mata kali ini merupakan edisi #bacasamasama yang bekerjasama dengan Gramedia Pustaka Utama dan Gramedia Digital, dan didukung oleh jaringan PODLUCK. Di edisi #bacasamasama, Podcast Main Mata bersama 4 podcaster buku lain, yaitu Podcast Buku Kutu, Kepo Buku, Mari Pada Baca, dan Sahabat Buku, mau berbagi rekomendasi buku terbitan Gramedia Pustaka Utama yang menurut kami seru untuk kamu baca. Cara belinya juga mudah, cukup download aplikasi Gramedia Digital di Google Playstore atau Apple App Store, kemudian beli e-book-nya dan langsung baca di ponsel deh! Enggak perlu khawatir dengan tumpukan buku dan bisa mulai baca kapan saja.
Rekomendasi buku kedua dari podcast buku Podcast Main Mata di edisi #bacasamasama ini adalah buku The Book of Joy: Merengkuh Kebahagiaan di Dunia yang Penuh Ketidakpastian. Buku yang ditulis Douglas Abrams ini berisi percakapan antara Dalai Lama Ke-14 dan Uskup Agung Desmond Tutu tentang cara-cara mencapai hidup yang penuh kebahagiaan. Dari hasil obrolan dengan keduanya, dapat disimpulkan bahwa untuk bisa hidup bahagia, seseorang justru harus berhenti mencari kebahagiaan itu sendiri karena rasa bahagia bukanlah inti, tapi efek samping. Lalu, apa sebenarnya yang bisa membuat hidup kita jadi lebih penuh dan bahagia terlepas dari situasi dan kondisi yang sedang dihadapi saat ini?
Simak cerita lengkapnya dari @patricia.wulandari di bab podcast buku Podcast Main Mata yang satu ini.
Kali ini host @patricia.wulandari membahas tiga topik di dunia buku yang saling berkaitan satu sama lain, terutama di kondisi seperti sekarang: budaya membaca, buku bajakan, dan pandemi COVID-19.
Setelah melakukan riset kecil-kecilan dengan beberapa pelaku di dunia buku, seperti inisiator program, editor, PR penerbit, dan pembaca, dapat disimpulkan bahwa dunia buku saat ini sedang mengalami kesulitan di tengah pandemi COVID-19. Baik penerbit mayor maupun independen sama-sama terdampak meskipun dalam skala yang cukup berbeda.
Di saat para pelaku di dunia buku sedang beradaptasi dengan sistem dan cara baru, distribusi buku bajakan juga semakin marak beredar. Hal ini ada hubungannya dengan karakter dan kebiasaan seseorang yang cenderung apatis dan tidak memikirkan dampak dari perbuatannya terhadap lingkungan sekitar.
Sebagai seorang pembaca yang mengonsumsi ilmu pengetahuan, mari kita manfaatkan ilmu yang didapat untuk memberikan efek positif ke orang lain, termasuk dengan memahami kalau setiap tindakan, sekecil apa pun itu, pasti ada dampaknya untuk sekitar.
Dari riset kecil-kecilan ini juga Podcast Main Mata telah membuat daftar rangkuman toko buku langganan yang bisa ditemui secara daring untuk memudahkan kamu mencari yang paling nyaman diakses dari tempat kamu berada. Silakan cek bit.ly/tokobukudaring untuk melihat daftar toko buku yang tersedia.
Toko buku langgananmu belum ada di sana? Mention/DM Podcast Main Mata di IG @podluckpodcast atau Twitter @podcastpodluck supaya bisa kami tambahkan di dalam daftar.
Bab rekomendasi buku Podcast Main Mata kali ini merupakan edisi #bacasamasama yang bekerjasama dengan Gramedia Pustaka Utama dan Gramedia Digital, dan didukung oleh jaringan PODLUCK. Di edisi #bacasamasama, Podcast Main Mata bersama 4 podcaster buku lain, yaitu Podcast Buku Kutu, Kepo Buku, Mari Pada Baca, dan Sahabat Buku, mau berbagi rekomendasi buku terbitan Gramedia Pustaka Utama yang menurut kami seru untuk kamu baca. Cara belinya juga mudah, cukup download aplikasi Gramedia Digital di Google Playstore atau Apple App Store, kemudian beli e-book-nya dan langsung baca di ponsel deh! Enggak perlu khawatir dengan tumpukan buku dan bisa mulai baca kapan saja.
Rekomendasi buku kedua dari podcast buku Podcast Main Mata di edisi #bacasamasama ini adalah novel O karya Eka Kurniawan yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama tahun 2016 lalu. Pada dasarnya, novel ini merupakan kisah cinta antara sepasang monyet yang ingin menjadi manusia, dibalut dengan banyak sekali kehidupan karakter lain, baik binatang, benda mati, maupun manusia, yang semuanya saling beririsan dengan kehidupan sepasang monyet tersebut.
Dengan alur cerita yang lompat-lompat ke para tokoh yang jumlahnya ada lebih dari 40 nama dan maju mundur sesuka hati, novel setebal 472 halaman ini tetap seru untuk dinikmati. Pada akhirnya, semua kisah dari para tokoh yang dipaparkan menjadi sangat masuk akal. Ada banyak kritik sosial, sindiran, dan penghargaan kepada makhluk hidup maupun objek lain selain manusia di dalamnya. Seperti yang tertulis di dalam novelnya: “Huh, manusia. Dari sampah kembali ke sampah.”
Simak cerita lengkapnya dari @patricia.wulandari di bab podcast buku Podcast Main Mata yang satu ini.
Ini merupakan bagian kedua obrolan Patricia Wulandari dengan Joko Pinurbo, seorang penyair yang mampu membuat objek sederhana menjadi jenaka dan penuh makna. Untaian puisinya tidak panjang dan pemilihan katanya tidak rumit, tapi setiap kata bisa berpadu dengan harmonis menghasilkan pelajaran tentang kehidupan.
Di sini, Jokpin bercerita tentang proses pembuatan novela pertamanya yang berjudul Srimenanti. Novela ini bisa dibilang Jokpin banget. Ia tercipta karena Jokpin sangat terinspirasi akan puisi Pada Suatu Pagi Hari karya Sapardi Djoko Damono yang baginya menimbulkan banyak pertanyaan. Segala pertanyaan itu ia tuangkan ke dalam tokoh-tokoh di dalam Srimenanti.
Lewat novela ini, Jokpin ingin mengajak kita untuk menyelami isi kepala tokoh-tokohnya yang masing-masing mempunyai luka batin yang mendalam. Setiap karakter yang ada memiliki riwayat dan latar belakang tertentu yang membuat mereka berperilaku seperti yang diperbuat saat ini. Sama halnya dengan di kehidupan kita sehari-hari. Sering kali kita tidak tahu isi kepala maupun latar belakang seseorang tapi kita kerap menghakimi orang lain tanpa tahu cerita yang sebenarnya.
Ada semacam pertanyaan reflektif di dalam Srimenanti: bisakah seseorang berdamai dengan orang lain yang secara latar belakang memiliki konflik dengan diri kita, tetapi konflik tersebut bukan akibat dari perilaku langsung orang tersebut? Dengarkan selengkapnya di bab podcast buku Podcast Main Mata yang satu ini.
Tere Liye adalah salah satu penulis paling produktif saat ini. Sejak 2005, ia telah menerbitkan sekitar 42 buku dan hampir semuanya terjual laris manis. Tidak hanya produktif, ia juga salah satu penulis yang pada 2017 lalu cukup vokal menyuarakan keberatan akan pajak penulis, sampai membuat Ibu Sri Mulyani turun tangan dan melakukan mediasi dengan para pekerja kreatif.
Di bab ini, seorang teman pembaca Astari Indahingtyas (@astarindah) merekomendasikan sebagian buku Tere Liye yang ia koleksi di rak bukunya di rumah. Meskipun belum memiliki dan membaca semua bukunya, Astari telah menyimpan sekitar 10 buku karya Tere Liye. Di sini, dia mau memberitahu kamu buku-buku mana yang ia suka dan karya mana yang ia rekomendasikan untuk kamu baca pertama kali jika kamu belum pernah membaca bukunya.
Dengarkan cerita Astari untuk tahu kenapa buku-buku Tere Liye bisa dibaca untuk mewakili segala suasana hatimu. Karena akan ada satu buku yang mewakili perasaan-perasaan yang timbul di dalam diri. Judul buku karya Tere Liye yang dibahas di sini: Berjuta Rasanya (kumpulan cerpen, terbit 2012); Hujan (novel, terbit 2016); Tentang Kamu (novel, terbit 2016); AboutLove (kumpulan kutipan, terbit 2016); Kau, Aku, dan Sepucuk Angpao Merah (novel, terbit 2012); Dikatakan atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta (kumpulan sajak, terbit 2014); Bumi (novel serial, terbit 2014); Bulan (novel serial, terbit 2015); Matahari (novel serial, terbit 2016); dan Bintang(novel serial, terbit 2017).
Ada rasa bahagia di balik sebuah harapan. Keinginan supaya suatu hal menjadi kenyataan, terlepas dari berapa lama waktu yang dibutuhkan atau berapa besar usaha yang diperlukan. Namun, bagaimana jika harapan tersebut justru memberikan kebahagiaan semu?
Di suatu masa di era kolonial, seorang perempuan berdarah Belanda bernama Helen dan seorang laki-laki pribumi bernama Sukanta menjalin hubungan asmara. Setelah melalui banyak rintangan karena perbedaan ras dan kasta, mereka berdua dapat bersatu dan berjanji teguh sehidup semati, hingga tentara Jepang masuk ke Indonesia dan memporakporandakan rencana kecil rumah tangga mereka. Tanpa diduga-duga, Helen dan Sukanta harus dipisahkan oleh jarak, tanpa ada kemungkinan jelas kapan dapat bertemu kembali. Hingga hari tuanya, Helen yang bermukim di Belanda tetap menaruh harapan kalau suatu saat ia akan bertemu kembali dengan cinta sejatinya, karena mereka pernah berucap, “Tidak ada yang bisa memisahkan kita. Perang dan kebencian sebesar apa pun. Juga waktu. Juga kematian.” Bagi Helen, masa lalu terasa begitu dekat, menemani masa tuanya seorang diri di apartemennya di Amsterdam.
Cerita tersebut merupakan kisah di dalam buku Helen dan Sukanta karya Pidi Baiq. Novel ini dialihwahanakan oleh Kemdikbud RI, Titimangsa Foundation, dan Kawan-kawan Media menjadi Sandiwara Sastra berjudul Helen Menunggu di Amsterdam yang bisa didengarkan di Podcast Budayakita.
Sandiwara Sastra Helen Menunggu di Amsterdam diperankan oleh Marsha Timothy sebagai Helen Maria Eleonora, Vino G Bastian sebagai Sukanta, dan Nicholas Saputra sebagai Narator. Disutradarai Gunawan Maryanto & Alih Wahana oleh Ahda Imran. Produser Happy Salma dan Yulia Evina Bhara.
Di bab ini, @patricia.wulandari kembali mengajak @arnellism, pemilik Podcast Ceritanya Pendek, Artinya Panjang, untuk membahas isi dari cerita Helen Menunggu di Amsterdam di podcast buku Podcast Main Mata. Selamat mendengarkan!
From the publisher's feed